
Kamu cantik, dan cantik itu relatif. Tapi, menutup aurat itu wajib.
Setelah pernyataan itu di dapat oleh Alea melewati kertas yang lusuh, sekarang Alea sudah tidak memperdulikannya lagi. Bodo amat dengan semuanya. Makan martabak manis adalah salah satu hal yang membangun semangat Alea lagi.
Alea terlihat sederhana menggunakan you can see yang di lapisi jaket levis sobek-sobek di bawahnya, sengaja di desain seperti itu. Dipadukan dengan rok pendek levis dengan warna yang senada. Sederhana namun terlihat modis. Perempuan itu sedikit memoleskan lip cream di bibir mungilnya sehingga terlihat natural. Rambutnya di cepol keatas dengan asal yang mengakibatkan beberapa anak rambutnya menjuntai ke bawah. Hal terakhir yang akan Alea lakukan sebelum berangkat kuliah adalah memilih sepatu. Ia memilih sneakers putihnya. Setelah itu, langkah kakinya turun untuk melakukan ritual pagi bersama Bundanya dan juga abang satu-satunya.
Di meja makan, Alea sudah melihat Bundanya yang sedang menyiapkan sarapan. Alea bisa melihat jika Abangnya telah tertawa lebar bersama Bundanya. Entah apa yang di tertawakan sepagi ini.
Alea menekuk wajahnya sehingga mendapatkan teguran dari Abangnya, "pagi-pagi udah cemberut. Pagi itu di awali dengan senyuman," kata Abangnya yang bernama Alion Mahendra Adhitama. Laki-laki dengan perawakan tinggi itu memberikan piring putih untuk Alea.
Alea hanya menatap piring putih itu tanpa harus membuang-buang waktunya untuk menanggapi Abangnya.
"Gue heran aja sama lo. Tiap hari cemberut terus. Ya gitu kalau jauh sama Allah. Jadi, uring-uringan nggak jelas," kata Abangnya sembari menyiduk nasi untuk Alea. Namun, Alea telah mencegah tangan Abangnya yang sudah ingin menuangkan nasi untuknya.
"Terserah gue dong!" kata Alea dengan malas sembari menjauhkan piring putihnya.
"Lo nggak, makan?"
"Diet!" jawab Alea seadanya tanpa menatap Abangnya.
"Cobain deh lo mulai mendekatkan diri sama Allah, gue yakin hidup lo bakalan tenang," kata Abangnya sembari mengunyah pelan makanannya.
"Bener kata Abang. Nanti kalau Alea make jilbab, Bunda bakalan beliin martabak manis terus setiap hari," Bundanya ikut menimpali.
"Bunda! Alea itu bukan anak kecil! Jadi nggak perlu di bujuk kayak gitu. Alea nggak suka! Bunda pasti tau kalau di luaran sana banyak perempuan yang make jilbab, tapi beberapa pasti ada yang munafik. Dan Alea pengen hidup dengan cara Alea sendiri,"
"Jadi menurut lo, yang berjilbab itu belum tentu orang, baik?" Abangnya bertanya yang di angguki oleh Alea.
"Dengerin gue ya! hijab itu bukan sekedar pelindung bagi setiap wanita melainkan menggambarkan seberapa besar kekuatan dan keindahannya. Dan lo bakalan aman dari buaya-buaya yang buas,"
"Serah lo!" kata Alea dengan malas sembari mengambil beberapa roti tawar dan mengoleskan selai cokelat di atas roti tersebut.
"Katanya diet, tapi sekali ngambil roti kayak tukang kuli bangunan," cecar Bundanya.
"Alea tadi nggak ingat kalo bilang diet," kata Alea sembari mengunyah roti tawarnya.
"Ya wajar kalo nggak ingat, skripsi aja di tolak terus," kata Bundanya lagi sembari terkikik geli.
