
"Bisakah kau cepat sedikit? kau lamban sekali hanya untuk makan," keluh Shea berulang kali melihat jam tangannya. Ia merasa tidak enak hati harus membuat Mom Sashi menunggu dirinya. Walaupun Mom Sashi sama sekali tidak menanyakan keberadaannya, bagaimana mau bertanya handphone pun dia tidak punya.
Saga menghiraukan omelan Shea sejak satu jam yang lalu. Ia masih belum merasa puas untuk membuat gadis itu tersiksa olehnya.
"Sudah habis kan?" Shea buru-buru mengambil kotak kosong yang alat makannya pun masih ada di tangan Saga. Ia mengambil paksa sendok dan garpu itu dan memasukkannya ke tempatnya.
Ia berlari kecil menuju pintu ruangan Saga namun pintu itu masih tetap terkunci. "Kenapa kau masih menguncinya? cepat buka,"
"Aku belum menyuruhmu untuk keluar,"
Shea mendengus kesal, "Kau itu keras kepala sekali ya, apa karena kau kaya jadi bisa semena-mena pada orang? kekanak-kanakan sekali," gerutu Shea membuat raut wajah Saga terlihat tak menyukai perkataan Shea itu.
"Kekanak-kanakan kau bilang? kau lah yang tidak tau diri. Aku tau jelas apa maksudmu masuk ke mansion ku,"
Shea tak mengerti maksud perkataan Saga itu, "Apa maksudmu,"
"Pakaian yang kau gunakan di hari pertama kita bertemu sudah menggambarkan siapa kau sebenarnya," ucap Saga dengan enteng. Ia melangkahkan kakinya mendekat kearah Shea.
"Jadi hentikan sandiwara mu itu dan kembali lah ke tempat kau yang seharusnya. Aku paling membenci orang dengan harga diri yang rendah seperti mu,"
PLAKK
tamparan keras tepat mengenai wajah Saga yang saat itu sudah berada dekat dengan Shea. Untuk dua kalinya Saga menerima tamparan keras dari gadis itu. "Kau!" Saga mencengkram erat lengan Shea hingga gadis itu merintih kesakitan.
"Kau mungkin berpendidikan, tapi kau bodoh!" umpat Shea lantang membuat Saga semakin di bakar amarah.
"Apa kau bilang? kau kira aku akan lembut dengan wanita seperti mu hah?" Saga menyunggingkan bibirnya.
"Aku bahkan sama sekali tidak tergoda dengan tubuh mu itu, jadi jangan terlalu percaya diri seperti kemarin bahwa aku akan menyentuhmu,"
Kedua mata Shea berkaca-kaca, perkataan menyakitkan Saga membuat dirinya entah sejak kapan telah terlihat lemah. "Kalau begitu menjauh lah dariku, lepaskan tangan ku dan buka pintu," jawab Shea berusaha bertahan agar air mata yang tak di inginkan itu tidak keluar membasahi wajahnya. Ia tidak ingin menjadi wanita lemah seperti dulu.
Saga melepaskan cengkraman tangannya. Suara ketukan pintu membuat keduanya serentak melihat ke arah pintu yang tertutup. Saga berjalan kearah tempat duduknya lagi dan mengambil remote control yang menjadi akses pintu ruangannya. Shea memalingkan wajahnya dari Saga sembari menyentuh lengannya yang membekas merah karena cengkraman tangan Saga.
Pintu terbuka, Tuan Andreas mengerutkan keningnya saat melihat Shea masih berada di ruangan Saga sejak tadi. "Kau belum pulang Shea?"
Shea menggelengkan kepalanya pelan. "Saya menunggu kotak makan siang yang kosong untuk saya bawa pulang juga. Apa saya juga bisa membawa kotak makan milik anda?"
