My Free Life In Another World

My Free Life In Another World
A Little Girl



"Baiklah kalian bisa ke tenda medis disana dan beristirahat. Aku akan melapor ke Mayor Edmond terlebih dahulu."


"""SIAP DIMENGERTI!"""


Kapten Sanada berpisah dengan timnya.


"Selamat malam, Pak!"


Seorang penjaga tenda memberikan hormat pada Kapten Sanada.


"Apa Mayor didalam?"


"Mayor sedang berbicara dengan perwakilan kota ini pak. Saya akan memberitahu beliau."


"Terima kasih."


Penjaga itu masuk ke dalam tenda dan beberapa saat kemudian ia kembali keluar.


"Anda bisa masuk, Kapten. Mayor telah menunggu Anda."


"Terima kasih atas kerja kerasmu malam ini."


Kapten Sanada melihat Mayor Edmond sedang berdiskusi dengan seseorang yang terlihat penting.


"Mayor Edmond, Kapten Sanada melapor."


"Senang melihatmu selamat, Kapten. Sepertinya tidak terlalu sulit untuk sampai kesini."


"Ya, bahkan kecoa lebih menyeramkan dari mereka."


"Hahaha kau memang hebat."


Mayor Edmond dan Kapten Sanada memang sudah lama kenal jadi mereka seringbercanda singkat.


"Baiklah Kapten Sanada perkenalkan dia adalah perwakilan kota ini."


"Kain De Fayden. Pemimpin kota ini."


"Mitsunaga Sanada, Kapten Angkatan Udara Rogne Forte."


"Oke sekarang kita akan kembali ke topik awal. Sanada kami butuh penilaianmu."


"Kabar terbaru para monster telah membangun pertahan di sekitar sini dan pertahanan kita saat ini berada disini."


Kain menggaris wilayah yang didekat benteng, ia juga membuat lingkaran di beberapa titik.


"Aku dan timku sudah melewati jalan ini dan bertemu dengan monster-monster yang dapat dibunuh dengan mudah oleh senjata AR standar."


"Bagaimana strategi penyerangan mereka?"


"Cukup sulit sebenarnya, karena mereka lebih suka berkumpul dan bersembunyi dalam bayangan."


"Taktik penyergapan kah, itu cukup berbahaya kalau kita lengah."


Kain dengan takjib melihat diskusi yang dilakukan oleh Mayor Edmond dan Kapten Sanada.


"Pasukanku akan bersedia membantu sepenuhnya untuk mendapatkan kembali kota ini. Jadi saya yakin mereka telah siap untuk melakukan serangan balik."


"Tidak baik melakukan serangan balik saat ini, Tuan Kain. Bisa jadi kitalah yang akan mendapatkan kejutan."


"Hum..."


"Baiklah bagaimana dengan ini. Kita akan membiarkan musuh masuk ke wilayah terbuka ini dan menyisir pasukan mereka yang tersisa hingga berkumpul disini."


"Itu tetap berbahaya Sanada. Kita kekurangan informasi monster yang berada di kota. Bagaimana kita bertemu dengan monster yang dapat menyamarkan tubuhnya atau bisa menggunakan sihir?"


"Itu benar. Tapi jika kita menyapu dengan bersama saya yakin kita bisa membuat mereka berkumpul disini... Pasukan kita akan bertugas sebagai pendukung dari jarak menengah dan pasukan dari kota ini akan memimpin jalannya penyisiran."


Kain setuju dengan saran dari Kapten Sanada.


"Baiklah aku mengerti. Strategi ini memang bagus tapi korban yang jatuh tidak akan sedikit.... Sanada apa kau ingat di pelatihan tentang negara Vit? Strategi kita sama dan strategi mereka juga sama, kau ingat apa yang terjadi?"


"Pembantaian 1 sisi kah...."


"1000 lawan 20, tapi dengan strategi yang tepat. Mereka bisa melawan balik."


Kain dengan bingung mendengarkan pembicaran mereka berdua. Ia berpikir apa benar ada Kerajaan yang hanya memiliki 20 tentara bisa melawan 1000 tentara.


"Tuan Kain. Bagaimana kesiapan pasukan Anda? Saya ingin jawaban yang jujur. Kesiapan dalam hal perbekalan, senjata, kekuatan dan moral mereka."


"Sebenarnya kita kekurangan senjata dan perbekalan kita juga sudah tipis. Tapi jika itu tentang moral, sepertinya tidak perlu ada yang dikhawatirkan."


"Aku mengerti. Kalau begitu kita akan gunakan strategi counter offensive skala penuh saat matahari sudah menyinari kota ini. Kita akan kerahkan semua divisi angkatan udara juga bantuan udara dari pusat. Lalu kami akan meminta dukungan dari pasukan kota Fayden sebagai front garis depan."


"Bagaimana dengan sinyal dimulainya operasi?"


"Kita akan menembakkan suar merah untuk memulainya operasi, lalu jika ada korban lebih atau gagal tembakkan suar kuning dan jika berhasil menyisir musuh keluar benteng segera tembakkan suar hijau. Jika suar hijau telah ditembakkan segera buat pertahanan agar tidak ada monster yang berputar."


"Dimengerti."


"Saya akan memberitahu yang lain."


