MY DANGEROUS HUSBAND

MY DANGEROUS HUSBAND
CH 24:



"Jadi bagaimana kamu bisa bertemu dengan pria tampan itu?" tanya Sasha yang saat ini hanya duduk bertiga bersama Brian dan Shea di sebuah taman dekat kampus.


Setelah mendapatkan peringatan dari dekan karena membuat keributan Shea dan kedua sahabatnya memilih untuk mencari tempat yang bisa menenangkan diri untuk sejenak. Karena kebetulan mata kuliah pagi mereka sedang kosong.


Brian mengamati Shea yang terlihat khawatir. Gadis itu berusaha untuk menyusun kalimat yang tepat untuk di sampaikan kepada kedua sahabatnya.


"Jika kamu merasa berat buat cerita, aku tidak...," ucapan Brian terpotong saat Shea dengan cepat memberikan penjelasan.


"Bukan, bukan seperti itu. Aku juga ingin menceritakan hal ini pada kalian. Kamu sama Sasha sudah seperti keluarga untuk aku,"


Shea menghela napasnya panjang, "Pria itu bernama Saga. Saga menolongku saat aku di kejar oleh kakek tua hidung belang yang membawaku dari tempat menjijikkan itu. Karena sebuah kejadian yang rumit, kita sepakat untuk melakukan pernikahan kontrak selama 6 bulan,"


"Hah? menikah kontrak? apa kalian sudah gila? Shea apa kau hamil jadi..," ungkap Sasha dengan jalan pikirannya yang membuat Brian geram mendengarnya.


"Apa yang kau katakan itu?" celetuk Brian yang merasa jengkel dengan mulut sahabat wanitanya yang sering kali ceplas ceplos dan memberikan spekulasinya sendiri.


"Aku kan hanya menebaknya, lagi pula pria itu tampan dan kaya, jadi pasti Shea tidak keberatan dengan hamil anaknya," tambahnya lagi membuat Brian semakin jengah.


"Gak Sas, aku gak hamil. Ini murni karena hutang budiku pada keluarganya dan masalah lain yang membuatku harus menerima penawarannya untuk menikah kontrak," jelas Shea lagi.


"Shea, tapi jika kau menikah dengannya hanya karena balas budi itu sama sekali tidak benar. Menikah dengan orang asing yang sama sekali tidak kamu kenal akan menjadi beban untuk kamu," Brian mencoba memberi nasehat, walaupun ia sangat berharap bahwa Shea akan membatalkan rencana pernikahan kontraknya. Ia masih tidak rela jika Shea harus di miliki oleh lelaki lain. Ia bahkan belum pernah mengutarakan perasaannya.


apakah cinta yang sudah lama ia sembunyikan dari Shea akan berakhir menjadi cinta bertepuk sebelah tangan?


"Aku tau, ini adalah langkah salah yang harus aku ambil. Tapi kebaikan mereka juga menjadi bumerang untukmu Brian. Mereka sangat baik, bahkan jika aku di haruskan untuk mengorbankan nyawaku, aku mungkin akan menerimanya. Sungguh Brian, orangtuanya sangat baik, aku seperti merasa memiliki keluarga yang sebenarnya saat bersama mereka," ungkapan Shea itu membuat Sasha memeluk Shea tanpa mengatakan apapun.


"Sungguh, Aku merasakan kehangatan keluarga saat bersama dengan orang tua Saga, Sas. Perhatian Mom Sashi yang selalu menganggap ku seperti anaknya sendiri. Perhatiannya padaku terkadang membuatku menjadi iri dengan kehidupan Saga,Sas." ucapnya lagi dengan wajah manisnya yang ternodai oleh air mata yang entah sejak kapan sudah membasahi pipinya.


"Aku merindukan kehangatan keluarga seperti itu,"


"Lalu bagaimana dengan lelaki itu? apa dia juga baik padamu,Shea?" pertanyaan Brian membuat Shea menguraikan pelukannya dari Sasha.


Mengingat sikap Saga yang seringkali berkata kasar padanya dan membuatnya sering menangis. Namun melihat perlakuan Saga pagi tadi membuat Shea memikirkan hal lain.


