
Angel keluar dari mobil milik kekasih barunya, setelah keduanya bermesraan singkat di dalam mobil ia segera keluar dari mobil milik seorang pria yang usianya terpaut jauh darinya.
"Om, nanti jemput aku ya," ucapnya sebelum menutup pintu mobil. Ia melangkahkan kakinya untuk menghampiri sekumpulan temannya yang sudah menunggu di halaman kampus depan. Namun langkahnya tertahan saat telinganya menangkap sebuah nama yang beberapa hari ini dicarinya.
"Gadis sial*an! kurang ajar! setelah kau bermesraan dengan pria kau pergi begitu saja!" ucap wanita itu setelah menampar Shea hingga membekas merah di wajah gadis itu. Sontak hal itu seketika menjadi perhatian orang di sekitar, bahkan ada yang tanpa tahu malu semakin memanas-manasi Angel untuk terus menyiksa Shea.
"Kau apa-apaan hah?" lawan Sasha yang kini berdiri tepat di depan Angel. Keduanya saling melotot tajam seolah siap untuk berseteru.
"Sasha, sudahlah aku tidak apa," Shea yang sejak tadi hanya diam karena terkejut dengan tamparan yang diberikan kakaknya berusaha melerai keduanya.
"Tidak bisa Shea, wanita ini sudah berulang kali membuatmu menderita. Sekarang semua orang harus tau kalau...,"
"Kalau apa? kalau kau berteman dengan gadis pelacur ini?" olok Angel sembari menyunggingkan bibirnya.
"Hei kau! apa maksudmu? jangan membuat rumor yang tidak ada pembuktian," Brian yang sejak tadi tak ingin membuat keadaan semakin runyam kini harus ikut campur saat Angel sudah keterlaluan menghina Shea.
Angel tersenyum sinis, "kau ingin bukti?" Angel meraih ponselnya yang ada di dalam tas jinjingnya dan memperlihatkan salah satu foto Shea bersama seorang pria tua dengan tangannya yang merangkul mesra bahu Shea.
Brian menatap tak percaya dengan foto yang ada di ponsel Angel. Lelaki itu menatap Shea yang sejak tadi hanya diam. "Apa benar itu kau?".
"Shea, apa yang kau lakukan dengan pria tua itu?" tanya Sasha yang kembali melihat foto yang ditunjukkan Angel untuk memastikan kembali bahwa wanita di dalam foto itu benar temannya atau tidak. Namun tangkapan kamera itu telah jelas-jelas memperlihatkan wajah Shea.
"Shea, katakan yang sebenarnya jangan takut. Itu bukan kau kan?" tanya Brian yang masih tak terima dengan fakta yang di perlihatkan Angel.
Angel mengangkat sudut bibirnya seolah kini tengah menikmati keadaan Shea yang nampak malu setelah foto yang di perlihatkannya. "Haruskah aku mengirimnya ke grup teman-teman?" desis Angel licik, namun Sasha dengan cepat melempar ponsel itu hingga retak berkeping-keping.
"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN BODOH!" maki Angel dan berlari mengambil ponselnya yang tergeletak dengan kaca ponsel yang pecah dan tak lagi menyala.
"Sial! wanita gila! kemari kau!" Angel yang akan memukul Sasha di hentikan oleh Shea yang menahan tangan wanita itu.
"Kak, tolong hentikan. Jangan membuat keributan disini," pinta Shea baik-baik. Bahkan saat ini ia sangat malu untuk menatap sekumpulan mahasiswa yang mengelilinginya.
"Apa kau bilang? ini semua karena kau!" Angel kembali menampar wajah Shea. Brian mencoba menahan tangan Angel pun terkena cakaran wanita itu.
"Apa kau gila hah?" umpat Brian saat wajahnya tergores kuku Angel.
"Kalian yang gila! untuk apa kau berteman dengan wanita pelacur itu! cuih!" Angel meludah tepat di depan Shea membuat gadis itu sontak mundur ke belakang. Angel berjalan pergi setelah menatap tajam pada Shea.
