
"Te-tentu saja ada! Kami bertukar pesan baru-baru ini!" ucap Shella dengan nada bangga ditambah sedikit gugup.
"Apa? Siapa namanya? Dari keluarga mana dia?" tanya Mari mulai panik, dia dan Kendrik tidak pernah mendapat laporan tentang Shella yang dekat dengan laki-laki.
"Bukan pria yang kau temui itu kan?" ucap Kendrik lalu tersenyum miring meremehkan.
"Tentu tidak! Namanya Vincent! Dia dari keluarga.." baru saja Shella ingin mengucapkan asal nama keluarga, Kendrik sudah bersuara. "Anak papa sudah pandai berbohong ternyata." ucapnya lalu tersenyum tipis.
"Apanya berbohong??" Karena kesal Shella dengan segera membuka pesan yang ia terima dan langsung menunjukkannya pada kedua orang tuanya yang kemudian membelalak kaget. Tapi..
"Shella, hanya ada satu kata di pesan ini. Mom rasa hubungan kalian tidak seperti itu." ucap Mari yang sempat lega.
"Tentu saja ada mom dad, aku tidak mungkin menunjukkan isi seluruh pesannya bukan?" ucap Shella sambil tersenyum dan untuk membuktikannya di depan orang tuanya, dia pun mulai sibuk berpura-pura tersenyum sambil memainkan ponselnya. Ia membalas pesan "Yo" yang ia terima itu dengan "Hi ^^" iew.. agak menggelikan namun ia harus bersandiwara.
"Kalau tidak ada lagi, aku kembali ke kamar ya." ucap Shella setelah membalasa pesan itu dan tersenyum lebar layaknya sedang jatuh cinta sambil berbalik untuk menuju ke pintu.
Setelah Shella keluar dan pergi ke kamarnya barulah Kendrik menunjukkan reaksinya dengan menghela nafas. Dahinya berkerut khawatir melihat pintu tempat Shella keluar tadinya.
"Aku tidak percaya itu laki-laki sungguhan!" ucap Mari dengan nada frustasi.
Di sisi lain...
*bunyi notifikasi
Seseorang tersenyum tipis ketika menerima balasan "Hi ^^"
"Hah? Serius ga salah liat? Dia tersenyum?" tanya Ben, salah satu bodyguard yang dekat dengan Aaron. "Iya, tadinya ketika aku masuk sambil memberikan berkas, tuan Aaron sedang tersenyum.
"Aku tidak tau ini pertanda baik atau buruk karena tuan tidak pernah tersenyum selama aku menjadi sekretarisnya." ucap Kyla sambil bergidik ngeri.
Sebelumnya...
Kyla masuk ke ruangan kerja yang ada di suatu kamar di hotel..
"Tuan, ini data keuangan tentang hotel Shang Li Ra dan juga ternyata ada pencatatan yang dipalsukan. Dan ini data pribadi wanita yang pernah Tuan minta namun karena wanita ini bukan wanita sembarangan, agak sulit untuk menemukan informasi tentangnya." ucap Kyla sambil menjelaskan dan menyerahkan 2 map dengan warna berbeda.
"Baik, letakkan saja." ucap Aaron tanpa menoleh dan masih menatapke layar ponselnya sambil mengulaskan senyum."Baik Tuan." ucap Kyla lalu berjalan keluar dari ruang kerja serta kamar Aaron.
Setelah Kyla keluar, Aaron pun mengambil salah satu diantara map yang diberikan oleh Kyla yang memiliki segel serta tulisan "CONFIDENTIAL" yang artinya rahasia. Walaupun jujur saja ia sudah tau lebih kurang tentang informasi wanita yang ada di map ini, ia tetap memilih membuka segel itu dan melihat beberapa lembar. Mulai dari data diri paling umum hingga biodata, dan Aaron sedikit mengernyit ketika melihat sejarah pendidikan yaitu berada di Australia. Tak lama setelah merenung, ia pun tersenyum tipis dan melanjutkan ke halaman berikutnya.
Tak lama kemudian, ponsel Aaron pun berbunyi..
"Halo kak, aku udah di singapore nih. Sedang menuju ke hotelmu." ucap seseorang disana.
