
"Apa yang membuatku bisa mencintaimu? kau sama sekali bukanlah tipe ku. Bahkan jika kau telanjang sekalipun disini aku tidak akan pernah menyentuhmu," ungkap Saga terang-terangan membuat Shea mendengus kesal.
"Kau percaya diri sekali," decak Shea.
"Karena hanya aku yang tau isi hatiku saat ini, sudahlah aku tidak ingin membahas hal seperti ini. Sekarang kau mau atau tidak?" tanya lelaki itu lagi.
Yah, Saga sangat menyakini hatinya yang saat ini tidak akan pernah tertarik pada wanita. Cukup satu kali baginya merasakan rasa sakit hati karena membiarkan hatinya jatuh cinta pada seseorang. Pengkhianatan yang pernah diberikan oleh seorang wanita di masa lalu membuatnya tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Bagi Saga, wanita adalah racun yang hanya akan membuat luka di hidupnya.
"Aku tidak bisa melakukannya," ucapan Shea membuyarkan lamunan Saga. Lelaki itu kini menatap sepenuhnya kearah Shea.
"Apa karena kau sudah memiliki kekasih? lelaki yang sering bersama mu di kampus, dia kekasihmu?" pertanyaan Saga membuat Shea menyipitkan kedua matanya.
" Ah aku lupa namanya, bian., oh bukan Brian kan? apa karena dia?"
Shea semakin menajamkan tatapannya, "bagaimana kau tau aku memiliki teman bernama Brian. Bahkan sepertinya aku tidak pernah sekalipun bercerita tentangnya ke padamu?"
"Oh dia hanya temanmu," Saga menganggukkan kepalanya lirih.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku," sentak Shea. Dia sangat penasaran bagaimana Saga mengetahui tentang nama sahabatnya itu.
"Aku bahkan tau kau terlibat pertikaian dengan seorang wanita di kampusmu. Aku juga tau kau berasal dari kota ini, dan memiliki tempat tinggal disini, benarkan?"
Shea yang terkejut seketika membungkam mulutnya dengan telapak tangan. "Apa kau memata-matai ku? sejak kapan kau tau kalau aku telah berbohong mengenai keluarga ku?"
Saga menyunggingkan bibirnya, "jika kau ingin tau maka menikahlah dengan ku," permintaan Saga itu kembali membuat Shea terdiam. Ia benar-benar tidak ingin kembali berbohong kepada Mom Sashi.
Shea yang ingin kembali membuka mulutnya untuk menolak ajakan Saga seketika kembali merapatkan bibirnya saat mendengar ucapan yang di lontarkan Saga. "Jika kau menolaknya, maka aku akan memberitahu Mommy tentang siapa sebenarnya dirimu. Aku yakin mungkin mom Sashi hanya akan mengirim mu ke sel penjara dan meminta keluarga mu untuk membayar semua kerugian atas biaya hidupmu,"
Shea mendelik terkejut dengan perkataan Saga. Ia tidak ingin menyusahkan keluarganya. Shea menghela napasnya berat, di hadapannya Saga tersenyum misterius seolah umpan yang di lemparkannya telah berhasil dimakan.
"Untuk berapa lama?" ucap Shea setelah terdiam beberapa saat.
"9 bulan,"
"kenapa lama sekali, hanya 3 bulan saja," tawar Shea dengan raut wajahnya yang nampak tidak tenang.
"tidak ada penawaran, aku akan memberi mu 25 juta setiap bulan sebagai upahmu jika menyetujui ini. Dan setelah cerai nanti aku akan memberi mu sebuah mansion sederhana beserta 10% saham perusahaan. Bagaimana?"
Shea melonggo dengan nominal yang di sebutkan Saga. Bagaimana bisa pria itu memberikan penawaran yang sangat tinggi dengan raut wajah datar dan dinginnya itu. Seolah nominal yang di tawarkannya itu setara dengan harga sebungkus permen.
"dari raut wajahmu sepertinya kau telah menyetujuinya," Saga menyunggingkan bibirnya sambil menghidupkan kembali mesin mobilnya. Yah, Saga sudah menduga bahwa wanita akan menyetujui apapun jika semuanya berkaitan dengan uang.
"aku tidak membutuhkannya. cukup jangan katakan apapun pada Nyonya Sashi dan Tuan Andreas mengenai latar belakang ku," ungkap Shea tanpa melihat kearah Saga.