"Bunda nyebelin banget sih," setelah mengatakan itu, Alea dengan kesal langsung menjejalkan suapan besar ke dalam mulutnya. Hal itu malah membuat tertawa pelan Bundanya. Abangnya juga malah menggelengkan kepalanya melihat sikap adiknya yang menurutnya bebal sekali.
"Bunda heran sama kamu, skripsi kok di tolak terus,"
"Udah jadi takdir Alea," katanya dengan malas. Hal itu malah memicu Abangnya untuk berbicara sembari mencibir, "itu mah namanya bukan takdir Alea. Karena otak lo aja yang udah nggak mampu. Tapi tenang aja, gue nggak malu kok punya adek secantik lo,"
Alea tidak menanggapi Abangnya. Yang ada ia akan hanya semakin emosi saja. Abangnya memang suka mencibir dirinya. Dan untung saja, Alea menjadi orang yang sabar.
Setelah mereka selesai melakukan ritual bersama di pagi hari, Alea segera berangkat ke kampus dengan di antar oleh Abangnya. Abangnya memang terlihat kalem, namun sebenarnya adalah orang yang cukup otoriter. Jika Abangnya sudah marah, Alea akan menjadi patung karena tidak berani melawan Abangnya. Bagi Alea, Abangnya sudah berperan seperti Ayahnya sendiri. Abangnya selalu menyuruh Alea untuk menutup auratnya. Namun dengan kebebalan yang hakiki, Alea tetap keukeuh untuk menolaknya. Entah apa yang ada di pikiran Alea.
Abangnya berjalan menuju ke garasi untuk mengambil mobilnya. Di depan sana sudah ada Alea yang menunggunya. Dengan memutar musik yang pelan, Abangnya memberhentikan mobilnya tepat di depan Alea. Alea masuk dengan wajah yang di tekuk. Sebenarnya, Alea akhir-akhir ini jika berada di dekat Abangnya merasa jengkel. Sudah ratusan kali Alea membujuk Abangnya untuk membantu Alea menyelesaikan skripsinya, namun dengan mentah-mentah Abangnya menolak dengan embel-embel alasan 'biar nggak manja'. Sangat menyebalkan mempunyai kakak seperti Abangnya.
"Lo pulang, gimana?"
"Naik taksi aja," kata Alea sembari melihat jalanan yang tentu saja sudah mulai macet karena ini jam berangkat kerja.
"Suka banget naik taksi,"
Karena taksi adalah alibi yang tepat bagi Alea untuk Abangnya berhenti bertanya-tanya. Tidak mungkin jika Alea berterus terang di antar pacarnya. Alea bisa di bunuh oleh Abangnya sendiri. Seperti tadi malam, ia harus mengendap-endap keluar rumah demi bertemu dengan Alex. Ia menyusun guling dan di tutupi selimut, alih-alih sebagai dirinya. Alea keluar melewati jendela kamarnya dengan pelan supaya tidak terdengar Abangnya maupun Bundanya. Abangnya menolak keras jika Alea keluar malam karena perempuan tidak baik kelayapan malam-malam. Pernah suatu hari Abangnya marah besar karena Alea yang kepergok melewati jendela kamarnya untuk pergi. Sama halnya dengan Abangnya, Bundanya juga tipe wanita yang otoriter namun berhati hello kitty.
***
Alea berlari mengejar Alex yang ingin masuk ke dalam toilet laki-laki. Alea langsung menarik Alex yang juga ikut terkejut karena tiba-tiba tangannya di tarik begitu saja. Ternyata Alea dengan napasnya yang tersengal-sengal karena sehabis berlari.
"Ada apa, Yang?" tanya Alex yang juga penasaran, kenapa perempuan itu sampai menarik tangannya.
"Nanti pulang kuliah aku di jemput sama Abang. Gimana, dong?" tanyanya dengan napas yang masih tersengal.
Alex mengacak rambut Alea dengan gemas, "aku kira kenapa. Ya nggak papa. Tenang aja, aku nggak bakal ilang kok di culik sama tante-tante," kata Alex sembari tertawa yang membuat Alea langsung mencubit pinggangnya sehingga laki-laki itu mengaduh kesakitan karena cubitan Alea lumayan. Lumayan sakitnya!
