
"Boss, Nona bernama Shella itu memi---" ucapan Kyla terpotong ketika Aaron mengangkat tangannya untuk memberikan isyarat agar lawan bicaranya berhenti.
"Biarkan dia menginap." ucapnya dingin lalu melanjutkan pekerjaannya. "Baik Boss." jawab Kyla dan langsung pamit keluar.
Aaron sendiri sudah mengetahuinya ketika tangan kanannya yang lain memberitahukannya lewat telepon. Ia tidak terkejut sama sekali karena Melbourne memang wilayahnya sehingga hal semacam ini tidak heran terjadi. Namun yang membuatnya mengerutkan kening adalah walaupun mengetahui hotel itu baru saja terkena kasus, Shella tetap ngotot memilih hotel itu.
Seluruh pikiran itu membuat Aaron tersenyum tipis..
&&&
"Nona, saya akan mengecek informasi mengenai pemilik hotel ini. Saya rasa ini ada kaitannya dengan itu." ucap Chloe namun dihentikan oleh Shella.
"Tidak perlu, aku tidak peduli." ucap Shella lalu terlelap dalam tidurnya, seluruh perjalanan hari ini membuatnya lelah hingga mau tidak mau ia terlelap.
Grace dan Chloe tinggal di kamar sebelahnya sehingga jika terjadi sesuatu maka mereka dapat langsung ke kamar Shella melalui pintu connecting roomnya.
"Kita harus lebih waspada, sangat mencurigakan kalau mereka tiba-tiba memperbolehkan kita untuk menginap hanya dari 1 telepon." ucap Chloe ketika mereka sudah berada di kamar sebelahnya.
Malam pun tiba...
Shella memutuskan untuk tidak keluar sama sekali sehingga ia hanya meminta Grace dan Chloe untuk membelikannya.
"Tapi nona.." ucap Chloe namun tentu saja Shella langsung menghentikannya.
"Pergilah. Makanannya pasti banyak, bantulah Grace." ucap Shella ketika Chloe ngotot ingin bersama Shella. Tentu saja dia dan Grace tidak akan mengatakan tentang kekhawatiran mereka karena sudah menjadi tugas mereka menjaga tuannya itu.
Pada akhirnya mereka pun pasrah dan memutuskan untuk dengan segera pergi dan berharap untuk segera kembali.
&&&
Shella terlalu malas untuk bergerak namun dirinya juga lapar. Ia tidak memiliki tenaga sama sekali padahal baru saja bangun, mungkin karena ia kelelahan sehingga membuatnya hampir demam.
Shella mencium aroma makanan dari luar kamarnya sehingga ia mengira bahwa Grace dan Chloe sudah kembali dan itu membuatnya berjalan dengan malas ke arah pintu dan membukanya.
Namun sayangnya ia tidak menemukan siapapun disana melainkan aroma makanan itu baru saja melewati kamarnya dan itu membuatnya berjalan keluar kamar untuk mengikuti aroma itu.
Siapapun apabila kelaparan akan tergiur dengan aroma ini, Meat Pie dimana perpaduan antara daging dan pie yang renyah membuat siapapun ingin memakannya dan tak terkecuali Shella yang sudah kelaparan.
Ketika masih tidak menemukan dimana orang itu berada, Shella berjalan terus hingga menemuka lorong lain dari hotel itu dan menemukan seseorang yang membawa kotak yang ia yakini merupakan aroma yang ia cium tadi.
Lalu ia memutuskan untuk menanyakan soal pie tersebut kepada pria yang sedang berjalan di depannya. "Excuse me sir." ucap Shella ketika ia yakin langkah kakinya akan sangat sulit apabila ingin menandingi pria itu. Pria itu cukup tinggi berpakaian jas yang sangat rapi, Shella yakin ia adalah pelanggan yang menginap juga karena setelannya cukup elegan.
Alangkah terkejutnya Shella ketika berhadapan dengan pria yang sempat lewat dalam ingatannya. Aaron, pria yang pernah ia tumpahkan kopi di bajunya.
