
"Saga, sebelum kamu berangkat ke kantor bisakah kau antar Shea ke kampusnya? dia pasti belum hafal daerah sini," pinta Mom Sashi saat melihat Saga yang ingin beranjak dari tempat duduknya, sedangkan Dad Andreas sudah lebih dulu berangkat bekerja beberapa menit yang lalu karena panggilan mendesak dari klien bisnisnya.
Shea yang mendengar ucapan Mom Sashi dengan cepat menolaknya, apalagi saat melihat kearah Saga pria itu menatapnya tajam seakan lelaki itu tak ingin di ganggu olehnya sedikitpun.
"tidak nyonya, saya bisa naik taksi atau kendaraan online nanti," tolak Shea cepat. Namun bukan Mommy Sashi jika ia mudah menyerah begitu saja. Saga yang masih belum memberikan jawaban membuat Mommy Sashi terus mendesaknya.
"antarkan saja, bukankah kalian searah," pintanya lagi.
"aku tidak bisa, aku ada urusan penting setelah ini," jawabnya sembari melenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari Mommy Sashi.
"Saga berhenti!" panggilan Mom Sashi berhasil membuat lelaki itu menghentikan langkahnya yang sudah beberapa menuju ruang depan.
"urusan penting apa? Daddy mu tidak mengatakan apapun kalau kau ada keperluan mendesak," bohong Mom Sashi, karena sebenarnya ia sama sekali tidak bertanya kepada suaminya tentang kesibukan putranya itu. Terakhir kali pembicaraan mereka terkait Saga adalah tentang perjodohannya dengan wanita yang bernama Cecilia, anak dari rekan bisnis keluarganya.
"Nyonya, sungguh aku tidak masalah jika harus naik taksi. Aku tidak ingin merepotkan Saga," timpal Shea yang sejak tadi hanya diam melihat kedua orang itu berdebat.
"Lihatlah Mom, dia sendiri tidak masalah," ucap Saga bersamaan dengan notifikasi pesan muncul di ponselnya. Mom Sashi yang akan mengatakan sesuatu seketika tertahan saat suara Saga kembali mengatakan sesuatu.
"Cepatlah bersiap, jika dalam 5 menit kau belum siap aku akan meninggalkan mu," perintah Saga yang membuat dua wanita itu sejenak saling melihat.
"Tidak perlu, aku bisa...,"
"JANGAN BANYAK BICARA! JANGAN MEMBUANG WAKTU!" pekik Saga dengan nada yang sedikit meninggi membuat Shea segera pergi dengan tergesa-gesa keluar dari mansion ke hunian minimalis yang berada bersisian dengan mansion.
"Lelaki itu benar-benar kasar sekali!" umpat Shea sambil berlari mengambil tas dan perlengkapan kuliahnya dengan terburu-buru. Bahkan ia sempat tersandung kerikil kecil yang ada di halaman mansion saat menuju mobil milik Saga.
Shea melihat Saga sudah ada di dalam mobil mewah itu. Ia segera mengambil tempat yang ada di belakang dan duduk dengan canggung.
"Apa kau kira aku supirmu? duduklah di depan!"
"apa tidak masalah aku duduk di sampingmu?" tanya Shea yang masih duduk di kursi belakang.
"Apa kau tuli? cepatlah pindah!" makian Saga membuat Shea mengerutu dalam hati. Shea segera kembali dari mobil Saga dan berpindah duduk di samping lelaki itu.
Selama di perjalanan keduanya sama-sama diam. Keadaan di dalam mobil itu seolah seperti masuk ke dalam wahana rumah hantu. Hening dan mencekam. Shea bahkan merasakan bulu kuduknya berdiri begitu saja saat kedua matanya tak sengaja melihat sorot mata Saga yang nampak dingin.
"Belok kanan!" seru Shea tiba-tiba ketika menyadari jika Saga salah jalan. Namun pria itu sama sekali tak menghiraukan perkataan gadis itu.
"Kau salah jalan, kampus ku kearah sana!" tunjuk Sashi mencoba menunjuk ke jalan yang benar.
"Diam! atau akan ku lempar kau dari dalam sini," gertak Saga dengan tatapannya tanpa ekspresi. Menakutkan, sungguh tatapan Saga saat ini sepertinya mampu untuk mengusir preman-preman pasar.
"Kau akan membawaku kemana?" tanya Shea yang kini mulai takut saat mobil yang di kendarai semakin melaju cukup kencang. Namun tak ada balasan dari Saga, pria itu tetap diam dengan pandangannya yang menatap lurus jalanan.
"Saga, kau akan kemana?" tanya Shea lagi, kali ini ia berhasil mendapatkan respon dari Saga. Walaupun kata-kata kasar kembali terlontar untuknya.
"Jika kau sekali lagi bertanya, akan ku buang kau ke laut!"
