My Best Friend

My Best Friend
Episode 22 : (Kehidupan Anna) (POV ANNA)



Kaki ini terasa berat sekali. Oh ayolah, bolehkah sehari saja aku bolos? Ya aku tahu. Kemarin aku bolos sekolah. Tapi aku benar - benar capek menghadapi ini semua. Luka ini terasa semakin mendalam rasanya. Bagaimana tidak? Orang - orang persetan disekolah itu benar - benar tidak bisa berhenti menggangguku. Sudah kubilang bukan aku yang mencuri, Ataukah mereka sudah tahu bahwa memang bukan aku yang mencuri? Namun mereka tetap diam saja membiarkan aku menjadi pihak yang tersakiti disini. Apa salahku?


Orang yang aku tunggu selama ini masih saja dalam rangka libur. Apa kesedihannya itu belum kunjung selesai? Mengapa lama sekali? Adiknya itu sudah meninggal! Ya, Adiknya sudah meninggal! Dan tidak akan pernah bisa kembali lagi. Tangisan dan kesedihannya itu tidak akan dapat mengembalikan segalanya.


Kemarin aku terpaksa bolos. Dan pasti orang - orang persetan yang sok sibuk itu pasti sibuk membicarakanku, dan para pihak sekolah yang sok yes dan sangat menjaga nama baik sekolah itu pasti sibuk menghubungi orang tuaku. Tadi malam aku sengaja pulang telat, biar Si Mama bawel itu nggak tambah bawel lagi kayak burung Kakaktua milik tetangga samping rumahku yang lancar banget bicaranya.


Tadi malam aku sengaja pulang larut, disaat mama sama papa sudah masuk ke dalam pulau mimpi. Lampu diseluruh rumah sudah mati, dan aku yakin semua sudah tidur. Lihat saja, tadi malam aku masuk melalui pintu belakang yang engsel pintunya sudah berkarat. Pintu itu tidak bisa ditutup rapat (menimbulkan celah), apalagi mau dikunci. Dan aku sangat bersyukur akan ketanyaan itu.


Kemarin itu aku datang pada saat apel, namun ketika kelas fisika akan dimulai... Aku mengambil tas ranselku lalu segera berlalu. Saat apel, aku tidak menaruh tasku di dalam kelas, ataupun diloker, aku menaruhnya di depan sekolah. Aku tahu disitu ada cctv yang sudah terpasang dengan apik. Biarlah itu menjadi tanda tanya pihak sekolah.


Supaya aku dikira akan hadir dalam pelajaran kemarin, aku ikut pada saat apel pagi. Yah yang lagi - lagi diisi dengan ceramah kepala sekolah itu. Dia pikir dirinya itu sudah betul? Apa yang dia bilang itu sudah sesuai dengan kenyataan? Apa semua yang dia lakukan itu sesuai dengan yang dia katakan setiap apel pagi? Nyatanya tidak. Asal kalian tahu, kepala sekolah macam apa yang merebut suami orang lain seperti dirinya itu? Sok - sok pula menasehati kami.


Asal kalian tahu saja, kepala sekolah dengan sanggul tinggi itu setiap hari berjalan dengan sok anggun, sok ramah pada setiap orang. Lipstik merah yang cuman seharga puluhan ribu itu saja kenapa harus ditunjukkan pada orang - orang? Bedak yang ia pakai pun berharga tidak sampai seratus ribu. Selalu sok dalam segala hal, padahal menjadi duri dalam rumah tangga orang lain.


Kukira itu hanya gosip, namun ternyata benar faktanya. Meskipun aku diluar terlihat seperti karakter cewek manis yang hobi membaca buku, aku juga gadis yang suka kepo akan kehidupan orang.


Aku usut gosip itu, kepala sekolah itu awalnya menjadi junjunganku, pedomanku karena nasehat - nasehatnya yang selalu menyejukkan hati. Usianya sekitar 45 tahun keatas.


Ternyata benar, aku pernah melihat kepala sekolah bersanggul tinggi itu adu mulut dengan seorang wanita yang terlihat seusia dengannya. Namun wanita yang menjadi lawan adu mulut kepala sekolah bersanggul tinggi itu mengenakan daster dan jilbab lusuh seadanya, sangat berbanding terbalik dengan kepala sekolah bersanggul tinggi itu yang sangat bergaya dan berusaha tampil modis disetiap saat(dasar tidak ingat usia!).


Darimana aku tahu? Dimana aku lihat? Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi?


Aku mendengar gosip itu dari teman - teman disekolah yang setiap hari obrolannya tak ada habisnya. Mulai dari kakak kelas, artis, kuliner, hingga tren terkini (sesuai dengan khas remaja sieh). Sering sekali aku mendengarnya, karena saat itu memang sedang hangat - hangatnya diperbincangkan.


Aku mengikuti kepala sekolah bersanggul tinggi itu hingga sampai kerumahnya. Saat itu jam pulang sekolah, dan bagiku tak ada salahnya mengikutinya (kalau penasaran dengan kehidupan orang lain).


Sudahlah. Aku tak mau berlama - lama dengan pikiran itu yang semakin lama semakin menggerogoti nafsuku untuk sarapan pagi. Aku masih bergulung dalam selimut tua yang entah sudah berumur berapa puluh tahun. Yang jelas selimut yang kukenakan ini sudah sangat berdebu, kusam, lusuh, bau rayap, dan dan banyak sekali robekan - robekan yang mungkin itu bekas gigitan tikus.


Aku tidak peduli sekarang jam berapa. Jujur aku sudah terlalu lelah dengan kehidupan membosankan dan menjijikkan ini. Setiap pagi, sarapan itu - itu terus. Kalau bukan roti tanpa selai sama sekali, yah bubur dari nasi putih yang disiram sama air hangat. Nanti makan siangnya itu lagi, itu lagi. Sama lagi dengan makan malamnya. Kalau bukan makan kerak nasi campur garam dan kelapa, nasi sama sayur bayam tanpa lauk, atau nggak mie rebus.


Ingin sekali aku makan Ayam atau daging... di restoran cepat saji. Jalan - jalan, shopping, bukan belajar keras terus menerus tiap hari, bolak - balik ke perpustakaan, kebut semalam, bahkan di weekend pun begitu lagi. Ingin sekali seperti Eve, sahabatku itu.


Aku bangun dari tidurku, menghempaskan selimut tua itu dari atas tubuhku hingga jatuh ke bawah. Sebenarnya aku sudah bangun dari tadi, tapi aku masih ingin bergulun dalam selimut seperti kepompong.


Aku beranjak dengan malas. Kemarin, sudah kuduga Eve pasti belum datang ke sekolah. Makanya daripada bosan, aku memilih bolos.


Aku membuka pintu kamar, mendapati mama yang sedang menyikat lantai kamar mandi. Malas sekali aku melihatnya.


Aku langsung ke dapur. Membuka tutup saji diatas meja, dan isinya adalah... Kututup mataku. Berharap isinya adalah semur, sate, atau steak - steak yang di restoran itu. Aku rutin melakukan gaya ini, berharap mendapat kejutan yang aku inginkan. Meskipun semuanya pupus, tak sesuai dengan harapan.


Satu


Dua


Tiga


Tara... Kubuka mataku. Hadeh, mimpi yang terlalu tinggi mendapat ayam atau daging, malah di dalam tutup saji isinya malah sama sekali tidak ada. Benar - benar membuat kecewa.