MY DANGEROUS HUSBAND

MY DANGEROUS HUSBAND
CH 6 : MUSUH BEBUYUTAN



Sakit kan? mulutmu yang kejam itu juga telah menyakitiku," ungkap Shea yang tidak menyukai sejak tadi menghinanya sembari berjalan menjauh dari pria itu.


"Hei, gadis si*alan! mau kemana kau!" teriak Saga sembari melangkah menahan rasa sakit pada bagian kejantanannya. Saga yang akan mengejar Shea yang sudah berjalan mendahuluinya, saat ini menghentikan langkahnya saat terdengar bunyi notifikasi dari ponselnya.


"Pertunangan mu dengan Cecilia akan dilakukan 2 Minggu lagi. Sebelum itu ajaklah sesekali gadis itu pergi denganmu agar kalian saling mengenal"


ucap seseorang melalui pesan suara yang ditinggalkan. Pesan yang tak lain dari Daddy-nya, orang yang sama yang selalu meminta dirinya untuk segera menikah. Bahkan kali ini Daddy nya itu tidak lagi meminta melainkan telah menyiapkan seorang wanita yang akan menjadi belahan hidupnya. Oh, lebih tepatnya bagi Saga adalah sebagai kebutuhan bisnis.


"Kenapa Daddy terus saja mengatur hidupku. Bahkan wanita pun dia lah yang...," gerutuan Saga tertahan dan hanya menghela napas untuk mengurangi rasa kesalnya saat ini. Walaupun hal itu sama sekali tidak berpengaruh untuknya.


Saga mencium aroma tubuhnya yang sangat menyengat. Ia segera menjauh dari tempat tumpukan sampah itu dan melangkah menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari lokasinya saat ini. Sebenarnya saat Saga menerima pesan dari Daddy untuk segera datang ke kantornya untuk membahas pekerjaan yang tak lain adalah perjodohannya. Saga merasa enggan untuk datang hanya untuk menemui seorang wanita. Namun sesaat akan melajukan kembali mobilnya, Saga teringat perkataan Shea yang meminta tolong padanya dengan raut wajah gadis itu yang nampak ketakutan.


"harusnya tadi aku tidak membantunya! dia bahkan berani memukulku," keluh Saga setelah masuk ke dalam mobilnya.


****


Sedangkan Shea saat ini gadis itu nampak berjalan dengan kebingungan di trotoar jalan dengan bajunya yang membuatnya jadi tontonan di siang hari. Pakaiannya yang begitu terbuka membuat banyak pasang mata, tentunya para pria melihat kearahnya dan mengodanya. Shea tidak membawa apapun di tangannya saat ini. Uang bahkan ponselnya pun ia tinggalkan di rumah bordil itu.


"Kenapa Kak Angel dan Mommy membuatku bekerja dengan para penghibur itu. Apa sebenci itu mereka padaku?" gumam Shea yang nampak lesu.


Tatapannya yang tak sengaja melihat kearah restoran cepat saji membuat perutnya yang sejak semalam belum terisi apapun kembali berbunyi. Bahkan hari ini ia harus berlarian karena menghindari kakek hidung belang, dan sekarang rasa lapar itu telah membuatnya merasa lemah.


Shea yang tak bisa lagi untuk melanjutkan langkahnya kini berhenti di sebuah kursi milik sebuah restoran seafood yang memiliki pelayan makan outdoor membuat salah satu pelayan menghampirinya.


"Permisi nona, apa anda ingin memesan sesuatu? kami sedia..," pelayan yang akan menyebutkan menu andalan mereka di potong oleh Shea agar gadis itu tidak semakin merasa lapar saat mendengar nama-nama makanan yang menggoda selera.


"Maaf, aku hanya numpang untuk duduk. Saya akan memesan lain kali jika kembali kesini," ucap Shea lemas. Pelayan yang mendengar jawaban Shea seketika berlalu pergi tanpa mengatakan apapun. Shea yang sekilas melihat raut wajah pelayan itu yang nampak tak menyukai kehadirannya mencoba untuk menghiraukannya. Ia benar-benar letih. Ia butuh beristirahat sebentar. Namun hal itu tak berlangsung lama saat seorang pria berkemeja rapi menghampiri Shea yang saat itu juga melihatnya.


