Mr. Jerk Wants To Catch Me.

Mr. Jerk Wants To Catch Me.
10



"Ta-tapi nona.." ucapan Chloe dihentikan oleh Shella. "Ini perintah." ucap Shella dengan terpaksa karena tidak akan mudah meyakinkan asistennya yang ditugaskan untuk menjaganya itu.


Hingga pada akhirnya Grace memutuskan untuk menaruh kembali pistolnya ketika melihat nada marah di ucapan Shella.


&&&


"Minta maaf kepada Aaron." ucap Shella dingin ketika mereka, Aaron, dirinya, Chloe dan Grace berada di ruang tamu pada kamar Shella.


"Kami minta maaf tuan." ucap Grace dan Chloe secara bergantian. Shella masih kesal tentunya dengan kedua asistennya, dia merasa seperti membawa bodyguard sekarang.


"Saya juga meminta maaf atas keteledoran asisten saya." ucap Shella pada akhirnya ketika ia lebih bisa meredakan emosinya.


"Tidak heran, siapapun akan salah paham jika melihat situasi tadi." ucap Aaron sambil tersenyum tipis.


"Jadi.. bagaimana nona Shella bisa bertemu dengan orang yang sama saat di Singapore?" tanya Grace tidak sabaran ketika Aaron sudah keluar. Dia tentu masih ingat kasus itu ketika Shella hilang dan ponselnya ditemukan tergeletak di trotoar.


"Kami bertemu di lobby, saat aku sangat kelaparan dan mencium aroma ini." ucap Shella lalu mengambil kotak berisi pie yang diberikan Aaron tadinya.


"Dan bagaimana pie itu bisa berada di tangan nona?" tanya Chloe sambil memakan satu potong pizza. Sedangkan Shella baru akan makan pienya itu mulai merasa kepalanya sakit lagi sehingga membuatnya memegang kepalanya.


"Nona kenapa?" Hal itu langsung mengusik Chloe yang duduk di sampingnya. "Tidak apa-apa mungkin aku kelelahan, aku hanya perlu istirahat lagi." ucap Shella lalu mengambil sepotong pie dan memakannya hingga habis.


Setelah memakan satu potong, ia pun memutuskan untuk masuk ke ruang tidurnya untuk beristirahat.


&&&


Hari ini adalah hari yang dijanjikan Shella dan Aaron untuk makan siang serta janji temu mereka yaitu makan di restoran berbintang michelin.


Sesampainya...


"Hai." ucap Shella gugup. Jujur tentu saja dia gugup, sejak kejadian Aaron yang menyelamatkannya membuatnya gugup setengah mati.


"Hmm.." gumam Aaron lalu tersenyum tipis dan mereka pun memesan makanan.


"Jadi... apa tujuanmu datang ke Melbourne?" tanya Shella memecah keheningan.


"Aku tinggal disini." jawab Aaron santai sambil memotong steaknya.


"Oh iya? Jadi kedatanganmu di Singapore kemarin hanyalah kebetulan?" tanya Shella penuh rasa ingin tahu.


"Aku kebetulan ada urusan disana saat itu dan long time no see." ucap Aaron dan di akhir kata dia mengangkat winenya dan bersulang dengan Shella.


"Oh begitu. Tapi kau mengemudi kan? Apa tidak apa-apa minum wine?" tanya Shella ketika dia baru saja bersulang dengan Aaron.


"Biar kuantar, satu tujuan." ucap Aaron ketika melihat Shella hendak memesan taxi.


"Oh.. maaf merepotkan anda." ucap Shella dan pada akhirnya memutuskan untuk mengikut Aaron.


Shella jarang minum, hanya pada acara penting saja ia meminumnya dan itu juga karena ia diajak. Dan sedari tadi Aaron mengajaknya bersulang sebanyak 3 kali namun itu sudah membuatnya mulai pusing.


"Are you okay?" tanya Aaron ketika mereka hendak berjalan ke mobil Aaron. "Iya aku baik saja." jawab Shella lalu membuka pintu mobil dan masuk.


