
"Nyonya, maaf saya terlambat," Shea masuk ke dalam butik Mom Sashi dengan napas yang tidak beraturan dan butiran keringat yang sudah tak terhitung lagi seberapa banyak air itu sudah membasahi seluruh wajah dan lehernya. Bahkan saat ini Shea pun juga merasakan rasa lengket di kedua lipatan pangkal lengannya. (read : ketiak wkwk)
"Shea, kau baik-baik saja? supir mengabari ku kalau kamu tidak ingin di antar olehnya, dan memintanya untuk meninggalkan mu disana," ungkap Mom Shea yang sejak tadi merasa khawatir. Bahkan ia semakin cemas saat Dad Andreas memberitahu nya bahwa Shea sudah pulang sejak satu jam yang lalu.
Yah, Mom Sashi mendapatkan kabar dari supir pribadinya bahwa diminta Shea untuk pergi, ia berpikir bahwa mungkin Shea akan pulang dengan putranya ataupun dengan Dad Andreas. Namun saat Dad Andreas menelponnya 15 menit yang lalu membuat Mom Sashi khawatir bahwa Shea telah pulang sejak satu jam yang lalu.
"Kamu baik-baik saja kan?" tanya Mom Sashi sekali lagi.
Shea menganggukkan kepalanya. Entah mengapa napasnya yang masih tersengal-sengal membuatnya susah untuk berbicara.
"Minumlah dulu," pinta Mom Sashi ketika menerima segelas minuman yang tadi di mintanya kepada salah satu pegawainya.
"Kalau kamu pulang seorang diri, tapi kenapa supir mengatakan kalau dia di minta olehmu untuk pulang?" tanya Mom Sashi yang nampak kebingungan.
"Saya tidak tau Nyonya. Ketika turun ke lobby, satpam mengatakan kalau supir itu sudah pergi,"
"Astaga, kenapa bisa seperti itu? aku harus meminta Andreas untuk menyelidikinya. Pasti ada yang tidak beres," Mom Sashi hendak mengambil ponselnya dan akan menghubungi suaminya, namun Shea memohon pada Mom Sashi untuk tidak memperpanjang permasalahan itu.
"Nyonya tidak perlu. Ini bukan perkara besar. Mungkin tadi ada salah informasi saja," cegah Shea, ia tak ingin seseorang terkena masalah karena dirinya.
"Baik lah begini saja, kamu pasti lelah. Istirahat saja di ruang tunggu disana," tunjuk Mom Sashi pada sebuah ruangan yang berdekatan dengan ruang ganti.
"Tidak Nyonya, saya baik-baik saja. Saya ingin membantu disini," Shea mengatur posisi tubuhnya dengan tegap seolah ia siap untuk bekerja saat itu juga. Namun berbeda dengan kondisi fisiknya yang merasakan kedua lututnya yang berdenyut.
"Apa kau benar-benar baik-baik saja sekarang?"
Shea mengiyakan pertanyaan Mom Sashi dan segera membantu pekerjaan pegawai yang saat itu juga terlihat sibuk.
****
Shea memijit kedua lututnya yang terasa pegal. Kini ia sudah tidak lagi berada di mansion utama walaupun tetap saja rumah yang ia tempati saat ini adalah milik keluarga Dad Andreas. Shea yang berada di luar memandangi langit malam sembari duduk di kursi kayu yang berada di dekat pintu kini memicingkan kedua matanya saat melihat silau cahaya dari lampu 2 mobil mewah yang melintasi halaman mansion.
"Mobil siapa itu? apa milik keluarga Nyonya? tapi kenapa aku tidak pernah lihat sebelumnya," gumam Shea. Ia terus memandangi mobil itu hingga seorang wanita berpakaian terbuka di lengannya dengan panjang dress nya yang terbilang sangat minim untuk suasana di malam hari.
"Bukankah itu wanita yang ada di kantor Saga tadi? apa mereka ada acara di dalam?" gumam Sashi seorang diri, namun keterkejutannya tak hanya karena kedatangan wanita itu melainkan seorang pria yang Shea kenal keluar dari mobil yang sama. Sedangkan di mobil lain terlihat pasangan paruh baya yang Shea tebak adalah orang tua si wanita itu.