"Anda.. kebetulan sekali." hanya itu yang terkeluar dari mulut Shella, tujuan dia tadinya sempat teralihkan karena wajah familiar itu.
"Hai." jawab Aaron singkat dan dia hanya tersenyum tipis. Masih terasa dingin sebenarnya namun Shella mengabaikannya karena ia ingat Aaron memang memiliki ekspresi seperti ini.
"Ah.. oh iya saya ingin bertanya dimana kau membeli ini jika boleh soalnya tadi saya mencium aromanya sangat wangi dan saya tergiur." ucap Shella dengan sangat sopan bertolak belakang dengan ekspresinya yang kelihatan megap-megap.
"Ini? Ini pemberian teman saya, jika kau berkenan ini." ucap Aaron lalu menyodorkannya kepada Shella namun sebelum Shella menerimanya, dirinya mulai kehilangan keseimbangan sehingga Aaron dengan sigap menahannya dengan menyandarkan punggung Shella dengan satu tangannya.
"Ah.. maafkan saya. Saya tidak bisa menerimanya, saya hanya perlu mengetahui nama tokonya agar asisten saya dapat membelinya." ucap Shella dengan nada lemah dan berusaha berdiri.
"Ambilah." ucap Aaron lalu menyodorkan dan dari ekspresinya sudah tampak kalau dia tidak ingin ditolak.
"Te-terima kasih. Bagaimana saya harus membalas kebaikanmu aduh.." ucap Shella kebingungan, dia selalu diajarkan untuk membalas budi.
"Jika anda berkenan, bagaimana dengan makan siang?" ucap Aaron dengan nada beratnya namun masih terdengar jelas.
"Ah... tentu tentu. Terima kasih banyak sekali lagi." ucap Shella dengan nafas terengah-engah, sial tampaknya dia sudah akan tumbang. Namun tentu saja dia tidak ingin pingsan dihadapan Aaron dan memutuskan untuk dengan segera menerima kotak berisi pie itu dan berjalan terseok dengan bantuan dinding di sekitarnya.
"Aku akan membantumu." Belum selesai Aaron mengatakan hal itu, ia sudah mengangkat Shella ala bayi dan barulah Shella menyadari bahwa dia hanya memakai piyama pendek dimana kemeja berlengan panjang dan celana pendek. Ia sadar ketika kulitnya bersentuhan dengan jas Aaron tadinya.
"E.. tunggu.. tidak per.." ucap Shella terbata-bata lalu ia menyentuh kepalanya, rasanya cukup panas.
"Kamarmu dimana?" tanya Aaron kemudian. Shella mau tidak mau menunjukkannya, lagipula Aaron bukan orang yang benar-benar asing untuk diberitahu.
"Disana, lalu belok." ucap Shella singkat lalu membiarkan Aaron membawanya hingga di depan kamarnya.
"Saya bisa sendiri masuk, mohon turunkan saya." ucap Shella ketika ia melihat Aaron masih berdiri tanpa berniat menurunkannya. "Tapi kau sakit." ucap Aaron masih berdiri. "Dan juga.. tidak perlu menggunakan bahasa formal kepadaku. Shella." ucapnya lalu menunduk untuk melihat Shella, tentu saja Shella langsung menoleh dan tiba-tiba merasakan perutnya penuh dengan kupu-kupu.
"Sialan, ada apa ini?" ucap Shella dalam hati mencoba mengabaikan perutnya.
Akhirnya Shella pun menekan tombol fingerprint dan pintu pun terbuka. Namun sebelum Aaron sempat masuk, seseorang dengan pistol yang berada di belakang kepala Aaron mengucapkan kata ancamannya.
"Turunkan Nona jika kau masih ingin hidup." ucap Grace tanpa perlu ditebak. Sedangkan Chloe berdiri di sisi lain agar menghalangi jalan keluar Aaron.
"Grace, tunggu ini salah paham. Tuan eh.. maksudku Aaron yang menolongku tadi." ucap Shella mencoba menjelaskan sambil menoleh ke belakang Aaron.