MY DANGEROUS HUSBAND

MY DANGEROUS HUSBAND
CH 25 :



Shea menunggu di sekitar halaman parkir dekat pepohonan rindang karena cuaca sangat terik. Shea melihat beberapa mahasiswa masih melihat kearahnya dan berbisik satu sama lain. Ia sadar saat ini dia masih menjadi bahan pembicaraan karena masalah pagi tadi. Shea juga sejak tadi tidak melihat keberadaan Kakak tirinya, setelah dari ruang dekan Angel mendapat panggilan telepon dari seseorang membuatnya pergi dengan terburu-buru.


"Kenapa Kak Angel dan Mom Melly sangat membenci ku? Dad, apa saat ini kau sedang melihatku dari sana? aku sangat lelah, apakah aku bisa kuat untuk menjalani semua ini?" seru Shea dalam hati. Tak lama sebuah mobil yang sangat Shea kenali mengarah kearahnya. Shea melihat wajah Saga dengan kacamata hitam saat kaca mobilnya yang di buka sebagian.


"Cepatlah masuk," pinta Saga dari dalam mobilnya.


"Iya," Shea berlari kecil masuk ke dalam mobil Saga. Sesaat ia menikmati udara dingin dari AC mobil milik Saga. Duduk di tengah cuaca yang sangat terik membuatnya merasa sangat gerah.


Shea bahkan masih mengibas-ibaskan tangannya karena merasa sangat gerah. Hal itu tak lepas dari perhatian Saga yang melihatnya dari sudut matanya.


"Apa kau tadi tidak mandi? kau sangat bau sekali," kata Saga membuat Shea dengan cepat mencium bau di badannya.


"Benarkah? apa sangat bau?"


Walaupun bau parfum yang di pakainya sudah hilang tapi ia merasa tubuhnya tidak menimbulkan bau yang tidak sedap.


"Apa kau ada parfum? atau kita pulang dulu agar aku bisa mandi? aku sangat malu jika harus ke butik dengan seperti ini," ungkap Shea sedikit memelas pada Saga. Namun lelaki itu sama sekali tidak menjawabnya. Ia hanya fokus mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Hanya sesaat Shea sempat melihat senyum kecil Saga dari sudut bibirnya. Ingat, Hanya sedikit.


"Saga, apa kau tuli? kenapa tidak menjawab ku? lebih baik kita pulang saja, aku ingin pulang dan mengganti pakaianku," Shea kembali mencium aroma tubuhnya, namun ia tetap tidak merasakan bau tidak sedap di tubuhnya.


"Kau bahkan belum sah menjadi Nyonya Shea Erland Faith tapi sudah berani memerintah ku," ucapnya dingin masih dengan posisi tatapannya yang masih menatap lurus jalanan.


Shea menggeram kesal, "Bukan itu maksud ku. Aku hanya malu jika harus kesana dengan penampilan lusuh dan bau seperti ini. Aku mohon Saga, bolehkan?" pinta Shea lagi dengan nada bicaranya yang lebih halus.


"Tidak," jawab Saga singkat.


"Kau!!" Shea menahan bibirnya untuk tidak berkata kasar pada Saga saat ini. "tidak Shea kau harus bisa menahannya. Ini bukan waktu yang tepat untuk bertengkar dengannya," serunya dalam hati.


"Semakin kau jelek, semakin bagus untuk ku," gumam Saga pelan yang tidak terdengar dengan jelas oleh Shea.


"Pria aneh, gila, sinting, apa dia itu pecinta sesama jenis? perlakuannya pada wanita sangatlah buruk," gerutu Shea sendiri, ia lebih memilih memalingkan wajahnya melihat kearah jalanan dari kaca mobil di sampingnya.


****


Berselang beberapa menit mobil yang di kendarai Saga berhenti tepat di sebuah butik mewah milik Mommy-nya.


"turunlah," perintah Saga dengan wajah datar dan tanpa ekspresi apapun.


Shea mengerutkan keningnya saat melihat butik Mom Sashi yang nampak sepi tidak seperti biasanya. "Butiknya sepi, lalu untuk apa aku kemari? apa terjadi sesuatu?" Shea yang masih bertanya-tanya segera masuk ke dalam butik mengikuti Saga yang terlebih dahulu masuk ke dalamnya.