Setelah mengatakan hal itu, Alea tidak lagi kembali ke kelasnya. Melainkan menghampiri Bella yang sedari tadi sudah menunggunya di pojokan gedung fakultas Hukum. Mereka sudah merencanakan dimana mereka akan membolos. Tidak perlu heran dengan apa yang di lakukan mereka berdua. Karena itu sudah menjadi hal yang biasa, bahkan hampir mendekati kata wajib di lakukan. Alea selalu berhasil untuk mengendap-endap untuk mencari jalan membolos.
"Yok!" kata Bella dengan semangat. Dua perempuan itu sama gilanya. Maka dari itu, tidak heran jika kenapa skripsi Alea terus di tolak dan membuat Alea harus mengulang kembali di tahun ajaran baru.
Mereka berdua sudah mempunyai jalan pintas untuk menuju parkiran. Agar tidak terlihat dengan yang lainnya, terkadang mereka juga menyamar menjadi tukang kebun. Entah mendapatkan ide darimana, mereka memang sudah gila. Sedangkan Nitara, perempuan berhijab itu telah beberapa kali menelpon Alea dan Bella. Namun, sengaja tidak mereka angkat karena pasti Nitara akan mengomelinya karena membolos kuliah lagi. Nitara memang satu-satunya perempuan yang
Alea segera masuk ke dalam mobil Bella dengan tertawa bahagia. Akhirnya mereka berhasil kabur. Sembari Bella membawa mobilnya keluar parkiran kampus, Alea memutar musik keras di dalam mobil tersebut. Alea menggelengkan kepalanya mengikuti alunan lagu. Begitu pun juga Bella yang menyetir sembari menggerakkan badannya pelan mengikuti lagu. Mereka terlihat seperti buronan yang habis masa menjadi tahanannya.
Ponsel Alea terus bergetar. Namun, ia telah mengabaikan panggilan telepon dari Nitara itu. Karena sudah terlalu sering hal seperti ini terjadi.
Hingga mereka sampai di sebuah mall besar yang ada di kota itu. Bella sedikit kesusahan mencari tempat parkir karena banyak pengunjung di hari sabtu. Orang-orang telah membludak mengunjungi mall tersebut. Setelah berputar-putar di area parkir, akhirnya Bella menemukan tempat parkir yang kosong. Mereka sangat senang tentu saja. Namun, hatinya begitu hancur karena kalah cepat dengan mobil lainnya. Sehingga membuat Alea dan Bella mengumpat. Dan tanpa aba-aba lagi, Alea turun dengan sangat kesal. Perempuan itu sudah siap untuk memecahkan kaca mobil tersebut. Alea menghampiri mobil sport hitam itu dengan mata yang menatap tajam. Setelah sampai, Alea langsung menggedor-gedor kaca mobil itu dengan keras. Ia tidak perduli siapa pemilik mobil tersebut. Sekalipun itu Jenderal, Alea tidak takut sama sekali.
"KELUAR WOY!" teriak Alea sembari tangannya menggedor-gedor pintu kaca mobil tersebut. Sedangkan Bella sudah berteriak-teriak pada Alea untuk mencari tempat parkir yang lain saja. Namun, Alea sudah tidak mendengarkan Bella.
Alea lega karena pemilik mobil tersebut sudah membuka kaca mobilnya. Mulut Alea sudah ingin menyemprot laki-laki tampan yang duduk di dalam kursi kemudi itu, "KALAU MAU PARKIR LIAT-LIAT DONG! INI GUE DULUAN YANG MAU PARKIR. SEENAK JIDAT LO AJA NGAMBIL TEMPAT PARKIR ORANG! MAJUIN MOBIL LO!" perempuan itu berkata sembari otot-ototnya muncul.
"Siapa cepat dia dapat," kata laki-laki itu dengan santai.
"LO KAN COWOK! DAN SEHARUSNYA COWOK ITU NGALAH DONG SAMA CEWEK!"
