
"Sstt.. Kan sudah kubilang aku ingin bersenang-senang. Kalian pulang dulu, nanti kususul. Aku tidak akan kenapa-kenapa." ucap Shella dan itu membuat Chloe dan Grace tentunya terkejut. Kenapa sikap Shella berubah tiba-tiba seperti ini?
"Tidak nona, kami tidak akan--" ucapan Chloe dipotong oleh seorang pria di belakang Shella. "Ada masalah?" tanya Aaron kemudian dan setelah mengkonfirmasi identitas Aaron bahwa pria itu memang kenalan Shella dan teman Shella, pada akhirnya Chloe dan Grace pun dengan terpaksa pulang kembali ke hotel.
"Hmm? Kenapa kau ada disini?" tanya Shella ketika Chloe dan Grace pada akhirnya pulang. Shella memang setengah mabuk namun ia masih dapat mengenali orang di sekitarnya.
"Kau minum?" tanya Aaron ketika melihat Shella tampak mengenalinya namun gadis di depannya itu setengah tersenyum seperti orang mabuk.
"Hah? Tidak kok...! Hey! Kau kenapa kau muncul lagi hah? Kenapa ini.. ini kok kau mengirim ini?" ucap Shella sambil mengeluarkan ponselnya dan menunjuk-nunjuk pesan yang dikirim Aaron.
"Karna aku merindukanmu?" ucap Aaron kemudian sambil tersenyum tipis. Sosok Shella yang setengah mabuk itu sangat memuaskan hatinya yang sedari tadi sibuk bekerja. Awalnya ketika mengetahui Shella sedang berada di bar dan dia hanya iseng ingin mengerjai Shella namun tak dia sangka Shella ternyata dalam keadaan mabuk.
"Ayo pulang." ucap Aaron kemudian hendak menarik lengan Shella namun dengan segera ditepiskannya. "Tidak! Aku belum mabuk, aku tidak mau pulang. Nanti... nanti.." ucap Shella sambil memegang kepalanya karena merasakan rasa sakit di kepalanya.
"Nanti apa?" tanya Aaron masih menatap Shella, gadis di depannya ini sangat naif. Tidak sadar akan situasi di sekitarnya, Aaron sendiri lebih kurang dapat menebak apa kata Shella tentunya.
"Nanti Aaron akan menangkapku. Aku tid--- Aahhh.." ucap Shella sampai setengah dan tiba-tiba ia merasa highheels nya miring dan membuatnya hampir jatuh namun Aaron dengan tanggap memanggul Shella.
"Got you..." bisik Aaron di telinga Shella dengan nada lembut. "Ha? Lepas.." ucap Shella dengah lemah, dia sudah terlalu nyaman bersandar pada tubuh Aaron. Dirinya merasa aman berada di dengkapan Aaron.
"Boss, kita..." ucapan Kyla tentu saja terpotong ketika melihat adegan di depannya. Kyla pun langsung mengarahkan kamar yang sudah dipesan oleh bossnya.
Shella sempat tertidur dan Aaron tidak membangunkannya sama sekali namun mengangkatnya bagaikan karung beras dan membawanya ke kamar bar yang sudah dipesannya.
Atau lebih tepatnya ini adalah salah satu bar milik Benedict jadi Aaron dengan mudah dapat menggunakannya.
"Hmm.. Aku dimana?" tanya Shella begitu ia bangun dan dirinya dalam keadaan dibopong oleh Aaron.
"Hey lepaskan aku! Hey!" ucap Shella namun diabaikan oleh Aaron dan dia pun melempar Shella ke tempat tidur ketika mereka sudah berada di dalam kamar, Kyla setelah mengarahkan Aaron ke kamarnya ia pun undur diri dan menutup pintu.
"Kau! Kenapa kau bisa berada disini? Oh.. yang tadi bukan mimpi.." ucap Shella pada awalnya kepada Aaron namun kemudian ia sadar kalau sedari tadi ia bukan bermimpi.
"Aku ingin menangkapmu tentu saja." ucap Aaron dan dia pun duduk di tepi ranjang. Shella yang melihat Aaron mendekat pun dengan sigap berusaha bangun dan menjauh namun sayangnya Aaron sudah lebih dahulu menangkap salah satu kaki Shella dan menariknya mendekat.
