
Lima hari berlalu sejak pemakaman Renata.
Empat hari berlalu sejak percakapannya dengan Sania.
Eve terus – menerus memikirkan percakapannya dengan Sania. Wajahnya masih tetap pucat, dan kesedihannya masih terus bergantung di matanya. Jujur saja, ia merasa seperti tersengat petir, kala mendengar kata – kata yang terlontar dari bibir manis nan mungil milik Sania.Ia merasa sangat tersindir. Apakah ia juga akan melakukan hal yang sama? Namun, apakah ia sudah siap bertobat? Apakah ia sudah siap untuk menjalani semua perintah agama dan menjauhi larangannya? Siapkah ia?
Eve melangkah ke balkon kamarnya.Lalu menghirup oksigen sebanyak – banyaknya. Mengapa pula oksigen tiba – tiba menipis?
Yang ia lihat ketika sampai dibalkon adalah taman yang besar, indah dan asri. Ditariknya lagi oksigen berkali
– kali. Ia mencoba mengingat – ingat apakah ia memiliki pakaian muslimah seperti yang dikenakan oleh Sania. Ada,pakaian ketika lebaran. Seingatnyapakaian yang ia kenakan ketika lebaran itu berupa blus lengan panjang berwarnaabu – abu, dengan rok plisket berwarna biru tua. Ia punya hijab, tapi sangatjarang ia kenakan.
Eve masuk kembali ke kamarnya. Iamenuju ke lemari pakaian. Lalu membongkar – bongkar isinya. Kebanyakan pakaiannya itu berupa celana jeans, kaos lengan pendek pas badan yang nantinyaakan ia lapisi dengan cardigan, lalu ia akan tambahkan flat shoes atau highheels 12 cm, atau juga sneakers.. Dan dua pertiga dari pakaian yang ia miliki berwarna biru.
Ia ingin berubah tentu saja, ia sudah mempunyai keinginan untuk berubah. Tapi belum berani untuk memiliki niat. Ia segera menekan nomor telepon Sania.
Eve ingin bertemu. Mereka sudah sepakat akan bertemu di Sunwillshine Cafe Coffee. Kafe itu adalah kafe favorit Eve. Ketika sedang bersantai, atau jalan - jalan bersama teman - temannya. Ia biasa memakai Sunwillshine Cafe Coffee sebagai tempat rokemandasinya. Selain tempat yang bersih,
Pelayanannya teratur dan sangat ramah. Suasananya sangat tenang dan bau kopi tercium menyeruak ketiks menginjakkan kaki di pintu kafe. Membuat siapapun langsung terbius, seolah - olah terhipnotis,siapa saja pun akan betah berlama - lama di sini.
Setelah sampai di Sunwillshine Cafe Coffee, Eve langsung menduduki meja favoritnya. Tepat di samping air terjun buatan yang mengalir indah di dinding kafe. Kafe yang cukup luas, di dalam sini terdapat banyak sekali bunga - bunga dan lilin. Membuat suasana menjadi sangat romantis.
Eve belum pernah pacaran. Diusianya yang enam belas tahun, ia belum pernah merasakan yang namanya berkencan. Cinta? Apakah ia pernah merasakan cinta? Apa itu sebenarnya cinta?
Di ekor matanya, ia dapat melihat seorang wanita cantik yang tubuhnya membalut gamis indah berwarna hijau tosca, Eve segera melambaikan tangannya. Ini akan menjadi awal untuk dirinya, awal untuk berubah menjadi lebih baik.
"Apa kamu sudah lama menunggu?" tanya Sania, dari nada bicaranya terlihat santai.
"Belum lama kok kak. Baru juga lima menit yang lalu," jawab Eve sambil menyunggingkan senyum terbaiknya. Wajahnya semakin terlihat cantik.
"Jadi tujuan kamu ajak aku ke sini itu... apa?" tanya Sania.
"Jadi tujuan aku ajak kamu ke sini itu... aku pengen berubah."
"Berubah? Maksud kamu? Maksud kamu apa?" kening Sania tampak berkerut.
"Aku mikirin terus pembicaraan kita waktu itu... Aku pikir, nggak salah kalo mau berubah. Aku ingin, yah tentu saja. Tapi aku belum ada niat... Karena aku belum siap dengan segala aturannya yang mengikat. Tapi aku selalu terbayang hal itu... Jadi inilah tujuannya aku ngajak kamu kesini. Mau bicarain soal ini."