
*Rembulan pun memutuskan untuk menyusul. Ia pun memantapkan hatinya agar terus melawan rasa takut yang muncul. Ia mengganti pakaian sehari - hari yang biasa ia kenakan dengan pakaian seorang pengembara. Ia membawa panah dan tombak. Pamannya mengajarkan ia bela diri, memanah, dan menggunakan tombak.
Ilmu bela diri yang telah ia pelajari dari Pamannya akan ia terapkan dalam perjalanan ini.
Rembulan keluar dari rumahnya. Menutup rapat - rapat hingga yakin tak ada celah apapun sehingga tak ada yang bisa masuk. Rembulan melangkah mantap. Bersiap dengan apapun yang terjadinya. Bersiap dengan segala konsekuensinya.
Rembulan berjalan. Menatap hutan yang semakin rimbun. Hatinya bergetar. Terdengar suara krusak - krusuk dari arah yang begitu dekat. Rembulan kembali menata hatinya. Ia berjalan dengan langkah yang mantap.
Rembulan berhenti. Suara itu semakin dekat. Semakin terdengar. Membuat bergidik hati siapapun yangmendengarnya.
Rembulan menatap awas. Ia melihat ke sekililingnya. Menatap awas pada semak belukar yang mungkin saja keluar sesuatu seperti binatang buas. Ia kembali melihat ke sekelilingnya.
Namun suara itu bukan dari semak belukar. Tapi dari atas. Rembulan menatap ke pohon - pohon satu persatu. Tiba - tiba...
Seorang manusia setengah kera berayun - ayun dari satu pohon ke pohon lainnya menuju ke arahnya. Rembulan menyiapkan panahnya. Ia bersiap. Satu anak panahnya datang dan bersiap untuk menghujam dada manusia setengah kera itu.
Anak panah Rembulan berhasil menghujam manusia setengah kera itu. Membuat darah mengalir dari tubuh manusia setengah kera itu. Manusia setengah kera itu jatuh berdebam di atas tanah.
"Ahh... Sakit sekali..." Ucap manusia setengah kera itu.
"Tolong aku..."
"Maafkan Aku... Maafkan aku telah melukaimu..." Ucap Rembulan.
Rembulan segera bergegas menuju manusia setengah kera itu. Ia mengeluarkan ramuan dan kain. Lalu mengobati luka manusia setengah kera itu.
"Maafkan aku..." ucap Rembulan.
"Namamu siapa?" tanya manusia setengah kera itu.
"Namaku Rembulan," Jawab Rembulan.
"Namaku gemintang," ucap manusia setengah kera itu sesaat kemudian.
"Terima kasih telah menolongku..." Gemintang meringis saat ramuan milik Rembulan itu menyentuh kulitnya yang terluka.
"Maafkan aku telah melukaimu..."
"Aku sudah memaafkanmu, Rembulan."
"Kau... kau cantik sekali."
"Terima kasih telah memujiku," ucap Rembulan disertai iringan senyuman.
"Mengapa kau ada dihutan ini? Sangat berbahaya sendirian di hutan ini. Ada banyak hewan buas. Mengapa kau hanya sendirian?" tanya Gemintang sedikit keheranan.
"Aku ingin mencari Paman dan Bibiku. Mereka menghilang dan tak pernah kembali. Aku khawatir dengan keadaan mereka..."
"Memangnya mereka kemana?"
"Mereka pergi menuju ke arah istana. Tapi sudah lama mereka tak kembali. Aku khawatir sekali. Dan Aku ingin mencari mereka. Semoga mereka baik - baik saja," ucap Rembulan. Matanya berkaca - kaca.
"Kau yang sabar, Rembulan..." ucap Gemintang.
"Aku mungkin bisa membantumu."
"Benarkah?" tanya Rembulan. Wajahnya nampak sangat bahagia.
"Aku... adalah pangeran Gemintang. Putra mahkota dari kerajaan Bintang kejora yang dinaungi oleh kerajaan langit."
"Aku dikutuk oleh pamanku sendiri. Dengan begitu teganya dia membuangku di bumi. Dia membuangku di hutan belantara ini. Dia mengutukku menjadi menjadi manusia kera."
"Kemudian dia menjadi raja bumi. Dia menjadi raja yang tamak dan sombong. Kerajaan bumi masih dinaungi oleh kerajaan langit..." ucap Gemintang.
"Lalu mengapa dia mengutukmu?"
"Dia ingin menjadi raja. Dia mengutukku dengan menyiramkan ramuan yang bisa mengubah seseorang menjadi manusia kera. Seketika aku berubah. Lalu keluargaku menjauhiku karena takut melihat rupaku sepeti ini. Akupun dibuang*,"
...
**Jangan lupa tinggalkan jejak yang banyak yah. Jejak kalian sangat penting buat author😀 Biar author makin semangat nulisnya😀 Jangan jadi silent reader yah...
Jangan lupa buat baca ceritaku yang lain.
Must read yah guys!
Tungguin episode selanjutnya yah😉**