
"Keluarlah, apa kau kekasih wanita ini? apa kau pria sewaan wanita pelacur ini?"
Shea mencoba menghentikan aksi kakak tirinya, "Kak, apa yang kau katakan? kak tolong berhenti lah membuat keributan," pinta Shea sembari menahan tangan Angel yang akan membuka pintu mobil milik Saga.
Namun Saga yang berada di dalam mobilnya menyipitkan kedua matanya untuk memperjelas pandangannya dari silau matahari.
Angel menyunggingkan bibirnya, "kau pasti jadi simpanan kakek tua kan, kau memang tidak tau malu," decak Angel sembari menatap mengejek kearah Shea membuat banyak pasang mata mulai membicarakan Shea terang-terangan di depannya.
"Kemari lah, kau perlu di seret ke pihak kampus agar di keluarkan dari sini," ungkap Angel sembari menarik paksa lengan Shea.
"Kak tolong lepaskan, kak sakit," cicit Shea berusaha melepaskan genggaman tangan Angel. Namun berselang beberapa langkah berjalan, langkah Angel terhenti saat terdengar sorak mahasiswi yang melihat kearah sesuatu di belakangnya.
Angel membalikkan tubuhnya begitu juga Shea. Angel membelalakkan kedua matanya saat melihat Saga yang nampak karismatik namun tidak dengan tatapan dinginnya yang seolah siap untuk membunuh mangsanya.
Sorak mahasiswi yang masih terdengar semakin keras saat Saga membuka kacamata hitam yang di pakainya. Saga melihat kearah Shea sekilas namun langkahnya justru mengarah pada Angel yang berdiri di samping Shea dengan tangannya yang masih mencengkram erat pergelangan tangan Shea.
Saga menghempas kasar tangan Angel dan menarik Shea untuk berada di belakangnya. "Kau benar nona, aku adalah pria dari wanita yang kau sebut pelacur ini. Tapi kau juga harus tau, aku bukan hanya pria nya tapi aku juga bisa jadi perisainya saat ada ular berbisa yang mencoba melukainya," ungkap Saga dengan sorot matanya yang dalam dan tentu saja menghunus tajam hingga membuat langkah Angel mundur beberapa langkah. Shea yang mendengar perkataan Saga seketika menatap pria itu, entah mengapa ia ucapan Saga menenangkan hatinya.
"Kau.., apa kau tidak tau siapa wanita ini? dia pelacur, dia tidur dengan banyak pria," cecar Angel lagi mencoba mempengaruhi Saga. Namun Saga hanya diam bergeming dengan tatapannya yang masih sama.
"Aku punya buktinya, dia tidur dengan kakek tua," Angel mengeluarkan ponselnya namun saat ingin menunjukkan foto yang ia maksud Saga segera melempar Ponsel itu hingga retak tak bersisa.
"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN! STUPID!" Pekik Angel yang segera mengambil ponselnya yang sudah tak berbentuk.
"Saga, apa yang kau lakukan? kenapa kau harus melemparnya," Shea nampak khawatir melihat Angel yang semakin marah dan kesal.
Mahasiswa yang melihat kejadian itu sontak semakin ricuh dan tentu saja tidak lupa untuk mengabadikannya di sosial media mereka.
"Jika kau kembali mengusik dan menganggu calon istriku lagi, maka aku tidak akan segan untuk membuatmu sama seperti ponsel yang kau pegang sekarang," ucap Saga penuh peringatan. Tentu saja perkataan itu juga membuat banyak orang terkejut, termasuk Shea. Gadis itu begitu terkejut dengan panggilannya yang telah berubah menjadi 'calon istri'.
"Calon istri? apa Shea akan menjadi istri pria itu?"
"Benarkah? mereka akan menikah, astaga mana mungkin wanita seperti Shea bisa memiliki pria setampan itu,"
Gumam beberapa mahasiswa yang bahkan ada yang berkata terus terang, hal itu membuat Shea sangat tidak nyaman di posisinya saat ini yang terus menerus menjadi topik pembahasan di kampusnya.
"Saga hentikan, pergilah," usir Shea secara halus, ia tidak ingin membuat suasana semakin memanas. Shea juga melihat satpam kampus yang berjalan kearah mereka.
