MY DANGEROUS HUSBAND

MY DANGEROUS HUSBAND
CH 9 : MENUNGGU PRIA AROGAN



"Tuan, maaf. Saya telah membuat kekacauan disini. Saga tidak melakukan apapun padaku. Dia tidak bersalah,"


Dad Andreas mengerutkan keningnya saat mendengar jawaban Shea. Dia nampak bingung dengan keadaan dan penjelasan Shea yang tidak sejalan.


"Lalu kenapa kau menangis jika Saga tidak melakukan apapun padamu?" tanya Dad Andreas lagi masih dengan raut wajahnya yang tegas.


"Sayang, gadis ini ketakutan. Pasti Saga sudah mengancam Shea untuk tidak mengatakan apapun," Sashi melihat keadaan Shea. Tidak mungkin gadis itu akan menangis bahkan ketakutan jika Saga tidak melakukan apapun. Bukan berarti Sashi tidak mempercayai putranya. Ia percaya bahwa putranya tidak akan pernah melukai seorang wanita atau bahkan memukulnya. Namun saat ini ia tidak bisa hanya melihat dari sisi putranya saja. Dia juga harus melihat dari situasi yang terjadi saat ini.


"sungguh nyonya, aku ketakutan karena pikiranku menjadi kacau saat Saga mencoba menakut-nakuti ku saja. Maaf karena saya telah membuat masalah disini," sesalnya karena dia menyadari karena trauma dan ketakutannya di masa lalu telah membuat kesalahpahaman diantara keluarga ini.


"Sudah, jangan kau pikirkan Shea. Sekarang istirahatlah. Jangan banyak...," ucapan Mom Sashi terhenti ketika matanya melihat luka di pergelangan tangan Shea. Bahkan ada bekas noda darah yang sudah mengering.


"Shea kenapa selangnya terlepas? astaga. Biar aku menelpon dokter," Mom Sashi terlihat panik, ia tergesa-gesa mencari ponselnya yang entah dimana ia letakkan tadi.


Dad Andreas yang melihat istrinya itu terlihat kesana kemari mencari ponselnya hanya bisa menggelengkan kepalanya. "kau itu selalu saja ceroboh, biar aku saja yang menghubunginya," seru Dad Andreas pada istrinya yang masih berusaha mencari ponselnya.


"kau itu kenapa pekanya lama sekali? kalau sudah tau ponsel istrimu hilang kenapa gak langsung di call aja kan biar tau ditaruh dimana," decak wanita itu sembari duduk menemani Shea.


"Nyonya, aku sudah baikan. Tidak perlu memanggil dokter lagi,"


"Shea kan aku sudah bilang kau harus memanggilku Mom Sashi, dan itu suamiku Dad Andreas,"


Sontak ucapan Mom Sashi itu mendapatkan tatapan penuh tanda tanya dari Dad Andreas saat mendengar perkataan istrinya itu.


"Baik dok, cepatlah datang,"


"Sayang, apa maksudmu dengan panggilan Mom dan Dad? siapa gadis ini sebenarnya?"


Shea yang saat ini menjadi bahan pembicaraan pasangan pasutri itu hanya bisa diam dan mendengarkan.


"Honey, disini Shea tidak memiliki siapapun. Aku ketemu dia di restoran siang tadi karena dia pingsan. Dia juga akan bekerja denganku di butik, dan juga akan tinggal di rumah yang ada di belakang mansion kita. Boleh kan honey?" pinta Mom Sashi pada suaminya. Dad Andreas nampak memperhatikan raut wajah istrinya yang dibuat-buat menjadi memelas. Berharap agar suami dingin dan tegasnya itu memberikan ijin untuk Sashi tinggal bersama mereka.


Setelah berselang beberapa menit akhirnya sebuah senyuman terukir di bibir Mom Sashi saat suaminya itu memberikan jawaban dengan menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih sayang,"


"Terima kasih tuan," timpal Shea juga. Namun perkataannya seketika di revisi oleh Mom Sashi agar memanggilnya Dad Andreas.


"Terima kasih Dad,"


Dad Andreas kembali menggelengkan kepalanya melihat perilaku unik istrinya itu. "semoga kau betah disini," ucap Dad Andreas sebelum pria itu meninggalkan ruangan.


"oke sayang," jawab Sashi sedikit berteriak agar suaranya terdengar oleh suaminya yang sudah berjarak jauh darinya.


