My Best Friend

My Best Friend
Episode 18 : Sudikah Allah mengampuni dosaku? #2



Assalamualaikum warahamatullahi wabarakatuh



Makasih buat para readers yang sudah mampir di karyaku yang berjudul My best freind ini. Semoga kalian suka dan betah sama ceritanya yah... jadi sebelum kalian semua lanjut membaca, saya Dianna Bee, selaku author yang menulis, penanggung jawab, dan pemegang hak cipta penuh atas karya ini, mohon untuk dukungannya terus yah! Dan dilarang keras untuk memplagiati cerita ini. Bila ada yang menemukan cerita ini diplagiati oleh orang lain, mohon langsung menghubungi author segera.


Dan saya mohon, jangan jadi silent readers! Karena membuat cerita itu susah... jadi mohon untuk tinggalkan jejak kalian di sini. Like dan vote yang banyak setiap habis selesai membaca. Supaya author makin semangat menulis dan mengetiknya. Kalau ingin tahu lanjutannya... jangan lupa buat tekan tombol favorit.


**Yang mau promosi juga silahkan\, comment aja. Author pasti bakal balas dan langsung feedback. Author tunggu saran dan kritik dari kalian atas karya ini\, mulai dari penulisan\, penggunaan kalimat yang pas seperti apa\, atau ada kejanggalan. Insya Allah author bakal langsung perbaiki. Karena author sadar\, bahwa cerita ini masih banyak kurangnya. Jadi untuk mengurangi kesalahan dalam menulis... Author butuh bantuan dari kalian yang membaca seperti dukungan\, doa\, jejak\, dan kommen. Insya allah ini sangat bermanfaat bagi author. **


Sekali lagi... mohon dukungannya dari kalian yah.


Wassalamualaikum warahmatullahi warabakatuh


Author,


Dianna Bee


...


"Berubah? Maksud kamu? Maksud kamu apa?" kening Sania tampak berkerut.


"Aku mikirin terus pembicaraan kita waktu itu... Aku pikir, nggak salah kalo mau berubah. Aku ingin, yah tentu saja. Tapi aku belum ada niat... Karena aku belum siap dengan segala aturannya yang mengikat. Tapi aku selalu terbayang hal itu... Jadi inilah tujuannya aku ngajak kamu kesini. Mau bicarain soal ini."


Eve memanggil pelayan restoran dan memesan minuman. Begitupun Sania, Sania melakukan hal yang sama.


"Kau tahu, Eve. Hidup ini seperti kertas putih. Bersih, tanpa ada noda atau tinta sedikitpun. Tinggal kau sendiri yang mau memilih mewarnainya dengan warna apa, dan seperti apa yang akan kau lukis. Kau ingin berubah... Tapi kau sebenarnya takut dengan konsekuensinya. Lalu bagaimana? Tidak bisa sesukamu, Eve. Tidak boleh sembarangan... Dan kaupun tahu seperti itu. Berarti kau tidak serius. Jika kau terus seperti ini... Sampai kapan kau akan berubah?. Eve, kumohon. Pikirkanlah kalimatku ini baik - baik. Kau tidak boleh seperti ini. Kau harus serius kalau mau berubah, tidak hanya dengan keinginan saja. Harus dengan niat," jawab Sania yang langsung membuat Eve bungkam.


"Lantas... apa yang harus aku lakukan?"


"Begini Eve. Kau bisa pelan - pelan kalau mau berubah. Dan yang paling penting itu kau harus memilki niat, itu adalah pondasi yang kuat. Agar mampu menopang keinginanmu supaya tidak berhenti di tengah jalan... Karena kalau sudah memiliki niat dari awal untuk berubah, semua rintangan apapun insya Allah pasti akan dengan mudah kau lewati..." Sania tersenyum. Eve membalas senyum Sania.


Ya, inilah yang mungkin aku inginkan. Berubah... Dalam segala keterbukaan. Batin Eve.


Setelah percakapan itu, Eve pamit. Sania mengangguk, tapi Sania tidak langsung pulang ke rumah. Sania mau di sini dulu, ingin mengetik. Karena dari awal Sania memang membawa laptop untuk mengetik, tapi Eve tak tahu Sania ingin mengetik apa. Dia tak ingin menanyakan lebih lanjut.


Eve ingin segera pulang, kembali ke rumahnya. Ia ingin langsung merebahkan dirinya di atas kasur yang empuk. Dia ingin istirahat dan menenangkan pikirannya sejenak. Membulatkan niat dan tekadnya untuk berubah.


Eve memesan taksi online. Setelah taksi yang ia pesan sampai, ia segera masuk dan menghempaskan tubuhnya di atas kursi mobil. Pikirannya menerawang ke mana - mana. Sambil menatap jalanan, ia menatap dari jendela mobil dengan tatapan pasrah. Ia tak ingin keputusannya ini nantinya berhenti di tengah jalan, ia harus membulatkan tekadnya. Apapun yang terjadi.


Sesulit apapun rintangan yang akan ia lewati nantinya, ia akan terus bertahan. Inilah hidupnya, inilah keinginannya, inilah pilihannya. Dan tanpa sadar karena terlalu banyak melamun memikirkan banyak hal, taksi yang ia tumpangi ternyata sudah sampai di depan pagar rumah orang tuanya. Tapi Eve masih tetap diam di tempatnya, belum beranjak keluar dari mobil.


Eve ingin pulang ke rumahnya, maksudnya rumahnya sendiri. Bukan rumah orang tuanya. Ia segera memberitahu supir taksi, untuk melanjutkan perjalanan lagi. Ia memberitahu alamat, lalu berjanji untuk memberikan bayaran tiga kali lipat dari bayaran yang seharusnya ia bayar. Supir taksi mengangguk.


Eve menghela napas lega. Ia akan segera memberitahu Papanya, tapi setelah sampai di rumahnya. Barang - barangnya yang beberapa helai memang masih tertinggal di rumah orangtuanya. Dan ia bisa mengambilnya besok saja. Ia bisa datang lagi besok.


...