Mr. Impeccable

Mr. Impeccable
21. dosen berengsek!



Alea menggunakan rok pendeknya sembari memakai kaos panjang. Lalu, ia mengikat dengan asal rambut panjangnya. Perempuan itu sudah sekian kalinya menguap di dalam kelas. Karena hari ini Alea mendapatkan kelas pagi sehingga membuatnya harus bangun pagi-pagi. Itu pun karena Agam yang membangunkannya. Agam telah mendengar alarm Alea yang di tandai dengan hari ada kelas pagi. Sehingga Agam membangunkannya.


Alea menguap dengan lebar tanpa mempunyai rasa malu. Di dalam kelasnya masih terdapat banyak mahasiswa lainnya yang belum keluar. Karena Alea adalah perempuan yang tidak perduli sama sekali. Sebut saja egois.


Bella menyentil bahu Alea dengan pelan sembari memberikan kode pada Alea untuk pergi ke kantin karena Bella sangat lapar. Namun, Alea menolak karena ia ingin tidur di ruangan kesehatan yang di sediakan oleh kampusnya. Karena biasanya disana akan sepi dan tidak ada yang menganggu tidurnya. Kelas Alea juga masih lama lagi, maka dari itu ia ingin memejamkan matanya. Mata Alea sudah berair dan merah. Rasa kantuk terus saja menyerangnya. Sehingga membuat dirinya tidak tahan ingin tidur.


"Anjir! Gue ngantuk banget!" tukas Alea sembari menguap lebar.


"Gila! Mulut lo kayak blower kalo nguap. Di tutupin kenapa, Al?"


"Mau kayak blower, mau kayak wajan gede, gue kagak peduli,"


"Iya lah! Orang kayak lo mah mana punya rasa peduli," celetuk Nitara yang tiba-tiba menimpali perkataan Alea di belakangnya.


"Bacot lo! Diem!" tukas Alea malas.


"Mending makan martabak manis," tiba-tiba Bella berkata seperti itu. Membuat Alea langsung bangkit dari duduknya dan berjalan lebih dulu keluar kelas sembari meneriaki kedua temannya, Bella dan Nitara, agar segera berjalan dengan cepat.


Sepanjang koridor menuju kantin kampus, Alea menjadi sorotan kaum Adam. Alea termasuk salah satu primadona kampusnya. Namun, Alea tidak peduli dengan hal itu. Baginya, ia cepat-cepat menggarap skripsinya dan lulus. Karena Alea sudah muak. Sepanjangan koridor itu juga banyak laki-laki yang menyapanya. Bahkan ada yang genit. Tetap saja, mereka tidak menggeser posisi Alex di hati Alea.


Tiba-tiba suara bariton terdengar memanggil namanya. Alea cukup mengenal suara itu. Alea langsung menoleh ke belakang dan melihat siapa yang memanggilnya.


"Sayang?" kata Alea setelah laki-laki itu sudah berjalan di sampingnya.


"Mau ke kantin?"


Alea menganggukkan kepalanya dengan manja pada laki-laki bertubuh atletis itu. Sedangkan, Bella dan Nitara sudah saling tatap ketika melihat apa yang di lihatnya sekarang. Sebenarnya, mereka bingung harus bagaimana? Harus mendukung yang mana? Agam atau Alex? Karena bagi mereka, Agam dan Alex sama-sama unggul. Unggul ketampanannya. HANYA BAGI MEREKA. Jika perlu, perlu di garisbawahi jika hanya Bella dan Nitara saja.


Alea dan Alex berjalan beriringan dengan di belakangnya Bella dan Nitara. Alea dan Alex juga menjadi salah satu pasangan yang mendapatkan julukan couple goals di kampusnya. Mereka sudah layaknya seperti di dunia fiksi namun nyata.


Alex memesan martabak manis kesukaan Alea setelah mereka tiba di kantin kampus. Di depan Alea ada Bella dan Nitara, sedangkan Alex duduk di samping Alea.


Setelah mereka semua memesan makanan, mereka menunggu pesanannya datang. Biasanya, Bella akan angkat bicara lebih dulu. Namun, entah kenapa aura perempuan cerewet itu mendadak jadi perempuan yang feminim. Biasanya, kantin akan heboh dengan adanya Alea dan Bella yang suka membuat onar. Terutama Alea.


"Gue mau ke toilet," kata Alea sembari berdiri, namun ketika ingin berjalan, tidak sengaja seseorang telah menumpahkan minumannya dan mengenai tepat di baju panjang Alea. Apalagi noda bekas minuman itu cokelat menempel di bajunya. Membuat Alea langsung naik pitam.


"Mata lo di dengkul?! Kalo jalan jangan make idung!" Alea berseru dengan keras sehingga menjadi sorotan pengunjung kantin.


"Liat! Baju gue jadi kotor gara-gara lo!" teriaknya dengan kesal lagi.


"Maaf, Alea," cicit laki-laki itu meminta maaf pada Alea yang sudah ingin memakannya hidup-hidup. Ternyata teman sekelas Alea sendiri lah yang menabrak Alea.


