Mr. Impeccable

Mr. Impeccable
20. kenapa harus kesal?



Sebenarnya, hidup di dunia ini apa yang harus di cari oleh, manusia?


Otak Alea terus berpikir keras menanyakan hal seperti itu. Sebenernya, ia hidup untuk apa? Atau mungkin Alea merasakan kesenangan di dunia? Sehingga Alea tidak mau meninggalkan dunia lebih dulu? Apa betul tujuan hidup manusia seperti apa yang Alea inginkan? Mencari kesenangan dalam duniawinya sendiri. Atau bahkan ada tujuan lain.


Spontan saja Alea langsung menutup matanya ketika tiba-tiba Agam keluar dari kamar mandi menggunakan handuk putih saja yang melilit pinggangnya. Laki-laki itu selalu merusak moody Alea. Entah kenapa hanya melihat Agam saja, Alea ingin muntah saat ini juga.


"Kamu kenapa, Sayang? Kok kayak liat hantu, gitu?" Agam bertanya dengan ekspresinya yang di benci oleh Alea itu.


"Iya! Gue liat genderuwo kayak gorila! Makanya gue terkejut banget!" Tukas Alea dengan malas sembari menahan napasnya karena nadanya yang tinggi.


"Mana ada begitu,"


"Ada dong! Sekarang kan jamannya makin maju. Jadi kawin silang itu udah biasa,"


"Kok kamu lama-lama nggak nyambung banget,"


"SERAH LO GAM! SERAH LO!" Alea bangkit dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya dengan menutup pintunya dengan keras. Mungkin seseorang yang mengindap penyakit jantung pasti akan langsung kambuh mendengar suara decitan pintu yang cukup keras.


"Perempuan ini susah sekali di pahami. Memang benar dalil perempuan, jika laki-laki adalah tempat salah. Walaupun benar, akan tetap salah," Agam berkata sembari masuk ke dalam walk in closet nya. Tampaknya, laki-laki itu tidak peduli dengan Alea yang selalu menampilkan wajah kesalnya karena Agam terus saja mengganggunya.


Agam memilih kaos hitam andalannya. Lalu, keluar sembari memasang jam tangan hitamnya. Ia melihat Alea yang memasang wajahnya yang cemberut dan menatapnya dengan kesal. Selalu!


Tunggu sebentar! Bukannya perempuan itu tadi keluar dari kamarnya? Kenapa sekarang duduk manis kembali di tempat tidurnya?


"Cepat tua lho, Al. Kalau ekspresimu terlalu muram," kata Agam sembari berjalan ke arah Alea yang duduk dan langsung berjongkok di depan Alea. Lalu, kedua tangannya terangkat untuk memegang kedua pipi Alea sembari mengatakan, "seharusnya gini," katanya sembari menari senyum bibir tipis Alea.


Namanya juga Alea. Bukan Alea namanya jika kedua tangan Alea diam saja. Dengan artian, kedua tangannya langsung menepis dengan kasar tangan Agam yang menyentuhnya.


"Jangan pegang-pegang gue!" tukasnya dengan garang seperti emak-emak kos yang menagih uang bulanan.


"Kenapa?"


"Jangan macem-macem sama gue!"


"Masa aku nggak boleh macem-macemin istriku, sendiri?" katanya sembari menatap Alea dengan senyuman manisnya yang membuat Alea semakin muak.


"Alea. Kapan kamu sholat bareng, aku? Sudah banyak dosa yang ku tanggung karena istriku tidak mau menurut dengan imamnya," kata Agam sembari menatap manik mata Alea.


"Oh bagus dong kalau gitu. Gue malah seneng kalau dosa-dosa lo bertambah karena gue. Kalau bisa, gue bakalan tambahin lagi. Apa lo perlu bonus dari, gue?"


Agam malah tertawa ngakak. Sehingga membuat Alea bergidik ngeri melihat Agam. Memangnya, dimana letak kelucuannya? Alea sudah menduga jika Agam sudah tidak waras. Alea langsung bangkit dari tempat duduknya. Namun, Agam mengunci pergerakannya. Membuat Alea meronta sembari mendorong bahu Agam. Namun, Agam yang seperti genderuwo versi gorila membuat laki-laki itu tidak goyah sekali dengan dorongan Alea.


Gila! Agam gila!


"MINGGIR!"


Namun Agam malah semakin menggoda Alea yang mukanya sudah memerah karena marah.


"Kamu kalau marah membuatku semakin gemas," kata Agam yang masih menatap wajah marah Alea.


"Dasar buaya! Tukang gombal!" teriak Alea sembari mendorong Agam yang kuat.


"Gorila nggak bisa di untung!" teriak Alea lagi.


"Ya tentu nggak bisa lah, Al. Aneh-aneh aja kamu,"


"AWAS! gue mau beli martabak buat ngembaliin mood gue yang rusak gara-gara lo!" tukasnya dengan kasar!


