My Best Friend

My Best Friend
Maafkan aku Ma...



Renata kebingungan karena Eve tidak ada. Renata tertatih sambil berjalan. Tiba - tiba...


Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi melesat dengan cepat menghantam tubuh kecil Renata yang hendak mengambil bola mainannya. Pemilik mobil yang sedang mabuk - mabukkan masih asyik meneguk setengah gelas minumannya yang tersisa tanpa sepenuhnya dalam keadaan sadar.


Eve kembali dan terkejut menyaksikan kejadian. Ia segera menelepon Sang Mama.


" Mamaaa... "


" Iya Sayang? " tanya Mama.


" Cepetan ke toilet Ma! Renata kecelakaan!!"


...


Renata masih terbaring tak berdaya. Alat - alat banyak yang menancap dan menempel di tubuhnya. Eve merasa bagai teriris sembilu. Bagai ada yang menusuk belati tajam menghunus dadanya tanpa ampun. Membuat pedih hati. Membuat ngilu dada.


Eve sadar bahwa ia hampir saja membuat nyawa adiknya sendiri melayang. Eve terisak. Mengapa dirinya bodoh sekali? Apa yang dia lakukan sampai lalai dan ceroboh dalam mengawasi dan menjaga adiknya sendiri? Eve terisak hebat.


Sang Mama yang berdiri tak jauh dari Eve menangis tersedu - sedu. Joshua bahkan berkali - kali mengelap ingus dan air matanya dengan tisu. Entah sudah berapa helaian tisu yang digunakan Joshua untuk mengelap ingus dan air matanya. Papa Eve mati - matian untuk berusaha menguatkan istrinya.


Eve menatap para tim medis yang hilir mudik keluar masuk ruangan. Mereka memeriksa kondisi Renata untuk benar - benar memastikan kondisi lanjutan Renata. Seorang dokter wanita berusia sekitar 35 tahunan keatas berbicara pada Mamanya. Suaranya terdengar sayup - sayup dan penuh kelembutan. Bahkan terdengar seperti berbisik. Tapi Eve dapat mendengar dengan jelas apa apa yang jelas apa yang dikatakan oleh dokter dengan wajah cantik jelita itu.


Apa? Renata kritis?


Eve tersungkur. Joshua menghampiri Kakaknya. Mama memeluk Eve erat. Eve pun membalas pelukan Mamanya.


"Tak ada yang perlu dimaafkan Eve... Ini bukan salahmu. Stop menyalahkan diri sendiri..." ucap Mama.


Eve terdiam. Isak tangisnya masih terdengar. Sang Mama tersedu sedan. Ia beranjak menuju tempat berbaringnya sang Adik yang masih kritis. Menyentuh wajahnya yang mungil dengan pipi bulat menggemaskan. Pipi yang selalu ingin ia cium. Ia cubit. Sekarang sedang berbaring lemah tak berdaya.


Eve mengelus rambut adiknya dengan penuh kasih sayang. Ia kecup pipinya dengan lembut dan mengucapkan beribu kata maaf. Ia sungguh merasa bersalah, ia sungguh tak menyangka semua akan seperti ini.


Ia rela melakukan segalanya demi adiknya. Ia rela menukarnya dengan dirinya demi menebus semua kesalahannya. Sungguh, biarlah ia yang merasakan sakitnya. Jangan adiknya, adiknya masih kecil. Adiknya tak salah. Ia yang lalai. Eve kembali menitikkan air mata.


Eve sangat menyesal. Seandainya ia tidak menjawab telepon saat itu, seandainya ia tak meninggalkan adiknya sendirian, mungkin semua tak akan terjadi seperti ini. Semuanya hanya tinggal kata andai. Ia sungguh meyesal.


Isak tangis Eve semakin terdengar. Joshua datang lalu memberikan sehelai tisu. Eve mengucapkan terima kasih. Lalu memeluk Joshua.


"Kalau sampai terjadi apa - apa Kakak tak akan memaafkan diri Kakak..."


"Kakak... kita doakan saja yang terbaik demi kesembuhan Renata Kak... Please jangan menyalahkan diri sendiri terus menerus. Renata juga pasti tidak mau melihat Kakak seperti ini..." Joshua menghela napas.


Joshua memeluk Eve. Menguatkan sang Kakak. Mama dan Papa Eve datang dan memeluk Eve dan Joshua. Mereka sama - sama berharap semoga saja Renata baik - baik saja. Mama memeluk Eve dan Joshua erat. Begitupun Papa Eve, juga memeluk Eve dan Joshua erat.


Begitu menyedihkan melihat keadaan Renata. Anak sekecil itu harus merasakan sakit yanh sungguh luar biasa. Harus merasakan kecelakaan yang mengerikan. Begitu banyak alat - alat yang menancap dan menempel pada tubuhnya.


Mereka semua pun menangis bersama.


...