Mr. Impeccable

Mr. Impeccable
9. ijab qobul yang berhasil



...


...


Masjid yang begitu mewah kini sudah di isi oleh beberapa orang saja. Dengan di dalam masjid tersebut telah menggema suara bariton yang cukup merdu yang melafalkan lantunan ayat suci Al-qur'an. Surah Ar-rahman lah yang menjadi pilihan Agam untuk di jadikannya mas kawinnya. Laki-laki itu dengan jas hitamnya terlihat memukai dengan gaya rambut yang di tata rapi.


Bunda Alea sudah menangis sejak Agam melantunkan salah satu surah ayat suci Al-Qur'an. Alion yang memeluk Bundanya dengan sayang. Alion juga mengamati Alea yang sekarang tentu saja memasang wajahnya marah. Marah karena perempuan itu di paksa menikah oleh Bundanya dan Abangnya. Alea berjanji, setelah ijab kabul ini selesai, ia akan mencekik leher Abangnya. Sekalian jatah Bundanya untuk Abangnya saja.


Pernikahan Alea memang berlangsung dengan tiba-tiba setelah kemarin Agam datang melamar Alea. Perempuan itu juga menerima lamarannya dengan satu persyaratan, yaitu pernikahan ini hanya kerabat terdekat saja yang mengetahuinya. Jika tidak, Alea sudah mengancam mereka. Saat ini, Alea hanya menggunakan rias wajah yang cukup natural karena perempuan itu tidak suka dengan make up yang cukup tebal. Dengan kebaya yang simple namun terlihat elegan ketika Alea memakainya. Sudah sedari tadi Alea ingin bangkit dari duduknya dan langsung berlari kabur seperti acara pertama pertunangannya minggu lalu.


Alea berpikir jika ia sudah bebas dari Agam karena pengakuannya yang tidak terduga. Tapi, Agam malah dengan cepat menikahinya. Sebenarnya, situasi seperti apa yang di hadapi Alea saat, ini? Apakah ini hukuman untuk, Alea karena menjadi anak yang nakal? Alea sudah bahagia karena Agam terlihat seperti tidak mau menerima dirinya. Namun, sekarang apa?!! Laki-laki itu malah menikahnya dengan cepat.


"Saya terima nikah dan kawinnya Alea Adora binti Adhiatama dengan mas kawin hafalan surah Ar-Rahman dan seperangkat alat sholat di bayar tunai,"


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"SAH!"


"Alhamdulillah,"


Bunda Alea semakin menangis di pelukan Alion. Putrinya telah menjadi milik orang lain. Beberapa orang yang hadir sudah tersenyum bahagia kecuali Alea. Iya! Perempuan itu memasang wajah marahnya bercampur dengan kesal.


"STOOOOP!" tiba-tiba Alea berdiri dengan cepat sembari menyincing rok batinya sedikit keatas. Alea tidak leluasa menggunakan rok sempit itu. Kini semua perhatian tertuju pada Alea yang dengan gilanya berdiri tanpa mempunyai rasa malu.


"Alea nggak mau nikah!" tukas Alea keras sehingga membuat Bundanya langsung menegakkan badannya. Sedangkan Alion langsung menatap tajam Alea. Adiknya itu benar-benar!


"Sudah telat Alea. Sekarang kamu sudah menjadi istri sah saya," kata Agam dengan santai sembari menarik tangan mungil Alea agar perempuan itu duduk di sebelahnya.


Tanpa di duga sama sekali, Agam langsung meletakkan tangan besarnya di atas kepala Alea. Agam telah membacakan doa untuk Alea. Alea ingin meronta, tapi dengan cepat Agam langsung mencium puncak kepala Alea dan kemudian turun ke dahi perempuan itu. Alea sudah tidak bisa berkutik setelahnya.


"Semesta telah mempertemukan kita dalam sebuah ikatan yang sakral. Hidup lah bersama dengan kekurangan yang saya miliki, dan saya akan melengkapi kekurangan yang ada dalam dirimu," gumam Agam di depan wajah Alea. Ucapan semanis itu membuat kaum hawa akan meleleh jika mendengarnya.


Di barisan paling belakang, Nitara dan Bella terharu melihat hal semanis itu.


