
Sehari setelah pemakaman Renata. Eve mengurung diri di kamar. Dia masih di rumah orang tuanya, belum pulang ke rumahnya sendiri.
Keadaanya pun terlihat buruk. Wajahnya pucat, matanya sembab, lidahnya kelu, tenggorokannya terasa tercekat, dan dadanya amat sesak.
Sejak pulang dari pemakaman Renata, belum ada sesuap nasi pun yang masuk di dalam perutnya. Ia tidak merasa lapar sama sekali.
Eve tidak merasa lapar.
Tiba - tiba terdengar suara ketukan pintu, Eve mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk. Lesu, itulah yang ia rasakan sekarang.
Dengan langkah gontai, Eve membuka pintu kamarnya yang terkunci.
Ternyata ayahnya. Tapi ayahnya tak sendiri. Bersama seorang gadis cantik berhijab. Gadis itu memakai gamis dan hijab biru langit. Sangat cantik. Gamis yang sangat panjang-panjangnya melebihi mata kaki. Lebar, dan terbuat dari bahan tebal-sehingga tidak menerawang dan membentuk lekuk tubuh. Jilbabnya pun sama, yang dilipat simetris-lalu disematkan bros menyerupai mawar biru.
Ayahnya tersenyum, namun kondisinya pun tak jauh beda dengan Eve. Wajahnya juga sama pucat, lesu, dan mata sembab. Senyum yang sedikit dipaksakan.
"Eve... Bagaimana keadaanmu? Ini ada tamu. Dia ingin bertemu denganmu... Namanya Sania. Kamu kenalkan? Dia kemarin datang di pemakaman. Dia lebih tua empat tahun darimu, dan baru pindah ke sini enam hari yang lalu."
"Eee... Eve... Halo," Gadis itu tersenyum.
Eve tersenyum tipis.
"Masuk."
"Eve... Jangan lupa makan! Papa mau ke kamar dulu."
Eve mengangguk.
"Eve."
"Aku ke sini hanya ingin mengihiburmu. Maaf kalo aku sok kenal-tapi aku tulus kok! Kita boleh berbincang - bincang," Sania tersenyum tulus.
Eve mengangguk. Dia menyeka air matanya yang tiba - tiba saja luruh.
"Kak Sania."
"Iya?"
Sania mengangguk.
"Aku pernah kehilangan."
"Aku tak punya orang tua... Orang tuaku telah meninggal dunia. Saat itu aku ingin pergi ke pasar menemani ibuku-dan diantar oleh ayahku. Kami menaiki motor. Aku bukanlah orang kaya. Tapi hanya dari kalangan biasa. Ayahku seorang petani. Dan ibuku seorang buruh cuci," Sania tersenyum. Lidahnya sedikit bergetar ketika mengucapkan kalimat - kalimat itu. Terdengar menyedihkan.
"Kami ditabrak oleh mobil mewah. Aku selamat, tapi sayangnya ayah dan ibuku tidak." Sania menyeka matanya yang berair. Tidak mudah menceritakan kenangan menyakitkan.
"Maafkan aku kak... Tidak apa - apa kalau kakak tidak mau melanjutkan cerita kak..." Eve pun ikutan menyeka air mata.
"Tidak apa - apa. Biarlah aku berbagi."
...
Eve tidak menyangka. Seorang gadis cantik bernama Sania, harus kehilangan orang tua di umurnya yang menginjak sembilan tahun. Butuh kasih sayang, belaian lembut, dan perlindungan dari orang tua. Ayah dan ibunya ditabrak. Seketika, Sania menjadi anak yatim piatu.
Kemudian Sania diasuh oleh keluarga yang menabrak dia dan orangtuanya. Sebenarnya Sania takut, tapi keluaga kaya itu memohon, dan Sania pun mengangguk.
Dia diasuh, dijaga, dan disayangi baik - baik. Keluarga itu merawatnya dengan tulus dan penuh kasih sayang. Tapu ternyata... Di dalam hati kecil Sania, ia menyimpan dendam pada keluarga kaya itu.
Karena suatu kejadian, Sania tersadar. Saat itu, ia sedang belajar mengaji pada guru mengajinya pribadinya-yang selalu datang setiap hari libur. Ia tersadar-bahwa kita tak boleh menyimpan amarah dan dendam.
Sania pun bersimpuh, dan meminta maaf kepada ibu angkatnya. Kemudian ia melakukan shalat taubat. Dulu, ia adalah anak yang pemalas.
Ketika orang tua kandungnya masih hidup, Sania selalu saja malas dan mencari - cari alasan untuk tidak melakukan perintah - perintah dari Allah subhana wata'ala. Seperti mengaji, shalat, dan zikir. Ia selalu membantah.
Dan setelah orang tua kandungnya meninggal, ia langsung meminta maaf kepada Allah, agar mengampuni dosanya. Mungikin ini adalah teguran yang Allah berikan padanya, karena selalu membantah perintah dari orang tua. Sekarang, orang tuanya telah tiada. Kata maaf pun sudah terlambat.
Sania pun berubah, dan belajar menjadi anak yang rajin, baik, dan patuh pada perintah orang tua dan Allah. Ia selalu shalat lima waktu, mengaji, dan selalu dzikir. Ia tak mau menjadi anak yang durhaka lagi.
Eve seperti merasa tersengat mendengar hal itu. Ia merasa malu. Karena selama ini ia jarang sekali shalat. Paling hanya ketika lebaran saja. Mengaji pun sepertinya hampir tak pernah. Puasa? Hanya dihari pertama saja. Setelah itu ia merasa tak sanggup. Dzikir? Sama saja seperti mengaji. Juga ha.pir tak pernah.
Eve merasa malu, sangat malu. Apakah ini yang semacam teguran? Apakah ini adalah pertanda untuknya agar berubah? Eve tak tahu. Ia pusing dengan geliatnya sendiri.
...