"Kata maaf lo nggak bisa membersihkan kotoran di baju gue!" tukas Alea dengan kasar sembari mendorong laki-laki itu hingga terhuyung ke belakang karena tenaga Alea seperti kuli bangunan.


Alea dengan kesal berjalan menuju toilet. Jangan di tanya lagi seberapa kesalnya perempuan itu. Sehingga ingin sekali membuat Alea mengamuk dan melempar kursi tepat ke wajah seseorang yang dengan beraninya menumbuhkan minumannya di baju Alea. Walaupun itu tidak sengaja, tetap saja Alea kesal. Ingin rasanya mencekik lehernya.


Ketika Alea ingin membuka handle pintu kamar mandi, ponselnya berdering menandakan sebuah panggilan dari seseorang masuk. Alea langsung mengambilnya dari tas kecilnya dan melihat ponselnya. Ternyata Bella yang meneleponnya. Namun, dengan sengaja Alea mematikan panggilan telepon itu. Kenapa juga harus bertelepon jika mereka saling dekat. Buang-buang kuota. Alea juga lagi berhemat karena Agam melarangnya membeli sesuatu yang tidak terlalu penting. Jika Agam tidak mengancam Alea, mungkin Alea sudah menghabiskan uang Agam saat ini juga. Sebenarnya, Agam bukan mengancam, namun laki-laki itu hanya memberitahu Alea jika uang yang di transfer oleh Agam habis, mereka tidak akan bisa makan dan berakhir makan batu. Jika seperti ini caranya, keinginan Alea untuk bercerai dengan Agam sangat tinggi. Agam laki-laki yang tidak jelas dari mana asalnya dan luntang-lantung tidak mempunyai kerjaan. Memang tidak jelas! Alea yakin, jika Agam mempunyai pesugihan untuk membeli mobil dan rumahnya. Atau jangan-jangan, rumah baru Agam yang sekarang di tinggal mereka berdua, jangan-jangan masih mencicil. Alea ingin rasanya menjentuskan kepalanya ke dinding saat ini. Alea memikirkan cicilan rumah, cicilan mobil, dan belum uang kuliahnya. Argh! Alea ingin mencekik lehernya sendiri.


Oke sudah cukup membahas soal perdukunan!


"ALEA! KELUAR! KELAS KITA MENDADAK DI MAJUIN SEKARANG. KARENA ADA DOSEN PENGGANTI PAK TAWAR," tiba-tiba terdengar suara keras Bella yang menyusul ke kamar mandi. Ternyata itu alasan Bella menelepon Alea.


Hal itu membuat keinginan Alea untuk mencekik lehernya sendiri semakin besar. Karena Alea yang super lemot, Bella langsung saja menarik tangan Alea untuk keluar kamar mandi. Alea yang di tarik pasrah hanya mengikuti Bella. Alea juga belum sempat membersihkan bekas minuman cokelat di bajunya. Masa bodoh! Alea tidak peduli lagi! Persetan dengan segala hal!


Mereka bertiga langsung masuk ke dalam kelas yang di dalamnya sudah banyak mahasiswa lainnya. Sepertinya, mereka sedikit terlambat. Gila! Kelas dadakan! Dan mereka terkejut ketika melihat apa yang terjadi sekarang. Tunggu! Kenapa laki-laki itu bisa berada di depan kelas? Laki-laki berjas hitam dan berkemeja putih. Berdiri sangat tampan di depan kelas. Gayanya yang cool, mampu menarik mahasiswi yang sekarang lebih asik memperhatikan dosen pengganti itu.


"Kalian terlambat 3 menit 32 detik," suara bariton itu telah menginterupsi Alea, Bella dan Nitara yang masih tercengang tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini.


Halah! Palingan juga dosen gadungan!


"Kenapa baju, kamu?" suara bariton yang tegas itu telah tertuju pada kotoran bekas minuman yang menempel di baju Alea. Sial!


Dan juga entah kenapa suara itu begitu tegas sehingga membuat nyali siapapun menciut seketika.


"Bukan urusan anda!" tukas Alea dengan berani sembari berjalan mencari tempat duduk yang kosong. Perempuan itu telah menarik seluruh perhatian mahasiswa yang ada di kelasnya. Mereka akan berpikir jika Alea memang tidak waras. Siapa lagi yang berani melawan dosen jika bukan Alea, orangnya? Mungkin tokoh-tokoh fiksi banyak di temukan. Haha! Ini realitas!


Sedangkan Bella dan Nitara berjalan pelan mencari bangku yang kosong. Nyali mereka berdua benar-benar menciut. Tidak habis pikir dengan Alea yang berani melawan dosen pengganti tersebut.


"Yang terlambat tadi, silahkan keluar."


Perkataan itu begitu dingin dan jelas di semua mahasiswa yang mendengarnya. Suaranya seperti tidak ingin menerima penolakan. Begitu tegas sehingga membuat kelas menjadi senyap, tidak ada yang berani bersuara sedikit pun.