"oHmm.." ucap Aaron lalu membiarkan seseorang yang memanggilnya kakak tadi itu berbicara. "Aku baru dapat berita, akhir-akhir ini mood kakak lebih baik ya?" tanyanya dan itu membuat tangan Aaron mengepal.
"Katakan apa maumu Benedict." geram Aaron dingin dan ia baru sadar bahwa pulpen yang ia pegang sudah terbelah dan sekarang tangannya penuh akan tinta hitam.
"Tidak ada kak, kakak tau kan moma sudah meributkan usiamu yang sudah boleh menikah itu hemm maksudku lihatlah kau bahkan belum punya pacar di usiamu yang hampir 28 itu." ucap Benedict sambil menjelaskan.
NB: Moma\= Panggilan Ibu
Sebenarnya Benedict datang ke Singapore pun atas utusan Moma yang mendengar kabar bahwa Aaron mengikuti seorang wanita dan disinilah ia tiba di hotel Shang Li Ra dan masuk ke ruangannya.
Ketika selesai beristirahat beberapa jam dan mandi, ia pun beranjak ke kamar kakaknya.
*ting tong
Tidak ada jawaban dari dalam sehingga membuat Benedict mau tak mau mengetuk dan kemudian terdengar langkah kaki yang mendekat lalu membuka pintu. Disitu sudah terpampang jelas wajah gelap Aaron ketika melihat Benedict.
"Dimana wanita itu?" tanya Benedict sambil mencoba menengadah ke dalam kamar namun langsung dihentikan oleh Aaron. "Dia tidak ada disini." jawabnya dingin. "Yang benar saja? Moma menyuruhku datang untuk menemuinya." ucap Benedict mulai pasrah karena ia merasa kedatangannya akan sangat lama. Walau kelihatan diluar seperti itu, sebenarnya ia sendiri juga penasaran bagaimana wanita yang diikuti kakaknya itu karena tentu saja ia tau kakaknya yang dingin dan kejam itu tidak kenal cinta dan anehnya kini Aaron menemukannya.
"Bukan urusanmu, kembalilah ke tempatmu." ucap Aaron hendak menutup pintu namun segera ditahan oleh Benedict. "Pleasee, you know Moma yang mengutusku." barulah Aaron membiarkan Benedict masuk.
&&&
"Jadi.. kakak masih tidak berniat untuk mengatakannya?" tanya Benedict begitu mereka masuk namun Benedict berkeliling kamar mencoba mencari clue dan tentunya sia-sia.
"Wanita itu bukan siapa-siapa, aku hanya mengikutinya sebentar agar dapat berbaur dengan negara ini." ucap Aaron begitu ia duduk di depan meja laptopnya dan hendak mengetik.
"Tapi kalian bertemu lebih dari sekali bukan?" Pertanyaan yang diajukan oleh Benedict membuat Aaron sempat menghentikan jarinya yang hendak mengetik itu.
"Itu hanya kebetulan." balas Aaron sambil mengetik. "Hingga membeli hotel ini? Ini hanya hotel bintang 4." ucap Benedict menjelaskan namun tentu saja kakaknya itu sudah mengabaikan dirinya secara sepenuhnya dan ia pun dengan terpaksa berjalan keluar dari kamar Aaron dan turun kebawah untuk setidaknya berjalan-jalan. Ia datang sendirian tanpa membawa bodyguard atau gadis-gadis yang menemaninya.
Benedict Hugo Linden, nama lengkap dari saudara Aaron yang kini berada di Singapore dan ia masuk ke salah satu mall yang memiliki cafe ternikmat di kota Singapore.
"Coffee Latte." ucap Benedict kepada kasir lalu ia duduk di kursi di tengah dari meja panjang dan ada yang menarik perhatiannya. Apalagi kalau bukan wanita? Namun tak lama setelah ia duduk, ada beberapa orang di sekitarnya yang tampaknya heboh lalu keluar dari cafe dan menuju ke suatu tempat. Benedict yang melihat hal itu pun awalnya cuek namun ketika kedua wanita yang ia lihat tadi tampaknya juga ikut pergi, ia pun jadinya tidak berselera di cafe itu.