
Matahari pun tenggelam dan lolongan para serigala mulai terdengar.
Penjagaan di kota Fayden semakin ketat, sudah banyak warga yang melarikan diri melalui jalan rahasia keluarga Raeburn. Namun tidak sedikit orang yang memilih untuk membantu, termasuk wanita dan anak-anak. Mereka membantu mempersiapkan kebutuhan perang.
Raeburn dan ketua guild pemburu berada di atas gerbang melihat ke arah monster akan datang.
"Aku sudah merasakan mereka... Jujur saja aku sangat takut sekarang... Apa kita akan mati hari ini?"
"Ini melebihi perkiraanku... Jika malam ini adalah malam terakhirku, aku sangat senang bisa bertarung bersama kalian."
"..."
Tidak hanya Raeburn dan ketua guild pemburu saja yang merasa ini adalah akhir mereka. Hampir semua pasukan sudah tidak memiliki semangat bertarung.
"Tuan Raeburn sepertinya sudah saatnya."
Ketua guild pemburu melihat serbuan monster yang begitu banyak. Ia menghitungnya mungkin ada sekitar 3000 monster dari berbagai ras.
"Baiklah semuanya! Mungkin ini adalah akhir dari hidup kita. Kalian semua memiliki pemikiran yang sama denganku saat ini.
Semuanya! Aku ingin kalian memberikan semua kemampuan kalian untuk melindungi kota ini. Walaupun kalian mati di perang ini, keluarga Raeburn berjanji akan membuat keluarga kalian bahagia! Keluarga Raeburn akan memberikan hartanya untuk membantu keluarga kalian yang telah kaliang tinggalkan."
Raeburn mulai berpidato untuk menaikkan moral para prajurit tapi sepertinya itu juga mustahil.
"Wahai para ksatria pemberani! Bayangkan istri kalian, putri kalian, saudara kalian, sahabat kalian, kekasih kalian dan semua orang yang kalian kasihi dipermaikan oleh monster-monster itu! Bayangkan!
...
Jika kalian tidak ingin itu terjadi! Berjuanglah bersamaku untuk mempertahankan benteng ini, mempertahankan rumah kita, mempertahankan semua orang yang kita kasihi!"
"OOOo!!!!!"
Semuanya berteriak semangat dan mengankat senjata mereka.
Para pemanah sudah mulai membidikkan panah mereka ke arah musuh. Begitu juga dengan semua penyihir yang memiliki sihir serangan.
"Tembak!"
Raeburn mengayunkan tangan kanannya dari atas ke bawah dan berteriak dengan lantang.
Menanggapi perintah Raeburn semua orang yang bisa memberikan serangan jarak jauh mulai menyerang. Bahkan para ksatria juga ikut menyerang walaupun hanya dengan melempar batu.
Ratusan monster sudah dikalahkan tapi sejauh mata memandang masih banyak monster yang menyerbu. Panah sudah tersisa sedikit dan para penyihir sudah harus istirahat.
Hingga akhirnya monster-monster yang memiliki tingkat lebih tinggi mulai bermunculan.
"Lihat!"
"Ogre!"
"Kenapa semua monster tingkat tinggi bisa keluar dari sana!?"
"Tidak tau!"
Tidak sedikit orang yang memilih untuk melarikan diri agar bisa hidup. Kekacauan terjadi dari dalam benteng.
"Abaikan orang yang lari dari pertempuran! Tetap fokus dan serang para monster bajingan itu!"
Walaupun Raeburn marah, tapi ia tetap memimpin dan mengendalikan para prajurit yang bertahan.
"Semua penyihir, arahkan sihir terkuat kalian ke area monster tingkat tinggi."
"Kekuatan sihir kami sudah hampir sampai batasnya!"
"Keluarkan semampu kalian lalu segera isi kekuatan sihir kalian di alun-alun. Kalian bisa meminta ramuan sihir pada orang yang bertugas disana. Cepat!!!"
"Baik!!!"
Beberapa orang langsung turun dari benteng dan mundur ke alun-alun.
"Jangan biarkan para bajingan itu naik!"
Benteng memang berhasil dipertahankan. Dengan kekuatan dan kepemimpinan yang bagus membuat benteng berhasil bertahan hingga saat ini.
Namun tetap saja, serangan monster yang tidak berhenti membuat semua orang kehabisan tenaga mereka. Semangat bertarung mereka juga sudah turun drastis.
"Sudah berapa jam sejak pertarungan dimulai? Kenapa mereka belum habis juga?"
"Pak! Kita harus mundur! Gerbang sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Tower kiri juga sudah ditembus!"
