
Shea yang merasa tidak nyaman dengan posisi mereka saat ini berusaha untuk keluar dari Kungkungan Saga padanya.
"Minggir lah, aku sepertinya salah telah mengiyakan permintaan konyol mu itu," keluh Shea sembari menyingkirkan paksa tubuh Saga yang menghalanginya.
Saga beranjak dari posisinya saat ini, ia mengambil sebuah kertas untuk diberikan kepada Shea.
"Hmm, baca dan tanda tangani itu," sodor nya pada Shea.
Shea mengerutkan keningnya bingung, "apa ini? surat perjanjian pernikahan?"
"hmm,"
Poin poin perjanjian.
1. lama pernikahan hanya akan berlangsung 6 bulan.
2. Pihak I (Saga) akan memberikan upah sebesar 25jt di luar dari uang untuk keperluan rumah tangga.
3. Pihak ll (Shea) bersedia untuk mengikuti semua permintaan dan aturan yang diberikan oleh Pihak I selama masa kontrak nikah.
4. Setelah masa pernikahan habis, Pihak I akan memberikan saham perusahaan SNC grup (perusahaan pribadi Saga) sebesar 10% dan mansion sederhana dengan luas 350m² kepada Pihak II
5. Pihak I memiliki wewenang untuk mengubah dan mengganti peraturan yang telah disepakati.
Shea mengerutkan keningnya saat ia telah membaca hingga poin akhir.
"Kenapa hanya kamu yang memiliki hak untuk mengubah, tidak bisa aku tidak mau. Kau kira aku bodoh," Shea mengembalikan kertas itu pada Saga.
"Terserah kau, tapi perjanjian ini tidak bisa di ubah. Kau hanya perlu menuliskan nama mu dan tanda tangan disini," tunjuk Saga pada kolom kecil di bagian paling bawah kertas itu.
"Kau benar-benar keras kepala," keluh Shea menatap tajam Saga.
"Aku tidak ingin upah yang kau berikan itu, jadi hapus poin 5," tawar Shea.
"Tidak bisa, aku tidak ingin di cap sebagai pria yang hanya akan memanfaatkan mu. Lagipula apa yang kau khawatirkan, kau takut aku menipu mu?"
"Tentu saja, karena kau pria licik, keras kepala dan dingin seperti mu itu pasti punya banyak rencana kejam," sahut Shea ketus.
Saga memukul pelan dahi Shea membuat gadis itu semakin kesal padanya.
"Itu hanya untuk antisipasi, tanda tangani saja atau aku akan membatalkan perjanjian kita dan memberitahu Mom kebenarannya," ancam Saga membuat Shea mati kutu.
"Kau itu benar-benar," Shea menghela napasnya melihat Saga yang sudah duduk kembali di atas tempat tidur dan membaca bukunya.
"Aku sepertinya bisa gila jika terus-terusan bersama mu," keluh Shea setelah meletakkan surat perjanjian itu di meja kecil di samping tempat tidur Saga. Ia melangkah keluar dari kamar Saga, namun saat kakinya baru saja mendekati pintu kamar suara Saga membuatnya kembali mendelik kesal.
"Apa kau kemari tidak ingin mengikuti saran Mommy?"
"Saran?"
"pelukan, ciuman boleh, tapi jangan sampai kebablasan ya...," ucap Saga menirukan perkataan Mom Sashi yang tak sengaja di dengarnya saat ia akan menuju ruang baca yang terletak di samping ruang tamu.
"CUKUP! kau benar-benar gila," Shea segera melangkah pergi meninggal kamar terkutuk itu.
****
Dua Minggu berlalu setelah Saga mengumumkan bahwa Shea adalah kekasihnya, kini lelaki itu memiliki tugas tambahan untuk memberikan tumpangan antar jemput untuk Shea kemanapun. Tugas ini tak lain adalah permintaan secara paksa dari Mom Sashi agar hubungan Shea dan Saga semakin dekat. Karena selama ini, diam diam Mom Sashi memperhatikan keduanya yang terlihat saling tak acuh saat mereka hanya berdua. Berbeda dengan pasangan lainnya yang akan bersikap romantis layaknya kekasih pada umumnya.