"Kau yakin akan menikah dengannya? dia sudah tidak perawan. Dia pernah main dengan mantan pacarku di rumah. Itu sebabnya dia di usir dari rumah kami,"
PLAAKKK!
"Kak, jaga ucapan mu. Sudah cukup kakak membuat harga diriku rendah di mata banyak orang disini. Tapi maaf, perkataan mu tadi tidak bisa aku terima. Kau sudah memfitnahku kak," ungkap Shea membela harga dirinya. Saga tersenyum kecil melihat keberanian Shea walaupun wajah gadis itu terlihat menegang menahan butiran air mata yang masih tertahan di kelopak matanya.
"Kau! berani sekali kau!" Angel akan melayangkan telapak tangannya untuk membalas tamparan Shea namun dengan cepat Saga berdiri tepat di depan Shea dan seorang lelaki yang menahan lengan Angel mengenai wajah Shea.
"Brian? Sasha," seru Shea dari balik punggung Saga yang menghalangi pandangannya. Shea melihat kedua sahabatnya yang entah dari mana sudah berdiri di dekatnya.
"Kau, lepaskan tanganku," pekik Angel tak terima.
"Apa ada ini? Bubar semuanya, siapa yang membuat keributan disini!" ucap seorang satpam kampus yang sudah berdiri di tengah kerumunan.
"Kalian yang membuat keributan disini? ikut aku sekarang ke ruang dekan," imbuhnya sembari menunjuk kearah Shea, Saga, Angel termasuk juga Sasha dan Brian.
"Tapi pak, saya gak tau apa-apa," ucap Sasha memelas.
"SEKARANG! KE RUANG DEKAN! Kalian pagi-pagi sudah membuat keributan," perintahnya lagi.
Shea melihat Saga yang berjalan menuju mobilnya, "Kemana dia? apa dia akan pergi?" gumam Shea melihat Saga yang sudah masuk ke dalam mobilnya lagi.
"Hei, pria itu mau kemana? dia juga harus ikut!" pekik Satpam itu saat melihat mobil Saga yang sudah berlalu pergi.
"Maaf pak, tapi lelaki itu bukan mahasiswa sini. Dia hanya membantuku tadi," Shea melihat kearah mobil Saga yang sudah hilang tak terlihat lagi.
"Ya sudah, ayo kalian cepat ikut saya,"
"Kau memang wanita pelacur, pembawa sial, awas kau!" gerutu Angel sebelum berjalan mendahului Shea dan kedua sahabatnya.
"Dasar wanita gila! Shea kau tidak apa kan?" tanya Sasha melihat Shea yang sudah menitikkan air mata. Gadis itu dengan cepat menghapus air matanya dan menggelengkan kepalanya memberi jawaban pada Sasha.
Brian diam-diam memperhatikan wajah Shea yang terlihat bersedih. Ingin rasanya bagi Brian untuk memeluk gadis itu dan memberikan ketenangan untuk wanita yang sudah lama ia cintai.
"Shea, jadi benar kau adalah calon istri pria tadi?" tanya Sasha saat teringat kembali ucapan Saga yang di dengarnya ketika tidak sengaja ia dan Brian menghampiri kerumunan di tempat parkir. Sebelumnya Sasha dan Brian tidak menyadari jika pagi itu Shea adalah gadis yang menjadi tontonan hangat teman kampusnya.
Shea memberi jeda untuk jawabannya. Ia diam membisu beberapa detik untuk memikirkan jawaban yang tepat untuk saat ini. Hal itu tak lepas dari perhatian Brian dengan raut wajahnya yang penuh tanda tanya. Entah apa yang sedang di pikirkan lelaki itu.
"Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, aku akan menjelaskannya nanti," jawab Shea sembari memikirkan kembali perlakuan Saga yang terlihat memperhatikan dirinya.
"Apakah perkataannya tadi hanya gertakan untuk Kak Angel saja? benarkah dia akan menjadi pria yang akan selalu membantu ku dan menjadi tamengku? bukankah selama ini justru dia lah orang kedua yang membuatku selalu sakit hati. Menyebalkan,"
Bersambung