Mr. Jerk Wants To Catch Me.

Mr. Jerk Wants To Catch Me.
15



Ia suka aroma Shella yang segar dan wangi, Aaron masih tersenyum tipis sambil melihat Shella yang memilih melihat pemandangan luar daripada dirinya.


"Mood Boss sedang tidak baik, kita cuma bisa berdoa wanita itu tidak membuat moodnya semakin memburuk." ucap Kyla kepada supir di depan. Mobil itu tentu saja memiliki pembatas sehingga Aaron tidak bisa mendengar percakapan itu.


Apa yang dikatakan Kyla benar, Aaron sedang bad mood walaupun pria itu tersenyum tipis namun senyuman itu mirip ketika ia hendak memburu mangsanya. Kyla sudah sangat mengenali senyuman itu hingga membuatnya terus merinding setiap kali melihat Bossnya itu.


Bagaimana tidak badmood, rencana Aaron tidak berjalan sesuai yang diinginkannya. Shella menerima tawaran menjadi pasangan dari seorang pria yang entah dari mana itu sedangkan dirinya ditolak secara langsung dan kini Shella mengikutinya karena ia mengancam kedua asistennya. Aaron awalnya tidak berniat mengingatkan Shella akan ancamannya namun saat itu Aaron sudah cemburu luar biasa dan sangat marah. Bahkan Kyla sendiri terkejut bagaimana seorang Aaron, bossnya itu menahan amarah yang membludak dan tidak melampiaskannya ke Shella.


Aaron tampak sangat sabar menghadapi sikap keras kepala dan naif Shella dimana biasanya Aaron akan langsung membawa sang mangsa ke suatu tempat dan menyiksa serta membunuhnya dengan darah dingin tidak peduli wanita atau anak-anak tak terkecualikan.


Aaron bahkan pernah secara dingin membunuh satu keluarga yang telah memata-matainya atas perintah musuhnya dengan cara kejam. Ia membunuh satu per satu dan dilihat secara langsung oleh anggota keluarga lainnya hingga habis dibantai seluruhnya.


&&&


"Kita sudah tiba. Ayo" ucap Aaron pelan lalu pintu mobil dibukakan. Mereka tiba di suatu perusahaan besar dan tinggi. Bangunan itu sangat besar bahkan kalau di Singapore, ini pastinya merupakan perusahaan milik Shella. Yah tentu saja, mengingat Singapore Shella langsung teringat betapa ia mendapat hak khusus di Singapore dan disebut sebagai princess disana. Namun tentu saja itu bukan hal yang ia inginkan sejak dahulu, ia ingin hidup tenang dan bebas. Bukan hidup dimana ia harus menyamar dan tidak menunjukkan identitasnya kepada siapapun. Dan kini ia berada di Australia yang jauh dari Singapore, dimana Shella yakin para wartawan mungkin belum mendapat kabar tentang dirinya yang sedang berada di Australia.


Ketika naik ke lift lantai 10, Aaron pun keluar dan Shella dengan terpaksa mengikutinya dari belakang. Tadi saat turun di mobil, Aaron sudah melepaskan genggamannya pada pinggang Shella dan membuat Shella berjalan tanpa harus setengah diseret atau dipaksa. Mereka pun melewati beberapa ruangan dan Shella dapat melihat bahwa di dalamnya ada orang-orang yang duduk di meja dan ada juga yang seperti menuliskan sesuatu di komputer. "Sedang meeting." ucap Shella dalam hati sambil melihat ke dalam.


Mereka pun tiba di suatu ruangan besar dengan pintu yang sama besarnya di ujung lorong. Kyla yang sedari tadi mengikuti mereka pun membukakan pintu itu bagi Aaron dan Shella. Shella hanya menunduk sedikit tanda terima kasih, hal yang hampir tidak pernah dilakukannya namun tentu saja ia harus melakukannya jika berada di tempat lain.


