Mr. Jerk Wants To Catch Me.

Mr. Jerk Wants To Catch Me.
6



Ketika berjalan keluar dari cafe, ia melihat segelombolan orang yang berdiri di depan suatu toko tas yang terbilang cukup terkenal.


"Hah? Itu Shella dari Chow Family? Wah aku beruntung sekali bisa bertemu dengannya."


"Wah itu dia ya? Dia cantik sekali tapi kok kelihatannya arogan sekali ya?"


Benedict mendengar percakapan beberapa orang yang berdiri di depan toko itu sambil melihat ke dalam termasuk 2 wanita yang menarik perhatiannya tadi. Di dalam ada 2 orang yaitu seorang yang berpakaian kemeja putih yang tentu saja merupakan staff dari toko itu dan 1 lagi pastinya yang disebutkan oleh orang-orang ini.


Shella saat itu hanya memakai blouse flowerish lengan panjang berwarna putih dan rok hitam pendek selutut serta heels hitam polos namun siapa saja tau itu tentunya bukan heels biasa. Wajahnya juga hanya ia pakaikan makeup tipis agar tidak terlihat pucat ditambah kacamata hitam yang ia kenakan agar ia tidak dikenal namun sayangnya ia tetap dikenal oleh orang-orang.


"Aku meminta pertanggungjawaban bukan karena harga tas ini, aku hanya perlu integritas dari kalian. Sebaiknya aku tidak melihatmu lagi ketika aku kesini lain kali." ucap Shella dingin kepada staff toko itu lalu menaruh uang beberapa lembar dollar singapore di samping lalu berjalan keluar dari toko dan sayangnya orang-orang sudah mengerumuninya dan seperti reporter ingin mewawancarainya.


Anehnya ketika Benedict melihat tubuh kecil Shella itu dikerumuni, ia membayangkan kucing kecil yang dikerumuni para anjing besar dan itu membuat tangannya bergerak secara otomatis. Benedict langsung mencoba masuk ke kerumunan itu dan menarik Shella lalu membawanya pergi dari toko itu dengan cepat.


"Terima kasih, aku sampai disini saja. Aku akan membalas kebaikanmu tuan." ucap Shella ketika mereka akhirnya lepas dari kerumunan itu dan kini berada di tempat yang sepi. Shella pun menyerahkan kartu namanya seperti yang ia lakukan sebelumnya kepada Aaron. Dan Benedict pun mengambil kartu itu karena ia sedikit banyak tertarik dengan wanita di depannya.


Ucapan Shella tadi masih terngiang di telinga Benedict, ia merasa biasanya wanita akan marah apabila apa yang mereka pesan tidak sesuai keinginan namun Shella hanya menegur staff toko dan bersikap sangat dewasa walau sedikit menyeramkan karena meminta staff itu untuk mengundurkan diri dengan memberikan uang tambahan.


"Sama-sama. Ohh ya nona.. Shella anda datang sendiri? Saya bisa antarkan pulang jika mau." ucap Benedict menawarkan, sialan ia belum pernah meminta atau memohon kepada wanita karena wanita lah yang mendekatinya biasanya.


"Tidak, tidak apa-apa.. Em.. temanku.. Eh maksudku bodyguardku akan menjemputku." ucap Shella, sebenarnya awalnya ia tidak ingin mengumbar kalau dia adalah Shella La Chow namun ia baru saja ingat sudah memberikan kartu nama pada orang di depannya sehingga ia tidak mampu berbohong lagi.


"Nona Shella! Kami mencarimu dimana-mana." ucap seseorang sambil berlari mendekati Shella dan Benedict. "Oh hai. Saya Grace, asiste---" ucap Grace namun langsung Shella potong. "Ini temanku Grace, kami akan pergi sebentar lagi." ucap Shella dengan segera. "Hai, namaku Benedict. Senang bertemu denganmu." ucap Benedict sambil tersenyum dan mereka pun berpisah begitu saja.


Akan tetapi senyuman itu berubah menjadi normal, ia kembali ingat apa tujuannya ke Singapore. Clinton, asistennya itu belum juga memberinya informasi terkait wanita yang diikuti kakaknya dengan alasan bahwa wanita itu bukanlah penduduk Singapore biasa sehingga tidak mudah. Berbeda dengan Aaron, Benedict pemilik bar terkenal di beberapa negara besar termasuk negara yang terakhir dikunjunginya yaitu Finlandia. Walau begitu, tidak ada yang mengenalnya karena ia lebih sering bersikap sebagai pelanggan di barnya sendiri untuk memantau situasi yang ada.


"Shella.. La Chow? Kenapa nama ini tidak asing ya?" gumam Benedict sambil melihat kartu nama yang diberikan Shella terus menerus. Sebenarnya seluruh keluarga besar di dunia pernah sekali dalam 10 tahun menggelar acara besar bersama dan barulah Benedict ingat Chow juga termasuk salah satu keluarga besar itu.


"Hm.. menarik." ucapnya lalu tersenyum dan kembali menuju ke hotel. Begitu ia kembali, ia melihat kakaknya yang sedang berkutat di layar komputernya.


"Kalau begini terus, aku gak akan bisa balik. Hadeh." gumam Benedict sambil mengeluh. "Ini bukan kamarmu." ucap Aaron tanpa menoleh dengan nada dingin ketika ia sadar Benedict masuk ke kamarnya.


"Ayolah brother, moma akan kesini kalau aku tidak becus. Kau tentu tidak mau kan kalau sampai moma yang turun tangan?" bujuk Benedict dan tentu saja bujukannya berhasil. Namun Aaron hanya mengatakan bahwa benar ia sama sekali tidak tertarik dengan wanita manapun termasuk yang ia temui dan menyuruh Benedict untuk memberitahu moma untuk tidak datang karena ia bisa mengurus sendiri untuk pasangan hidupnya.


Benedict yang pasrah itu pun dengan terpaksa berjalan keluar dari kamar Aaron dan langsung memberitahu moma. Ibu dari Aaron dan Benedict bukanlah wanita biasa, keluarga Linden adalah keluarga gangster kelas atas dimana Moma yang disebut-sebut ini yang mengepalainya sejak kepergian sang suami atau ayah dari Aaron dan Benedict.


Aaron dan Benedict memiliki sikap yang sangat bertolak belakang dikarenakan Aaron semasa kecil dididik keras oleh ayahnya untuk meneruskan ayahnya dan tentunya didikan ayahnya itu lah yang membuat sikapnya menjadi sedingin ini. Ayahnya adalah orang yang sangat keras, dia mendidik Aaron dengan memukulnya apabila Aaron berbelas kasihan atau berbaik hati. Ibu mereka saat itu masih mengurus Benedict sehingga tidak tau akan hal itu, namun ketika mengetahuinya semua sudah terlambat. Aaron membunuh sang ayah ketika sang ayah menempelkan besi panas bertulisan "L" di tubuhnya ketika usianya masih 8 tahun.


Tindakan Aaron tidak dipidana karena usianya masih kecil dan dilindungi hukum serta dianggap sebagai pembelaan diri. Ibu mereka pun awalnya sempat curiga dengan suaminya yang selalu membawa Aaron ke ruang eksekusi dimana harusnya itu tempat terlarang bagi anak kecil namun ia tidak ambil pusing karena suaminya pernah mengatakan akan melatih anaknya menjadi penerusnya. Tentu saja Aaron tidak marah sama sekali kepada ibunya karena sempat beberapa kali ibunya adu mulut dengan ayahnya karena ada memar di beberapa tubuh Aaron.