Mom Sashi kembali memusatkan perhatiannya pada Shea. "sebentar lagi dokter sampai. Kau beristirahatlah,"


Shea menganggukkan kepalanya. Ia meraih telapak tangan Mom Sashi dan perlahan menggerakkan bibirnya untuk mengatakan sesuatu. "Bisakah aku tinggal di rumah dibelakang mansion sekarang? Aku sangat tidak nyaman jika harus istirahat di tempat Saga. Dia pasti juga ingin istirahat di kamarnya,"


"Shea, rumah disana masih belum di bersihkan. Besok aku akan meminta pelayan untuk membersihkannya. Sekarang istirahat saja disini. Biar Saga tidur di kamar tamu. Entah kemana anak itu pergi sekarang," keluh Mom Sashi yang mengkhawatirkan putranya.


Terlihat jelas oleh Shea kekhawatiran dari wanita itu. "sebentar lagi dia pasti pulang," sahut Shea sembari melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukkan waktu jam makan malam.


"Kalau begitu, bolehkah aku yang tinggal di kamar tamu saja?"


"kamar tamu ada di lantai 2 apa tidak masalah untuk kamu naik turun tangga?"


Shea kembali mengiyakan, "tidak apa, tubuhku sudah berangsur membaik,"


Mom Sashi merapikan helaian rambut Shea yang nampak berantakan. "baiklah, aku akan meminta pelayan untuk membantumu nanti saat menaiki tangga,"


"Terima kasih," Shea bernapas lega. Shea sangat bersyukur dipertemukan oleh sebuah pasutri yang sangat tulus untuk membantu orang lain. Shea berharap suatu saat nanti ia dan Saga juga bisa saling bertegur sapa tanpa harus saling berselisih seperti saat ini.


***


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Shea kini telah berada di kamar tamu yang berada di lantai 2. Ia perlahan beranjak berdiri dari tempat tidur menuju tirai balkon yang masih belum tertutup. Hembusan angin malam membuat Shea merasa kedinginan. Sejenak Shea memandangi langit malam dari balkon tempatnya berdiri sembari menyelimuti tubuhnya dengan kedua tangannya bersendekap. Namun perhatiannya tersita saat mendengar suara seseorang di halaman mansion tepat dibawahnya


"Bukankah itu Mom Sashi?" gumam Shea memperhatikan wanita itu yang telah berpakaian baju tidur dengan raut wajah cemas seperti yang dilihatnya saat berada di kamar Saga.


"Sayang, ayo tidurlah. Saga akan pulang sebentar lagi. Dia pasti ditempat temannya," suara Dad Andreas yang kini berada di samping istrinya juga samar-samar terdengar oleh Shea.


"Dia pasti marah denganku," jawab Mom Shea sebelum dua sosok itu pergi meninggalkan halaman mansion. Hanya Shea yang masih terdiam sembari melihat pintu gerbang yang tertutup rapat dan cuaca yang nampak sedikit mendung.


"Apa Saga belum pulang? apa aku alasan dia tidak pulang sekarang? sebenci itu kah denganku?"


Shea sudah terlihat lelah untuk berdiri di balkon kamarnya. Entah mengapa ia merasa sangat bersalah karena telah membuat masalah di keluarga Saga. Ia tidak dapat tidur dengan nyenyak. Pikirannya terus menerus ikut mencemaskan Saga yang tak kunjung pulang ke mansionnya. Shea membalikkan tubuhnya dan melihat jam sudah menunjukkan tepat pukul 12.10. Sudah satu jam Shea berdiri diatas balkon menunggu kedatangan Saga.


"Apa dia benar-benar tidak pulang?" ucapnya sendiri sembari membawa botol air kosong untuk ia isi kembali. Ia melangkah menuruni tangga menuju dapur dengan keadaan temaram. Shea yang mengenal jelas mansion mewah itu mencoba mencari saklar lampu dengan tangannya meraba ke dinding dapur untuk mencarinya. Namun ia tersentak kaget saat tangannya bukan menempel pada dinding dapur melainkan pada sebuah benda yang menyerupai telapak tangan seseorang.


"Apa yang kau lakukan disini?" suara itu membuat Shea segera melangkah menjauh bersamaan dengan lampu dapur yang seketika menyala terang hingga sesaat menyilaukan mata.


BERSAMBUNG