
*Bangun di pagi hari, mereka sudah hampir siap. Rembulan dan Gemintang sedang merapikan barang - barang milik Rembulan. Mereka sudah selesai sarapan sebelumnya.
"Sudah selesai," Rembulan menghembuskan napas.
Rembulan berkemas, lalu mereka melanjutkan perjalanan. Mereka berjalan keluar dari padang rumput yang luas ini.
Meninggalkan semuanya...
Mereka kembali memasuki hutan yang lebat.
Sudah dua puluh menit berjalan, mereka tiba di danau besar.
"Danau apa ini? Indah sekali... Airnya jernih sekali!" ucap Gemintang.
"Iya benar!"
Gemintang lari dan langsung mencemburkan diri ke danau. Byur!
"Gemintang!" seru Rembulan.
Tiba - tiba danau yang semula jernih berubah menjadi keruh sedikit kehitaman. Rembulan kaget. Sedangkan Gemintang sudah menceburkan diri ke dalam. Rembulan bingung.
"Rembulan!" Gemintang muncul.
"Gemintang? Kaukah itu?" tanya Rembulan meyakinkan.
Gemintang terlihat beda sekali. Wajahnya yang semula seperti kera berubah menjadi layaknya manusia biasa. Tampan sekali wajahnya.
"Rembulan! Aku sudah kembali ke wujud semulaku! Ah, senangnya!" Gemintang sudah keluar dari danau. Seketika danau kembali berubah menjadi jernih.
"Ini hebat sekali!" Rembulan berseru.
...
Rembulan dan Gemintang kembali melanjutkan perjalanan. Sudah hampir setengah jam mereka berjalan. Dari depan, ada seorang kakek - kakek tuan yang berjalan menuju ke arah mereka. Kakek itu mengenakan baju hitam. Memiliki kumis melintang, janggut panjang yang sudah memutih, dan rambutnya yang sudah tipis.
"Tolong... Aku capek sekali. Aku haus. Bolehkah Aku meminta air kalian? Aku ingin minum..." ucap Kakek itu.
Rembulan dan Gemintang saling tatap. Rembulan tersenyum.
Kakek itu mengucapkan terima kasih, lalu menerima sodoran air minum dari Rembulan. Namun tubuh Kakek itu berubah menjadi seekor burung Rajawali yang sangat besar.
"Untuk apa kalian berada di hutan ini? Ada perlu apa? Apa kalian sedang melakukan perjalanan?" tanya Kakek itu yang sudah berubah menjadi burung Rajawali.
"I-Iya... Kami ingin melakukan perjalanan. Aku ingin mencari paman dan bibiku. Ini adalah teman perjalananku, namanya Gemintang. Dia mau menemaniku menuju istana..."
"Baiklah, kalian boleh pergi. Aku akan mengantarkan kalian hingga ke istana. Kalian naik saja di punggungku. Dengan terbang aku bisa membantu kalian dan mempercepat perjalanan kalian menuju istana..."
"... Kalian baik sekali. Aku tadi hanya menguji kalian. Kalian pemberani, tak takut dengan orang asing. Padahal Aku pikir tadi kalian akan takut padaku karena aku orang asing yang tiba - tiba datang entah dari arah mana. Kalian juga masih mau memberikan aku minum. Ini imbalan untuk kalian... Aku akan mengantarkan kalian hingga ke istana," lanjut Kakek itu.
"Kakek ini sebenarnya siapa?" tanya Rembulan.
"Aku adalah siluman Rajawali. Aku juga penjaga hutan ini... Dan aku tahu arah menuju ke istana. Ya sudah, kalian naiklah ke punggungku. Akan aku antarkan kalian hingga ke istana," Kakek siluman burung Rajawali itu turun hingga menyentuh tanah, lalu ia mengangsurkan punggungnya agar mudah dinaiki.
Rembulan dan Gemintang mengucapkan terima kasih. Mereka menaiki punggung Kakek siluman burung Rajawali itu. Kemudian mereka terbang menuju ke istana.
Lima jam perjalanan. Sudah siang. Terik matahari menyengat kepala. Apalagi dalam keadaan terbang seperti ini. Tapi daerah kawasan istana kerajaan sudah muncul dari atas. Rembulan gembira.
Kakek siluman burung Rajawali itu pelan - pelan turun. Mereka sudah tiba ke daerah kerajaan istana.
"Silahkan kalian turun... Ini sudah sampai. Maaf hanya bisa mengantarkan kalian hanya sampai ke sini. Tapi kalian bersemangatlah. Semoga perjalanan kalian lancar. Aku pergi dulu, kembali ke hutan tadi," ucap Kakek siluman burung Rajawali itu. Rembulan dan Gemintang mengucapkan terima kasih sebanyak - banyaknya. Karena bantuannya, mereka bisa lebih cepat sampai.
Kakek siluman burung Rajawali itu mengangguk dan pamit. Lalu pelan - pelan Kakek siluman burung Rajawali itu mengepakkan sayapnya. Lalu terbang tinggi meninggalkan mereka.
Rembulan dan Gemintang melanjutkan perjalanan. Mereka melihat kawasan kota yang begitu ramai.
Penduduk tampak ramai berceloteh dan lebih banyak lagi yang sibuk bekerja. Ada yang bertani seperti menanam padi, bercocok tanam, ada yang menjual makanan.
Rembulan bertanya kepada salah satu penduduk.
"Permisi Paman... Aku ingin bertanya. Apakah kalian melihat sepasang suami istri yang datang ke sini? Itu paman dan Bibiku. Aku ingin mencari mereka. Sudah agak lama mereka belum kembali. Katanya mereka ingin ke arah istana. Apakah Paman melihatnya?"
"Oh... Pasangan suami istri itu waktu itu pernah datang. Mereka menuju ke istana. Mereka ada urusan... Mereka orang yang baik. Rajin dan sangat sopan. Tapi kami tak pernah melihatnya lagi setelah mereka pamit menuju ke istana..." jelas Paman itu.
"Terima kasih Paman atas informasinya. Kami permisi dulu..." ucap Rembulan*.