Mr. Jerk Wants To Catch Me.

Mr. Jerk Wants To Catch Me.
21



Sekarang posisi Shella berada dalam keadaan berlutut di atas tempat tidur dengan keadaan tangan diikat keatas.


"Sebelum kita mulai, mungkin lebih cocoknya aku menutup matamu."


Pria itu pun melepaskan dasinya dan kemudian menggunakannya untuk menutup mata Shella.


"Berteriaklah dengan keras ya, supaya targetku segera tiba kesini."


\~\~\~


"ARRGHHH!!!"


Shella berteriak keras karena dia tengah dicambuk oleh pria yang menculiknya.


"Oh iya, aku lupa meneleponnya. Tunggu sebentar ya."


ucapnya dengan santai lalu menggeledah pakaian yang dipakai Shella untuk mencari ponselnya.


"Kau tulis apa nama pasanganmu di ponselmu?"


tanya pria itu begitu selesai membuka gumpalan mulut Shella.


"Hey... Jawab dong. Kau gamau dia datang menyelamatkanmu?"


ucapnya lagi.


"Aku tidak tau."


jawab Shella dingin. Sebenarnya dia tengah melawan sakit di lengannya sehingga ia memilih untuk bersikap dingin.


"Payah. Aku akan mencarinya sendiri."


ucapnya sambil terlihat mengotak-atik ponsel Shella.


"Mungkin kau bukan pasangannya, tapi aku bisa menjamin setidaknya kau berharga bagi nya."


Pria itu sudah menemukan nomor Aaron pada ponsel Shella yang ia tulis : Unknown


*beep


"Halo?"


Aaron langsung mengangkat panggilan Shella, Shella jadi semakin yakin sepertinya kasus kehilangannya pasti sudah sampai oleh pihak rumah sakit tempat terakhir ia dicuri.


"Kita mulai ya."


balas pria itu lalu tanpa menunggu lagi langsung mencambuk Shella di bagian sisi perutnya dan itu membuat Shella berteriak sangat keras.


"Kau! Victor!"


Hanya itu ucap Aaron lalu telepon pun terputus.


"Ternyata dia sepintar itu ya. Hanya sepatah kataku saja dia langsung tau aku siapa. Memang berbeda dengan klienku selama ini."


ucap Victor, seorang pembunuh bayaran yang sudah mendunia dan sangkin terkenalnya dia seluruh dunia kelas bawah tau tawaran yang akan dibuat oleh Victor adalah dengan menyerahkan diri target tanpa membawa siapapun.


Victor tidak perlu menunggu lama karena keributan sudah terjadi dibawah yang artinya targetnya sudah tiba.


"Wah, tampaknya kau bukan sekedar wanita biasa baginya. Mau melihat kematiannya?"


ucap Victor lalu tanpa menunggu jawaban ia membuka penutup mata Shella.


*BRUKK


suara pintu yang dipaksa buka pun sudah terbuka.


Aaron tiba dengan pistol di tangannya dan beberapa bercak darah di sekitar kemejanya.


"Aku kagum, tampaknya kaulah klien terkuatku selama aku pernah hunting. Coba jawab pertanyaanku dulu, wanita ini punya hubungan apa denganmu?"


ucap Victor sambil mengacungkan pistolnya tepat di samping kepala Shella.


"Oh iya sebelum menjawab, turunkan senjatamu. Kau tau kan kalau menolak apa yang akan terjadi?"


sambungnya.


Tanpa berpikir panjang, Aaron melemparkan senjatanya di depannya dan menendangnya agar jauh dari dirinya.


"Aku sudah melakukan yang kau suruh, lepaskan dia."


ucap Aaron dengan dingin. Sebenarnya Shella pernah melihat wajah Aaron yang seperti ini namun entah kenapa melihat wajah Aaron yang sekarang lebih seram dibanding sebelumnya.


"Kau belum menjawab pertanyaanku tadi."


balas Victor dengan santai.


"Kami tidak memiliki hubungan apa-apa."


ucap Aaron dengan dingin.


Shella yang sedari tadi melihat interaksi kedua pria di hadapannya itu pun mulai merasa ia harus memberanikan diri untuk menyelamatkan dirinya. Walaupun pistol diarahkan di kepalanya, ia yakin Victor tidak akan menembaknya.


Ketika Victor hendak melanjutkan permainannya, Shella sudah lebih dahulu menggerakkan tubuhnya lalu mendorong Victor namun tentu saja Victor dengan sigap menangkap leher Shella mencengkramnya dan menahannya disitu.


