MY DANGEROUS HUSBAND

MY DANGEROUS HUSBAND
CH 15 :



"Apa lagi sekarang? kau masih belum puas rupanya," geram Shea sembari menahan suaranya agar tidak terlalu keras. Bukan hal yang aneh bagi Shea apabila dirinya tidak mengalami kesialan saat berada di tempat yang sama dengan Saga. Seperti acara makan malam yang terjadi kemarin, Saga yang duduk berhadapan dengannya dengan sengaja menginjak kaki Shea dengan keras saat gadis itu tengah minum. Sontak gelas yang di pegangnya terlepas dan yah.., acara makan malam yang di inginkan berakhir dengan senyuman kebahagiaan menjadi sebuah khayalan saja saat gelas yang jatuh itu justru mengenai makanan berkuah dan sebagian kuah itu mengenai wajah dan pakaian Cecilia.


Dan saat ini Shea yang ingin masuk ke dalam mansion karena Nyonya Sashi memanggilnya harus merasakan dinginnya air bekas cucian mobil yang sengaja di siramkan oleh Saga. Shea menghela napas panjang mengingat kejadian beberapa menit yang lalu, dan juga melihat kearah pria yang berdiri di samping pintu rumahnya tanpa rasa bersalah sedikit pun. Ingin rasanya Shea mencincang habis pria itu dan membuangnya ke pantai selatan.


"Apa lagi yang sedang kau rencanakan?" tanya Shea lagi saat tak mendapat jawaban dari Saga.


Saga mengangkat salah satu tangannya dan menunjukkan sebuah obat sirup kepada Shea.


"takut kau mati kedinginan,"


Shea menatap tajam Saga namun sumpah demi apapun ia malas untuk berdebat dengan pria itu. Semakin lama bersama Saga semakin lama juga ia tersiksa oleh pria itu.


"Terima kasih," Shea membawa botol sirup itu dan melangkah masuk ke dalam rumahnya. Namun Saga yang masih berada di dekat pintu rumahnya seketika masuk begitu saja saat Shea akan mengunci rumahnya.


"Kau mau apa? keluar sekarang," Shea mendorong dada Saga untuk keluar dari tempat tinggalnya.


"Apa kau lupa ini rumah siapa?" tanya Saga sinis seolah mengingatkan Shea bahwa dia hanya menumpang.


"Ini rumah Tuan Andreas. Jadi ini juga belum sepenuhnya milikmu. Keluarlah sekarang," pinta Shea lagi namun Saga sama sekali tidak menggubrisnya. Justru ia semakin melangkah masuk ke dalam rumah yang ukurannya tak seluas halaman mansionnya.


"Apa kau menyelundupkan pria hidung belang disini, melihat bagaimana kau dulu mencari uang dengan cara...,"


"Cukup! kau gila ya? kenapa kau selalu saja membuat masalah denganku?"


Saga mencengkram erat lengan Shea membuat gadis itu terhuyung ke depan. "Karena aku tidak menyukai wanita kotor seperti mu,"


Shea tertawa sinis, "apa kau merasa dirimu sudah sangat sempurna tuan Saga Erland Faith? kau pria dusta, kau pun sangat menikmati layanan wanita seksi bukan?" cemooh Shea itu membuat Saga mengerutkan keningnya sekaligus merasa kesal dengan perkataannya.


"Apa maksudmu?"


"Nona Cecilia, bukankah kau juga menyukai wanita dengan pakaian seksi seperti itu, pria dusta," Shea semakin membuat Saga terbakar oleh amarah. Ia mengeratkan genggaman tangannya di lengan Shea dan menatapnya dingin.


"Kau cemburu?" tatapan mata Saga menelisik sorot mata Shea yang juga melihatnya tanpa rasa takut.


"Hah? mana mungkin aku cemburu dengan pria dingin, arogan, bermulut kasar dan menyebalkan seperti mu. Bahkan jika kau satu pria yang tersisa di dunia, aku lebih baik memilih untuk melajang. Pria bermulut kasar sepertimu sama sekali tidak membuatku tertarik," Setelah puas mencaci maki Saga, Shea memberontak untuk mencoba melepaskan lengannya yang semakin terasa sakit. Walaupun hal itu sangatlah mustahil untuk ia terlepas dari cengkraman kuat Saga.


