
"Kenapa kau kemari?" suara Saga yang terdengar tak bersahabat itu sudah di tebak jelas oleh Shea sebelumnya. Dia tau pasti bahwa Saga akan berbicara dengan nada ketus dan raut wajah beringasnya yang ingin sekali Shea amplas.
"Mengantar makan siang," jawab Shea singkat. Dia malas untuk berdebat dengan Saga yang nantinya hanya akan menyakiti hati. Bagaimana tidak, pria itu selalu saja berbicara ketus dan kasar, membuat Shea ingin sekali menutup mulutnya dan menjahitnya rapat-rapat.
Tak ingin berlama-lama Shea meletakkan kotak makan siang itu diatas kabinet yang berukuran setengah dari panjang tubuhnya.
"Apa kau tidak tau sopan santun? bukankah seharusnya kotak makan siang itu kau letakkan diatas mejaku? dan juga, kau pun terlambat untuk mengantar makan siang ini,"sindir Saga membuat Shea kembali membalikkan tubuhnya, langkahnya yang akan keluar setelah memegang handle pintu itu ia urungkan.
Tanpa mengatakan apapun, Shea mengambil kembali kotak makan siang itu dan meletakkannya tepat diatas meja kerja Saga. Cecillia, wanita seksi yang sejak tadi duduk di samping Saga itu kini semakin menunjukkan tatapan tak sukanya pada Shea.
"Pelayan seperti dia seharusnya kau pecat saja, Gaga," celetuk wanita itu yang hanya tidak mendapatkan respon dari Saga. Namun berbeda dengan Shea, gadis itu terlihat berdecih saat mendengar suara wanita itu yang di buat-buat.
"Apa Gaga sebutan sayangnya? ih menggelikan," sinis Shea dalam hati.
"Siapa yang menyuruhmu untuk meletakkan diatas meja ini? apa kau tidak lihat mejaku penuh dengan berkas penting? bagaimana kalau...,"
"Lalu harus ku taruh dimana?" Shea mengambil lagi kotak bekal itu dari atas meja, ia sangat frustasi melihat tingkah laku Saga yang layaknya anak anak.
Tak ada jawaban dari Saga. Pria itu sibuk mengamati berkas-berkas diatas mejanya.
"Gaga, apa kau mau aku menyuapi mu saja?" tanya Cecillia mencoba bersikap manis sembari tangannya menyentuh lengan Saga. Namun sayangnya tak seperti yang diharapkan oleh wanita itu. Saga justru menarik tangannya dari genggaman Cecillia tanpa memandang kearah wanita itu. Karena kini kedua matanya tertuju pada Shea yang saat itu tengah menatap jengah kearahnya.
"Bisakah kalian bermesraan setelah aku pergi? memuakkan," gerutu Shea yang sudah merasa kesal.
"Hey kau pelayan! berani sekali kau bicara seperti. Gaga, harusnya kau pecat saja pelayan tak tau diri itu," gerutu Cecillia dengan rengekan kecil yang membuat Shea merasa ilfeel saat mendengarnya.
"Terserah kau saja!" balas Shea malas. Ia berjalan mendekati meja Saga, kini jarak mereka hanya terhalang oleh meja kerja yang terbentang di depan mereka masing-masing.
"Kau tidak ingin memakan ini? aku akan membawa ini kembali ke mansion mu, jadi jangan menyalahkan ku jika kau kelaparan nanti. Nyonya Sashi bilang bahwa ini adalah makanan favoritmu," jelas Shea panjang lebar, ia menunggu jawaban Saga namun pria itu sama sekali tidak meresponnya.
"kau tuli ya? kau itu benar-benar menyebalkan," Shea berbalik untuk melangkah keluar.
"Siapa yang menyuruhmu pergi? kembali!" perintah Saga namun tak dihiraukan oleh Shea. Gadis itu tetap melangkah menuju pintu keluar, namun seketika ia mengerutkan keningnya saat pintu itu tidak bisa terbuka. Pintu itu telah terkunci.
Shea menatap kesal pada Saga. Ia tau benar jika Saga lah yang telah mengunci pintunya. Entah dengan apa pria itu mengunci pintu ruangan tanpa harus melalui kunci batangan. Mungkin sistem ruangan ini telah berteknologi canggih.
"Sebenarnya apa mau mu?" tanya Shea melihat Saga yang terlihat cuek seolah tak terjadi apapun.
