
"Jadi kamu juga tidak tau ya?"
Pertanyaan Benedict membuatku menoleh menatapnya dan aku hanya menggeleng lemah.
"Apa.. Aaron memang selalu begitu? Memiliki begitu banyak rahasia?" tanyaku untuk mengorek informasi tentang Aaron.
"Iya, kakakku... dia memang begitu sejak kecil. Sejujurnya dia panutanku, sejak dulu aku selalu haus akan perhatian tapi dia tidak sama sekali. Awalnya kupikir dia memang berhati es tapi ternyata----"
ucapan Benedict terhenti ketika dia menatap ke belakangku seolah ada monster di penglihatannya itu.
"Kak, em hi. Jadi gimana? Bagus kan?"
Benedict kelihatan sedang berbasa basi karena hampir tertangkap basah membicarakan kakaknya.
Aaron tidak mengatakan apapun dan langsung menarik Shella keluar dari ruangan.
"Hey, apa yang kau lakukan? Lepaskan!" ucap Shella mencoba menarik tangannya dari genggaman tangan Aaron yang jauh lebih besar itu.
Aaron masih menarik Shella sampai mereka tiba di ruangan lain yang memilik penerangan yang remang serta memiliki nuansa seram.
Jika Shella sedang dicuri maka sudah jelas ini adalah tempat yang tepat untuk membunuhnya namun yang ia tahu bahwa Aaron yang membawanya dan sebenarnya tidak akan aneh jika Aaron akan membunuhnya mengingat ekspresinya sekarang yang sangat menyeramkan.
"Ini dimana?" Shella masih memberanikan diri bersuara.
Setelah menutup pintu di belakang mereka, Aaron pun akhirnya melepaskan pegangan tangannya dari Shella.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Aaron langsung memegang pinggul Shella dari belakang dan menariknya mendekat ke arahnya lalu mencoba menciumnya.
Ketika bibirnya hendak bersentuhan dengan dengan bibir Shella, Shella dengan cepat menutup bibir Aaron yang sudah mendekat itu sehingga Aaron pada akhirnya hanya berciuman dengan telapak tangan Shella.
"Kau minum?" tanya Shella di ketika dia berhasil menutup mulut Aaron dengan tangannya. Maksudnya adalah, dia tidak pernah melihat Aaron sebergairah ini.
Aaron masih memilih diam lalu mendekati meja yang tidak jauh darinya lalu membuka botol wine itu dan menuangkannya di kedua gelas. Setelah itu dia mengangkat dua gelas itu dan menyodorkan 1 gelas ke arah Shella.
Satu tangannya lagi ia pakai untuk meminum winenya. Ketika Shella hendak menerima wine tersebut, Aaron sudah terlebih dahulu menarik kembali gelas yang ia sodorkan ke Shella.
Tentunya Shella kebingungan dengan sikap Aaron itu hendak bertanya namun kemudian Aaron berbalik dan meletakkan kedua gelas itu.
Khawatir akan isi wine yang mengandung racun, Shella mencoba mendekat untuk memastikan Aaron baik-baik saja namun Aaron sudah terlebih dahulu berteriak.
"Jangan berani-beraninya kau dekati aku!"
Kata-kata itu Aaron ucapkan dengan nafas terengah-engah dan kemudian dirinya pun berjalan ke tempat tidur di tengah ruangan dan memilih membiarkan tubuhnya jatuh di tempat tidur itu.
Melihat seluruh kejadian itu, membuat Shella terkejut. Aaron tadi ingin menciumnya tapi sekarang Aaron malah menghindarinya.
"Seriously! What's wrong with you?" Shella mengabaikan ancaman Aaron dan memilih untuk mendekati tempat tidur itu. Hal yang membuat Shella terkejut adalah ketika ia hendak memegang lengan Aaron yang ternyata sangat panas rasanya walaupun Aaron memakai kemeja.
"Hey! Kau sakit? Panas sekali badanmu. Kau baik-baik saja??" tanya Shella kemudian menyentuh dahi Aaron yang ternyata sangat panas.
Shella sendiri tentu saja sangat panik, dia memang tidak suka kepada pria itu tapi tentu saja dia tidak akan membiarkan manusia mati di depannya karena itu adalah sikap manusiawi.
"Jangan menyesal, aku sudah memperingatkanmu!"
