
Saga yang tidak ingin berlama-lama berdebat dengan Mommy-nya karena wanita penipu yang tidak tau asal usulnya lebih memilih untuk pergi ke kamar mandi yang berada di lantai atas untuk membersihkan tubuhnya yang bau.
Namun setelah membersihkan tubuhnya dan berjalan menemui mommy nya, ia dibuat terkejut dengan keberadaan Shea yang masih berada di rumahnya. Bahkan rasa kesal Saga semakin menjadi saat mendengar perkataan Mommy nya yang meminta gadis yang tak dikenalnya itu untuk memanggil Mommy pada wanita yang telah berusia 40 tahun itu.
"Mom! Apa maksud Mommy itu? Drama apa lagi yang dimainkan saat ini?" gerutu Saga dengan raut wajahnya yang nampak serius.
"Dia akan tinggal bersama kita disini. Dia juga akan membantu Mommy bekerja," jawab wanita itu tegas seakan tak ingin menerima bantahan apapun.
"Tapi Mom, kau bahkan tidak tau dengan jelas asal usul gadis ini. Bagaimana jika dia,"
"Cukup Saga! kau sudah keterlaluan sejak tadi. Mommy tidak ingin menerima keluhan apapun. Shea akan tinggal disini bersama kita," setelah mengatakan hal itu Mom Sashi pergi meninggalkan Saga yang masih ingin memprotes nya. Namun karena ditinggalkan begitu saja oleh Mommy nya membuat pandangan Saga teralih pada Shea yang masih berdiri mematung menyaksikan perdebatan ibu dan anak.
"Kau! kenapa kau tidak segera pergi dari sini?" Saga menghunuskan tatapannya lekat-lekat pada Shea seolah menunggu jawaban Shea dengan tidak sabar.
" Ingin sekali aku mencolok kedua matanya yang sejak tadi melototi ku," batin Shea.
"Aku tidak tinggal seatap denganmu. Aku tinggal di rumah dibelakang mansion mu. Aku juga membayar sewa, jadi kau tak perlu khawatir," jelas Shea singkat. Ia sangat lelah berdebat dengan lelaki dengan Saga. Apalagi melihat sorot mata tajam lelaki itu yang menatapnya penuh kebencian.
"Apa menurutmu aku akan luluh dengan itu? kau, tetap tidak di ijinkan untuk tinggal disini,"
Shea mendengus kesal dengan ucapan yang dilontarkan oleh Saga. "Apa kau tuli? Aku tidak tinggal seatap denganmu. Jadi kau tidak perlu khawatir kalau aku akan mencuri barang mu," ejek Shea seolah pria di depannya itu seperti cacing yang kepanasan.
Shea membalikkan tubuhnya hendak berjalan kearah tempat tidur yang ditempatinya itu. Dia tidak ingin terus menerus menanggapi keluhan dan amarah Saga padanya. Namun langkahnya yang baru membalikkan tubuh membelakangi lelaki itu sontak dihentikan oleh Saga.
"Kau tau kamar siapa yang kau tempati saat ini?" bisik Saga dengan tatapan matanya yang seakan mengisyaratkan sesuatu agar Shea menatap sekeliling kamar itu. Jika cara yang biasa tidak bisa membuat wanita penipu itu untuk pergi dari tempat tinggalnya maka Saga harus melakukan cara lain agar gadis itu segera pergi.
Desiran napas yang mengenai kulit belakang lehernya membuat Shea terkesiap. Kenangan tentang kekasih Angel, kekasih kakak tirinya yang hampir saja memperkosanya membuat Shea ketakutan. Seketika gadis itu membalikkan tubuhnya dan berjalan mundur. Shea melihat Saga yang menyunggingkan bibirnya dan semakin berjalan mendekatinya.
"mundur, menjauhlah! ku bilang menjauh!" Shea nampak ketakutan dan membenci tatapan Saga yang saat ini terus memandanginya tubuhnya.
"Kau takut? bukankah kau sudah terbiasa bersama seorang pria di dalam kamar?" ejek Saga lagi hingga memojokkan Shea yang tak bisa lagi menjauh dari Saga saat punggung belakangnya telah menyentuh dinding kamar.
Ingatan-ingatan yang menyakitkan untuknya kembali berputar di kepala Shea hingga membuatnya berurai air mata.
