
"Shea, makanlah yang banyak dan istirahat yang cukup ya. Kamu tidak apa kan tinggal di rumah sendiri nanti siang? Mom, harus ke butik untuk memantau pesanan klien," terang Mom Sashi di sela kesibukannya mengunyah makanannya.
"Biar saya ikut juga, Nyonya,"
Shea merasa tidak nyaman jika harus tinggal seorang diri di mansion seluas ini walaupun ia tak sepenuhnya sendiri karena masih ada pelayan dan tukang kebun yang mengurus mansion mewah itu.
"Jangan dulu, kamu masih sakit kan? nanti saja kalau sudah sembuh. Disana itu super sibuk, kalau keadaanmu masih belum pulih nanti akan tambah sakit," terang Mom Sashi menasehati seolah anak sendiri. Mungkin karena ia belum beruntung untuk di karunia anak perempuan, membuatnya sangat menyayangi Shea.
"dan lagi panggil lah aku Mommy, okey?"
Sebenarnya Shea masih sangat asing untuk memanggil wanita itu dengan sebutan 'Mommy'. Melihat bagaimana sikap Saga padanya pun membuat Shea sebenarnya nampak ragu untuk memanggil sebutan itu.
Shea hanya mengiyakan ucapan Mom Sashi dengan menganggukkan kepalanya. "Saya sudah baikan, sungguh," ucap Shea yang bersikeras untuk ikut.
"Baiklah begini saja, sekarang kamu istirahatlah. Nanti siang bisakah kamu mengantarkan makan siang untuk Dad Andreas dan Sagara di kantor? setelah dari kantor kamu bisa menyusul ku di butik," putus Mom Sashi dan disetujui oleh Shea. Walaupun gadis itu terlihat khawatir saat Mom Sashi menyebutkan nama Saga, melihat pria itu sangat membenci dirinya.
"Nanti kamu akan di antar oleh supir. Tapi jika kamu tiba-tiba merasa pusing atau apapun itu kamu istirahat saja," pinta Mom Sashi sembari mengamati wajah Shea yang masih terlihat pucat.
Shea mengiyakan permintaan Mom Sashi dan kembali menghabiskan makanannya.
****
15 menit yang lalu Mom Sashi sudah berangkat ke butik sesuai ucapan wanita itu saat sarapan pagi. Kini Shea tengah membersihkan ruangan kamarnya dan mengemasi beberapa pakaian yang di belikan oleh Mom Sashi. Yah, Mom Sashi sangatlah baik pada Shea. Selama dua hari ia tinggal di mansion kebutuhan Shea tercukupi dengan baik. Dia mengingat betul bahwa dia datang hanya dengan pakaian mini dan tidak memiliki apapun termasuk pakaian ganti, skincare dan kebutuhan wanita lainnya.
Shea menuruni anak tangga dengan membawa dua dus kotak yang berisi barang pribadi miliknya untuk Shea pindahkan ke rumah yang berada di belakang mansion. Walaupun pelayan masih mengatakan bahwa rumah masih akan dibersihkan. Namun Shea tidak mempermasalahkan hal itu, ia hanya ingin segera pindah agar Saga tidak lagi merasa tidak nyaman dengan keberadaan dirinya. Bukan karena Shea merasa takut, akan tetapi Shea tidak ingin hubungan Mom Sashi dan Saga akan merenggang karena dirinya.
"Nona, kenapa membawa barang bawaan sendiri? Seharusnya memanggilku, jika tuan dan nyonya tau saya pasti kena marah,"
Pelayan yang sudah berada di dalam rumah yang akan di tempati oleh Shea itu terkejut saat melihat tamu majikannya itu membawa barang bawaan seorang diri.
"Tidak apa Bi, lagi pula ini tidak terlalu berat,"
Shea meletakkan dus kotak itu di sembarang tempat dan mulai ikut membantu pelayan membantu membersikan rumahku.
"Nona, duduk saja. Biar bibi saja," Pelayan wanita itu mengambil alih sapu yang di pegang oleh Shea.
"Bibi, tidak apa. Biar cepat selesai,"
Namun pelayan itu tetap tidak mengijinkan Shea untuk membantunya. Karena ia telah di minta khusus oleh Mom Sashi untuk membersihkan rumah Shea dan tidak memperbolehkan Shea untuk melakukan aktivitas yang terlalu melelahkan.
"Baiklah bi, aku tidak akan memaksa. Tapi biarkan aku untuk membersihkan kamar tidurku sendiri. Aku juga akan meletakkan barang-barang ku, bagaimana?"
"Tapi Nona bagaimana kalau Nyonya Sashi tau..,"
"Tidak akan, Aku berjanji tidak akan membuat bibi bermasalah,"
Pada akhirnya Pelayan itu menerima permintaan Shea. Walaupun pada akhirnya Pelayan wanita itu tetap membantu Shea membersihkan kamar tidurnya ketika pekerjaan pelayan itu telah selesai.