***


Alea mengunci pintu kamarnya setelah ia melepaskan semua pernak-pernik yang terpasang di kepalanya. Ia membuangnya dengan sembarangan, sudah tidak perduli lagi. Yang Alea rasakan saat ini adalah sakit hati. Hatinya sakit karena Alea tidak pernah dihargai. Bagaimana dengan nasib, Alex? Laki-laki itu memang benar-benar menyanyangi Alea. Lalu, Alea harus berkata apa, nantinya?


Alea menangis.


Semesta saja tidak berpihak kepadanya. Dunia ini memang kejam. Kenapa harus Alea yang Adam nikahi?


Alea sudah mengumpat dengan keras. Alea marah. Alea pikir, semuanya akan baik-baik saja. Namun, sekarang apa? Situasi menjadi semakin runyam. Dan sekarang, nasi sudah menjadi bubur. Alea sudah menjadi istri sah Agam. Namun, hatinya tidak tenang. Di hatinya, hanya ada nama Alex. Laki-laki yang Alea sayang. Dan menikahi laki-laki yang tidak di cintainya adalah hal tersulit yang di jalani Alea. Alea tidak bisa menerima Agam begitu saja. Agam adalah orang yang merusak kehidupan Alea.


"Alea buka pintunya, saya kedinginan," kata Agam dari luar kamar Alea. Sudah sejak tadi Agam mengetuk pintu kamar Alea, namun tak kunjung Alea membukakan pintunya. Alea tidak peduli dengan laki-laki itu.


"Jika kamu tidak membuka pintunya, saya akan mendobraknya," ada ketegasan di dalam kalimat terakhir Agam yang membuat Alea langsung bangkit dari tempat tidurnya. Alea lebih menyanyangi pintu kamarnya yang rusak daripada Agam suaminya sendiri.


Alea membuka pintu kamarnya dengan matanya sembab serta bekas air mata yang terus menetes tanpa henti. Riasan wajahnya sudah berantakan, serta rambutnya yang tidak karuan. Alea juga sudah membuang rok batiknya entah kemana sehingga menyisakan celana pendeknya saja. Ia tidak peduli dengan penampilannya yang cukup berantakan di depan Agam. Toh jika seperti ini terus menerus, Agam pasti bosan padanya dan hal itu sangat bagus.


"Kamu kenapa, menangis?" tanya Agam dengan santai.


Ingin sekali Alea mencekik leher Agam saat ini juga. Bagaimana bisa Agam bertanya seperti itu. Jelas saja jika Alea tersiksa saat ini. Alea lebih memilih tidak menanggapi Agam dan langsung membanting tubuhnya ke ranjangnya lagi. Alea sudah lelah dengan hari ini.


"Gue nggak mau tidur sama lo!" tukas Alea dengan kasar.


"Ya udah nggak papa. Biar saya tidur di sofa saja," kata Agam dengan sabar. Laki-laki itu rupanya sudah mandi, terlihat dari bajunya yang sudah berganti baju rumahan.


"Kamu nggak, mandi? Nggak lengket, ya?" tanya Agam lagi sembari duduk di pojok tempat tidur Alea. Agam mengamati perempuan itu yang masih menangis dalam bantal.


"Mandi dulu, setelah itu kita sholat isya' berjama'ah," kata Agam lagi. Namun, sedari tadi tidak ada respon sedikit pun dari Alea.


Tiba-tiba Alea bangkit dari tidurnya dan langsung menghadap Agam. Ia menatap Agam dengan tatapannya yang tajam seolah-olah ia akan memakan Agam malam ini juga.


"Nggak! Saya nggak akan menyentuh kamu jika kamu tidak mengizinkannya," kata Agam sembari bangkit dari duduknya sembari menghela napasnya dengan panjang. Alea masih menatapnya dengan marah. Kenapa Agam terlihat begitu, santai?


"Mandi lah dulu. Setelah itu tidurlah dengan nyenyak. Jika kamu tidak segera masuk ke dalam kamar mandi, saya berjanji akan menggendongmu masuk ke dalam kamar mandi," tukas Agam sembari mengamati penampilan Alea yang menurut Agam terlihat lucu. Dan dengan sigap, Alea langsung bangkit dari duduknya di atas ranjang sembari mengejek Agam, "dalam mimpimu!" tukasnya kesal lalu menutup pintu kamar mandi dengan keras sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Agam hanya menggelengkan kepalanya.


Agam turun ke lantai bawah bergabung dengan Alion dan Bundanya serta Oma Rasya yang akan menginap di rumah Alea. Mereka sedang menikmati makan malam keluarga baru. Setelah acara ijab qobul yang berhasil, Alea memang tidak menyetujui jika di adakan pesta besar-besaran. Karena Agam juga sudah berjanji pada Alea, maka laki-laki itu menepati perkataannya sendiri.