"Shea, apa kau mendengar ku? kenapa hanya diam? apa dia sering memperlakukan mu dengan buruk?" Shea melihat kearah Brian yang nampak tidak sabar untuk menunggu jawabannya.


"Dia baik," jawab Shea singkat membuat Brian melihatnya dengan tatapan penuh arti.


"Syukurlah," imbuh Sasha dan kembali memeluk Shea.


"Aku rasa menikah dengan pria itu tidak buruk juga Shea. Kau bilang dia juga baik, bisa jadi pernikahan kalian akan selamanya,"


"Tidak bisa," tolak Brian yang tak terima dengan ucapan Sasha. Ia benar-benar tidak bisa menerima bahwa Shea akan di miliki oleh lelaki lain. Brian tidak menyadari jika saat ini Shea dan Sasha melihatnya penuh tanda tanya.


"Tidak bisa, intinya tidak bisa," tolak Brian seolah ia adalah hakim yang bisa memutuskan hubungan Shea dan Saga.


Brian beranjak dari tempat duduknya dan berdiri tepat di depan Shea. Lelaki itu menekuk kedua kakinya hingga kini posisi mereka sejajar. Shea dan Sasha menatap bingung dengan apa yang di lakukan Saga.


"Brian apa yang kamu lakukan?" tanya Shea.


"Brian, kau sedang apa hah?" tanya Sasha yang mengulang pertanyaan Shea.


"Shea, sebenarnya ada yang harus aku katakan padamu. Aku..., sebenarnya aku selama ini ingin mengatakan sesuatu. Aku ingin bilang kalau aku...,"


Drrttttt Drttt!!


Suara getar ponsel milik Shea membuat ucapan Brian terjeda. Begitu pula dengan Shea yang segera beranjak dari tempat duduknya menjauh dari kedua sahabatnya saat melihat siapa yang saat ini menelponnya. Dia hanya tidak ingin kedua sahabatnya mendengar obrolannya dengan Saga. Sedangkan Sasha melihat kearah Brian yang terlihat mengkhawatirkan sesuatu.


"Halo? Ada apa? bukankah kau akan menjemput ku jam 2 nanti? ini bahkan belum jam makan siang,"


"Tunggu lah di tempat parkir. Aku akan menjemputmu 10 menit lagi. Mom meminta ku untuk membawa mu ke sebuah butik," jelas Saga dari seberang telepon milik Shea.


"butik Mom Sashi? apa ada banyak pesanan disana? baiklah kau bisa menjemput ku, aku akan menunggu di tempat parkir,"


Namun sayangnya tidak ada balasan dari Saga karena panggilan telepon itu sudah terputus saya Shea menyetujui untuk pergi bersama dirinya ke butik.


"Hah? dasar menyebalkan. Dia bahkan tidak memberi jawaban atas pertanyaanku," keluh Shea dan kembali berjalan kearah kedua sahabatnya.


"Apa pria itu yang menghubungi kamu tadi?" tanya Sasha penasaran.


"Iya, dia meminta ku untuk menemui Mommy-nya di butik,"


"Apa kalian akan fitting gaun pernikahan?" pertanyaan spontan Sasha membuat Brian melotot kesal.


"Wanita ini benar-benar. Sepertinya dia sangat mendukung hubungan Shea dan Lelaki itu," keluh Brian tak suka.


Shea tersenyum kecil, "tidak mungkin secepat ini. Kami akan ke butik Mom Sashi untuk membantu disana. Aku akan pergi, kita akan mengobrol lagi nanti. Oh ya, Brian kau tadi ingin mengatakan apa?" tanya Shea yang ingat saat Brian ingin mengatakan sesuatu.


"Eh, itu.., Shea, sudahlah aku akan mengatakannya nanti. Cepatlah pergi, nanti kabari aku kalau kau sudah tidak sibuk," urung Brian yang membatalkan niatannya untuk mengutarakan isi hatinya pada Shea. Ia tiba-tiba merasa sangat gugup dan cemas. Dia bahkan tidak menyiapkan apapun jika saat ini mengutarakan perasaannya.


"Tidak aku harus menyiapkan beberapa hal agar terasa pantas untuk Shea saat aku melamarnya," gumam Brian sendiri sembari melihat Shea yang sudah berjalan menjauh darinya.


Bersambung