Saga menoleh sejenak kearah Sashi, "baiklah, terserah kau saja,"
****
Shea yang tidak tau harus menjawab apa, menoleh kearah Saga untuk menjawab pertanyaan Mom Sashi.
"Sejak kapannya aku rasa tidaklah penting mom. Saat ini aku hanya ingin bilang bahwa dalam waktu dekat aku dan Shea akan segera menikah. Hanya itu saja, sisanya tanya saja pada Shea," setelah mengatakan hal itu Saga melangkah pergi meninggalkan Shea yang nampak kebingungan.
"Dasar cowok kurang ajar, berani-berani nya dia pergi gitu aja," omel Shea dalam hati.
Pandangannya Shea beralih kearah Mom Sashi dan Dad Andreas yang menunggu jawaban dari Shea.
"Apa kamu yakin ingin menikah dengan Saga, Shea?" tanya Dad Andreas setelah sejak tadi hanya diam dan mengamati.
"Iya tuan, Saga..., Saga pria baik. Jadi.., ja..di aku tidak akan salah memilih," ucap Shea terbata-bata bingung menyusun jawaban.
"Apa kau yakin? kalian tidak menyembunyikan sesuatu kan?" tanya Dad Andreas lagi.
"Hah?" Shea nampak kikuk.
"Eh tidak tuan, saya tidak menyembunyikan apapun. Sebenarnya, saya sudah lama menyukai Saga," ucap Shea menundukkan kepalanya, malu dengan jawaban yang ia berikan sendiri.
Mom Sashi tersenyum kecil, "baiklah, karena kalian saling mencintai. Maka Mommy akan segera membuat pesta mewah untuk pernikahan kalian," ungkap Mom Sashi yang terlihat senang karena sebentar lagi akan memiliki seorang menantu.
Das Andreas menoleh kearah Mom Sashi, "kita harus memastikannya dulu, Saga bahkan belum mengatakan apapun,"
Mom Sashi berkacak pinggang, "Mau mengatakan apa lagi, semuanya udah jelas sayang. Saga memang seperti itu, lagipula Shea juga sudah setuju," tunjuknya pada Shea yang masih duduk di hadapan mereka.
Shea hanya tersenyum kaku mengiyakan perkataan Mom Sashi.
"Shea istirahatlah, kamu pasti lelah. Besok aku akan memberitahu keluarga besar tentang rencana pernikahan kalian,"
"Bolehkah aku ke kamar Saga, Nyonya. Ada yang ingin aku bicarakan,"
"Boleh, tapi jangan sampai kebablasan ya. ingat kalian belum menikah. Pelukan, ciuman, boleh. Tapi jangan sampai gituan ya," goda Mom Sashi dengan tawa kecil di sudut bibirnya membuat Shea panas dingin. Dad Andreas yang menghela napas panjang mendengar perkataan istrinya yang lolos tanpa di sensor sedikitpun.
Shea kembali menganggukkan kepalanya dengan perasaan tak nyaman. Ingin rasanya mengatakan sejujurnya kepada Mom Sashi. Shea beranjak dari tempat duduknya dan berlalu pergi meninggalkan ruang tamu.
"Aku harus ke tempat pria sialan itu," gerutu Shea menuju kamar Saga. Tanpa mengetuk pintu Shea segera menerobos masuk ke dalam ruangan.
Saga yang saat itu sedang membaca buku melirik kearah pintu kamarnya.
"Apa kau tidak ada sopan santunnya, bisa tidak kau mengetuk dulu pintunya sebelum masuk?" decak Saga sembari menutup buku yang dibacanya.
Shea tak menghiraukan perkataan Saga, ia segera menghampiri lelaki yang kini duduk diatas tempat tidur itu dan melemparkan sebuah bantal yang ada di atas kasur. Ia memukul Saga beberapa kali dengan bantal yang di pegangnya. Sedetik kemudian tangan Saga dengan cepat memutar posisi keduanya hingga saat ini Shea berada dalam kungkungannya.
"Kau bahkan belum menjadi istriku, tapi kau sudah berani memukulku. Hukuman apa yang pantas untukmu karena telah memukul saat ini?" tanya Saga dengan tatapan dinginnya dan sudut bibirnya yang terangkat seolah ingin melakukan sesuatu pada gadis yang saat ini berada di bawahnya.
Bersambung.