"Bukankah itu Saga?" Shea kembali menajamkan pengelihatannya. Lampu halaman mansion yang temaram sedikit susah oleh Shea untuk mengenal jelas wajah pria itu. Namun saat Shea mengetahui jelas jika pria itu adalah Saga seketika gadis itu terlihat tersenyum sinis.
"Kau menghinaku karena pakaian ku yang minim saat itu. Tapi sekarang kau justru sangat senang di dekati wanita itu. Bahkan pakaian itu lebih terbuka dari yang ku pakai," desis Shea dan kembali masuk ke dalam rumahnya berniat untuk membuat makan malam. Namun suara pelayan wanita yang memanggilnya dari kejauhan dan berlari kearahnya membuat Shea mengurungkan niatnya untuk masuk.
"Ada apa Bi?"
"Saya? bukankah di dalam ada tamu bi? untuk apa saya di undang disana?" Shea nampak bingung dengan undangan makan malam itu. Pasalnya ia hanya orang luar yang tidak memiliki ikatan keluarga apapun.
"Saya hanya menyampaikan pesan saja, nona. Mohon segera untuk datang, karena saat ini anda di tunggu oleh tuan dan nyonya serta tamunya,"
Shea menggaruk kepalanya yang tidak gatal." ya ampun bi, bilang saja saya sudah tidur,"
"tidak mungkin Nona, karena tadi anda terlihat dari cctv pengawas mansion kalau anda belum tidur," sontak hal itu semakin membuat Shea terkejut.
"Hah? jadi disini ada cctv?" Shea seketika menengadahkan kepalanya ke kanan dan ke kiri mencari cctv yang di maksud oleh pelayan wanita itu.
"Iya nona ada, baiklah nona saya permisi,"
Shea yang tidak memiliki pilihan lain hanya bisa pasrah untuk datang ke acara makan malam itu walaupun rasanya enggan untuk datang. Melihat Saga bersama cenayang nya hanya akan membuat perasaanya terluka oleh mulut peda mereka.
Setelah mengganti pakaiannya dan mengoleskan bedak dan liptint tipis di wajahnya, Shea melangkahkan kakinya masuk ke dalam mansion. Shea yang sudah mengetahui ruangan-ruangan mansion keluarga Dad Andreas segera berjalan menuju meja makan. Kakinya terkunci untuk enggan melangkah lebih dekat lagi. Ia melihat Mom Sashi dan Dad Andreas terlihat sibuk mengobrol dengan tamu undangan mereka termasuk Saga yang terlihat menanggapi sesekali.
"Apa aku harus menemui mereka?" pikirnya.
"Kau! bukankah itu pelayan waktu itu Gaga? kau belum memecatnya?" seruan Cecilia itu membuat semua pasang mata kini menatap kearah Shea. Gadis itu kini hanya berdiri diam tak tau harus mengatakan atau melakukan apa. Sungguh, rasanya ingin sekali kakinya melangkah pergi dari sana
"Pelayan? dia bukan pelayan disini. Shea keluarga kami, Shea kemari lah aku sudah menunggu mu sejak tadi," panggil Mom Sashi dari s
tempat meja makan.
Shea berjalan mendekati meja makan dan duduk di samping Mom Sashi.
"Jadi dia bukan pelayan? tapi kenapa Gaga kemarin tidak mengatakan apapun," tatapan Cecilia kini tertuju pada Saga yang nampak cuek bahkan terlihat tak acuh dengan kedatangan Shea.
"karena tidak penting untuk di bahas," jawab Saga dengan raut wajah datar walaupun Ekor matanya sekilas melihat kearah Shea.
"Saga kau..!!" Mom Sashi yang akan memarahi putranya itu seketika suaranya tertelan saat suara Dad Andreas memotong perkataannya.
"Karena Shea sudah datang, kita bisa mulai makan malam ini. Selamat menikmati hidangan kami tuan dan nyonya Thomas,"
Shea yang merasa tak enak hati hanya bisa menundukkan kepalanya dan berharap acara makan malam itu segera berakhir, sehingga ia bisa secepatnya pergi menjauhi Saga. Entah mengapa, tatapan tak suka dari pria itu yang ditujukan jelas-jelas padanya membuat Shea tersakiti. Seakan seperti pisau yang menggores luka di tubuhnya yang bernyawa.
Bersambung