
Apakah Shella sudah jatuh ke tangan Aaron? Mungkinkah? Itu hal yang tidak pernah terpikirkan di otak Shella sejak mengenal Aaron.
Aaron adalah pria yang berhati dingin bahkan hingga sekarang, cara dia mengklaim Shella pun sebenarnya kasar. Dia sama sekali tidak romantis, jauh dari tipe idaman Shella. Bagaimana mungkin Shella bisa menyukai Aaron? Seorang pria kasar yang tidak berperikemanusiaan itu?
&&&
"Boss, ada yang ingin saya bicarakan." ucap Kyla ketika Aaron sudah mengantar Shella pulang dan berada di ruangannya.
"Katakan."
"Ini terkait Nona Shella, sebenarnya saya sempat mencoba biodata dirinya lebih lanjut dan menemukan...."
Aaron tidak mengatakan apapun namun tatapannya langsung beralih ke Kyla.
"Maksud saya, jika boss benar-benar ingin mendapatkan dirinya seutuhnya. Boss perlu lebih halus dan mungkin romantis kepadanya."
"Beraninya kau memerintahku!"
"Ampun boss, hanya saja data ini sangat akurat. Seluruh mantan atau pria yang pernah mendekatinya adalah pria yang benar-benar tidak pernah mengasarinya."
Aaron hanya terdiam dan tidak menjawab sama sekali dan memilih membaca berkasnya sehingga Kyla pun memilih keluar dari ruangan.
Setelah Kyla keluar dari ruangan, Aaron mengambil berkas yang diletakkan oleh Kyla tadi dan mulai membacanya.
Kyla benar, mantan pacar dan pria yang pernah mendekati Shella adalah pria yang berasal dari kelas atas. Bahkan mereka adalah pria yang memang memiliki reputasi baik. Sebenarnya sangat bertolak belakang dengan dirinya. Lagipula...
"Untuk apa aku memikirkan ini?" ucapnya dalam hati lalu memilih melanjutkan pekerjaannya.
&&&
Shella mendapat voucher VIP dari Benedict untuk mengunjungi barnya sehingga akan dia pergunakan hari ini mengingat ruangan VIP sudah dibooking hingga penuh untuk setengah tahun kedepan mengingat konglomerat di Singapura bukan hanya Shella saja. Ternyata keputusan Benedict membuka bar di Singapura adalah keputusan tepat, karena barnya itu akan dijamin memiliki pemasukan hingga 5 tahun kedepan atau bahkan lebih.
"Selamat Sore, saya Martin dan saya yang akan bertanggung jawab atas segala kebutuhan anda selama anda berada disini." Begitu Shella masuk, ia langsung dipertemukan dengan seseorang yang berpakaian rapi dengan jasnya. Shella tidak heran jika bar ini sukses besar, seluruh pelayan yang melayani merupakan pelayan khusus VIP bagi siapa saja yang sudah booking.
2 jam berlalu setelah Shella bersama temannya yang berada di Singapura itu berada di bar milik Benedict. Shella sadar dirinya sudah mendekati batas minumnya sehingga dirinya pun memilih untuk memesan air putih atas bantuan Martin.
Namun Martin tidak kunjung kembali dan salah satu teman Shella meminta untuk melakukan toast bersama sebelum dia terbang ke Indonesia besok sehingga mau tidak mau Shella harus minum lagi.
"Nona?" Martin memanggil Shella yang sedang dalam keadaan duduk bersandar dengan mata tertutup. Teman-teman Shella masih memilih lagu dan sibuk bernyanyi.
Shella merasa kepalanya teramat sakit karena efek alkohol itu hanya mampu mengangguk.
"Mari saya bantu." ucap Martin lagi.
Martin membantu Shella untuk bangun dan memberikannya minum air putih yang ia bawa.
"Apa nona ingin pulang? Kami memiliki jasa antar yang dijamin aman jika nona berkenan." ucap Martin.
Akhirnya Shella hanya mampu mengangguk dan kemudian sisanya ia serahkan kepada Martin. Martin pun menjalankan tugasnya dan membawa Shella menuju sebuah mobil mewah dengan supir yang sudah menunggu di dalam.