"Silahkan keluar dari kelas saya! Saya tidak membutuhkan mahasiswi bersikap kasar," tukas Agam begitu tegas. Sehingga membuat Alea lebih menatap tajam Agam. Di dalam hati Alea, ia sudah mencibir Agam habis-habisan. Karena sikap tegas yang Agam keluarkan sekarang hanyalah sebuah pencitraan saja. Ingin sekali Alea mencekik leher Agam saat ini juga. Dan pekerjaan Agam memang tidak jelas. Kemarin, Agam bekerja di kantor popular Maherson Group. Mungkin Agam terkena PHK karena kerjanya yang pasti tidak becus. Wajar saja jika Agam di keluarkan dari perusahaan paling populer itu. Pekerjaannya saja hanya luntang-lantung seperti orang gila. Dan sekarang, Agam telah melamar pekerjaan menjadi dosen. Dasar laki-laki tidak jelas!


Karena kesal, Alea langsung bangkit dari duduknya, "saya di sini ingin belajar ya! Bukan untuk di keluarkan seenaknya saja! Saya bisa laporkan masalah ini ke rektor kampus!" kata Alea yang mulai membuat pertunjukan di kelas. Suasana kelas semakin menegang karena Alea yang memperpanas keadaan.


"Silahkan keluar!" tukas Agam dengan jelas dan tegas.


Alea langsung menendang kursinya sendiri, lalu melepas ikatan rambutnya dan membiarkan rambutnya yang panjang menjuntai ke bawah. Alea berjalan sembari menciptakan langkah kaki yang cukup nyaring dan memasang wajah kesal andalannya. Berjalan ke depan sembari menatap Agam. Ia juga membuat gerakan jari telunjuknya menyentuh lehernya sendiri seperti ingin menghunus pisau tajam ke leher Agam saat ini juga dan Alea sembari berkata, "mati lo," katanya tanpa suara, hanya gerakan mulutnya saja.


Namun, Alea kesal karena Agam selalu memasang wajahnya yang santai itu.


Alea keluar dan langsung menutup pintunya dengan keras sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring.


Namun, tak lama Alea kembali memasang wajah kesalnya.


"Ada apa, lagi?"


"Kan di suruh keluar! Ya saya masuk lagi," kata Alea dengan sewot.


"Tidak bisa, Alea."


"Bisalah, Pak!" Katanya sembari kembali duduk di kursinya yang tadi.


Agam menatap Alea, "kamu tadi telah menendang kursi itu, dan sekarang kamu mendudukinya lagi. Apakah tidak malu menjilat ludah, sendiri?" pertanyaan Agam membuat Alea ingin maju dan langsung mencekik leher Agam. Walaupun itu hanya sebuah kehaluan yang ingin Alea wujudkan.


"DASAR DOSEN BRENGSEK!"


***


"Abaaang," Bundanya memanggil laki-laki itu dengan manja. Dan jika Bundanya sudah memanggil Alion dengan nada seperti itu, jantung Alion jadi berdetak dengan kencang. Biasanya, ada makna tersirat dalam nada tersebut.


"Abang!"


"Apa sih, Bun?"


"Kapan Abang, nikah?"


Nah! Benar kan!


Apa yang di duga Alion ternyata benar!


"Bunda fokus saja dulu liat sinetronnya. Alion mau lembur dulu,"


"Alasan saja, Bang."


Tiba-tiba, Alion teringat pada malam hari itu. Di mana ia mabuk dan mencium seseorang. Hal yang harus Alion hindari. Namun, Alion malah memilih terjun. Jika di tanya soal penyesalan, Alion sangat menyesal karena melakukan hal yang berdosa. Alion mengakuinya jika dirinya juga salah satu manusia terbejat yang ada di muka bumi ini. Dengan teganya ia mencium perempuan yang jelas-jelas bukan mahramnya dengan brutal. Alion tidak peduli jika perempuan itu menangis dan meronta dalam pelukannya. Namun, Alion tidak memberikan kesempatan untuk perempuan itu lepas dari dekapannya.


Alion manusia bejat!


Dia telah melukai perempuan yang ia kenal hanya sebatas hubungan kerja saja.


Alion menyesal!


Ketika perempuan itu menangis di pelukannya karena Alion terus memaksa perempuan itu. Masih terpatri dengan jelas di pikiran Alion. Suara tangisnya pun masih terdengar jelas di telinga Alion. Membuat hati Alion tidak tenang. Dan malah membuat beberapa akhir ini pekerjaan Alion menjadi tidak konsen.


"Abang! Lagi mikirin milih cewek yang mana, ya?" suara Bundanya mengalihkan perhatian Alion. Karena sedari tadi Alion malah melamun.


Alion bangkit dari duduknya.


"Mau kemana, Bang? Nggak sopan banget lho sama Bunda,"


"Alion pusing banget, Bun. Alion mau bikin kopi sebelum lembur," katanya langsung bangkit dari duduknya.


Bundanya mencibir anak laki-lakinya itu. Lalu, terkikik geli melihat ekspresi Alion yang di beri pertanyaan seperti itu.


To be continued....


Gimana? Gimana?