
"*Ini sudah berapa lama kita berjalan? Apakah sudah sampai setengah jalan? Sebaiknya kita istirahat dulu saja... Sudah semakin sore," Rembulan bertanya.
"Hm... Ya sudahlah kalau begitu. Hari sudah semakin sore. Tampaknya juga kau sudah semakin letih. Aku takut kau kelelahan dan juga berbahaya terlalu lama berjalan. Ada banyak rintangan yang akan kita lalui nanti dan kita butuh banyak tenaga... Lukaku juga belum benar - benar sembuh tapi tenagaku sudah semakin pulih..." Gemintang menyeka peluh.
Rembulan menatap Gemintang. Jujur saja, Gemintang hebat dan kuat sekali. Padahal tadi ia telah memanahnya. Tapi dia masih kuat sekali untuk berjalan.
Gemintang membalas tatapan Rembulan, tatapannya lebih dalam. Membuat Rembulan tak sanggup untuk membalas tatapan itu. Rembulan menunduk. Ia berjalan mendahului Gemintang.
Mereka tiba di sebuah padang rumput yang sangat luas. Rumput - rumput yang tumbuh pun sangat hijau dan subur. Tapi ditengah - tengahnya tumbuh sebuah bunga matahari dengan indahnya. Cantik dan mempesona. Rembulan takjub melihatnya.
Akan tetapi bunga matahari itu hanya sendirian, sepi... Sendiri. Tak ada kawan yang sesama bunga. Hanya ada rumput yang tumbuh menemani. Hampir menutupi bunga tersebut. Terlupakan oleh dunia.
Rembulan mengelus bunga matahari tersebut.
Tiba - tiba bunga matahari itu mengeluarkan cahaya yang berkilauan. Indah, diterpa cahaya matahari senja. Dan Rembulan mendengar suatu bisikan. Lembut... sangat pelan. Masuk menelisik daun telinganya. Gemintang ada di sampingnya. Tapi tak berbicara, sudah jelas bahwa bisikan itu bukan berasal dari Gemintang.
"Kau tahu... ada sesuatu yang lebih indah dariku..."
Rembulan menutup matanya. Mencoba mendengarkan dengan seksama.
Gemintang menoleh. Bingung, melihat perubahan tingkah Rembulan.
"Sesuatu yang lebih indah dariku ialah... Ketika kita tidak sendiri..."
"Membutuhkan seseorang bukan berarti kita manja. Tidak bisa hidup mandiri. Akan tetapi membuat kita tidak merasa sendirian... Sangat menyakitkan memang ketika kita merasakan rasa kesepian yang amat sangat. Mengenang sesuatu yang hanya tinggal dari belakang. Pergi. Menjauh dari kehidupan kita..."
"Kenangan pun juga pergi. Meninggalkan kita sendiri... Tanpa meninggalkan sisa apapun. Kenangan itu ada bermacam. Dan tidak semua pula harus bahagia... Tapi kita harus bisa menerima, Kalau kau ingin bisa bahagia. Memeluk semua kenangan dan takdir menyakitkan yang menghampiri. Membalas suratan takdir kejam dengan berbuat baik..."
"Akan ada banyak rintangan di depan wahai Rembulan. Resapi, dan rasakan kalimatku ini baik - baik. Akan ada banyak hal yang terjadi. Lakukanlah perjalanan ini dengan hati penuh keikhlasan. Tanpa perlu ada rasa kemarahan ataupun menuntut balasa dendam. Perjalanan ini akan mengajarkanmu banyak hal. Ingatlah... bahwa balas dendam akan berbalik sendiri pada orang yang menyimpan dendam. Maka, jangan pernah lakukan..."
"Istirahatlah... dan kumpulkan tenagamu. Tidurlah di padang rumput ini. Tidak berbahaya bermalam di sini. Tak akan ada satu pun hewan buas. Kau akan dapat istirahat dengan aman..."