"Lepaskan aku! Hey! Kuperingatka----" ucapan Shella terhenti karena Aaron telah menciumnya dengan paksa. Bukan hanya itu, Aaron pelan-pelan menarik gaun pendek yang dikenakan Shella hingga gaun itu setengah lepas namun Shella dengan sekuat tenaga menahan agar gaunnya tidak jatuh hingga memperlihatkan tubuhnya.
Shella dengan satu tangan memegang gaunnya dan satunya lagi berusaha mendorong badan kekar Aaron itu membuatnya sama sekali tidak berdaya. Tenaganya sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Aaron.
Shella menahan nangis menyadari betapa ia sangat tidak berdaya di hadapan Aaron, tubuh mungilnya yang tidak berdaya itu membuatnya seharusnya sadar kalau selama ini Aaron adalah pria berbahaya yang tidak boleh ia dekati.
"Aku.. membencimu!" ucap Shella diikuti dengan isak tangisnya.
"Aku tidak peduli." ucap Aaron dengan dingin dan ia pun melanjutkannya dengan membuka paksa gaun Shella hingga keseluruhannya dan mulai melahap segala tubuh Shella.
"Erghh.. Tunggu.. Sebentar." ucap Shella ketika Aaron menciumi lehernya dan tangannya beralih ke buah dada Shella. "Kau ingin aku berhenti?" tanya Aaron dengan nada rendah.
"Ti--tidak bukan itu. Aku sudah tidak tahan lagi.." ucap Shella dengan nada kecil, dirinya tentunya sangat teramat malu saat itu.
Aaron yang mendengarnya pun tersenyum tipis dan mereka pun melanjutkan aktivitasnya hingga pagi hari.
&&&
"Morning." bisik seseorang di telinga Shella begitu Shella terbangun.
Aaron memberikan gelas berisi susu kepada Shella dan Shella menerimanya dalam diam. Keadaan Shella memang rapi namun bekas gigitan ada di beberapa tempat bahkan tempat yang terlihat sekalipun.
Ketika Shella selesai meminum susunya, Aaron hendak mendekati Shella namun langsung Shella menodongkan gelasnya di hadapan Aaron.
"Jangan mendekat! Aku akan memecahkan kaca ini atau membunuh diriku sendiri." ucap Shella dengan nada dingin. Ia menahan isak tangis tentunya, Aaron melakukan apa saja yang ia inginkan sesuka hati tanpa memikirkan Shella.
"Tapi kau tidak menolakku tadi malam? Kau malah menyukainya." ucap Aaron lalu tersenyum tipis, ia tentu tau Shella mabuk sehingga tidak menolaknya.
"Aku mabuk dan kau memanfaatkan seorang perempuan yang sedang mabuk." ucap Shella kemudian. Sejujurnya dia sangat malu mengingat kejadian tadi malam, ia setengah mabuk namun masih sadar diri. Shella sendiri juga sadar bahwa tubuhnya itu menginginkan Aaron tapi tidak dengan cintanya itu.
"Aku akan mengantarmu pulang setelah ini." ucap Aaron lalu menaruh roti panggang di nakas samping tempat tidur Shella.
Shella masih terdiam ketika Aaron menaruh sarapannya di nakas hingga Aaron keluar barulah Shella mengambil sarapannya dan melahapnya.
Aaron menepati kata-katanya, begitu Shella selesai sarapan dan mandi Aaron mengantarnya pulang. Chloe dan Grace pun tidak berkata banyak ketika melihat bekas gigitan di beberapa bagian tubuh Shella. Bagi mereka selagi Shella tidak masalah dengan itu maka itu tidak akan menjadi masalah bagi mereka.
&&&
"Apa? Kakak meniduri perempuan itu??" tanya Benedict untuk memastikan. Benedict tentu panik mengingat kakaknya, Aaron itu tidak pernah tertarik untuk tidur dengan wanita manapun.
"Apa kakak serius dengannya?" gumam Benedict kemudian dan mencoba berpikir keras.
"Sayang, kenapa kau berpikir hingga dahimu berkerut ha?" ucap seorang wanita yang tengah setengah memeluk Benedict. Benedict hanya merespon wanita itu dengan tersenyum.