MY DANGEROUS HUSBAND

MY DANGEROUS HUSBAND
CH 19 : Ucapan yang Mengejutkan



Setelah kejadian di kampus kemarin, banyak pasang mata yang melihat Shea dengan tatapan merendahkan. Bahkan mereka dengan sengaja menjaga jarak dengan Shea saat gadis itu melangkah masuk ke dalam kelasnya. Kedua ekor mata Shea tak sengaja menangkap keberadaan dua sahabatnya, Brian dan Sasha di dalam kelas paginya saat ini. Yah, Shea sengaja untuk mengikuti jam mata kuliah hari ini hanya untuk bertemu dengan sahabatnya. Karena sejak kemarin keduanya sama sekali tak bisa di hubungi.


"Sasha...,Brian...," sapa Shea mendekati keduanya. Namun keduanya kompak berjalan menjauh saat Shea sudah berdiri di sampingnya.


"Sas, tunggu bentar. Aku mau jelasin masalah kemarin," Shea menahan lengan Sasha agar gadis itu mau mendengarnya. Begitupula Brian yang ikut menahan langkahnya. Karena sebenarnya, ia pun berat untuk menjauh dari Shea, gadis yang disukainya sejak lama secara diam-diam.


"Apa yang mau kamu jelasin lagi? bukankah kau sudah mengakuinya Shea? lalu apa lagi? bukankah kau yang pernah bilang di atas podium saat masa orientasi mahasiswa bahwa tidak memakai cara hina untuk mencari uang, lalu kamu sendiri apa?" tanya Sasha seolah mengingatkan Shea dengan ucapan yang pernah dikatakannya dulu saat mereka masih menjadi mahasiswa baru.


"Kau benar, aku pernah bilang seperti itu. Sampai saat ini pun prinsip ku masih sama. Kejadian di foto itu tidak seperti yang kalian pikirkan. Aku bukan sengaja menjual diriku, tapi aku di jual Sas..," jelas Shea mengingat betapa teganya mama tiri dan Kakaknya saat menjualnya ke seorang mucikari.


"Kau di jual? oleh siapa? pasti oleh wanita lampir itu kan?" tebak Sasha disertai anggukan kepala oleh Shea.


"Maaf, aku telat membuat kalian malu dengan berteman denganku. Tapi hanya kalian yang aku punya saat ini," ucap Shea sembari menundukkan kepalanya.


"Shea, maaf. Kami telah salah paham padamu. Kamu tidak salah sama sekali. Mama kamu yang tega melakukan ini, sama sekali tidak punya hati," ucap Brian dengan tangannya yang terkepal erat.


Shea menggenggam tangannya kedua, "kalian masih mau kan berteman denganku," tanya Shea memelas. Ia tak ingin kehilangan sahabat baiknya.


"tentu saja, Shea. Maaf aku telah salah paham sama kamu. Kita harus kasih balasan yang setimpal pada wanita lampir itu, Brian." ungkap Sasha seolah tak terima telah termakan ucapan wanita itu.


"Sudahlah, kalian tidak perlu membalas perbuatan mereka. Yang penting saat ini, aku masih memiliki kalian," senyum Shea terharu.


****


Malam harinya sesuai rencana Mom Sashi sebelumnya, kini semua undangan telah berkumpul di meja makan termasuk Shea. Namun kali ini Shea mengambil jarak duduk yang sangat berjauhan dengan Saga. Ia tak ingin menjadi perusak acara makan malam itu seperti sebelumnya.


"Tante Sashi, kenapa harus ada wanita ini juga disini? bukankah dia hanya seorang pelayan?" ketus Cecilia membuat Shea menghela napas panjang. Shea sudah menduga bahwa Cecilia tidak akan menyukai kehadirannya.


Mom Sashi yang mendengar ucapan cecilia yang nampak angkuh itu seketika membuatnya marah, namun ia mencoba menahannya melihat kerabatnya yang juga berada di tempat yang sama.


"Dia bukan pembantu disini, dia juga anggota keluarga," jawab Mom Sashi dengan raut wajahnya yang terlihat jelas tidak menyukai sikap Cecilia.


"Apa dia kerabat dari Andreas? kenapa aku tidak tau?" tanya Arka, Kakak dari Mom Sashi. Ia datang bersama dengan istri dan anak gadisnya.


"Iya aunty, kenapa aunty Sashi tidak pernah cerita?"


"sudahlah ceritanya panjang, nanti saja,"


halo, aku Archanggela, panggil aku Aca," sapa wanita yang terpaut beberapa taun lebih muda dari Shea.