"apa yang kalian lihat? bubar!" teriak Brian dan melotot tajam kearah mahasiswa yang sejak tadi tidak membantu dan hanya melihat.
"Apa benar itu kamu Shea? kau belum menjawabnya!" tanya Brian dengan kilatan kedua matanya yang nampak kecewa. Begitu pula Sasha, ia juga menunggu kejujuran dari teman baiknya itu.
"Maaf...," Shea menurunkan pandangannya. Ia menahan tangisnya yang saat ini ingin sekali menyeruak keluar.
"Aku butuh jawabanmu Shea, apa itu kau atau bukan?" tanya Brian lagi kali ini dengan mengguncang tubuh Shea. Entahlah ia sangat terluka dengan kenyataan bahwa wanita yang sejak dulu menjadi penghuni hatinya telah memilih jalan yang salah.
"Ya, itu aku," jawaban Shea membuat Brian dan Sasha tersenyum getir.
"Shea, kenapa kau melakukannya? jika kau butuh uang, kau bisa memberitahu kami..," ungkap Sasha.
"Sasha, aku akan menjelaskan semuanya, aku...," ucapan Shea terpotong saat melihat Brian membawa pergi Sasha tanpa mendengarkan penjelasannya.
"Brian..," panggil Shea, namun langkah lelaki itu terus saja menjauh meninggalkan Shea yang kini membiarkan air matanya tumpah begitu saja.
Shea berlari pergi. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kelas. Shea berjalan keluar dari kampus dengan linangan air mata. Beberapa kali ia menghapus air mata itu karena dirinya telah menjadi tontonan orang namun tetap saja air mata itu terus kembali. Shea mencoba menahan Isak tangisnya yang kini telah berada di angkutan umum. Walaupun sesekali tetesan itu jatuh begitu saja tanpa ijin. Ia tak menyadari jika sejak tadi ada seseorang yang diam-diam mengikutinya.
***
Sejak kejadian pagi itu, Shea menjadi muram bahkan beberapa kali Mom Sashi melontarkan kalimat-kalimat lucu saat mereka berada di dapur Shea sama sekali tak terhibur. Melihat sikap Shea yang sering diam sejak tadi membuat Mom Sashi khawatir. "Shea, kamu baik-baik saja kan? sejak tadi aku pulang dari butik. Kamu terlihat murung. Ada apa nak?" tanya Mom Sashi perhatian.
Shea menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. "Oh ya, bagaimana kuliahmu tadi? menyenangkan tidak?"
Shea yang mendapat pertanyaan itu kembali teringat dengan umpatan dan tatapan benci dari teman baiknya. Shea menatap Mom Sashi, terlihat senyuman kecil menghiasi wajahnya. Walaupun ia berusaha memaksakan senyuman itu agar tidak ada tangisan yang terlihat.
"Syukurlah, oh ya, Mom lupa memberitahu mu. Besok ada acara makan malam bersama, kau harus ikut juga. Akan ada keluarga dari cecilia juga. Ada tamu spesial juga, dia anak dari Kakak Mommy. Dia juga wanita, mungkin kau nanti bisa berteman dengannya,"
"Maaf Nyonya, bisakah aku tidak ikut? aku takut akan merusaknya seperti kemarin," sesal Shea walaupun sebenarnya kejadian itu bukanlah sepenuhnya kesalahannya.
"Tidak apa, kamu kan tidak sengaja. Kamu harus ikut, karena kau adalah keluargaku juga," pinta Mom Sashi lagi.
"Tapi Nyonya..,"
"No Shea. Tidak ada penolakan. Kau harus ikut besok, okay?" paksa Mommy Sashi membuat Shea tidak ada pilihan lain selain mengiyakan.
"Saga, kau sudah pulang. Ternyata suamiku juga sudah pulang," sapa Mommy Sashi saat melihat dua pria berjalan kearahnya. Pandangan Saga sekilas menatap kearah Sashi yang sedang menyiapkan makanan. Ia seakan ingin mengatakan sesuatu, namun ia kembali mengurungkannya saat ia menyadari jika terlalu peduli pada gadis itu.
"Kenapa aku jadi sibuk dengan masalahnya,"