"Ya udah. Ayo ku belikan sebanyak yang kamu mau,"


***


Alea mencibir di dalam hatinya sembari memutar bola matanya malas. Karena ia baru saja melihat Agam dengan gaya ke-sok-annya telah mencari perhatian. Laki-laki itu membantu seorang perempuan yang menurut Alea agak cantik--tetapi masih cantik Alea--topinya yang jatuh ke tanah. Dengan senyuman Agam yang menurut Alea sangat memuakkan, Agam kembali menghampiri Alea yang sedang mengambil minuman di salah satu lemari es yang berada di minimarket dekat rumahnya.


"Dasar playboy cap gorila," gumaman Alea terdengar ke telinga Agam sehingga membuat laki-laki itu menyunggingkan senyumannya.


Agam hanya menggunakan kaos polos hitam dengan celana panjang hitam. Terlihat santai dengan ketampanannya yang mampu menarik perhatian di sekitarnya. Alea juga bisa melihat dengan jelas jika beberapa perempuan telah memperhatikan Agam. Sehingga membuat Alea ingin mencabik-cabik wajah Agam supaya laki-laki itu tidak banyak bertingkah. Lama-lama Alea SANGAT muak.


Alea mengambil banyak minuman botol namun segera di kembalikan ke tempatnya lagi oleh Agam.


"Jangan minum minuman yang nggak sehat buat tubuh kamu," kata Agam sembari menaruh kembali minuman botol yang di ambil Alea tadi, "kamu harus baca komposisinya dulu jika ingin membeli makanan atau minuman," lanjutnya lagi sembari mengambil troller yang di bawa oleh Alea. Jangan di tanya lagi bagaimana ekspresi Alea sekarang.


"Apa-apa nggak boleh! Hidup lo nggak asik banget sih!" tukas Alea dengan kesal.


"Justru dengan cara hidup kamu yang nggak sehat itu malah nggak asik. Memang menciptakan sebuah penyakit itu mengasikkan ya, Al?" Agam berbicara sembari mendorong troller dengan di ikuti oleh Alea di belakangnya berjalan dengan kesal.


"SERAH LO! DASAR KUTIL BADAK!"


"Kemarin psikopat gila, terus buaya, tadi tukang gombal, terus sekarang kutil badak. Besok apa lagi panggilan sayang yang cocok untukku, lagi?" Agam bertanya sembari memegang sebuah minuman botol untuk melihat komposisi minuman tersebut.


"UPIL KODOK!" kata Alea kesal.


"Kamu ini istri paling romantis," kata Agam dengan datar.


"Romantis pala lo peyang!"


"Kalo waktunya mati juga bakalan mati," tukas Alea kesal lalu mengambil alih untuk mendorong troller belanjaannya sendiri dan meninggalkan Agam yang menatap Alea tidak percaya.


Istrinya ini memang is debes!


"Alea, seharusnya kamu nurut apapun yang aku katakan. Bagaimana jika kamu sakit karena memakan makanan yang nggak sehat? Apalagi kamu nggak pernah makan sayur. Gimana penyakit nggak gampang masuk," kata Agam sembari mengikuti langkah Alea untuk membayar di kasir.


"Tubuh gue juga yang sakit. Lo diem aja. Kalo nggak suka, nggak usah makan."


"Sebenarnya, hatimu itu terbuat dari apa, Alea?"


"Dari batu, Gam! Dari batu! Kesel gue lama-lama sama lo! Lama-lama juga lo kepo banget sama gue!"


"Ya gimana aku nggak kepo. Kamu istri ku lho, Al,"


"Ya udah diem aja! Berisik banget lo!"


Kemudian, Alea memberikan belanjaannya pada kasir. Namun, kasir itu malah menundukkan kepalanya pada Agam yang berdiri di belakang Alea. Membuat Alea memutar bola matanya kesal. Kenapa Agam selalu menebarkan pesonanya pada semua, perempuan? Memang benar firasat Alea jika Agam ini salah satu buaya dari 1001 buaya yang ada di Indonesia. Cih!


"Cepat ya, Mbak! Gue pengen cepet-cepet pulang!" pinta Alea pada mbak Kasir itu.


Alea menunggu kasir tersebut untuk menotalkan semua belanjaannya. Setelah selesai, Alea langsung memerintahkan Agam untuk membawa banyak belanjaannya. Namun, kalah cepat dengan Agam yang sudah berjalan lebih dulu dan meninggalkan Alea begitu saja. Mereka berjalan ke arah parkiran minimarket tersebut.


"Mampir beliin martabak!" pinta Alea dengan keras.


"Of course, Tuan Putri," kata Agam sembari membungkukkan sedikit tubuhnya menirukan gaya hormat pada Ratunya.


Alea langsung masuk ke dalam mobil diikuti Agam yang baru saja selesai menaruh belanjaannya di bagasi mobil belakangnya.


