MY DANGEROUS HUSBAND

MY DANGEROUS HUSBAND
CH 26 :



Sudah tiga jam lamanya Shea beberapa kali mengganti gaun pengantin. Bukan tanpa sebab, karena saat pertama kali Shea mencoba gaun pengantinnya Mom Sashi segera menghubungi Saga melalui panggilan video call. Namun lelaki itu berkali-kali mengatakan hal yang sama bahwa gaun yang di pakai Shea tidak cocok dan kurang pantas untuk di pakai olehnya. Hingga membuat Shea benar-benar marah di buat. Jika saja tidak ada Mom Sashi dan beberapa pegawai butik mungkin Shea sudah di pastikan ada mencaci maki habis lelaki itu.


"Saga yang ini bagaimana?" tanya Mom Sashi entah sudah ke berapa kalinya.


Saga yang terlihat dari layar ponsel milik Mom Sashi menatap Shea lama yang berdiri tepat di depan ponsel milik Mom Sashi.


"Bagaimana? kurasa ini bagus dan sangat cocok untukku," ucap Shea penuh penegasan dan sorot matanya yang mengutuk Saga yang kini hanya menyunggingkan senyumnya.


"Bagus," serunya membuat Shea menghela napas lega. Namun itu hanya sesaat karena Saga mengatakan sesuatu yang membuatnya semakin kesal.


"Tapi.., aku rasa aku tidak bisa melihat dengan jelas bagaimana detail gaunnya. Mendekat dan berputar lah," pinta Saga dari seberang.


"Awas kau!" umpatnya dalam hati.


Pada akhirnya Saga tetap mengatakan bahwa gaun itu tidak cocok untuknya dan mengatakan bahwa gaun yang pertama kali Shea coba adalah pilihan yang cukup baik.


"Dia benar-benar menyebalkan," keluh Shea setelah memakai kembali pakaiannya. Karena kelelahan Shea duduk di sofa ruang tunggu dan tertidur karena kelelahan.


Mom Sashi yang mencari Shea untuk mengajaknya pulang karena ia memiliki acara lain dengan teman reuni nya melihat Shea yang tertidur sangat pulas. Mom Sashi yang tidak tega untuk membangunkan gadis itu mencoba menghubungi seseorang.


"Saga, cepatlah ke butik Mommy. Calon istri mu tertidur karena kelelahan, cepat kau kemari," pinta Mom Sashi dan sesaat ia memikirkan sesuatu sambil tersenyum penuh arti.


setelah mengatakan hal itu, Mom Sashi meminta pegawainya untuk segera pergi meninggalkan butik agar Shea dan Saga memiliki waktu berdua.


"Apa aku harus mengunci mereka juga di dalam?" tanya Mom Sashi tersenyum penuh arti.


"Maksudnya Nyonya?" tanya salah satu wanita pegawai butik yang tidak sengaja mendengar ucapan Mom Sashi.


"tidak ada, kalian boleh pulang sekarang," jawab Mom Sashi sambil keluar dari dalam butik. Setelah memastikan semua pegawai telah pulang, Mom Sashi kembali ke dalam mobilnya bersama supir pribadi keluarganya.


"Nyonya, apa nona Shea tidak pulang bersama kita?" tanya Tom's, supir yang baru 2 tahun bekerja dengan keluarga Mom Sashi. Walaupun sebenarnya Tom's adalah kerabat dari Pak Jo, supir lama dari keluarga Dewantara.


"Oh biarkan dia pulang bersama Saga. Tapi Tom's aku memiliki tugas kecil untuk mu," pintanya dengan senyuman kecil di sudut bibirnya.


"Baik Nyonya, apa yang harus saya lakukan?"


"Kita tunggu sampai Saga datang," ucapnya lagi sembari melihat butiknya menunggu seseorang.


***


Sebuah mobil berhenti tepat di samping butik milik Mom Sashi. Saga masih dengan setelan pakaian yang dikenakan tadi, masuk ke dalam butik yang terlihat sudah sepi. Hanya lampu butik yang masih menyala terang.


Saga melihat Shea yang tertidur dengan sangat nyaman. Bahkan suara pintu yang tertutup pun sama sekali tidak mengusiknya.


Saga sejenak berdiri diam melihat wajah Shea yang begitu tenang saat tertidur. Sesaat memandangi Shea membuat pikiran terkutuk Saga berkeliaran, ia bahkan sempat mengagumi wajah manis Shea.