Bisikan itu telah berhenti. Pergi... hilang dengan tiupan semilir angin lembut yang menelisik helaian rambut indah Rembulan dan membuat rambutnya melambai - lambai.
Rembulan membuka matanya. Melihat Gemintang yang heran menatapnya.
"Ada apa? Kenapa kau menutup matamu?" tanya Gemintang yang tak kuasa menutup rasa herannya.
"Bisikan? Bisikan apa? Oh, kumohon jangan menakutiku. Matahari sebentar lagi akan terbenam. Kita akan menyaksikannya bersama - sama. Akan indah sekali menyaksikan senja di padang rumput yang luas ini..." Gemintang tersenyum.
"Iya. Kau benar sekali. Aku pun ingin menyaksikan matahari terbenam di sini. Akan menjadi pengalaman yang menyenangkan..." Rembulan pun ikut tersenyum. Tapi dia tidak akan membahas bisikan itu lagi. Akan dia simpan, cukup menjadi bekal perjalanan nanti.
Langit sudah berwarna jingga. Rembulan dan Gemintang berdiri. Disamping bunga matahari yang seolah - olah ikut menyaksikan bersama.
Dalam hitungan detik...
Tiga...
Dua...
Satu...
Matahari mulai terbenam. Cahaya yang terpancar benar - benar sangat indah. Rembulan dan Gemintang tersenyum. Pengalaman yang tak akan terlupakan.
"Ini benar - benar indah sekali... Wow! Aku sering menyaksikan matahari terbenam. Senja... Tapi hanya seorang diri. Kini aku ditemani. Oleh gadis yang sangat cantik, sepantaran denganku. Menyaksikan matahari terbenam di padang rumpur seluas ini. Akan aku simpan di memori otakku. Aku berharap suatu hari nanti bisa merasakannya kembali..." Gemintang berbicara sambil menatap Rembulan, tersenyum lebar. Rembulan menoleh. Gemintang mengunci fokusnya.
"Kau... Kau hebat sekali Gemintang! Padahal kau dalam keadaan terluka seperti ini masih bisa berjalan sejauh ini," puji Rembulan.
"Kaupun hebat," balas Gemintang.
"Hebat? Hebatnya apanya? Apa maksudmu? Aku tidak sehebat dirimu..."
"Kau hebat Rembulan. Kau tak takut berjalan bersamaku. Kau bahkan benar - benar sangat baik dan ramah, tak jijik melihat rupaku yang sangat aneh dan jelek ini..."
"Jangan bicara seperti itu. Aku tak takut padamu. Karena kau memang tak perlu ditakuti. Kita akan melanjutkan perjalanan bersama - sama. Kita akan saling membantu. Aku akan mencari perihal paman dan bibiku, mungkin juga tentang kematian orang tuaku. Dan kau juga mungkin bisa mengembalikan wujud semulamu..."
"Aku pun ingin seperti itu. Ayo, sudah gelap. Aku akan membuat perapian. Dingin sekali disini..." Gemintang berjalan. Ia menggesek - gesek batu hingga keluar percikan api yang menyala. Dan menaruhnya di tumpukan kayu untuk membuat cahaya dan menghangatkan badan.
Rembulan duduk. Ia mengeluarkan bekal perjalanan yang sudah ia siapkan dari rumah. Bekal lumayan, mungkin cukup hingga besok dan lusa. Setidaknya ia juga membawa koin emas. Sekitar lima ratus keping koin. Ada lima karung berukuran kecil berisi koin - koin yang ia bawa.
Ia mengeluarkan 4 helai kain tipis. Lalu ia membukanya diatas tanah. Ia memberikan dua kain tersisa untuk Gemintang. Gemintang tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Dua kain yang ia berikan kepada Gemintang itu sebenarnya hanya untuk jaga - jaga. Ia sebenarnya hanya memerlukan dua saja*.