My Best Friend

My Best Friend
Episode 9 : Koma



Renata masih belum sadarkan diri juga. Sudah 6 jam Renata tak sadarkan diri. Alat - alat itu masih terus menancap di tubuhnya. Eve menyentuh jemari tangan adiknya. Wajahnya lesu. Wajahnya pucat, lidahnya terasa kelu. Matanya sembap, dan kerongkongannya terasa cekat.


Eve tak ingin kemana - mana. Ia hanya ingin menemani adiknya. Mungkin ia akan mengambil cuti libur sekolah demi bisa menemani dan merawat adiknya hingga sembuh. Ia tidak akan alpa untuk merawat adiknya. Ia harus selalu ada.


"Eve... Kamu makan siang dulu yah! Dari tadi kamu belum makan siang nak," panggil Ayah Eve.


"Iya yah..." Eve mengangguk.


Bukannya makan, Eve malah mengaduk - ngaduk nasinya di piring. Jujur saja ia sedang tak nafsu makan. Siapalah yang masih merasa nafsu makan setelah melakulan kesalahan besar yang bisa saja membuat nyawa seseorang melayang? Eve kembali tersedu.


"Eve... Dimakan nasinya sayang! Jangan diaduk - aduk begitu," ucap Ayah Eve.


Eve mengangguk. Ia berhasi menghabiskan separuh.


Keesokan harinya, Renata tak kunjung sadarkan diri. Dokter mengatakan bahwa Renata berada dalam kondisi koma.


Koma, berada diambang kematian. Antara hidup dan mati.


Eve sudah meminta izin kepada gurunya untuk tidak masuk beberapa hari agar bisa merawat adiknya di rumah sakit. Eve menceritakan kronologinya agar bisa mendapatkan izin libur. Wali kelasnya paham. Ia pun mengizinkan.


Eve mengambil cuti seminggu. Setelah itu ia akan kembali masuk seperti biasa. Lalu pulang ke rumah berganti pakaian, makan, dan menuju ke rumah sakit menjaga sang Adik tercinta.


Anna datang membesuk sepulang dari sekolah. Melewati hari - hari sekolahnya tanpa ada kehadiran Eve membuatnya cepat merasa bosan. Masalahnya Anna hadapi... Entahlah. Miss Clarissa sudah menaruh CCTV di setiap ruangan, terutama ruangan kelas, ruang utama seperti ruang guru, dan pintu masuk dan juga gerbang.


"Bagaiman kabarmu Eve?" tanya Anna. Wajahnya Anna juga terlihat kurang baik. Tak secerah biasanya. Guru - guru sudah memberitahu teman - teman Anna dan Eve agar tidak mengucilkan Anna. Tapi tetap saja tak mudah, kecuali sudah ada bukti yang kuat di depan mata bahwa bukan Anna yang bersalah.


Anna memasang wajah riang. Berusaha menghibur Eve. Tapi tak berpengaruh, tak ada jawaban dari pertanyaan Anna. Tak ada untaian kata apapun yang meluncur dari bibir Eve. Hanya dijawab dengan seulas senyum yang sangat tipis, hampir tak kelihatan.


"Kau sudah makan?" tanya Anna kembali. Semoga saja dijawab oleh Eve.


"Sudah," jawab Eve singkat.


Anna hanya basa - basi saja dari tadi. Ia sudah melihat piring yang berisa makanan, nasi dan lauk - pauk, juga sayuran. Teronggok bisu, setelah berhasil dihabiskan separuh oleh pemiliknya sebelumnya.


Anna mengelus rambut Eve. Lalu matanya beralih pada Renata. Anna membawa kantung plastik berisi buah - buahan seperti jeruk, mangga, dan pisang. Ia juga membawa susu steril dan biskuit. Lalu menaruhnya di atas sebuah meja di samping ranjang tempat Renata berbaring.


"Bagaimana sekolahmu hari ini?" Akhirnya, Eve bertanya.


"Kurang baik," jawab Anna jujur. Rambut Anna sedikit acak - acakan. Seragam sekolahnya juga terlihat agak kusut.


"Aku akan menjenguk adikmu besok lagi Eve. Sehabis pulang sekolah. Aku akan naik bus. Jangan lupa makan dan istirahat yang cukup. Lihatlah... wajahmu terlihat sedikit menyeramkan kalau terus seperi itu..." ucap Anna bergurau. Ia hanya ingin mencairkan suasana. Tapi yang diajak bicara tak merespon.


Anna menghela napas. Baiklah, Ia menyerah. Anna pamit pulang. Ia akan berkunjung lagi besok. Eve mengangguk.