Agam melirik ke arah Alea yang menatap kaca spion di sebelahnya. Dapat di lihat jika Alea enggan menatap Agam. Hal itu membuat tangan Agam yang besar langsung menangkup kepala Alea dan mengarahkannya pada dirinya. Mereka saling tatap sejenak sebelum Alea mengeluarkan mulut petirnya lagi. Perempuan itu langsung menggerutu tidak jelas. Bagi Agam, jika Alea menggerutu sudah seperti nada lagu yang tersusun nadanya. Walaupun terdengar sakit di telinga Agam, ia akan selalu menikmatinya. Karena, Alea begitu istimewa.


Sebenarnya, entah kenapa Agam selalu menyebut jika Alea itu istimewa.


***


Alea memakan martabak manis dengan varian rasa yang cukup berukuran besar. Tidak lupa sebelumnya, ia langsung mengikat rambutnya yang panjang dengan asal. Ia sudah tidak peduli lagi dengan Agam yang terus memperhatikan dirinya. Terserah laki-laki itu saja. Alea tidak akan peduli.


Alea hanya ingin membuat Agam ilfeel padanya. Dengan begitulah, Agam akan menceraikannya. Semudah itu pikiran Alea. Alea menjilati jari-jarinya yang terdapat cokelat yang menempel.


Agam melihat hal itu langsung menyodorkan segelas susu putih untuk Alea. Membuat perempuan itu menatap curiga Agam.


"Lo nggak ngasih apa-apa kan di dalamnya?"


"Ya enggak lah, Sayang."


Namun, Alea masih tetap menatap curiga Agam.


"Gue nggak suka susu!" tiba-tiba Alea berkata seperti itu.


"Kenapa, Al?"


"Lo pengen gue, gendutan? Jahat banget pikiran lo!" tukas Alea.


"Bukannya sekarang kamu memakan makanan yang berlemak, banget? Ada cokelatnya lagi, ada kejunya. Udah lah, Al. Jangan sungkan-sungkan buat minum susu yang aku buat untuk kamu. Aku tulus kok bikinnya,"


Entah Alea memang tidak pintar atau otaknya yang tidak ada sehingga tidak bisa berpikir jika susu dan martabak manis mempunyai radar gula yang cukup menggemukkan badan.


Lagi dan LAGI, Alea menatap Agam dengan kesal. Jika seperti ini terus menerus, Alea akan mempunyai penyakit jantung.


"Sekali aja nggak usah ngerusak mood ku bisa nggak sih, Gam?" kali ini Alea bertanya pada Agam tidak menggunakan ototnya. Melainkan, ia hanya menghela napasnya dengan panjang sembari menyemangati dirinya sendiri supaya kuat menghadapi Agam. Alea lebay!


"Dan sekali aja kamu nurut sama aku kenapa, Al?" Agam malah membalikkan pertanyaannya Alea. Membuat Alea kesal dan langsung menjejalkan potongan besar martabak manisnya ke dalam mulutnya yang kecil. Lalu ia mengunyahnya dengan menatap Agam. Seolah-olah, perempuan itu ingin memakan Agam hidup-hidup. Tak hanya itu saja, kedua tangan Alea sudah seperti kucing yang ingin mencakar musuhnya.


Agam malah tertawa ngakak melihat tingkah Alea seperti itu. Dimana lagi ia mencari perempuan seperti, Alea? Mungkin di dunia fiksi pun jauh lebih banyak.


"Mau susu lagi, Tuan Putri?"


***


Sedangkan di tempat lain, seorang laki-laki bertubuh tinggi sedang menatap langit yang mendung. Ia bisa menduga jika sebentar lagi, hujan akan kembali menyapa bumi. Tidak disangka, jika bumi telah merindukan hujan. Lalu, hujan datang untuk menghilangkan rasa rindu yang di dera oleh bumi. Bumi senang karena hujan itu telah menyapanya. Karena di sapa oleh seseorang yang di sayang, adalah suatu hal yang menyenangkan. Apalagi untuk di perhatikan.


Sama!


Sama halnya dengan Alex. Kedua orangtuanya yang sering bertengkar di depannya sangat mempengaruhi mentalnya. Memang benar jika di fasilitasi segala hal. Namun bagi Alex, bukan itu yang Alex butuhkan. Karena keegoisan kedua orangtuanya yang sibuk bekerja tanpa memperhatikan kehidupan Alex seperti apa. Dan Alex akan sadar. Jika hidup sederhana saja dengan keharmonisan keluarga sangat menyenangkan jika Alex bayangkan. Dari kecil, ia hanya di titipkan ke seorang pembantu rumah tangga.


Alex melempar secangkir gelas kaca bekas kopinya yang sudah tandas karenanya. Menciptakan sebuah suara yang cukup keras.


Kenapa harus ada rasa peduli di dunia, ini? Bukankah lebih bagus jika tidak ada rasa peduli? Manusia akan hidup tanpa mempunyai rasa peduli. Dan itu akan menjadi hal yang wajar. Dan hal yang tidak akan menimbulkan rasa sakit yang bercokol dalam hati. Alex telah mengharapkan sesuatu yang nihil.


...


To be continued....