
"Akhhhh!!!" Shea berteriak keras saat melihat Saga yang bertelanjang dada. Hanya sehelai handuk yang mengikat di pinggangnya. Shea seketika membalikkan tubuhnya dan berdiri membelakangi Saga.
"Kenapa kau tidak memakai baju? pria mesum!" umpat Shea masih dengan posisinya yang berdiri membelakangi Saga. Berbeda halnya dengan Shea yang nampak kelimpungan, justru pria itu menarik sudut bibirnya keatas dan berjalan mendekati Shea.
"Bukankah kau yang mesum disini? untuk apa kau masuk ke kamarku?" jawab Saga dengan tatapan dingin tepat di belakang telinga Shea. Bahkan gadis itu bisa merasakan hembusan napas dari pria itu yang mengenai kulitnya.
Shea mendengus kesal, "aku diminta untuk membangunkan mu. Cepatlah, pakai bajumu itu aku ingin lekas keluar dari tempat mu ini,"
Saga menaikan sudut bibirnya," ini kamarku, kau sama sekali tidak hak untuk memerintah ku. Bahkan jika sekarang aku telanjang pun itu terserah padaku,"
Sontak kalimat itu membuat Shea membalikkan badannya saat Saga berdiri di belakangnya dengan posisi mereka yang terbilang cukup dekat.
"Kau!" pekik Shea, namun gadis itu nampak terkejut saat dahinya menabrak dada Saga yang masih bertelanjang dada itu.
Shea seketika menarik langkahnya mundur dan menurunkan pandangan matanya pada tubuh kekar Saga. Sungguh aroma dan tubuh pria itu membuat Shea menjadi gugup.
"Apa yang kau tunggu? apa kau ingin melihatku melepas penutup bawahku?" ucapan Saga itu sontak membuat Shea mendelik kesal dan berjalan cepat kearah pintu kamar Saga. Namun langkahnya terhenti saat ia berdiri bersisian dengan pintu kamar Saga.
"Nyonya Sashi ingin melihatmu bisa sarapan pagi bersama, jadi kalau kau bisa luangkan waktu mu hari ini, mungkin dia akan sangat senang,"
Tak ada balasan dari Saga. Begitupun dengan Shea yang langsung melanjutkan langkahnya setelah mengatakan beberapa kalimat yang sejak tadi ingin dikatakannya. Tanpa diketahui oleh Shea, ekor mata Saga memperhatikan Shea dengan ekspresi wajah yang tak terbaca saat gadis itu melenggang keluar.
"Shea, kamu sudah membangunkan Saga?" tanya Mom Sashi saat melihat Shea berjalan kembali kearah meja makan. Namun gadis itu yang kesal dengan perkataan Saga sibuk dengan pikirannya hingga tak sengaja menghabiskan pertanyaan Mom Sashi.
"Shea kamu kenapa? apa Saga bertindak kasar pada mu?' tanya Mom Sashi lagi melihat mulut Shea yang berkomat-kamit seolah sedang mengatakan sesuatu.
"Shea? kau mendengar ku?" tegur Mom Sashi. Kali ini Shea kembali mengalihkan perhatiannya pada wanita yang berdiri tak jauh darinya dengan tatapan bingung.
"Iya Nyonya? apa anda mengatakan sesuatu?" ucap Shea membuat Mom Sashi menggelengkan kepalanya.
"Ada yang kamu pikirkan? aku bahkan sudah bertanya sejak tadi," keluh Mom Sashi membuat Shea merasa tak enak hati.
"Maaf nyonya, saya..., saya hanya merasa kesal saja,"
"pasti karena Saga? apa anak itu kembali mengatakan hal buruk padamu?" tanya Mom Sashi yang terlihat sudah siap untuk memarahi putranya.
"tidak nyonya, hanya masalah kecil," elaknya, ia merasa tak enak hati membuat Mom Sashi berpikiran buruk mengenai putranya. Walaupun kebenarannya, Saga memanglah lelaki yang menyebalkan bagi Shea.
"Siapa yang kau maksud sayang? siapa yang ingin kau marahi?" tanya Dad Andreas sembari duduk di kursi biasanya.