"Ternyata wanitamu ini pintar juga ya. Dia tau aku tidak bisa langsung membunuhnya."


Victor mengucapkannya sambil tersenyum lebar menatap Shella dan menunjukkan ekspresi menarik.


Victor kemudian baru sadar Shella terluka, bercak darah menembus kemeja Shella yang tipis dan itu membuat Victor semakin bersemangat.


ucap Victor dengan nada santai seolah itu adalah hal yang biasa.


"Apa katamu?"


tanya Aaron dengan nada dingin dan menatap Victor tajam.


"Oh tidak mau? Kalau begitu kubunuh kau lalu aku akan bersetubuh dengannya di depan mayatmu. Bagaimana?"


jawab Victor sambil tersenyum lebar seolah apapun yang akan ia lakukan kepada Shella sudah ada dipikirannya.


"Tsk!"


ucap Aaron dan kemudian ketika Victor mengedipkan mata sekilas, dirinya sudah ditembak tepat di otaknya.


"Kuhancurkan otakmu dan pikiran busukmu."


gumam Aaron lalu dia menembak berkali-kali di tali pada tangan Shella.


"Kau terluka."


ucap Aaron ketika ikatan tangan Shella terlepaskan dan membuatnya jatuh lemas namun Aaron dengan segera meraup pinggang Shella.


"I-itu.. yang kau pegang. Sakit."


rintih Shella dengan nafas terengah-engah.


"Sejak kapan anemiamu memburuk?"


tanya Aaron namun Shella sudah terlebih dahulu pingsan.


"Sial! Kyla!"


seru Aaron begitu melihat Shella pingsan.


"Ya boss?"


tanya Kyla yang muncul dari pintu masuk.


"Bereskan."


"Baik boss."


Dengan begitu, mereka pun meninggalkan Singapore dengan helikopter milik Aaron dan menuju ke Melbourne.


"Tuan Aaron, nona ini kehabisan banyak darah maka dari itu dia pingsan."


jelas sang dokter.


"Sembuhkan dia, luka-lukanya juga jangan sampai berbekas."


balas Aaron dengan nada yang teramat dingin.


Suasana sedang tegang, tidak akan ada yang berani membantah Aaron mengingat Aaron sedang dalam keadaan badmood.


"Ba-baik tuan Aaron saya akan mengusahakannya."


balas sang dokter dan Aaron pun kemudian keluar dari kamar tempat Shella dirawat.


Mereka sedang berada di penthouse milik Aaron sehingga ia tidak perlu khawatir akan bahaya. Keamanan juga diperketat sejak kejadian penculikan Shella.


&&&


"Apa? Dia hilang lagi?"


tanya Kendrik sambil memegang dagunya.


"Benar tuan, Nona Shella tampaknya diselamatkan oleh seseorang yang mungkin ia kenal lalu dibawa pergi meninggalkan lokasi kejadian."


jelas sang tangan kanan.


"Panggilkan Grace dan Chloe! Mereka bertanggung jawab atas ini!"


seru Kendrik lagi, kini ia sudah sangat marah dan khawatir.


Sesi interogasi selesai, Grace dan Chloe memberikan jawaban yang sama yaitu tertuju pada Aaron Diego Linden. Namun saat interogasi keduanya memberikan jawaban lainnya yang sama lagi yaitu "Saya berani menjamin dengan hidup saya tuan, nona Shella pasti aman dibawah penjagaan tuan Aaron ini."


Mereka seolah yakin bahwa Shella pasti aman dan bukan diculik. Serta menurut paman Shella juga mengatakan bahwa Aaron bukanlah orang yang berbahaya walaupun ia merupakan target dunia kelas bawah namun ia cukup kuat menghadapi mereka.


&&&


"Akhirnya bangun huh?"


Begitu Shella membuka matanya, itulah kalimat pertama yang didengarnya dari Aaron.


"A-aku dimana?"


ucap Shella begitu ia menyadari bahwa sekitarnya sangat asing. Namun satu yang dia yakin, ia berada di luar Singapore.


"Kau sudah tidur 2 hari, jangan bangun."


Bukannya menjawab pertanyaan Shella, Aaron malah maju dan hendak menidurkan Shella.


"Kau belum menjawab pertanyaanku."


ucap Shella, dia tidak mau kalah. Dia lebih memikirkan keadaan di Singapore karena seluruhnya pasti heboh.