
"GADIS GILA!" umpat Saga pelan dengan kedua sorot matanya yang masih terkunci pada sosok gadis yang saat ini juga membalas mengejeknya kasar.
"AROGAN! PRIA SINTING!" balas Shea dengan lantang. Hal itu membuat Sashi, mommy Saga yang saat itu berjalan kearah kamar Saga untuk memberitahu bahwa kamarnya ada seseorang yang menempati seketika mengerutkan keningnya saat mendengar suara wanita.
"Apa gadis itu sudah bangun?" gumam wanita yang umurnya tak lagi muda itu. Namun sangat berbeda dengan wajahnya yang masih terlihat muda.
"kamu sudah bangun nak? tidur saja kenapa berdiri seperti ini. istrihatlah aku akan meminta pelayan untuk membawakan mu sup hangat," pinta Mommy Saga pada Shea.
"Mom, apa kau mengenalnya?" tanya Saga penuh selidik. Bagaimana bisa wanita yang sudah membuatnya kesal kini berada di rumahnya.
"Oh, mama bertemu dengannya di restoran seafood,"
Saga menelisik tajam tubuh Shea yang sudah memakai dress selutut yang berbeda dengan mini dress yang dipakainya lagi.
"Kau pasti menipunya? kau bilang apa padanya sampai ada disini?" gertak Saga kasar dan mencengkram erat lengan Shea hingga gadis itu merintih kesakitan.
"Lepas!" Shea mencoba menarik lengannya dari cengkraman tangan Saga walaupun hal itu sungguh mustahil untuknya. Tubuhnya yang masih lemas belum mampu mengimbangi genggaman erat pria itu.
Mommy Sashi yang melihat kekasaran putranya itu tak tinggal diam dengan memberikan ancaman dan tatapan tajam pada putranya. "Dia itu tidak menipu mommy, dia pingsan jadi mommy bawa kemari. Apa mommy salah?"
Cengkraman tangan Saga di lengan Shea terlepas saat Saga melihat raut wajah mommy nya yang terlihat kesal dengannya. Ia sangat pantang untuk membuat wanita yang telah mengandung dan melahirkannya itu marah maupun bersedih karena dirinya.
"Tapi Mom, wanita ini bukan wanita baik-baik," ucapnya setelah berselang beberapa detik.
"Tidak baik bagaimana? apa kau mengenalnya? apa dia temanmu? menurut mommy dia wanita baik-baik," celetuk Mommy Sashi yang seolah tak terima dengan ucapan yang dilontarkan oleh Saga. Walaupun ia tau jelas bahwa dirinya pun juga belum mengenal Shea sama sekali.
Shea menghela napas panjang. Ia mengalihkan tatapan matanya yang sejak tadi melihat kearah Saga dan mengalihkan pandangannya pada Mom Sashi. Shea mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan Mommy Sashi erat dengan perasaan tulus dari hati.
"Terima kasih anda telah menolong saya. Biarkan saja putra anda yang sok bijak ini menilai saya seperti apa. Saya berhutang Budi pada anda Nyonya," ungkap Shea dengan tulus. Entah mengapa Shea begitu senang saat menerima perhatian yang tulus dari Mommy Sashi. Karena selama ini ia hanya dibesarkan dengan kasih sayang Daddy dan ketidakadilan dari Mom Melly yang selalu memarahi dan memukulnya. Perhatian yang diberikan oleh Sashi walaupun hanya sebentar membuatnya kembali mengingat tentang kasih sayang Daddy-nya di masa yang telah berlalu.
"Tidak apa, Nak. Jika kamu masih sakit, kamu bisa istirahat disini saja. Atau kau ingin menghubungi keluargamu?" tanya Mom Sashi yang membuat Saga kembali meradang karena merasa Mommy nya itu terlalu berlebihan.
"Mom, jangan terlalu baik dengannya. Mommy tidak tau kalau dia itu...,"
"Saga diamlah! kau itu kenapa menjadi pria yang kejam. Dia sakit, apa kau tidak lihat?" kali ini Mom Sashi seketika membuat Saga diam tak bersuara dan pergi begitu saja meninggalkan dua orang wanita yang melihat kearahnya.