"Bermulut kasar? kau bahkan belum merasakannya bukan?" tanpa menunggu balasan dari perkataan Shea, salah satu tangan Saga menarik pinggang Shea dan melabuhkan ciuman singkat di bibir Shea tanpa persetujuan gadis itu. Entah mengapa ia merasa kesal saat Shea mengatakan bahwa dirinya sama sekali tidak menarik perhatian gadis itu. Seolah harga dirinya sebagai pria saat ini telah di rendahkan oleh Shea.


Saga melepaskan ciumannya seketika, tidak ada penolakan dari tubuh Shea. Entah mengapa gadis itu hanya membeku saat bibir Saga menyentuh kulit bibir ranumnya.


Shea bahkan merasakan bibirnya yang masih terasa basah. Shea menyentuh bibirnya, seketika ia tersadar dan berteriak memaki Saga.


"Pria sial*an! gila! kurang ajar kau!"


Saga yang telah berlalu pergi dari tempat Shea tak memperdulikan makian gadis itu. Karena saat ini detak jantungnya pun berdetak cepat dan merasa gugup.


Sejak tindakan refleks nya yang ciuman Shea karena kemarahannya pada gadis itu yang telah mengolok dirinya sebagai pria yang tidak memiliki daya tarik, kini ia di buat malu dan kesal karena perbuatannya sendiri. Saga yang telah berada di dalam kamarnya saat ini tidak dapat berisitirahat dengan tenang seperti sebelumnya.


"Bodoh! kenapa aku harus mencium-nya!" pekik Saga merutuki kebodohannya sendiri.


Begitu pula dengan Shea, gadis itu berkali mengumpat bahkan setelah ia tersadar bahwa bibirnya telah di sentuh oleh Saga dengan cepat berlari kearah kamar mandi dan mencuci bersih bekas ciuman itu.


"Pria siala*n, kurang ajar! aku sangat membencinya!" omel Shea sembari melihat lurus kearah cermin. Bayangan sosok Saga yang tiba-tiba mendekat dan menciumnya masih membayangi isi kepalanya saat ini.


"Gila..., gila! pria gila!" umpat gadis itu yang saat ini telah membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Namun sejak tadi, saat matanya akan terpejam, Shea terus menerus teringat dengan ciuman yang di lakukan Saga padanya.


"Berhenti Shea, lupakan kejadian itu! jangan memikirkan pria dingin itu!"


****


Seperti sebelum-sebelumnya setiap hari Mom Sashi akan menyiapkan menu sarapan pagi untuk keluarganya bersama Shea yang membantu pekerjaan dapur wanita itu.


"Shea, bisakah mom minta tolong untuk membangunkan Saga. Katanya dia akan ada rapat pagi-pagi sekali," pinta Mom Sashi pada Shea. Gadis itu seketika membelalakkan kedua matanya, enggan rasanya ia harus menatap wajah pria itu setelah kejadian kemarin. Bahkan bekas ciumannya masih terasa di bibirnya sampai saat ini.


"Tapi Nyonya, tidak bisa kah jika bi Asih saja yang kesana. Shea takut Saga tidak menyukai kalau Shea yang membangunkannya," ujar Shea beralasan. Walaupun alasan tersebut bukanlah sebuah kebohongan, karena Saga selalu menatap benci padanya saat mereka berpapasan atau tak sengaja saling pandang.


"Kamu lupa ya, bi Asih dan bi Marni kan ke supermarket untuk membeli bahan makanan," jawab Mom Sashi mengingatkan.


"Haruskah saya nyonya?" tanya Shea sekali lagi. Mom Sashi hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, seolah sedang memberikannya semangat untuk menghadapi sesuatu yang berbahaya. "tenang saja, Saga tidak sebenci itu denganmu,"


Tak memiliki pilihan lain, saat ini Shea berjalan menuju pintu kamar Saga. Ia mengetuk pintu berkali-kali namun tidak mendapatkan sahutan sama sekali. "haruskan aku masuk?" pikirnya.


Shea menghela napas panjang, ia perlahan membuka pintu kamar Saga yang ternyata tak di kunci. Ia mengedarkan pandangannya, namun ia tidak mendapati keberadaan Saga bahkan ranjangnya pun terlihat rapi.


"Mau apa kau?" suara bariton itu membuat Shea membalikkan tubuhnya dan melihat kearah sumber suara.


"AKHHHHHH!!!!!!" teriak Shea seketika saat melihat tubuh pria itu saat ini