"Kau bilang mau pergi, silakan pergi," jawab Saga yang semakin membuat emosi Shea meledak.
"Kau itu pria gila! tuan Andreas apa anda mendengar saya? saya terkunci disini!" namun pekikan Shea itu tidak mendapat respon dari Dad Andreas yang berada di ruang sebelah.
"Hey kau! bisa tidak jangan berteriak! telingaku sakit! Gaga, biarkan saja dia pergi, aku malas melihat wajah dekilnya itu," keluh Cecillia sembari mengejek penampilan Shea.
Saga melihat Shea sejenak. Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Shea yang berdiri tepat di depan pintu.
"Minggirlah, aku ingin membuka pintu,"
dengan cepat Shea menjauhkan tubuhnya dan mencoba mengambil peluang untuk segera keluar dari ruangan Saga yang terkutuk itu baginya. Namun sayangnya, seolah Saga yang mengetahui rencana Shea itu dengan cepat menahan lengan gadis itu hingga tak bisa berkutik.
"Lepas!" Shea meronta mencoba melepaskan genggaman tangan Saga berulang kali. Membuat Cecilia yang masih duduk di tempatnya itu menautkan kedua alisnya merasa bingung dengan situasi saat ini.
"Sebenarnya siapa gadis itu? kenapa Saga tidak memperbolehkan wanita itu pergi?"
"Cecil, bisakah kau tinggalkan kami sebentar? aku akan menemui mu nanti setelah pulang kerja," ucap Saga sembari membuka pintu ruangannya sebagian dengan satu tangannya yang masih menahan lengan Shea untuk keluar.
"Benarkah? Tapi aku ingin disini juga menemani mu," ucap Cecilia tak ingin meninggalkan Saga dengan wanita yang di bencinya itu berdua saja. Namun saat matanya menangkap tatapan tajam Saga untuknya membuat wanita itu segera beranjak dari tempat duduknya.
"Tapi kamu janji kan Gaga? kita akan jalan-jalan nanti,"
"hmm," balas Saga singkat, bahkan suara itu mungkin hanya terdengar di telinga Shea saja karena jarak gadis itu yang paling dekat. Namun tak ingin membuat Saga marah padanya, Cecilia segera melangkah pergi meninggalkan ruangan Saga.
"Tuan Andreas! tolong saya!" pekik Shea saat Saga membuka lebar pintu ruang kerjanya untuk memberikan Cecilia akses untuk keluar.
"Kau tidak bisa ya kalau diminta diam," cecar Saga dan menutup pintu itu kembali dengan cepat.
"Kau gila ya? cepat buka pintunya! atau aku akan berteriak lebih keras lagi agar tuan Andreas mendengarnya," ancam Shea, namun ia melihat Saga tidak terpengaruh apapun dengan ancaman itu.
"Berteriak lah sepuasmu, hingga kau mati pun Daddy ku tidak akan mendengarnya," sahut Saga sambil mengambil kotak bekal yang ada di tangan Shea.
"Apa ini kedap suara?" tanya Shea sendiri dan memperhatikan ruangan milik Saga itu.
"Kau itu seperti orang udik. Apa kau tidak pernah tau ruangan kedap suara," tatapan sinis dan raut wajahnya yang terlihat jelas mengejek Shea. Namun gadis itu sama sekali tidak memperdulikan ucapan Saga sama sekali.
"Lalu sekarang kau mau apa? aku ada janji dengan Nyonya Sashi untuk membantunya di butik, bisakah kau buka pintunya," kini Shea mengubah nada bicaranya dan berusaha berkata lembut pada Saga.
Saga mendonggakkan kepalanya melihat Shea yang berdiri di depannya. Sedangkan pria itu sudah duduk kembali ke kursi kerjanya sembari menikmati makan siangnya.
"setelah aku selesai makan,"
Shea menghela napas panjang, "kalau begitu cepatlah kau habiskan. Aku lelah berdiri. Kau jadi pria tega sekali," gerutu Shea sembari menepuk pelan pahanya yang merasa kram.
"Duduklah, siapa yang menyuruhmu untuk berdiri," jawab Saga santai, ia menyunggingkan bibirnya karena telah berhasil membuat gadis itu tersiksa.
"Karena kau juga tidak mempersilahkan ku untuk duduk," jawab Shea ketus sambil mendaratkan bokongnya diatas sofa empuk yang berada dekat dengan tempat kerja Saga.
"Menyebalkan sekali,"
"