"Nona anda disini tidak untuk makan? Anda dilarang duduk disini jika tidak memesan apapun. Mohon kesadaran anda untuk segera pergi dari sini," usir pria itu dengan wajah ramahnya namun tidak dengan ucapan yang dilontarkan.


Shea yang sadar diri, segera beranjak dari duduknya namun suara seorang wanita dibelakangnya membuat Shea membalikkan tubuhnya menatap wanita itu.


"Biarkan dia duduk disini. Bawakan juga buku menunya pada gadis ini," pinta wanita itu dengan gaya pakaiannya yang nampak sederhana namun ber-merk mahal. Bahkan Shea mengenali seri tas dari brand berlogo GC itu.


"tidak apa, temani saya makan disini,"balas wanita itu yang nampak anggun dengan cara bicaranya yang lembut.


"Terima kasih nyonya, saya hanya....," belum selesai Shea mengutarakan kalimatnya, ia merasakan kepalanya berdenyut saat ia akan beranjak berdiri. Bahkan pengelihatannya kini nampak buram, dan di detik berikutnya Shea tidak bisa lagi melihat atau merasakan apapun lagi. Ia kehilangan kesadaran karena menahan lapar dan kelelahan.


"Nona, bangunlah! apa kau baik-baik saja?"


"dia pingsan, bawalah gadis ini ke dalam mobil. Panggil juga dokter pribadi kita ke rumah,"


****


Shea mengerjapkan kedua matanya saat ia perlahan mulai tersadar. Shea menormalkan kembali penglihatannya yang masih samar dengan beberapa kali membuka menutup kelopak matanya. Shea memperhatikan keadaan sekelilingnya yang nampak asing dengan tempatnya saat ini. Ruangan yang nampak luas kamar dengan nuansa klasik modern. Namun tak ada sama sekali foto atau apapun yang terpajang untuk Shea kenali sebagai pemilik rumah itu. Shea berusaha untuk duduk dan memegangi kepalanya yang masih terasa pusing. Ia juga melihat kearah pergelangan tangannya yang tertanam sebuah selang kecil dan cairan infus yang menggelantung di penyangganya.


"Aku ada dimana ini?" gumam Shea dalam hati dan beranjak dari tempat duduk dengan perlahan. Saat Shea berjalan kearah pintu ruang kamar tidur itu, Shea sayup-sayup mendengar suara beberapa orang yang nampak berdebat.


"Aku bukannya tidak mau, tapi aku masih ingin sendiri," kalimat itulah yang terdengar di telinga Shea saat gadis itu menelinga percakapan orang yang tak dikenalnya itu.


"Apa aku harus keluar sekarang?" batin Shea yang nampak bimbang untuk keluar. Shea mengurungkan niatnya untuk berjalan keluar, namun belum beberapa langkah Shea berjalan pintu kamar yang ditempatinya tiba-tiba terbuka lebar.


"Kau siapa?" suara bariton seorang pria membuat Shea membalikkan tubuhnya perlahan untuk melihat kearah sumber suara di belakangnya. Shea membelalakkan kedua matanya saat tatapannya kini tertuju pada sosok yang dikenalnya.


"Kau?" seru Shea yang nampak terkejut dengan kehadiran pria yang baru beberapa jam yang lalu ia temui.


Seketika Shea teringat dengan pukulan yang ia berikan pada pria itu dan aset berharga dari pria itu yang sempat ia tendang.


"Kenapa kau bisa disini? apa kau membuntutiku dan mematai-mataiku? Kau benar-benar gadis yang tidak tau malu! kau itu...,"


"AKU APA? KAU MASIH BERANI MENGATAIKU WANITA MURAHAN LAGI?MASIH MAU MERASAKAN SAKIT LAGI?" gertak Shea yang memotong ucapan Saga. Tatapannya menghunus tajam pada kedua mata Saga yang juga memberikan tatapan yang sama.


"GADIS GILA,"


"AROGAN! PRIA SINTING!"