"Terserah sajalah. Aku tidak peduli," gumam Saga tak bersuara.
"Dimana keluargamu,Nak?" tanya Mom Sashi lagi membuyarkan lamunan Shea.
"Lalu dimana mereka?"
"Mereka...," Sashi memberi jeda kalimatnya. Ia tak mungkin mengatakan jika tempat tinggalnya berada di kota yang sama. Bukan karena Shea merasa malu atau apapun itu, tapi ia tidak ingin kembali ke rumah Ibu tiri dan Kakaknya. Shea tidak ingin kembali diperjualbelikan oleh keluarganya. Entahlah benarkah Shea masih bisa disebut keluarga atau tidak, yang Shea tau jelas saat ini ia tidak bisa kembali ke rumah itu. Dia akan mencari cara lain untuk mendapatkan uang dan melunasi hutang keluarganya tanpa harus menjual tubuhnya.
"Apa mereka tinggal jauh nak?"
" Ah iya Nyonya. Saya merantau disini," bohongnya, Shea sedikit menurunkan tatapan matanya seolah merasa tak enak hati karena telah berbohong pada sosok wanita yang bahkan telah bersikap baik dengannya.
"Lalu apa sekarang kamu sudah memiliki tempat tinggal?" tanya Sashi lagi. Entah mengapa ia merasa bahwa Shea adalah gadis baik, bukan seperti yang dituduhkan oleh putranya.
Shea menggelengkan kepalanya ragu-ragu. Ia dua kali telah berbicara bohong pada wanita di depannya. Entahlah kebohongan apalagi setelah ini yang akan ia ucapkan.
"Kalau begitu tinggal lah disini. Kau bisa menempati rumah yang ada di belakang mansion ini. Lagipula rumah itu juga sudah tidak ada yang menempati," ucap wanita itu memberikan tawaran pada Shea dengan raut wajahnya yang sumringah. Seolah ia merasa bahwa keluarganya saat ini telah lengkap, ia memiliki seorang putra dan juga seorang gadis.
"tidak nyonya terima kasih. Anda sudah sangat baik pada saya. Saya tidak ingin merepotkan Anda lagi, lagi pula putra nyonya sepertinya sangat membenci saya. Jadi..," ucapan Shea terputus saat Mommy Sashi menimpali perkataannya.
"Jangan hiraukan pria itu. Nanti juga dia sadar sendiri kalau kamu adalah gadis baik-baik. Jika kamu tidak ingin menerima tawaran ini karena tidak ingin merepotkan ku maka kamu bisa membantuku di butik nanti. Kamu bisa bekerja denganku," kata wanita itu lagi kembali memberikan penawaran untuk Shea.
"Bekerja? benarkah nyonya? saya sangat butuh pekerjaan saat ini. Tapi saya mencari tempat tinggal lain saja,"
"Iya, kamu bisa bekerja denganku. Tidak masalah tinggal lah di rumah itu. Jika kamu masih merasa enggan karena pemberianku. Kamu bisa membayar uang sewa kepadaku, bagaimana?" kali ini Mom Sashi berharap penuh bahwa Shea aman menerima tawarannya. Ia berharap kehadiran Shea akan membuatnya tidak lagi merasa kesepian saat suami dan putranya sibuk dengan pekerjaan dan bisnis masing-masing
"Baiklah Nyonya saya setuju," ucap Shea pada akhirnya. Keputusan itu membuat Mom Sashi nampak senang. Ia bahkan memeluk Shea dan seulas senyuman manis yang tersemat di bibirnya.
"Terima kasih Nyonya. Anda sangat baik sekali," ungkap Shea setelah pelukan mereka terlepas.
"Aku yang berterima kasih. Karena akhirnya aku tidak akan merasa kesepian lagi. Doa ku sudah terkabulkan. Oh ya, siapa namamu? kita bahkan belum berkenalan,"
"Saya Shea,"
"Baiklah Shea, mulai sekarang panggil aku mommy. Mommy Shashi. Oke?"
Shea menganggukkan kepalanya perlahan. Shea terlihat canggung dengan kedekatan mereka yang begitu tiba-tiba.
"Iya Mom,"
"Mom! Drama apa ini yang dibuat Mommy!