
Disini, aku adalah salah satu pemeran. So, dari part awal, pikirkanlah. Tentu seorang pemeran dalam cerita memiliki unsur penting yaitu unsur watak. Dan, watakku disini itu apa menurut kalian? Baik, buruk, atau bermuka dua?
Dan aku masih punya pertanyaan lagi untuk kalian. Jika kalian menjadi diriku, apa yang akan kalian lakukan? hidupku yang sangat jauh dari kata enak.
Satu hal lagi, hal ini merupakan salah satu hal yang sangat menyakitkan untukku. Orang yang selama ini diam - diam kusukai, malah justru menyukai sahabatku sendiri. Bayangkan! Coba kalian bayangkan! Sakit sekali hatiku. Terasa perih setiap kali mengingat akan hal itu. Chris, ya, namanya Chris. Dan dia malah menyukai Eve.
Aku rasa kesempatan untukku sudah tidak ada lagi. Semua harapanku hancur. Aku pikir karena Eve tidak menyukai Chris, maka aku pasti bisa mendapatkan Chris. Namun ternyata tidak.
Pernah suatu ketika aku menyatakan cintaku pada Chris, kuharap aku mendapatkan cinta balasan darinya. Namun justru, ia menyuruhku mundur, karena dia tidak mau sampai menyakitiku. Namun penolakan darinya terasa seperti sebuah tamparan-bukan tamparan wajah. Melainkan tamparan dihati
Tudung saji yang kupegang jatuh. Aku sudah terbiasa melihat meja makan yang kosong tanpa ada apapun diatasnya. Lalu pagi ini aku sarapan apa? Aku membuka lemari, isinya ada beberapa bungkus tepung terigu, minyak goreng, dan ada tiga butir telur. Aku heran, sekarang aku sekolah dibiayai beasiswa. Lalu kenapa mama dan papa semiris ini kehidupannya?
Apa mereka tidak punya tabungan? Seharusnya mereka punya tabungan dan kami bisa lebih baik dari ini. Aku selalu berusaha belajar lebih keras, belajar mati - matian. Aku selalu berusaha untuk memahami mereka, memahami keadaan mama dan papa. Aku berusaha untuk membantu mereka, meringankan beban mereka. Tapi sepertinya semua sama saja. Tidak ada perubahan. Tidak ada bedanya. Begini - begini saja, masih sama miskinnya.
Tiba - tiba mama sudah berdiri dihadapanku. Menatap lurus padaku dan mengunci fokusku. Ditangannya masih ada sikat yang ia gunakan untuk menyikat lantai kamar mandi. Mama masih diam ditempatnya. Wajahnya datar dan misterius. Aku menelan ludah.
"Kenapa kamu bolos kemarin?" asal suara itu bukan dari mama, melainkan dari papa. Mama masih diam, tak bergeming sama sekali.
"Mama kecewa sama kamu Ann..."
Mama angkay bicara. Ya allah... sungguh. Aku takut sekali. Aku tida berani jika mama sudah bicara. Bulu kudukku merinding jika mama sudah angkat bicara. Aku lebih memilih dibentak - bentak oleh papa dibandingkan dengan suara pelannya mama yanh mengatakan bahwa ia kecewa padaku.
Rasa takut, malu, gelisah, bingung, dan bersalah bercampur aduk menjadi satu menyelimuti hatiku. Mama itu tipikal orang yang sangat tenang. Mama jarang memarahiku, apalagi sampai mau membentakku atau bahkan hendak memukulku. Itu tidak pernah ia lakukab padaku. Mama menyimpan semuanya sendiri. Dia jarang berbagi dunianya denganku. Mama sangat pendiam dan tenang, dan itu justru membuatku merasa enggan. Aku lebih memilih melihat mama menjadi yang seorang yang ekspresif.
Papa duduk dikursi. Mama masih berdiri, dan tidak ada tanda - tanda untuk duduk. Aku masih menunduk, karena memang dari tadi yang kubisa lakukan hanyalah tertunduk dalam - dalam. Aku tidak berani bicara. Jangankan bicara, mengangkat wajahku saja aku tidak berani...
...
**Hei kamu yang habis baca. Hai!😆 Jangan lupa like dan vote yah habis baca. Jangan jadi silent readers. Supaya author makin semangat nulisnya
Byebye💘😂😀**