"Bagus, dengan ini diskusi kita berakhir."


"Kalau begitu saya undur diri."


"Yo Sanada, apa kau sudah puas bermain?"


"Yaaa begitulah...."


"Maaf, aku tidak bisa membantu kalian..."


"Tidak apa.... Yang Mulia juga sudah mengirim bantuan dan akan memulangkan pasukan yang kelelahan."


Suasana pun menjadi sunyi, Mayor Edmond tidak berani membuka suara karena takut menyinggung Sanada.


"Oh ya! Ada sesuatu yang harus kutunjukkan padamu."


"Oho apa itu, jarang sekali kau begini."


Kapten Sanada lalu berubah menjadi serius.


"Mayor Edmond, regu pengintai unit 23 melapor. Kami menemukan objek dengan tingkat keamanan tertinggi dan meminta keputusan penanggung jawab operasi."


Mayor Edmond terkejut dan menatap Kapten Sanada dengan tatapan tajam.


"Baik, Kapten Sanada. Laporan Anda saya terima. Pimpin saya ke objek tersebut."


"Baik, pak!"


Mereka pun keluar tenda dengan aura yang benar-benar seperti pemimpin. Semua prajurit yang melihat langsung memberikan hormat dan memberikan jalan kepada mereka.


Mereka berdua menuju kamp medis dan bertanya kepada penjaga disana. Lalu melanjutkan ke rumah yang ditunjukan oleh penjaga. Rumah itu tidak terlalu jauh dengan kamp medis.


Sesampainya disana Kapten Sanada mengabaikan hormat prajurit dan langsung masuk ke rumah.


"Kapten, kau telah tiba... Ini sangat mengejutkan dan kupikir Anda harus melihatnya langsung."


Kapten Sanada mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan yang terisolasi dan melihat seorang anak kecil yang tertidur dengan bahagia.


"Sudah kuduga... Mayor Edmond silahkan...."


"!!!!!"


Serasa sepeeti terkena serangan jantung, Mayor Edmond sangat terkejut dengan apa yang ia lihat.


Seorang gadis kecil dengan tubuh yang sangat kurus seperti kekurangan gizi. Walaupun begitu wajah gadis itu tentu sangat dikenali oleh mereka. Wajah anak itu begitu mirip dengan Ratu mereka atau mungkin lebih seperti ia adalah Ratu Alice saat kecil.


Mayor Edmond yang langsung tersasar langsung keluar dari ruangan itu dan diikuti oleh Sanada.


"Oi oi oi! apa itu!?"


"Jujur saja aku juga terkejut saat pertama kali melihatnya."


"....... Sial!!!...... Aku percaya kalau di dunia itu pasti akan ada seseorang yang begitu mirip. Tapi apakah bisa kemiripan seseorang sama persis, bahkan seperti wajah ayah dan ibunya walaupun dia tidak kenal!?"


"Lalu bagaiman keputusan Anda?"


"Untuk saat ini tingkatkan keamanan di sekitar rumah ini dan jangan biarkan prajurit lain melihatnya. Aku akan memanggil helikopter khusus untuknya."


"Baik pak!"


Mayor Edmond pergi dengan terburu-buru. Ia juga mengabaikan keramaian alun-alun dan langsung menuju tenda komunikasi.


"Mayor Edmond mengambil komando!"


Seorang prajurit berteriak memberitahu yang lain.


"Bagus... Sekarang panggil semua unit pengintai untuk segera ke alun-alun."


"""Dimengerti!""""


"Lalu perintahkan mereka dalam mode bertahan dan tetap stand by untuk perintah selanjutnya. Aku ingin semua pimpinan pasukan untuk menuju tendaku."


Unit komunikasi bergerak dengan cepat, mereka adalah objek vital yang mengkordinasi semua orang di garis depan. Jika ada kesalahan pengucapan atau miskomunikasi itu akan berakibat sangat fatal untuk sebuah pasukan.


"Tolong sambungkan aku dengan pusat. Aku meminta untuk disambungkan dengan Jenderal Manstein."


"Baik pak!"


Mereka terus beroperasi dam bertukar informasi selagi menunggu komunikasi terhubung dengan HQ.


15 menit pun berlalu dan komunikasi akhirnya terhubung.


"Selamat malam Jenderal, maaf menggangu Anda."


"Apa ada sesuatu yang terjadi disana?"


"Kondisi disini stabil dan kami juga telah mengirimkan dokumen operasi berikutnya kepada Anda."


"Terima kasih atas kerja kerasmu Mayor. Lalu apa maksudmu dengan dokumen Classified kosong yang kau kirim?"


"Saya akan mengirim dokumen dan objeknya langsung ke markas. Karena kemungkinan besar objek ini akan membawa kekacauan dan bahaya."


"Baiklahaku mengerti alasanmu. Lanjutkan tugasmu dan sampai bertemu nanti."


Komunikasi pun terputus dan ruangan seketika sunyi. Karena mereka yang berada disana tidak sengaja mendengarkan obrolan petinggi.


Kesunyian itu terus berlanjut, tidak ada pertanyaan maupun obrolan tidak penting. Hanya ada obrolan privasi antara unit komunikasi dengan prajurit yang sedang berada di garis depan.