"Nona, boleh berikan alamatnya? Saya akan memberitahukan kepada supir."
Shella pun memberikan alamatnya dan tak lama kemudian mobil pun melaju.
"Biarkan saya yang tangani untuk selanjutnya." ucap seorang pria yang Shella tidak tau siapa karena dirinya tidak mampu membuka matanya dan hanya mampu mendengar dan selanjutnya Shella langsung terlelap.
&&&
"Akhirnya kau bangun." ucap seseorang yang Shella belum tau siapa.
"Kau? Aku dimana?" Shella agak terkejut melihat Aaron namun ia juga mencoba melihat sekitar dengan lebih jelas. Dia berada di Singapura.
"Bukankah kau yang memberikan alamatku kepada supir?" Aaron tidak menjawab pertanyaan Shella dan memilih mengambil makanan untuk Shella.
Ketika Aaron kembali, Shella tampak panik ssperti mencari sesuatu.
"Mereka meneleponmu dan aku mengangkatnya. Sudah selesai." Aaron mengatakan hal itu lalu menyerahkan teh chamomille untuk Shella. Shella memilih menerima tehnya lalu menatap Aaron.
"Selesai bagaimana? Kenapa mereka tidak mencariku? Bukannya seharusnya mereka sudah mengutus pencarian?" tanya Shella tanpa berhenti.
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya."
"Sebenarnya bagaimana?"
"Kalau kau yang memang ingin kesini. Jadi kuberitahu mereka untuk menghargai keputusanmu."
"Omong kosong macam apa itu?" Shella tentu saja membantah, bagaimana mungkin Shella meminta untuk kesini? Layaknya masuk ke goa singa mencari yang sedang mencari mangsa.
Aaron hanya menyeringai dan menaruh sarapan Shella di nakas lalu berjalan menuju ke pintu.
"Tunggu. Kapan aku bisa pulang?" tanya Shella.
"Kapanpun kau mau." jawab Aaron dan dia pun pergi keluar dari ruangan itu.
Tak lama kemudian, ada beberapa pelayan yang masuk membawakan baju. Ada yang membersihkan kamar dan membantu menyediakan kebutuhan Shella.
"Apakah kalian yang mengganti bajuku semalam?" tanya Shella.
"Benar nona. Nama saya adalah Della, saya yang mengganti baju nona tadi malam." ucap salah satu pelayan.
"Ceritakan bagaimana aku bisa berakhir disini." pinta Shella.
Beberapa pelayan tersebut hanya bisa melihat satu sama lain lalu melihat ke arah Shella lagi. Shella kebingungan dengan reaksi mereka dan hendak berbicara namun Kyla sudah masuk dan memotong percakapan itu.
"Tadi malam, Boss sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk. Namun tiba-tiba ia mendapat kabar bahwa ada mobil yang mengantarkan nona kemari maka dari itu dia langsung pul---"
"KYLA!" seru Aaron dari balik pintu.
Kyla seketika kaku, tegang mendengar teriakan tuannya yang keras ditambah seluruh pelayan yang langsung terdiam kaku juga.
Shella yang melihat seluruh situasi itu hanya mampu terdiam menunggu. Shella sedikit banyak sudah terbiasa dengan sikap garang Aaron, kini Shella tau bahwa sang sekretaris tidak berbohong. Aaron begitu marah menunjukkan dia tidak ingin hal ini diungkapkan, namun apa alasannya? Bukankah lebih baik jika Shella tau kebenarannya jadi dia tidak akan salah paham terhadap Aaron?
Setelah seluruhnha pamit keluar, Shella memutuskan untuk berterima kasih kepada Aaron.
"Terima kasih, maaf sudah menyusahkan dan salah paham denganmu." ucap Shella.
Ekspresi Aaron melembut mendengar ungkapan Shella dan dirinya pun berjalan mendekat kepada Shella. Tangannya meraih pipi Shella, dan mengarahkannya untuk naik menatap Aaron.
Shella tidak menolak sentuhan Aaron malah dia balas memegang tangan Aaron yang memegang pipinya itu.