"Hai, Shea. Akhirnya kau datang juga. Aku sudah menunggu mu sedari tadi," sambut Mom Sashi melihat sosok Shea yang berjalan masuk ke dalam ruangan. Namun tidak dengan Saga yang segera mendaratkan tubuhnya di sebuah sofa panjang tak jauh dari sana.


"Mom, kenapa butiknya sepi? lalu kenapa semua gaun pernikahan ada disini semua?" tanya Shea saat melihat beberapa gaun pengantin dengan berbagai bentuk dan model terpajang jelas di depannya. Biasanya Mom Sashi hanya memasang sebuah gaun yang limited edition di patung manekinnya.


"Kau akan tau nanti, sekarang kamu letakkan dulu tas dan buku yang kamu pegang. Mommy akan meminta staf untuk menyiapkan ruang gantinya," Shea yang masih tidak mengerti apa yang di maksudkan oleh Mom Sashi hanya mengangguk menyetujuinya. Mom Sashi kembali masuk ke dalam ruangan meninggalkan Shea dan Saga di ruang tunggu.


"Astaga apa yang aku pikirkan, tidak boleh Shea," celetuk Shea yang terlihat panik dengan pikirannya sendiri. Saga memicingkan kedua matanya melihat kearah Shea.


"Apa kau sudah gila? kau bicara sendiri,"


Shea mengibaskan tangannya yang tiba-tiba menjadi gerah dan gugup. "tidak, aku tidak gila. Kau lah yang gila," balas Shea mengejek.


Sorot mata Saga yang dingin melihatnya sekilas kemudian beranjak dari tempat duduknya.


"Mau apa? kau akan memukulku?" Shea berjalan mundur dan merentangkan tangannya ke depan memberi jarak agar Saga tidak terlalu dekat dengannya.


Saga menyunggingkan bibirnya, "jangan menjadi gila karena beberapa hari lagi adalah pernikahan kau dan aku. Aku tidak ingin memiliki istri yang gila nanti," bidiknya sembari merapikan jasnya.


"HAH?" pekik Shea terkejut.


"Pernikahan? tapi ini terlalu cepat? apa jangan-jangan saat ini Mom Sashi sedang menyiapkan gaun untukku? Astaga, kenapa aku tidak memikirkan hal itu tadi. Aku bahkan belum siap," ucap Shea panik membuat Saga semakin gencar untuk menggodanya. Entah mengapa, ia sangat suka saat melihatnya.


"Memang apa yang harus kau persiapkan? kau hanya sibuk saat malam pertama kita saja nanti," goda Saga membuat pikiran Shea membayangkan hal yang tidak seharusnya.


"Tidak, tidak tidak aku tidak mau!" Shea serentak menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya sedikit gugup.


Saga menyunggingkan bibirnya, "kau harus mempersiapkan untuk malam itu tiba," ucapnya lagi membuat Shea semakin meradang.


"Aku tidak mau! ini hanya pernikahan Ko...," belum selesai Shea mengatakan kalimatnya namun Saga dengan cepat membungkam mulut Shea dengan telapak tangannya yang lebar saat melihat mom Sashi berjalan kearah mereka.


"Eh apa yang kalian lakukan?" tanya Mom Sashi seolah ia tengah memergoki pasangan yang sedang bermesraan. Yah, karena saat ini posisi keduanya sangat dekat bahkan terlihat sangat intim.


"Lepas," pekik Shea seketika keduanya kembali menjaga jarak.


"ternyata kalian sudah tidak tahan ya, apa Mom perlu pergi agar kalian bisa bermesraan lagi?" ejek Mom Sashi membuat Shea kikuk di buatnya. Namun tidak dengan Saga, Shea melihat lelaki itu tetap dengan wajah datarnya yang dingin.


"Sudahlah, sebentar lagi jika kalian sudah halal, kalian boleh melakukan sepuasnya," goda Mom Sashi lagi.


"Mom, aku harus pergi," sahut Saga sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Heh? kamu tidak mau melihat Shea yang memakai gaun pengantin? kau harus menemaninya," seru Mom Sashi dengan raut wajahnya yang dibuat kecewa.


"Tidak bisa, aku ada pekerjaan yang harus segera ku selesaikan," Saga melangkahkan kakinya pergi meninggalkan butik, namun sebelum pergi ia melihat kearah Shea yang nampak acuh dengan kepergiannya. Sedangkan Mom Sashi hanya pasrah melihat putranya yang benar-benar pergi.


"Pria itu benar-benar keras kepala,"


Bersambung