Alea semakin kesal karena respon laki-laki berkulit putih itu malah sedikit tersenyum. Laki-laki itu malah membuka kaca mobilnya sepenuhnya.
Yang membuat Alea terkejut adalah tiba-tiba terdengar suara bariton yang berasal dari dalam mobil tersebut, "mau di majuin, kemana?" memang kalimat pertanyaan itu terdengar santai namun menusuk bagi Alea. Ekspresi wajah Abangnya yang santai semakin membuat Alea berkeringat dingin dan tanpa sungkan-sungkan, ia melebarkan mulutnya karena terkejut. Alea terciduk Abangnya lagi! Seminggu yang lalu, Abangnya berhasil menyiduk Alea bolos kuliah dan sekarang ia kembali terciduk lagi. Mampus! Alea bisa mati! Walaupun, Abangnya terlihat kalem, namun mengerikan bagi Alea.
Alea masih terdiam. Jika ia menanggapi Abangnya, ia bakalan akan habis di tangan Abangnya. Jadi, ia putuskan untuk tetap diam saja. Sembari membuang sedikit harga dirinya di depan laki-laki itu. Tunggu sebentar! Sepertinya wajah laki-laki itu tidak asing di mata Alea. Namun, siapa? Pernah ketemu, dimana? Bukan saatnya berpikir seperti itu.
Alea mengerti jika Abangnya turun dari mobil. Ketika ia ingin kabur, Abangnya lebih cekatan menarik tangan Alea sehingga membuat Alea tertarik untuk menghadap Abangnya.
Alion--Abangnya--sedang menunduk penuh untuk menatap adik semata wayangnya yang sangat bebal. Sudah berapa kali ia menyiduk Alea membolos kuliah.
Alion menatap laki-laki yang ada di dalam mobil sembari tersenyum tipis. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya sekali dan langsung turun dari mobil.
Alion langsung merangkul Alea untuk mendekatkan adiknya dengannya sembari bertanya, "Alea hari ini mau makan, apa?" tanya Alion yang membuat Alea malah terkejut karena mendapatkan pertanyaan seperti itu di situasi yang seperti ini. Ada apa dengan, Abangnya? Biasanya, Alion akan memarahi Alea jika tertangkap basah sedang membolos kuliah. Seperti minggu-minggu yang lalu. Alion menjadi seorang kakak memang harus tegas. Apalagi ia menggantikan posisi ayahnya.
"Abang traktir hari ini. Alea mau, apa? Sepuas lo mau makan apa," perkataan itu membuat mata Alea langsung berbinar. Bagaikan hujan martabak manis dan dengan senang hati, Alea memakan martabak manis dengan varian rasa.
Alea langsung tersenyum menatap Bella yang sekarang menatapnya dengan cemas di pintu mobilnya. Alea mengerlingkan matanya kepada Bella untuk memberi kode agar perempuan itu turun dari mobilnya.
"BELL KITA DAPAT REJEKI HARI INI. KITA BELI APA AJA SEPUASNYA!" teriak Alea yang sudah menghilang rasa malunya terhadap laki-laki yang Alea teriaki tadi.
Tentu saja Bella yang mendengarkan hal itu langsung ikut berbinar matanya. Apalagi berbau gratisan, di jamin Bella yang mengantuk akan kembali segar matanya. Bella cepat-cepat langsung mencari parkiran mobil yang kosong. Setelah dapat, ia langsung berlari menyusul Alea dan dua orang tampan yang sedang berjalan dengan Alea. Bella sempat terpesona dengan salah satu teman Alion.
Hati Alea sudah berbunga-bunga layaknya mendapatkan surga dunia. Aji mumpung karena Abangnya jarang sekali menawarkan hal-hal seperti ini. Alea ingin menguras isi ATM Abangnya. Ia akan membeli tas keluaran terbaru, jam tangan, baju, sepatu, dan lain sebagainya. Namun, ada hal yang lebih penting dari itu semua. Yaitu, martabak manis. Sebelum memulai aktivitasnya menguras ATM Abangnya, Alea akan memulainya dengan memesan martabak manis dengan varian banyak rasa. Di mall ini ada salah satu kafe yang menjual martabak manis terenak se-Jakarta dan juga menjadi langganan para pecinta makanan manis.