"MINGGIR! TOLONG PERGI! PERGI!" Shea memberontak dan mencoba menghalangi tubuh Saga yang masih berjalan mendekatinya hingga selang infus yang masih melekat di pergelangan tangannya terlepas dan melukai tangannya.
Saga terdiam tak melanjutkan langkahnya saat melihat Shea yang tampak pucat dan berteriak histeris. Bahkan pergelangan tangan gadis itu nampak mengeluarkan darah dari selang infus yang terlepas.
"Pergi!...tolong pergilah!" ucap Shea disela isak tangisnya. tubuhnya nampak gemetar hingga terduduk menyembunyikan wajahnya.
"Hei kau, aku hanya ingin..,"
"Pergi! tolong jangan mendekatiku!" pinta Shea lagi dengan suara lantang. Saga yang tak ingin membuat gadis itu makin ketakutan segera berjalan mundur menjauh hingga suara Mom Sashi ikut mengisi ruangan itu di sela Isak tangis Shea.
"Ada apa ini? Saga ada apa ini? kau memukulnya? kenapa dia menangis seperti ini? kau apakan dia hah?" tanya Mom Sashi bertubi-tubi membuat Saga tak memiliki kesempatan untuk menjelaskan apapun.
"Mom, aku tidak melakukan apapun," Saga melihat Shea yang masih terlihat ketakutan di pelukan Mom Sashi.
"Jika kau tidak melakukan apapun, apa dia akan menangis seperti ini? kau itu lelaki kenapa tidak bisa bersikap dewasa sama sekali," Mom Sashi sangat marah melihat perlakuan Saga yang nampak semena-mena pada wanita.
"Mom, aku tidak melakukan apapun. Aku juga bingung kenapa dia bisa ketakutan seperti itu," Saga mencoba membela dirinya. Walaupun hal itu percuma melihat Mom Sashi yang nampak enggan mendengar penjelasannya.
"Ada apa ini? Sashi apa yang terjadi? siapa gadis itu?" tanya seseorang dengan suaranya yang nampak tegas berdiri di belakang Saga.
"Sayang, lihatlah apa yang dilakukan Saga pada gadis ini. Dia memukul gadis ini sampai ketakutan," Mom Sashi beranjak berdiri dan membantu Shea untuk duduk diatas tempat tidur sebelum berjalan menghampiri suaminya yang berdiri diambang pintu.
"Mom aku tidak memukulnya. Kau! bisa kau jelaskan yang sebenarnya? aku bahkan tidak menyentuhmu sama sekali," Saga mengarahkan pandangannya pada Shea yang masih terdengar suara Isak tangisnya.
"Siapa gadis itu Saga?" tanya Dad Andreas yang sama sekali tidak mengetahui permasalahan apa yang terjadi di mansion-nya saat ini. Padahal kepulangannya saat ini ingin memberitahu mengenai acara makan malam keluarga dengan Ricard Family, keluarga dari calon menantunya.
"tanya saja pada Mommy," setelah mengatakan hal itu Saga melangkah pergi meninggalkan mereka. Namun sebelum pergi sesaat ia melihat kembali Shea yang masih ketakutan walaupun sudah tak terdengar lagi isak tangisnya.
"Siapa kau sebenarnya?" gumam Saga dan melanjutkan langkah pergi untuk mengambil kunci mobilnya dan pergi keluar tanpa tujuan.
Sedangkan di dalam mansion Dad Andreas masih menunggu jawaban dari istrinya tentang siapa gadis yang ada di rumahnya saat ini.
"Kau atau dia yang akan menjelaskan semuanya, Sashi?" kini suara bariton milik Dad Andreas mengisi ruangan yang beberapa menit menjadi hening.
Shea mendongakkan kepalanya melihat Dad Andreas yang masih berdiri di ambang pintu.
"Sayang, putramu itu...,"
"Saya yang akan menjelaskan tuan," Suara pelan Shea seketika membuat perhatian pasangan yang telah lama menikah itu beralih menatapnya. Beberapa detik Shea hanya terdiam untuk mengatur napas dan emosinya.
"Tuan, maaf. Saya telah membuat kekacauan disini. Saga tidak melakukan apapun padaku. Dia tidak bersalah,"