Shea menghela napas panjang. Ia melihat sekeliling ruang kamarnya. Akhirnya setelah tiga jam lamanya ia membersihkan rumah bersama dua pelayan yang membantunya kini rumah yang kosong dan berdebu itu telah layak untuk di tempati.
Shea melihat kearah jam dinding yang ada di ruang tamu rumahnya. Ia nampak terkejut saat melihat jarum jam sudah berada di angka 11.
"Astaga, aku belum siap-siap. Aku harus ke perusahaan tuan Andreas," Shea berlari menuju kamar mandi untuk kembali membersihkan tubuhnya yang lengket karena keringat dan debu.
Shea terlihat terburu-buru berlari kecil menuju perusahaan besar milik keluarga Dewantara, perusahan keluarga dari Mommy Sashi. Setelah perpindahan jabatan dari generasi pertama, kini perusahaan telah ambil alih oleh generasi ketiga. Generasi kedua seperti Dad Andreas, yang memiliki sebagian saham perusahaan, Arka Gumilang Dewantara, kakak dari Mom Sashi dan juga Angela, anak dari Arga (generasi pertama) kini hanya membantu mengembangkan perusahaan dan sebagai konsultan bisnis untuk generasi ketiga memimpin perusahaan agar lebih unggul.
Shea berlari kecil menuju lobby perusahaan. Ia berhenti di meja resepsionis untuk menanyakan ruang kerja Dad Andreas dan Sagara karena ia lupa untuk menanyakan ruang kerja mereka.
"Ada di lantai 3 Nona. Setelah keluar lift, belok ke kanan. Ruangannya yang paling ujung. Untuk ruangan Tuan Saga juga berada di sampingnya. Tapi biasanya tuan Saga selalu makan bersama tuan Andreas."
"Baiklah, terima kasih kak," Shea berlari menuju lift yang saat itu kebetulan terbuka. Ia melihat kearah jam di pergelangan tangannya.
"Astaga, mereka pasti sudah menunggu makanan ini," keluh Sashi membuat pegawai yang juga berada di lift bersama menatapnya. Shea seketika menyembunyikan wajahnya malu karena tidak bisa mengontrol suaranya. Pintu lift terbuka, gadis itu berlari dengan tergesa-gesa menuju ruangan kerja Dad Andreas. Shea menetralkan napasnya sebelum masuk ke ruangan.
"Siang tuan," Sapa gadis itu sembari membuka pintu itu setelah mengetuk pintu ruang kerja Dad Andreas. Shea melihat pria parubaya itu tengah berkonsentrasi dengan berkas-berkas di tangannya.
"Shea? kenapa kau kemari?" sapa Dad Andreas melihat tamu istrinya itu datang menemuinya.
"Saya di minta Mom Sashi, eh maksud saya Nyonya Sashi untuk mengantar makanan ini," ucap Shea gugup. Entah mengapa, raut wajah tegas dan dingin Dad Andreas membuat Shea sedikit takut untuk berbicara dengannya.
"Baiklah terima kasih,"
Shea mengangguk. "yang ini untuk tuan Saga," dia menunjukkan kotak bekal yang lain di tangan kirinya.
"Oh Saga di ruang kerjanya. Kau tau kan tempatnya?"
"Iya, baiklah permisi tuan,"
Shea membalikkan tubuhnya, namun langkahnya tertahan saat mendengar suara Dad Andreas.
"Lain kali jangan memanggilku tuan. Kau boleh memanggilku Dad seperti Saga,"
Shea membalikkan tubuhnya, "tapi tuan saya hanya tamu di mansion anda. Kurang pantas rasanya jika saya memanggil dengan sebutan itu," ungkap Shea jujur.
"Kau bukan lagi tamu keluarga kami, Sashi sudah memilihmu sebagai kerabat dekat kami. Jadi tidak masalah,"
Shea terharu dengan penjelasan yang diberikan Dad Andreas padanya. Entahlah kebaikan apa yang pernah ia lakukan hingga dipertemukan dengan dua sosok yang sangat berbaik hati padanya.
"Terima kasih tuan, eh maaf Dad. Terima kasih," senyuman kecil terulas di bibirnya.
Setelah keluar dari ruangan Dad Andreas, kini langkah Shea menuju ruangan Saga dengan terburu-buru hingga lupa untuk mengetuk pintu ruangan itu dan masuk begitu saja.
Shea mematung setelah beberapa langkah berjalan saat melihat kemesraan dua orang di depannya.
"Saga, makan lah ini dulu, kemari lah biar aku menyuapi mu," perkataan itu terdengar oleh Shea saat langkah kakinya telah masuk ke dalam ruangan milik Sagara. Wanita yang duduk di samping Saga itu memberikan tatapan tak bersahabat saat melihat kedatangan Shea di waktu yang tidak tepat.