Alea menunjukkan salah satu stand yang menjual martabak manis tersebut. Stand besar yang bertuliskan Ceriwisss telah menjadi favorit para pecinta makanan pedas dan manis.
Alea duduk di sebelah Bella, sedangkan Alion duduk di sebelah laki-laki yang belum di ketahui namanya itu. Laki-laki itu terlihat cool dengan gayanya yang sederhana. Kaos polos hitam dengan celana levis hitam serta topi hitam yang menggantung manis di kepalanya. Mata elangnya tajam, hidungnya yang mancung menambahkan kesan pahatan sempurna.
Alea menatap sengit laki-laki yang duduk di sebelah Abangnya itu. Namun, respon laki-laki itu malah datar tanpa ekspresi sama sekali sehingga membuat Alea semakin jengkel melihatnya. Setelah itu, Abangnya bertanya dengan Alea ingin memesan makanan apa. Tentu saja Alea memilih martabak manis dengan banyak varian tak lupa dengan embel-embel ukuran besar yang akan di santap sendiri oleh Alea. Sedangkan Bella masih mempunyai harga diri untuk memesan porsi kecil saja.
Laki-laki yang duduk tepat di depan Alea hanya memesan sebuah kopi, sama dengan Abangnya. Alea tidak habis pikir, memang apa nikmatnya kopi tanpa sebuah hidangan manis? Bagi Alea itu kurang mengesankan.
"Gam, lo balik nanti, kan?" Alion bertanya pada laki-laki yang ternyata mempunyai nama panjang Agam Galendra Maherson.
Agam hanya menganggukkan kepalanya sekali. Laki-laki itu membawa sebuah lighter zippo yang sedari tadi di buka dan di tutup kembali secara berulang-ulang. Alea juga memperhatikan hal itu. Namun, Alea hanya bodo amat.
Tak lama, pesanan mereka datang. Sebuah martabak manis porsi besar dengan banyak varian sekarang telah terletak manis didepan Alea. Alea sudah ileran dengan hanya melihat martabak itu.
...
...
Alea tanpa sadar menghentak-hentakkan kakinya dengan gemas karena martabak manis itu begitu menggoda, "ini mah surga dunia banget," gumamnya dengan mata yang berbinar. Alea sudah tidak memperdulikan orang-orang di sekitarnya.
"Bang, kalo mau pesen sendiri ya. Alea nggak mau berbagi. Apalagi sama Mas Mas ini," kata Alea sembari menatap Agam.
"Kalo perlu saya pesankan lagi," kata Agam dengan santai setelah menyeruput kopinya.
"Nggak perlu!" ucap Alea dengan ketus. Ia kembali melanjutkan makannya. Makan adalah hal penting bagi Alea. Alea makan dengan lahap tanpa harus memedulikan Abangnya yang sedang bercerita masalah bisnis. Sama halnya dengan Bella, namun Bella sedikit menjaga image nya di depan pria-pria tampan itu.
Alea makan dengan berantakan. Bekas cokelat menempel dimana-mana. Namun, perempuan itu tidak peduli karena martabak itu begitu nikmat. Martabak manis adalah segala-galanya bagi Alea. Walaupun Alea sudah sangat kenyang, perempuan itu tidak patah semangat untuk menghabiskan satu potongan martabaknya lagi. Namun, Alea makan dengan pelan karena perutnya sudah sangat kenyang.
"Kenyang?" Alion bertanya.
Alea menganggukkan kepalanya pelan. Alion menggelengkan kepalanya melihat Alea yang makan seperti anak kecil. Belepotan sana sini. Bajunya saja sudah menjadi langganan saos maupun cokelat menempel sehingga menjadi kotor.