Seperti saat ini, Saga menunggu dengan raut wajah kesal sambil beberapa kali melihat kearah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Kenapa gadis ini lama sekali," gerutu Saga sembari menyembunyikan klakson mobilnya beberapa kali membuat gendang telinga banyak orang merasa tuli berjamaah.
"Nyonya aku harus segera berangkat, Saga pasti sudah sangat marah sekarang," ungkap Shea yang masih duduk di meja rias bersama Mom Sashi yang terlihat merias wajah gadis itu secantik mungkin.
"Sebentar Shea satu menit lagi. Dan biasakan untuk memanggilku Mommy, oke? aku tidak suka kamu memanggilku Nyonya," balas Mom Sashi sembari mengoleskan lip tint merah delima di bibir Shea.
"Sudah selesai, kamu terlihat sangat cantik Shea," puji Mom Sashi tersenyum puas dengan hasil karyanya.
Shea mengangguk mengiyakan, "Nyonya, eh Mommy ternyata ahli dalam merias,"
"Tentu saja, sudah cepatlah berangkat. Saga pasti sudah sangat marah sekarang," mendengar ucapan Mom Sashi, Shea segera berlari kearah pintu utama mansion dan melihat mobil Saga yang sudah siap dengan suara mesinnya yang menyala.
"Maaf maaf," ucap Shea sembari membuka pintu mobil Saga.
"Kalau kau...," Suara Saga seketika terhenti saat pandangannya jatuh melihat kearah Shea.
"Kenapa menatapku seperti itu? apa riasannya aneh? apa terlihat menor?" Shea mendongakkan wajahnya kearah cermin kaca di mobil Saga.
"Kau apakan muka jelek mu itu?" decak Saga setelah sejenak terdiam tanpa mengatakan apapun. Ia kembali memfokuskan pandangannya walaupun tadi dia sempat mengagumi kecantikan Shea.
"Apa kau ada tisu, aku akan menghapusnya,"
"tidak ada, jangan kau hapus. Jika kau hapus wajahmu akan semakin terlihat jelek," ucap Saga dengan kedua matanya yang menatap lurus kearah jalanan.
"Ck, mulut mu itu sangat menyebalkan," decak Shea sembari memalingkan wajahnya menatap keluar kaca mobil daripada harus melihat wajah dingin Saga selama di perjalanan. Shea yang merasa bosan dengan keheningan di dalam mobil seketika mengambil ponsel miliknya dan menonton movie favoritnya di media streaming. Sedangkan Saga sesekali lelaki itu melirik Shea lewat ekor matanya secara diam-diam tanpa gadis itu sadari.
"konyol sekali, dia sudah dewasa tapi yang di lihat adalah cinema bocah kembar dari negara sebelah," batin Saga yang saat ekor matanya melihat kearah Shea yang terlihat menikmati video yang di putarnya bahkan sesekali gadis tertawa kecil.
Mobil yang di kendarai Saga telah sampai di tempat parkir kampus Shea.
"terima kasih," ucap Shea segera keluar dari mobilnya saat dari kejauhan ia melihat kedua sahabatnya.
"jam 2 siang kau harus sudah ada disini, jika kau terlambat aku tidak akan menunggu mu," peringat Saga.
Shea hanya mengangguk malas. Ia sudah sering kali mendapatkan peringatan yang sama selama seminggu ini.
"Iya, kau cepat pergilah, kau tidak lihat saat ini banyak mahasiswa yang melihat kearah kita," sorot mata Shea menelisik kearah beberapa mahasiswa yang kini menatapnya. Bahkan ada pula yang sepertinya sedang membicarakannya. Namun itu hanya berlangsung sesaat karena saat ini pandangan Shea mengarah kearah sosok wanita yang berpakaian mini dan raut wajahnya yang melihatnya tajam.
"ternyata kau masih hidup wanita pelacur," Angel, Kakak tiri Shea kini berdiri tepat di samping kanannya dengan mengamati penampilan Shea yang terlihat baik-baik saja. Angel melangkah mendekati mobil Saga, wanita itu dengan berani mengetuk pintu mobil Saga. Ia tidak menyadari jika saat ini pria yang berada di dalam mobil itu tengah melihatnya dengan tatapan merendahkan.
"Keluarlah, apa kau kekasih wanita pelacur ini? apa kau pria sewaan wanita pelacur ini?"
Bersambung