Mr. Jerk Wants To Catch Me.

Mr. Jerk Wants To Catch Me.
11



Namun tentu saja Aaron tidak membiarkan itu terjadi, ia sudah tertarik dengan wanita di depannya. Mulut yang selalu berkata pedas itu menarik perhatiannya, selama ini dia tidak pernah benar-benar menikmati ciumannya dan baru pertama kali ia sangat menyukai ciuman. Aaron pun menahan punggung Shella dengan tangannya dan itu membuat Shella yang ditengah jadi panik hendak meminta tolong namun tentu saja mengurungkan niatnya.


Orang-orang akan melihat mereka, malah mereka sekarang lebih terlihat seperti pasangan yang sedang bertengkar karena Shella sendiri sedang merah padam.


"Apa yang kau lakukan? Aku bukan pasanganmu, kita tidak seharusnya melakukan ini." ucap Shella sambil menahan dada Aaron yang semakin mendekat. Ia sadar Aaron memiliki dada bidang berotot dan itu semakin membuatnya malu.


"Kalau begitu mulai hari ini kita adalah pasangan, bagaimana?" tanya Aaron yang masih tidak mundur melainkan berhenti tak bergerak ketika Shella menahannya tadi.


"Apa maksudmu? Jika kau hanya menginginkan ****, carilah wanita lain!" Shella awalnya malu ketika Aaron mendekatinya namun ketika kata-kata itu mudah sekali keluar dari mulut Aaron membuatnya langsung kesal bercampur marah.


Dirinya yang sedari tadi seolah ciut pun langsung maju dengan ekspresi menantang dan itu membuat Aaron tersenyum lagi, ia sudah menyangka kalau Shella akan merespon seperti ini. Membuatnya semakin puas ketika apa yang menjadi perkiraannya terjadi pula.


"Tapi kau tidak membencinya bukan? Tadi ketika aku menciummu?" tanya Aaron sambil tersenyum puas dan itu membuat Shella langsung tersipu malu bercampur kesal. Ia akui, ciuman tadi setidaknya membuat adrenalin Shella naik turun seperti naik roller coaster. Aaron tersenyum melihat ekspresi Shella dan dia pun akhirnya mundur dan duduk kembali di kursinya. Dirinya menaruh tangannya ke rambut Shella sambil tersenyum, tatapannya menatap kedepan lalu dia pun mengantar Shella ke hotelnya.


Sepanjang perjalanan, mereka tidak berbicara sama sekali. Shella yang masih menahan emosi serta perasaannya itu menengok ke arah jendela tanpa menatap Aaron sama sekali. Sedangkan Aaron juga mengendarai tanpa menganggu atau melakukan hal-hal lain.


Ketika mereka tiba di hotel, Shella pun mengambil inisiatif turun dari mobil sambil membisikkan thanks. Awalnya ia hendak dengan segera berjalan masuk namun kata-kata penuh arti yang dilontarkan Aaron membuatnya berhenti dan menoleh sejenak.


"See you again soon." ucap Aaron dengan penuh arti, ia sadar Aaron seperti merencanakan sesuatu namun dirinya mencoba mengabaikannya. Ia sama sekali tidak takut dengan pria itu, Shella juga yakin Aaron tidak akan menyakitinya apapun yang terjadi. Entah darimana perasaan itu namun itulah yang dirasakannya.


Shella masih menyentuhkan jemarinya di bibirnya, ciuman pertamanya telah direnggut Aaron dan parahnya ia tidak membenci perasaan itu. Ketika ia tiba di kamarnya, Chloe dan Grace menghampirinya dari pintu connecting room dan menemukan Shella yang langsung merengsek ke tempat tidurnya tanpa mengganti baju sama sekali.


Grace yang sudah mampu membaca situasi pun langsung peka kalau Shella sedang tidak ingin diganggu sehingga mereka pun tidak menganggu Shella sama sekali dan kembali ke kamarnya.


