
"Apa yang kau lakukan disini?" suara Saga sedikit mengejutkan Shea.
"mengambil air," jawabnya sambil menunjukkan botol kosong di hadapan Saga.
Beberapa saat mereka hanya saling menatap dalam diam hingga suara Shea yang mengisi keheningan itu membuat Saga mengalihkan pandangannya menuju mesin pendingin. Lelaki itu sudah sangat lapar, sejak tadi Saga hanya mengendarai mobilnya tak tentu arah tanpa membawa dompet maupun HP miliknya. Saat itu Saga hanya memikirkan cara untuk melampiaskan emosinya yang berkaitan dengan adanya Shea di mansion keluarganya.
"Kau lapar?" tanya gadis itu lagi ketika melihat Saga mencondongkan tubuhnya untuk melihat isi di dalam lemari pendingin. Namun sialnya, tidak ada makanan apapun untuk mengenyangkan perutnya. Hanya ada stok bahan makanan mentah dan minuman penyegar yang berjejer rapi.
"tidak,"
Saga berjalan pergi tanpa mempedulikan kehadiran Shea yang masih berdiri tak jauh darinya. Sekedar menyapa untuk berpamitan pergi pun tidak. Lelaki itu melangkah pergi meninggalkan Shea untuk naik ke lantai atas, namun suara Shea membuat Saga menghentikan langkahnya.
"Kau sudah bisa tidur ditempat mu, aku sudah pindah di lantai atas. Sprei, selimut dan sarung bantalnya sudah aku ganti dengan yang baru. Maaf sudah menyusahkan mu,"
Namun tak ada balasan dari Saga, lelaki itu hanya mengurungkan langkahnya untuk naik dan berbalik arah menuju kamarnya.
Shea menghembuskan napasnya dalam. "Apa sikapnya memang dingin seperti itu? Kasar sekali. Perkataan ku bahkan tidak di jawab olehnya,"
Shea membuka isi kulkas dan mengamati bahan makanan yang ada di dalamnya. "Makanan apa yang bisa aku masak dengan cepat?" pikirnya melihat banyaknya bahan makanan lengkap dengan bumbu masakannya.
"Apa aku membuat salad saja?" ucapnya lagi seorang diri melihat beberapa macam buah yang bisa ia gunakan.
***
Setelah berkutat dengan pisau dapur dan yang lainnya kini Shea telah berdiri di depan kamar Saga yang tertutup. Tangan kirinya membawa sebuah salad buah yang telah dibuatnya sembari mengetuk pintu itu pelan.
"Kau sudah tidur? kau belum memesan makanan online kan? aku membuat salad untukmu. Apa kau tidak ingin membuka pintunya?" lirihnya pelan. Shea takut suaranya akan membangunkan yang lain.
Ajan tetapi selama beberapa menit dia berdiri tidak ada balasan apapun dari Saga. Shea sama sekali tidak mendengar jawaban dari pria itu.
"Apa dia sudah tidur?"
Shea kembali mengetuk pintu itu sedikit keras namun lagi-lagi tak ada suara bahkan terbuka pintunya pun tidak.
"Jika kamu belum tidur, makanlah saladnya. Aku akan memasukkannya ke pendingin," Jelasnya sedikit lebih keras berharap Saga akan mendengarnya. Dia tidak ingin makanan yang telah dibuat terbuang sia-sia. Shea kembali ke dapur dan meletakkan salad yang dibuatnya ke dalam kulkas sebelum naik ke kamarnya untuk tidur.
Sedangkan di dalam kamar Saga sebenarnya juga belum tertidur. Sejak tadi ia menarik turunkan jarinya yang ada di layar HP nya untuk mencari makanan di jam 1 malam di sebuah aplikasi hijau pesan antar. Akan tetapi beberapa kali pesanannya gagal karena tidak menemukan pengantar makanan. Hingga suara Shea membuatnya menoleh kearah pintu kamar tanpa beranjak dari tempat tidurnya. Saga nampak enggan untuk bertemu Shea setelah kejadian yang menjengkelkan baginya yang berhubungan dengan gadis itu. Namun berbeda halnya dengan makanan yang dibuat Shea, karena saat ini lelaki itu tengah sibuk menikmati salad buah yang telah dibuat oleh Shea. Bahkan dengan tidak sabarnya lelaki itu makan di meja dapur dalam kegelapan.
****
Langit yang begitu cerah pagi itu membuat Shea tersenyum kecil menikmati udara dan cahaya matahari pagi yang menyentuh kulitnya dengan berdiri di sekitar halaman mansion utama.
"Shea, apa yang kamu lakukan disana?" tanya Mom Sashi melihat Shea merentangkan tangannya dan menengadahkan kepalanya menatap semburat langit biru yang sedikit tertutup awan.
"Menikmati udara pagi," sahut Shea menghampiri Mom Sashi untuk membantunya di dapur.
Setiap pagi Mom Sashi akan ikut menyiapkan bahan makanan untuk menu breakfast keluarganya. Seperti saat ini, walaupun memiliki beberapa pelayan khusus di dapur namun ia masih ikut berkutat di dapur kotor untuk memastikan bahwa makanan untuk keluarganya sempurna. Walaupun pada akhirnya ia akan menikmati makanan itu seorang diri.