"Halo Aca," ucap Shea balik menyapa dengan sedikit canggung. Bagaimana tidak, ia dianggap layaknya kerabat dari keluarga berkelas. Sedangkan yang sebenarnya dia bukanlah siapa-siapa.


"Jadi bagaimana Andreas? kapan kita resmikan hubungan anak kita ini?" tanya pria yang diketahui sebagai Papa dari Cecilia. Sejak tadi ia sudah tidak sabar untuk membicarakan hubungan putrinya yang akan berdampak untuk perusahaannya.


Cecilia, Wanita dengan gaun hitam mini itu kini bergelayutan manja di lengan Saga. Sedangkan pria itu nampak dingin, menoleh pun dia tidak.


"Nak Saga bagaimana? hubungan kalian ini akan semakin memperbesar nama perusahaan kamu juga," tanya tuan Thomas, dengan tidak sabar.


Mom Sashi yang ingin menolak perjodohan itu setelah melihat sifat calon menantunya yang tidak sesuai dengan harapannya, seketika tak jadi mengutarakan pendapatnya saat melihat Saga berdiri dari tempat duduknya. Ia menyingkirkan tangan Cecilia yang berada di lengannya dan membungkukkan badannya tepat di depan tuan Thomas.


"Maaf tuan, tapi sepertinya saya tidak bersedia untuk menikahi putri mu. Saya telah memiliki wanita pilihan saya sendiri," ungkapnya setelah kembali berdiri tegak.


Sontak beberapa pasang mata saat ini hanya menatap lurus pada Saga yang nampak biasa saja setelah mengatakan hal yang di luar dugaan semua orang. Kecuali Mom Sashi yang diam-diam menyunggingkan bibirnya seolah pilihan Saga telah tepat. Namun berbeda dengan Cecilia yang terlihat shock dan merengek layaknya anak kecil di samping Saga.


"Gaga, kenapa kamu membatalkan pertunangan kita? bukankah kau suka dengan aku? aku ini kurang apa? aku cantik, aku seksi, aku kaya, apalagi yang ingin kamu mau?"


"maaf," jawab Saga singkat, ia ingin meninggalkan meja makan itu namun ucapan Dad Andreas menghentikan langkahnya. "Siapa wanita itu Saga? Papa harus tau dia siapa, dari keluarga mana, dan bagaimana pendidikannya,"


"Papa tidak perlu, yang Papa tau cukup keputusanku untuk membatalkan pertunangan ini,"


"Jika kau tidak mengatakan siapa gadis itu, maka pertunangan ini tetap terjadi," tegas Dad Andreas membuat Saga mendengus kesal. Ia sudah menduga bahwa Papa nya akan tetap memberikan keputusan sepihak tanpa bertanya padanya.


"Sayang, kamu tidak bisa memutuskan begitu saja," lerai Mom Sashi namun ucapannya itu terhenti saat Dad Andreas memberikan isyarat pada istrinya itu untuk tidak ikut campur.


Saga terlihat berpikir keras. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa wanita yang di jadikan alibi itu hanyalah omong kosong belaka. Karena sebenarnya ia sama sekali tidak memiliki ikatan dengan wanita manapun. Tujuannya untuk menolak karena ia hanya ingin fokus dengan usaha yang ia kembangkan secara pribadi tanpa harus ada gangguan dari wanita manapun, karena bagi Saga memiliki hubungan dengan wanita hanya akan memperumit hidupnya.


"Papa sudah memutuskannya, kau tetap...," ucapan Dad Andreas terpotong saat suara bariton Saga membuat banyak orang terkejut.


"Wanita itu disini, dia lah wanita yang aku pilih," tunjuknya pada Shea yang nampak tertegun mendengar ucapan Saga.


"Jadi kamu dengan wanita pelayan itu?" tanya Cecilia seolah tak terima ia telah kalah saing dengan seorang wanita rendahan.


Tak hanya Cecilia, Mom Sashi pun seketika menutup mulutnya terkejut mendengar pengakuan Saga tiba-tiba.


"Saga, kau dan Shea?" tanya Mom Sashi terkejut.


"Nyonya Sashi, itu tidak...,"


"Iya Mom, kita saling mencintai. Dan aku hanya akan menikah dengannya," seru Saga memotong perkataan She. Ia tidak ingin kebohongannya itu menjadi sia-sia.


"Apa benar itu Shea?" tanya Dad Andreas menginterupsi.


Shea menatap tajam Saga yang telah membuatnya berada di posisi sulit. "Tuan, Saya dan Saga itu..,"


"Kenapa harus gugup? bukankah kemarin kita terakhir kali berciuman," celetuk Saga lagi membuat Shea membelalakkan kedua matanya.


"KAU GILA YA!"