Ketika mendengar bahwa Chloe dan Grace sudah kembali ke kamarnya, Shella langsung membuka matanya dan membalikkan badannya dimana tadinya dia tengkurap.


Shella masih mengingat rasanya tadi, dicium oleh Aaron. Dia masih menginginkan hal itu. Aaron seperti sihir yang sudah melekat padanya. Tapi tentu saja Shella tidak akan membiarkan perasaan yang menguasainya. Dia masih berlibur dan seharusnya dia bersenang-senang.


&&&


"Mood Boss sedang baik." ucap Kyla kepada bodyguard terdekat Aaron, Ben.


"Tidak biasanya, apa hal baik sedang terjadi?" tanya Ben dan dijawab oleh anggukan oleh Kyla.


&&&


Sebuah pesan masuk dan itu membuat Shella langsung membuka ponselnya dan melihat isinya. Sebuah gambar yang dikirimkan kepadanya berisi Chloe dan Grace disana dan itu membuat Shella panik ditambah lagi dengan pesan dibawahnya.


"I saw them. If i want, i can kill them." tulis pesan itu dan itu langsung membuat Shella diam tak berkutik.


"Come to Room 5" tulisnya lagi dibawahnya. Shella pun langsung naik pitam. Aaron sepertinya minta dihajar.


Tanpa pikir panjang, meninggalkan ponselnya di ruangannya dia pun langsung pergi ke ruang bernomor 5 itu. Tentu saja itu adalah ruangan Aaron, siapa lagi kalau bukan dia.


"Sebutkan apa maumu." ucap Shella ketika ia mengetuk pintu nomor 5 dan Aaron dengan senyum miringnya menatap Shella penuh minat.


Aaron masih mengenakan piyamanya dan itu membuatnya terkesan santai. Shella sadar bahwa dirinya juga sedang mengenakan piyamanya namun ia memilih mengabaikannya.


"Kau tidak tertarik untuk masuk sebentar?" tanya Aaron mengabaikan perkataan Shella tadi. "Tidak, kau akan menyerangk--" ucap Shella namun langsung dipotong oleh Aaron.


"Aku tidak sebuas itu hingga akan menyerang seorang wanita." ucapnya dingin dan kali ini Shella percaya karena wajah Aaron cukup serius.


"Baiklah." ucap Shella dan pada akhirnya masuk ke kamar Aaron.


"Jadi katakan apa maumu." ucap Shella tidak sabaran. Ia sudah menjadwalkan perjalanannya hari ini dan tidak ingin jadwalnya tertunda.


"Jadilah pasanganku." ucap Aaron lalu tersenyum tipis. "Tidak." jawab Shella singkat tanpa berpikir sama sekali. "Kau yakin? Apa kau tidak membaca pesanku tadi?" ucap Aaron dan kemudian ia berjalan hingga mendekati Shella.


Aaron merapikan anak rambut di pelipis Shella dan mengambil satu helai rambut Shella. "Aku mampu melakukannya." bisik Aaron di telinga Shella.


Sebenarnya Aaron sudah menyangka jawaban Shella tadi dan ini memang masuk dalam rencananya.


"Memangnya kau siapa? Aku bisa menjatuhkanmu ke dalam penjara!" seru Shella sambil mendorong agar Aaron menjauh.


"Itu tetap tidak akan membuat mereka kembali hidup." ucap Aaron sambil tersenyum tipis. "Siapa kau sebenarnya? Kenapa kau terus mentarget aku?" tanya Shella kemudian ketika ia lihat Aaron tidak akan melepaskannya begitu saja.


Aaron masih terdiam, menatap Shella dengan senyum jenakanya. Sebenarnya ia gemes dengan Shella yang tampak seperti kelinci yang hendak diburu harimau.


"Akan kuberi clue, kalau kau menurut semuanya akan baik-baik saja. Intinya kau tidak akan bisa lepas dariku." bisik Aaron ketika sedari tadi ia berjalan mendekati Shella dan membisikkan itu di telinga Shella.