Aaron yang melihat Shella seolah hendak tidur pun mendekatinya, dan itu membuat Shella langsung membuka matanya namun tujuan Aaron adalah memakaikannya sabuk pengaman.


"Terima kasih." ucap Shella lalu mengangguk sedikit. "Tentu." balas Aaron masih menatap Shella dan tangannya beralih ke anak rambut di pelipis Shella yang sedikit berantakan bertujuan untuk merapikannya.


Shella terkejut ketika Aaron melakukannya, wajah tampannya nan dingin itu menoleh ke anak rambutnya itu membuat Shella bertanya-tanya.


"Apa kau selalu seperti ini?" tanya Shella tiba-tiba dan itu membuat Aaron seketika berhenti.


"Seperti bagaimana?" tanya Aaron balik. "Seperti ekspresimu yang datar dan dingin ini? Apakah kau tidak menyukai makanan tadi atau bagaimana?" tanya Shella masih menatap Aaron, keduanya masih saling melihat satu sama lain.


Aaron tertegun, belum pernah ada yang menanyakan hal itu di depan wajahnya langsung. Wanita di depannya ini memang sangat naif, tidak ada yang berani sekalipun mengomentarinya dan itu membuat ekspresi Aaron menggelap.


Shella sedikit iya sadar dengan perubahan ekspresi Aaron yang menggelap dan mencoba berbicara namun ketika hendak membuka mulut, mulutnya sudah dicium oleh Aaron. Aaron ******* bibir itu dengan pelan.


Shella terkejut bukan main ketika dicium pertama kali dalam hidupnya, terlebih lagi bersama dengan pria yang dikenalnya belum lama. Shella masih shock dengan sensasi hangat pada bibirnya, Aaron masih menciumnya. Akhirnya sadar bahwa mereka masih berciuman, dirinya langsung dengan keras mendorong dada Aaron dan itu membuat Aaron berhenti.


"Hmm?" gumam Aaron ketika ia mundur sesaat, Shella langsung hendak menampar Aaron namun dengan segera ditahan oleh Aaron. Tangan Shella digenggam oleh Aaron dengan ketat dan itu membuat Shella diam tak berkutit, lebih tepatnya shock dan mulai merasa takut. Tangan Shella yang masih melayang dan digenggam itu lalu dicium oleh Aaron di bagian pergelangan tangannya.


"Hey!" ucap Shella ketika berhasil mengendalikan dirinya, hawa intimdasi dari Aaron tampaknya sudah mulai memudar.


Aaron sebagai pemimpin, memiliki hawa mengintimidasi yang biasanya ia gunakan apabila ingin menginterogasi pekerjanya yang bermasalah dan kali ini ia terapkan pada Shella agar wanita itu tunduk padanya.


Aaron masih menatap Shella, menunggu reaksi wanita ini namun Shella hanya diam seperti menelan kembali kata-katanya. Aaron memang sengaja menunggu reaksi lawannya biasanya untuk mengetahui perilaku atau sikap lawannya itu.


"Kau! Siapa yang mengizinkanmu melakukan itu? Lepaskan ini." ucap Shella kemudian setelah berhasil menenangkan dirinya.


Aaron pun akhirnya melepaskan genggamannya itu, lalu mundur dan duduk dengan baik di kursinya dan merapikan dasinya yang sedikit miring tadinya.


"Bukankah itu normal? Di Australia?" ucap Aaron dingin, ada nada mengejek di kata-katanya yang ia perhalus. "Disini? Di tengah jalan? Kau gila!" seru Shella dengan nada kesal, siapa yang tidak kesal apabila dilecehkan di tempat umum. Mungkin bagi warga Australia itu normal tapi masalahnya Shella dan Aaron bukan pasangan!


"Aku gila?" tanya Aaron dengan nada datar namun kemudian dia tersenyum miring. Itu membuat Shella semakin bingung tentang sikap Aaron.


"Belum pernah ada yang mengatakan itu padaku. Kenapa kau lancang sekali hmm?" ucap Aaron lalu ia tersenyum tipis dan memajukan tubuhnya mendekati Shella. Hal itu tentu membuat Shella gugup dan sontak mundur.