Tuan Andreas mengiyakan permintaan Shea, "ambil lah ke ruangan ku,"
Shea mengangguk dan segera pergi tanpa menatap Saga yang kini seolah terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Shea masuk ke dalam ruangan Dad Andreas, ia menghentikan langkahnya dan terduduk lemas. Air mata yang sejak tadi di tahannya kini berurai deras. Sakit rasanya saat harga dirinya di rendahkan oleh perkataan menyakitkan Saga.
Shea sudah keluar dari ruangan Dad Andreas, akan tetapi ia segera membalikkan tubuhnya untuk menyembunyikan wajahnya saat ia berpapasan dengan Saga yang juga keluar dari ruangannya. Namun Saga tak mengatakan apapun, ia berlalu pergi begitu saja melewati koridor dan berdiri menunggu lift yang masih tertutup.
Sedangkan Shea kini berjalan perlahan seolah membiarkan Saga untuk menaiki lift itu sendiri. Jika saja tangga gedung itu tidak sedang diperbaiki, Shea lebih memilih untuk menuruni tangga saat itu juga daripada harus dihadapkan lagi dengan pria bermulut kasar itu.
"Apa kau tidak turun?" seruan Saga itu membuat Shea seketika melihat kearahnya.
Namun Shea tak menjawab pertanyaan Saga, entah mengapa ketika menatap mata pria itu lagi ingatan tentang perkataan kasarnya membuat Shea ingin menangis lagi.
"kenapa aku cengeng sekali,"
"Apa kau tuli cepatlah! jangan membuang waktu,"
"pergilah sendiri,"
"jangan membuang waktu, kemari atau ku seret kau sekarang," kasarnya membuat Shea tidak memiliki alasan lagi kecuali berjalan mendekati lift itu dan berdiri bersampingan dengan Saga.
Tak ada pembicaraan apapun saat mereka berada di lift yang sama. Bahkan Shea berharap agar mulut kejam Saga itu akan tetap diam sampai lift itu berada di lantai dasar. Lift terbuka, Shea segera mendahului Saga dan berjalan menuju pintu lobby untuk keluar.
Shea mencari supir yang tadi membawanya, namun ia tidak melihat sama sekali pria parubaya itu di depan gedung besar perusahaan itu.
"Nona, apa anda mencari sesuatu?" tanya seorang satpam yang memiliki tubuh kekar dan tinggi itu.
"Apa anda melihat seorang supir berpakaian hitam yang tadi menunggu saya di ruang tunggu itu?" tunjuk Shea pada ruang tunggu outdoor.
"Oh, bapak itu sudah pergi Nona. Saya yang menyuruhnya pergi, karena saya dapat info dari atasan bahwa anda yang meminta untuk supir itu pulang,"
"Hah?" Shea mengerutkan keningnya bingung, karena ia sadar bahwa tidak pernah memberi perintah pada siapa pun untuk menyuruh supir itu pergi.
"Lalu bagaimana saya pulang?" tanya Shea yang terlihat bingung.
"Saya tidak tau nona, saya permisi," Satpam pria itu meninggalkan Shea yang kebingungan di kala teriknya matahari siang itu.
Shea berdiri di samping trotoar untuk mencari supir taksi yang mungkin bisa membawanya ke butik milik Mom Shea. Namun sialnya entah kenapa tidak ada satupun angkutan maupun kendaraan umum yang bisa ia tumpangi.
"akh, pasti mereka ikut demo masalah BBM yang naik. Lalu kemana aku harus mencari kendaraan? apa aku harus meminta bantuan Tuan Andreas?" gumam Shea sendiri di kala teriknya matahari yang sudah menerpa kulitnya. Butiran keringat pun sudah membasahi pelipisnya.
"Tidak..., tidak, aku tidak bisa merepotkan tuan Andreas. Dia pasti sangat sibuk," gumamnya lagi. Pada akhirnya kini Shea harus berjalan kaki menuju Butik milik Mom Sashi dengan sesekali menengok ke belakang untuk melihat keberadaan angkutan umum. Walaupun hal itu sia-sia karena saat ini sudah masuk jam para supir angkutan umum berdiri meminta keadilan di depan gedung negara.
BERSAMBUNG