Ketika mereka masuk, Shella sadar bahwa ruangan itu adalah ruang kerja yang cukup luas dan tentu saja Shella sudah menebak ini adalah ruangan direktur atau CEO atau semacamnya serta pastinya ini ruangan Aaron.


"Boss, ini hasil rapat Tim Project.. e.." ucap Kyla namun ia berhenti di akhir karena ragu sambil melirik ke arah Shella.


Shella yang sedari tadi melihat percakapan antara boss dan sekretarisnya itu pun sedikit mengubah persepsinya tentang Aaron. Awalnya dia mengira Aaron hanyalah mafia yang mata keranjang dan tidak bertanggung jawab namun ketika melihat ekspresi serius Aaron secara langsung itu membuatnya sedikit terdiam.


"Kau akan berdiri berapa lama disana?" tanya Aaron ketika Kyla keluar dan dirinya langsung mengalihkan pandangannya kepada Shella.


Barulah Shella sadar ia sedari tadi berdiri di sisi ruangan besar itu tanpa sadar karena masih terpukau dengan sikap baru Aaron yang baru ia lihat secara langsung.


Shella pun dengan segera berjalan ke sofa yang paling dekat dengannya dan memilih duduk disana. "Jadi untuk apa kau membawaku kesini?" tanya Shella ketika ia duduk dengan nyaman di sofa itu. "Menemaniku seharian ini." jawab Aaron dan kini ia berdiri dari balik mejanya dan berjalan mendekati Shella dan duduk di sofa di sampingnya.


"Nanti malam kau harus menemaniku ke suatu acara." ucap Aaron seperti sebuah titah sambil menuang air di gelas dan menyerahkannya kepada Shella.


"Aku tidak punya waktu untuk menjadi pengikutmu yang mengikutimu kemanapun kau pergi." ucap Shella sambil menatap Aaron dengan serius. "Jangan berpikir kau bisa lepas dariku. Aku tidak perlu berulang kali mengucapkan hal yang sama bukan?" ucap Aaron lalu mengambil tangan Shella dan membawanya menerima gelas yang sedari tadi disodorkan kepada Shella.


Shella terdiam, Aaron seperti singa yang siap mengaum. Tadinya ia sudah curiga ketika melihat pria itu yang tersenyum tipis kepadanya namun barulah Shella sadar ternyata senyuman itu adalah senyuman yang berbeda. Aaron sedang marah. Hanya itu kesimpulan Shella.


"Tapi kau tidak bisa mengurungku seperti ini! Aku ingin bebas." ucap Shella masih tidak memerdulikan Aaron yang sudah seperti singa siap untuk menerkam. "Dasar gadis naif, kau tidak akan bisa lepas. Kecuali kau kembali ke Singapore." ucap Aaron sambil berdiri di dekat Shella dan ia menarik dagu Shella sambil tersenyum.


"Aku akan melaporkanmu! Atas ancamanmu! Kau berasal dari keluarga mafia bukan? Maka itu semakin mempermudah semuanya." ucap Shella kemudian sambil membalas tatapan Aaron. Shella sejujurnya setuju dan mengikuti Aaron dengan tujuan agar ia dapat mencari celah yang dapat ia laporkan kepada Aaron namun sayangnya ia tidak menemukannya. Aaron terlihat seperti CEO pada umumnya, tidak ada tanda-tanda ia adalah seorang mafia atau berasal dari keluarga mafia kelas atas.


Aaron tersenyum mendengar ancaman Shella, ia semakin tertarik pada Shella. Shella adalah orang pertama yang berhasil mengancamnya, biasanya orang-orang akan memilih mundur di detik ketika Aaron kedua kali mengingatkan ancamannya.


"Menarik, tapi pernahkah kau terpikirkan kenapa keluarga Linden diundang di acara besar itu?" tanya Aaron masih dengan pose yang sama dan enggan melepaskan genggamannya dari dagu kecil Shella.