"Alea mana, Gam?" tanya Alion pada Agam yang baru saja duduk.


"Dia sedang mandi," kata Agam sekenanya. Ia mengambil piring putih.


"Sekarang giliran Abangnya Alea yang menikah. Hayo, sudah ada yang di lirik belum, Bang?" tanya Bundanya yang membuat Alion tersedak, cepat-cepat Alion minum.


"Bener kata Bunda ente. Ente kapan, nyusul?" setelah bertanya seperti itu, Agam langsung memasukkan satu suapan ke dalam mulutnya.


"Mentang-mentang udah halal," celetuk Alion sewot sembari memotong daging dalam piringnya.


"Makanya cepat-cepat halalin anak orang," timpal Agam lagi.


Alion menaruh pisau dan garpunya sedikit keras sehingga menimbulkan suara dentingan dengan piring kacanya.


"Gam,"


"Hmm?" sahut Agam sembari menguap.


"Gue bakalan jadi orang pertama yang nonjok lo ketika lo nyakitin adik gue," tiba-tiba Alion berkata seperti itu.


"Dan ane bakalan jadi orang pertama yang bakalan nuntun adek lo sampai ke surga," timpal.


Dan hal itu malah membuat Bunda Alea dan Oma Rasya jadi tersenyum-senyum melihat Agam dan Alion bergantian.


***


Agam hanya menggunakan celana pendek selutut berwarna hitam miliknya. Dada atletis milik Agam jadi terlihat. Rambutnya acak-acakan karena ia baru saja bangun tidur. Ia melirik jam pink yang tergantung manis di atas tempat tidur Alea yang sudah menunjukkan pukul empat subuh. Ia duduk sebentar di sofa yang ia tidur tadi malam sebelum bangkit dari tempat untuk menuju ke kamar mandi untuk melakukan ritualnya.


Namun, ia berbalik lagi untuk membangunkan Alea yang tertidur dengan nyenyak di ranjang yang empuk. Ia melihat posisi tidur Alea yang tidak beraturan. Perasaan, tadi malam kepala Alea berada di selatan. Tapi, sekarang berada di Utara? Alea tidur seperti jarum jam yang berputar saja. Apalagi bajunya yang tersingkap ke atas sehingga memperlihatkan perutnya yang putih. Agam menutupinya.


Agam mengamati tidur Alea sejenak. Ingin sekali Agam tertawa, karena melihat Alea ileran dan mendengkur halus.


Tangan besar Agam menyentuh bahu Alea dengan pelan sembari berkata, "Alea, bangun," katanya dengan pelan. Namun, tidak ada pergerakan dari Alea.


"Alea, bangun. Ayo sholat subuh bareng saya," kata Agam lagi. Namun, masih saja tidak ada respon dari Alea. Perempuan itu malah mencari posisi yang nyaman untuk melanjutkan tidurnya. Membelakangi Agam dan meringkuk seperti bayi.


"Alea, ayo sholat subuh,"


Hingga beberapa kali Agam terus membangunkan Alea yang tertidur seperti kebo, akhirnya ada respon dari perempuan itu walaupun responnya sangat menyesakkan.


"Nggak! Gue nggak mau!" kata Alea dengan mata yang masih terpejam. Nadanya terdengar galak.


"Sholat Subuh biar otak kamu seger lagi,"


"Nggak!" tukasnya lagi lalu mencari selimut dengan mata yang terpejam. Dengan baik, Agam memberikan selimut tebal Alea dan di terima baik oleh Alea. Alea langsung bersembunyi di balik selimut tebalnya guna agar tidak di ganggu oleh Agam. Alea juga menjauh dari Agam.


Agam menghembuskan napasnya dengan panjang sebelum masuk ke dalam kamar mandi.


Tidak lama, Agam keluar dengan rambutnya yang basah. Ia segera memakai kaos polos hitamnya dan cepat-cepat memakai sarungnya. Takut jika dirinya akan tertinggal sholat subuh.


Setelah melakukan sholat subuh, ia mengamati tidur Alea lagi. Karena posisi tidur Alea sudah berpindah tempat. Perempuan itu benar-benar.


Bagaimana bisa perempuan itu tidur seperti jarum jam yang memutar.


***