Setelah Alea menghabiskan satu loyang besar martabak manisnya, Alea tanpa sungkan-sungkan bersendawa dengan keras hingga Bella yang duduk di sampingnya dengan spontanitas langsung menepuk pundak Alea sedikit keras, "kira-kira kek kalau mau sendawa,"
"Ya bodo amat!" ucapnya dengan ketus.
"Urat malu Alea udah putus Bell. Maklumin aja," sahut Alion.
Setelah mereka selesai makan, Alea menagih janjinya pada Abangnya untuk membelikan segala hal yang Alea mau. Dan Alion menyetujuinya. Sebenarnya, Alea sedikit terkejut dengan tawaran yang sangat menggoda dari Abangnya itu. Entah kesambet setan dimana sehingga Abangnya menjadi manusia yang paling di sayangi oleh Alea, khusus hari ini saja. Namun, jika besok Abangnya masih baik dengannya, Alea akan menambahkan bonus untuk menyayangi Abangnya lagi. Biar saja di katakan adik durhaka pada Abangnya! Haha!
"Lo kenapa ngintil mulu, sih?!" Alea berbalik dan langsung menyemprot Agam yang berjalan di belakangnya bersama Alion.
Namun, Agam malah menggedikkan bahunya dengan cuek. Bella yang sedari tadi terkesima dengan ketampanan Agam, hanya bisa melihat Agam sembari tersenyum diam-diam.
Alea sudah mulai melancarkan aksinya. Ia sudah memilah-milih tas branded yang ia incar selama ini. Tak hanya itu, matanya juga sudah di penuhi oleh sepatu-sepatu yang menggoda. Ia mengambil apa saja yang terlihat menarik di matanya. Sedangkan Bella, perempuan itu malah terpesona dengan Agam sehingga melupakan gratisannya.
Alea sudah menenteng banyak tas dengan memaksa Alion dan Agam membawanya. Alea kelelahan sendiri karena terlalu banyak berjalan. Ia hampir saja meminta gendong pada Abangnya.
Sesampainya di parkiran, Alion menatap Alea yang tersenyum lebar sembari memeluk dirinya dengan erat, "Makasih Abangkuuu," kata Alea sembari mendongak penuh karena Alion yang terlalu tinggi baginya.
Alion menyentil dahi Alea dan perempuan itu mengaduh kesakitan, "udah puas kan hari, ini? Sekali lagi gue nyiduk lo bolos kuliah, gue nggak segan-segan buat ngeluarin lo dari kampus," kini wajah Alion berubah menyeramkan yang membuat nyali Alea menciut seketika. Kini tawa lebarnya sudah hancur lebur. Alea mending tidak mendapatkan gratisan dari Abangnya jika begini. Namun, ia tetap menyukai kebaikan Abangnya hari ini.
Benar dugaan Alea!
Alea ingin memeluk Abangnya sembari meminta maaf seperti anak kecil yang merengek. Namun, dengan cepat Abangnya malah mencegah Alea sehingga membuat Alea cemberut.
Agam yang melihat hal itu hanya menggelengkan pelan kepalanya sembari menyunggingkan senyum di bibirnya.
"Cepet balik ke kampus lo!" suruh Alion dengan tegas yang membuat Alea menundukkan kepalanya sembari berjalan lesu masuk ke dalam mobil Bella. Jangan di tanyakan lagi bagaimana ekspresi Bella saat ini, perempuan itu juga sama menciutnya seperti Alea.
Setelah Abangnya membantu meletakkan belanjaan Alea, Alea masih menundukkan kepalanya belum berani menatap Abangnya.
Haha! Mampus!
Dan Alea baru ingat jika laki-laki yang bersama Abangnya tadi seperti laki-laki asing yang beberapa hari yang lalu tersenyum dengan Alea ketika Alea makan bersama Alex. Iya! Laki-laki psikopat itu!
To be continued...
Hay guys? Gimana menurut kalian tentang cerita ini?