"Sayang, tadi...," ucapan Mom Sashi terpotong saat Shea menggenggam erat tangan Mom Sashi sembari menggelengkan kepalanya berharap Mom Sashi tidak memperburuk suasana di pagi hari.
Mom Sashi yang paham maksud Shea hanya bisa menghela napas panjang dan menepuk pelan bahu Shea, "Ayo Shea, duduklah kita sarapan bersama," ajak Mom Sashi.
Tak lama, Saga berjalan kearah meja makan. Kini ia telah berpakaian formal dengan 2 kancing kemeja paling atas yang dibiarkan terbuka. Shea yang sekilas tak sengaja melihatnya sontak teringat dengan dada bidang Saga yang baru beberapa menit di lihatnya itu.
"Sial Shea, apa yang kau pikirkan!" Shea dengan cepat mengenyahkan pikiran-pikiran terkutuknya dan kembali memfokuskan kedua matanya untuk menatap makanan yang telah tersaji di depannya.
"Saga, Apa kau akan langsung berangkat seperti biasanya? Mom sudah menyiapkan kotak bekalnya disana," tunjuk Mom Sashi pada sebuah tas berbentuk kubus berwarna biru.
Saga melihat Shea sekilas sebelum perhatiannya kembali tertuju pada Mom Sashi, "Aku akan makan disini saja hari ini," Saga menarik salah satu kursi dan duduk bersebrangan dengan Shea.
Mom Sashi melebarkan senyumnya saat mendengar jawaban Saga. Hal itu juga tak luput dari perhatian Shea, gadis itu diam-diam tersenyum tipis mendengar perkataan Saga. Ia tak menyangka jika Saga akan mendengarkan perkataannya.
"Shea, kamu lihat kan, suamiku dan putraku kini duduk satu meja denganku untuk sarapan bersama. Kau tau biasanya mereka hanya sibuk dengan pekerjaan saja," ungkap Mom Sashi yang nampak senang terlihat dari senyumnya yang semakin mengembang.
Shea tersenyum kecil menjawab ungkapan mom Sashi. Ekor mata Shea tak sengaja menangkap sosok di depannya yang kini dengan terang-terangan menatapnya dingin.
"Apa apa dengannya? kenapa melihatku seperti itu? apa dia marah karena aku mengatakan untuk sarapan bersama? atau dia marah karena aku masuk ke kamarnya?" pikir Shea yang dengan segera mengalihkan pandangannya tak ingin melihat Saga dan sorot matanya bak es batu itu.
"Kau itu terlalu berlebihan. Pria pergi untuk mencari nafkah itu sudah biasa," jawab Dad Andreas di sela-sela sarapan pagi mereka.
"Bukan aku yang berlebihan, tapi kamu dan putramu itu. Kalian belum merasakan saja memiliki keluarga tapi seperti tinggal seorang diri," keluh Mom Sashi lagi membuatnya tak bernafsu untuk makan. Ia ingin kembali mengeluarkan uneg-unegnya lagi namun baru akan kembali membuka mulutnya Dad Andreas segera memotong perkataannya.
"Sudah makanlah dulu. Jangan membuat suasana menjadi tidak enak. Mulai besok aku akan sarapan pagi menemani mu,"
"Benarkah?" tanya Mom Sashi sumringah. Namun pandangannya kini beralih kearah Saga yang nampak tak acuh dengan drama keluarga yang baru saja terjadi di meja makan.
Saga yang mengetahui Mommy nya kini sedang memperhatikannya untuk menunggu jawaban membuat lelaki itu hanya bisa mendesahkan napasnya ke udara. "Hmm...," jawabnya singkat.
Shea yang melihat kebersamaan keluarga Mom Sashi seketika merasa iri. Ia tersenyum getir saat mengingat perlakuan Mom dan Kakak tirinya yang berbanding terbalik dengan keluarga yang dilihatnya saat ini. Shea tidak pernah merasakan senyuman tulus seorang ibu yang di berikan Mommy Melly dan Angel, Kakaknya. Sedangkan Mommy kandungnya sendiri telah meninggal ketika ia masih bayi. Melihat Mommy Sashi yang tersenyum bahagia membuat Shea ikut larut dalam kebahagiaan sederhana itu.
"Akankah kebahagiaan yang saat ini aku rasakan bisa bertahan lama,"