Tidak tau apa yang telah terjadi, Shella ditarik paksa lalu dikunci di tempat tidur itu. Kurang dari sedetik, bajunya sudah hilang. Aaron seperti binatang buas yang melahap dirinya, tubuhnya. Shella yakin tubuhnya akan luka setelah ini, Shella mencari barang di sekitar mereka yang dapat ia pakai untuk melawan Aaron namun gagal. Tidak mungkin dia memanggil pengawalnya, kalau sampai ayahnya tau dia diperkosa secara paksa atau... tidak? Mengingat Aaron sudah memperingatkannya. Tidak, pokoknya dia tidak bisa membiarkan ayahnya tau.
Belum sempat Shella mencoba melepaskan diri, Aaron sudah memasuki dirinya dan.. Shella merasakan hal yang sangat berbeda dari Aaron sehingga dia akhirnya sadar bahwa ternyata Aaron sedang dalam kontrol obat.
&&&
Shella tidak bisa tidur pagi itu, dia juga tidak bisa bergerak karena tubuhnya sangat kesakitan seluruhnya. Hanya otaknya saja yang mampu bekerja, Shella mengingat kembali kejadian tadi malam yang dimana Aaron menyuruhnya untuk tidak mendekatinya. Yang berarti, bisa jadi wine yang barusan Aaron minum mengandung obat keras.
Aaron juga sedang tertidur di sampingnya membelakanginya sehingga Shella hanya melihat punggung Aaron yang tidak ditutupi dengan kain apapun.
Ketika merasa tubuhnya sudah mampu bergerak, Shella pun mencoba untuk bangun namun tiba-tiba Aaron menarik tangan Shella dan menahannya disitu.
Aaron kemudian melihat sisi tubuh Shella dari kanan ke kiri dan melihat beberapa bekas bahkan bengkak di tubuh Shella.
"Kenapa kamu sangat keras kepala? Kan sudah kuperingatkan. Aku bahkan sudah lupa apa yang aku lakukan padamu." Aaron mengatakan hal itu dengan nada frustasi.
Shella yang melihat ekspresi Aaron itu memilih diam lalu memeluk Aaron.
"Aku tidak mungkin membiarkan orang yang kesusahan sendirian. Ditambah aku tidak tau kau dalam pengaruh obat." Shella membisikkan hal itu kepada Aaron lalu hendak melepaskan pelukannya namun Aaron menahannya.
"I'm sorry, aku akan mengantarmu pulang. Tunggu disini." Aaron pun melepaskan Shella dan turun dari tempat tidur memakai kemejanya dan berjalan menuju pintu.
Tak lama kemudian Aaron masuk dan membawakan pakaian dan roti sandwich untuk Shella.
"Abaikan saja jika benedict bertanya, ini ulahnya. Sialan." ucap Aaron lalu duduk di sofa dan memperhatikan Shella yang sudab selesai berganti pakaian dan makan.
"Dia sengaja menaruhnya di kamarmu?" tanya Shella kemudian.
"Bukan, ini bukan kamarku. Semalam aku terlalu marah ketika melihatnya membawamu di ruangan itu sehingga aku menarikmu di ruangan lain."
Tanpa Aaron sadari, Shella sudah tertawa terbahak-bahak. Sebuah tawaan lepas yang belum pernah Aaron lihat sama sekali sehingga kini dirinya dikejutkan oleh sikap Shella. Shella terlihat sangat natural dengan tertawaan itu ditambah dirinya seperti sedang berbahagia.
Aaron masih menunggu Shella selesai dengan tawaannya hingga ...
"Kau cemburu ya?"
Aaron terkejut lagi hingga membesarkan bola matanya. Dirinya? Cemburu? Tanpa bisa menahan diri lagi, Aaron menarik lengan Shella dengan agak kasar dan mendekatinya hingga sandwich yang dipegang Shella terjatuh.
"Apa yang menjadi milikku tidak boleh dipegang orang lain." bisik Aaron di telinga Shella lalu mencium telinganya dengan halus.
Shella yang sedikit terkejut dengan pernyataan Aaron itu memilih diam. Milik Aaron? Siapa saja mungkin akan marah karena dirinya diperlakukan seperti barang. Namun entah kenapa mendengar kata itu dari Aaron malah membuat Shella merasa malu.