Shea mengurutkan keningnya saat melihat wanita yang bersama Saga saat ini. "Bukankah itu Cecilia? jadi dia kemari untuk menemui wanita itu?"
Shea semakin di buat terkejut saat Saga berjalan beriringan dengan Cecilia menuju mobil yang saat ini ia tempati. Saga mengetuk pintu mobil tempat Shea dengan melambai kearahnya.
"Apa?" tanya Shea dari dalam mobil.
"TURUN!" perintahnya sambil membuka pintu mobil Shea.
"Bisa tidak jika kau tidak perlu berteriak!" gerutu Shea yang kesal selama di perjalanan Saga terus menatapnya dingin dan berkata kasar. Walaupun sebenarnya bukan hal yang baru untuknya diperlakukan kasar oleh lelaki itu.
"Minggir lah, aku ingin duduk," Cecillia mendorong bahu Shea menjauh dari pintu mobil dan masuk ke dalam mobil itu. Shea mendengus kesal, ia menatap Saga yang masih berdiri di sampingnya tanpa mengatakan apapun. Tatapannya tertuju pada Cecilia yang masuk ke dalam mobilnya.
"Apa kau mau meninggalkan ku disini?" tanya Shea seolah mengerti rencana buruk lelaki itu.
"Apa kau mau turun disini?" jawabnya sambil berjalan masuk ke dalam mobilnya.
"TIDAK MAU!"seru Shea segera masuk ke mobil dan duduk di kursi belakang.
"Gaga, apa kau akan membawa gadis dekil ini?" tanya Cecilia melihat dari kaca spion mobil.
"iya, aku di minta oleh Mommy," jawab Saga sembari melajukan mobilnya. Shea yang namanya menjadi bahan pembahasan hanya bisa bersikap tak acuh dan memalingkan matanya dari dua orang di depannya itu.
"Jadi ini pekerjaan penting yang dia katakan. Cih, dia benar-benar menyebalkan," gumam Shea tanpa bersuara.
****
"terima kasih," seru Shea saat mobil milik Saga berhenti tepat di depan kampusnya.
"Cepatlah keluar, bau miskin mu itu tercium olehku," usir Cecilia membuat Shea mendesis kesal. Shea melihat Saga yang hanya diam saja, ia segera keluar dari mobil mewah itu dan menutup pintunya dengan keras hingga membuat kedua orang di dalamnya melihat kearahnya.
"Mereka benar-benar pasangan yang cocok," gerutu Shea sambil berlalu pergi. Saga memperhatikan langkah Shea yang berjalan menjauh mobilnya dengan tatapan yang tak bisa terbaca.
Shea masuk ke dalam kampusnya, namun bahunya yang di tahan oleh seseorang membuat Shea membalikkan tubuhnya. "Shea ku, sang dewi ku kemana saja kau pergi? aku sangat merindukanmu, berkali-kali aku menghubungi tapi kau sama sekali mengabaikan ku," ucap seorang lelaki bak seorang deklamator yang membacakan puisi sembari ingin memeluk Shea dengan merentangkan kedua tangannya namun di tahan oleh seorang wanita yang berdiri di belakangnya.
"Brian, bisa tidak kau itu jangan lebay," omel gadis yang diketahui bernama Arsha dari tas custom yang dipakainya dan tuliskan kecil di bawahnya yang bertuliskan Nick name : Sasha
Shea tersenyum menatap kedua teman dekatnya itu. Yah, hanya mereka berdua lah yang setia menjadi temannya setelah berita-berita buruk tentang dirinya yang tidak benar tersebar ke media kampus. Bahkan beasiswa yang di dapatnya di awal semester pertama harus di cabut karena berita hoax yang tersebar.
"Sasha, Brian.., apa kalian baik-baik saja? kalian pasti nyaman tanpaku selama 2 Minggu ini kan?" goda Shea memperlihatkan senyuman kecil di bibirnya yang membuat Brian, lelaki yang saat ini berdiri dekat dengannya terkunci untuk terus menatapnya.
"Shea aku sungguh khawatir dengan keadaanmu, apa kau baik-baik saja?" tanya Sasha sembari mengamati keadaan gadis itu yang menghilang beberapa hari tanpa kabar. Yah, kedua temannya itu mengetahui jelas hubungan Shea, Mommy dan Kakak tirinya yang menyiksa gadis itu. Walaupun Shea seringkali diam dan tertutup untuk menceritakan masalahnya.
"Aku baik-baik saja, ayo ke kelas," jawab Shea namun saat dirinya akan melangkah sebuah tamparan keras mengenai wajahnya hingga orang-orang yang berada di sekitarnya menatap kearahnya.
"Gadis sial*an! kurang ajar! setelah kau bermesraan dengan pria kau pergi begitu saja!"