"Kamu pasti sering melakukan itu di rumahmu kan?" tanya Mom Sashi di sela-sela kesibukannya di dapur yang juga di bantu oleh Shea. Walaupun sekadar menyiapkan peralatan makan di meja makan.
"Berjemur? hanya sesekali saja," balas Shea yang seketika mengingat dirinya kecil dulu bersama mendiang Daddy nya yang selalu rutin untuk lari pagi dan menikmati obrolan kecil mereka yang penuh canda tawa.
"Bi, ini mangkuk kotor milik siapa? bukankah semalam bibi bilang sudah dibersihkan?"
pertanyaan Mom Sashi membuat Shea berjalan menghampirinya dan melihat mangkuk bekas salad yang dibuatnya semalam tergeletak di wastafel.
"Memakannya? apa kamu yang membuatnya Shea?"
"Eh itu, Saga kemarin malam merasa lapar jadi aku membuatkan salad itu untuknya. Sepertinya Saga...,"
"Bukan aku, mana mungkin aku makan buatan orang yang tidak aku kenal," sahut seseorang yang telah berdiri di belakang Shea dengan pakaian rapi lengkap dengan file berkas ditangannya.
"Jadi bukan kamu?"
"Bukan," jawab Saga cepat dan berlalu pergi sebelum Mommy Sashi menanyai dirinya berbagai hal. "Mom, aku berangkat,"
"Saga makanlah dulu!" namun seruan dari Mom Sashi itu tertelan begitu saja oleh udara karena kini bayangan Saga sudah tidak lagi terlihat.
"Begitulah Saga, dia pergi pagi dan pulang tengah malam. Begitu juga dengan suamiku. Dia hanya pulang ketika meminta jatah ranjang saja. Menyebalkan. Dua orang itu sama-sama gila kerja. Menyebalkan sekali," gerutu Mom Sashi pada dua orang yang sangat berarti untuknya. Shea yang masih berdiri di sampingnya hanya diam mendengarkan curhatan wanita itu yang sungguh terang-terangan. Bahkan kata kata 'meminta jatah pun' ia lontarkan dengan santainya.
"Mommy yakin kalau Saga yang telah memakan Salad ini. Dia itu sungguh tidak tau terima kasih. Sudah makan buatan orang, tapi tidak mau mengaku," lanjutnya lagi sembari meletakkan semua masakan yang sudah matang diatas meja makan.
Shea mengerutkan keningnya. Apakah orang sedingin Saga juga berbohong hal kecil seperti ini. Karena Shea memang membuatkan makanan itu untuk Saga, jadi jika pria itu memakannya pun dia tidak akan marah.
"Sungguh pria aneh,"
Mom Sashi yang melihat suaminya berjalan menuju meja makan segera menghampiri pria itu dan berhambur memeluknya. Shea yang melihat kemesraan pasangan halal itu tersenyum simpul seolah kini ia melihat keromantisan keluarganya.
"Kamu itu sudah tua kenapa manja sekali? tidak mau di lihat oleh pelayan dan yang lainnya," komentar Dad Andreas membuat Mom Sashi mendengus kesal.
"Aku hanya ingin memeluk suamiku. Apa aku salah? lagi pula aku ini masih muda. Kau yang sudah tua, sayang. Jika aku bilang masih gadis banyak pria yang akan mau denganku," ejek Mom Sashi tak mau kalah. Membuat Shea semakin tersenyum geli mendengarnya.
"Apa kamu bilang? kamu mau selingkuh dariku?" suara Dad Antoni yang tegas dan tatapan wajahnya yang datar namun cukup menakutkan itu membuat nyali Mom Sashi untuk kembali menggoda suaminya itu seketika surut.
"Mana mungkin sayang, kamu itu pria yang paling pas untukku," lanjutnya lagi tak ingin membuat suaminya menatapnya tajam.
"Shea kemari lah ayo makan bersama," ajak Mom Sashi melihat Shea yang masih berdiri mematung melihatnya. Shea menganggukkan kepalanya dan berjalan menghampiri mereka.
"Apa kau kuliah?" tanya Dad Andreas setelah beberapa saat membuat Shea mengurungkan niatnya untuk menyuapkan nasi ke mulutnya.
Shea menganggukkan kepalanya sedikit ragu-ragu. Ia bingung apakah dirinya masih disebut mahasiswa atau bukan. Karena saat ini ia tidak memiliki biaya untuk melanjutkan studinya.
"Saya kuliah. Tapi sepertinya saya akan mengajukan berhenti studi sementara tuan. Karena saya tidak memiliki dana lagi,"
"Lanjutkan lagi kuliahmu. Aku yang akan menanggungnya," ucapnya sebelum pergi berangkat untuk bekerja.
"Maaf tuan saya...,"
"Sudahlah Shea terima saja, ini hadiah dari Dad kamu. Benarkan sayang? karena dengan adanya Shea aku tidak lagi kesepian," sahut Mom Sashi sembari tersenyum menatap suaminya yang sangat berwibawa.
"Aku berangkat,"
Di sisi lain Shea senang karena ia akan melanjutkan studinya namun di lain sisi ia terus memikirkan kebohongan yang pernah ia ucapkan mengenai latar belakang keluarganya.
"Apakah pantas aku menerima perlakuan baik mereka,"
TBC.