Raeburn menutup matanya sebentar, lalu melihat langit yang sudah gelap. Langit malam dan gelapnya penglihatan membuktikan waktu kalau sekarang sudah tengah malam.
"Kalau begitu kita jalankan rencana B, semua orang mundur ke alun-alun. Utamakan yang terluka terlebih dahulu."
Raeburn pun ikut turun dari benteng yang ia pertahankan. Ia segera menuju ke alun-alun untuk mengambil alih pimpinan disana.
Sesampainya disana ia melihat orang-orang yang saling membantu memasang barikade yang sudah disiapkan.
"Cepat!"
Setelah beberapa menit kemudian barikade kayu berhasil dipasang.
"Baiklah pemanah dalam posisi kalian! Penyihir yang masih memiliki kekuatan akan membantu unit pertahanan!"
Semua orang segera menuju posisi mereka masing-masing. Lalu beberapa orang terlihat sedang berlari menuju alun-alun dan mereka dikejar sekumpulan monster.
"Ingat setelah mereka masuk, kita akan memulai serangan."
Raeburn terus memerintah walaupun sebenarnya ia berada di garis depan yang memiliki tingkat bahaya tertingi.
"Itu mereka!"
"Mereka benar-benar membawa para bajingan itu kesini."
"Bukankah itu terlalu banyak?"
"Ya sepertinya mereka bodoh karena menyerang dari depan saja."
"Mungkin lebih tepatnya mereka lari dari sesuatu?"
"Simpan pertanyaan kalian untuk nanti sekarang kita harus mempertahankan ini!"
Raeburn membuat orang-orang kembali fokus kepada para monster.
Mereka pun sekali lagi melawam sebuan monster. Namun kali ini kesulitan mereka bertambah, karena mereka harus melawan para monster itu di kota. Mereka juga sudah kehabisan tenaga untuk terus melawan.
Sekarang tepat jam 2 malam, suara benturan logam dan teriakan orang-orang masih terus terdengar. Mereka saling menjaga punggung mereka dan melindungi satu sama lain.
"Tuan! Kabar buruk! Panah kita sudah habis!"
"Aku mengerti... Katakan pada semua orang untuk bersiap! Kita akan melakukan counter!"
"Baik pak!"
Beberapa menit kemudian pasukan manusia sudah berbaris rapih di belakang garis depan. Mereka sudah bersiap untuk memberikan serangan terakhir yang bertujuan untuk memukul mundur musuh dari kota.
"SERANG!!!"
Raeburn memimpin pasukan yang baru saja terbentuk untuk menerobos barisan musuh.
Raeburn beserta pasukannya bisa dibilang berhasil memukul mundur para monster. Mereka berhasil merebut daerah pemukiman kumuh di dekat tower kiri. Walaupun begitu serangan monster masih belum berakhir.
"Bunuh!"
"Gyyyyaaaaaa!!!"
"Tolong!!!"
"Selamatkan aku!!! Aku tidak ingin mati!"
"Serang! Terus serang!"
"Bodoh! Awas belakangmu!"
Semua orang berjuang hinggi titik darah penghabisan. Pedang mereka juga sudah mulai tumpul dengan darah monster.
Sayangnya mereka hanya bisa bertahan selama 40 menit di sana. Karena serangn monster yang tidak ada hentinya membuat mereka kehilangan banyak orang.
"Mundur! Mundur!"
Raeburn mengeluarkan perintah baru, lalu ia menenggak semua ramuan peningkat tubuh dan penambah sihir.
Setelah mendengar perintah Raeburn, semua orang langsung mundur ke alun-alun kembali. Meninggalkan Raeburn seorang diri yang terus bertarung melawan para monster.
Namun Raeburn tetaplah seorang manusia biasa. Sehebat apapun dia, kalau menghadapi ratusan bahkan ribuan monster, cepat atau lambat ia pasti akan kelelahan.
Beberapa saat kemudian sebuah pedang pendek menembus perutnya dari belakang. Melihat dirinya yang sudah terluka parah, Raeburn memutuskan untuk membuat sihir pelindung angin dengan kekuatannya yang tersisa.
Saat ini Raeburn berada tepat di tengah kubah yang terbuat dari angin. Ia tergeletak dengan memegang perutnya yang terus mengeluarkan darah.
"Apakah ini akhirnya?... Aku... Sudah kehabisan... sihirku... Aku... Harap... Kalian... Selamat..."
Perlahan mata Raeburn tertutup, namun tepat sebelum matanya tertutup penuh ia melihat percikan api dari atas. Lalu Raeburn pun tidak sadarkan diri dan membuat pelindung angin itu menghilang.