"Tidak, tidak. Dia tidak cantik sama sekali," gumamnya dan berjalan mendekati Shea untuk membangunkannya. Karena ia merasa tidak nyaman jika ia terlalu dekat dengan Shea.


"Hey, bangunlah. Kau tidur atau mati. Cepat bangunlah," seru Saga sembari mengguncang sofa hingga membuat Shea membuka matanya terkejut.


"Kau? kenapa kau menganggu..., Akhhhhh!!!" kalimat Shea yang ingin memarahi Saga tertahan dan berteriak terkejut ketika lampu butik itu tiba-tiba mati.


"Kenapa lampunya mati? Saga, apa kau mengusili lagi? kau dimana?" Shea meraba sekelilingnya dan beranjak dari sofa. Namun tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan akan terjatuh jika saja tangan Saga tidak menahan punggungnya. Shea memejamkan kedua matanya saat sorotan cahaya dari lampu senter tepat mengenai wajahnya.


"Kenapa lampunya mati? apa kau akan mengerjai ku lagi? atau kau tadi melakukan sesuatu...," Shea menyilangkan kedua tangannya di depan dada dan sedikit menjauh dari Saga.


"aku masih waras, aku tidak akan menyentuh wanita seperti mu," tanpa melihat kearah Shea, Saga berjalan menuju pintu keluar butik di ikuti oleh Shea di belakangnya. Namun gadis itu masih menjaga jarak dari Saga, ia masih mengingat dengan jelas bagaimana dulu Saga pernah menciumnya.


"sial, kenapa di situasi seperti aku memikirkan itu," keluh Shea merutuki pikiran bodohnya.


Klek


Klek


Saga mengerutkan keningnya sembari memutar kenop pintu berulang kali, namun pintu itu sama sekali tidak terbuka.


"Kenapa pintunya tiba-tiba terkunci?" gerutu Saga sembari mengulang memutar kenop pintu. Shea yang mendengar keluhan lelaki itu semakin di buat was-was.


"Bagaimana bisa terkunci? apa kau tadi menguncinya?" keluh Shea yang mulai berpikiran negatif bahwa Saga yang merencanakan hal ini.


"Otak mu itu benar-benar dangkal, kalau aku yang mengunci sudah pasti kuncinya ada disini atau ada padaku,"


Saga mengarahkan lampu senternya kearah meja panjang di depannya. Namun ia sama sekali tidak melihat kunci untuk pintu butik itu.


"Kenapa kau diam saja? apa kau tidak tau dimana kuncinya?" tanya Saga dingin begitu juga dengan tatapan matanya walaupun hanya cahaya senter yang menyoroti keduanya.


"aku tidak tau, kenapa kau tidak hubungi Mom Sashi saja?"


Saga yang baru saja menyadari hal itu segera merogoh saku celananya dan juga jasnya, namun ia tidak menemukan apapun kecuali dompet yang berada di saku belakang celananya.


"tidak ada, sepertinya ponsel ku ada di mobil, sial," Saga yang nampak kesal berjalan kearah sofa dan mencoba memikirkan sesuatu.


"bagaimana dengan ponsel mu?" tanya Saga.


"Oh iya," Shea merogoh tas slempangnya, ia menemukan ponsel miliknya itu namun saat layar ponsel itu redup. Shea menghela napas kesal,


"baterainya habis,"


"SIAL!" umpat Saga kesal sambil mengacak-acak rambutnya frustasi.


"Lalu kita bagaimana? lagi pula kenapa pintu butiknya tidak bisa terbuka? aku sangat lapar, gara-gara gaun pengantin itu aku sampai lupa untuk makan," Shea menajamkan kedua matanya pada Saga yang saat ini juga melihatnya.


Namun Saga segera mengalihkan pandangannya dan beranjak dari tempat duduknya menuju pantry.


"Kau mau kemana?" seru Shea melihat Saga pergi meninggalkannya sendirian. Mau tidak mau Shea mengikuti Saga.


Shea melihat Saga mengambil dua bungkus mie instan dan mengambil beberapa alat masak untuk merebus mie instan itu.


"Cepat masaklah," pinta Saga menunjuk kearah bahan makanan dan alat masak yang sudah ada dengan ekor matanya.


"Hah? aku?"


Bersambung