
Alea mengendap-endap ingin keluar dari rumahnya. Ia melihat jika Agam tadi sedang berkutat dengan pacar keduanya, laptop dan map-map setumpuk di ruangan tengah. Ini kesempatan emas untuk Alea keluar malam. Karena hampir selama ia tinggal disini, tidak pernah ia menikmati udara malam. Dan hal yang sangat membosankan untuk Alea.
Alea ingin sekali pergi ke kelab malam bersama Bella. Karena sudah lama ia tidak pernah menikmati dunia malam itu. Mungkin sangat menyenangkan jika Alea pergi ke sana malam ini. Jangan di tanya lagi keberadaan Bella sekarang, perempuan itu sama saja dengan Alea. Sekarang, Bella sudah menunggu di depan rumah mewah milik Agam itu. Bella menyuruhnya untuk cepat keluar karena Bella takut di jalanan yang sepi karena rumah Agam memang sedikit jauh dengan keramaian.
Alea menyembulkan kepalanya untuk melihat kondisi lantai bawah karena sekarang Alea berada di lantai atas sembari menenteng tas kecil. Ia bisa melihat lantai bawah terlihat sepi. Dengan perlahan Alea mulai menuruni tangga. Ia harus mencopot sepatunya agar tidak terdengar suara ketukan sepatu dan lantai.
Saat ini Alea menggunakan celana pendeknya lagi dan kaos polos yang di lapisi jaket kebanggaannya, levis yang sobek-sobek yang konon katanya sangat cocok jika di jadikan lap. Dengan rambut panjangnya yang di ikat asal dengan karet hitam andalannya. Alea juga memoleskan sedikit lip tint di bibirnya. Cukup simple. Karena Alea sudah lebih dulu cantik.
Alea berhasil menuruni tangga dengan pelan. Dengan cepat, ia berlari menuju pintu keluar. Tentunya dengan tidak menimbulkan suara. Sebentar lagi Alea akan berhasil. Tangan Alea akan langsung memegang handle pintu keluarnya jika ia tidak mendengar suara deheman. Spontan Alea langsung memejamkan matanya.
Ia tertangkap basah untuk kesekian kalinya. Karena hal seperti ini tidak sekali dua kali aja Alea alami. Entah kenapa Agam selalu bisa menangkap basah Alea.
"Kamu mau kemana, Sayang?" Nada itu pasti terdengar santai.
Alea berbalik sembari memasang wajah kilatan marahnya, "aku pengen keluar. Bosen di rumah terus," kata Alea sembari menggeram.
"Oh tidak bisa Alea. Apalagi dengan pakaian seperti itu. Aku nggak ngizinin kamu keluar dengan pakaian seperti itu," kata Agam dengan santai namun terdengar tegas. Entah kenapa setiap perkataan Agam seperti tidak ada penolakan untuk lawan bicaranya.
Alea mendengar kalimat Agam baru saja, "oh ya udah kalau gitu gue ganti baju dulu kalo nggak boleh make baju ini," kata Alea sembari berjalan melewati Agam.
"Enggak Alea enggak. Aku nggak ngizinin kamu keluar malam. Ini sudah hampir larut malam dan nggak baik buat perempuan keluar malam," Agam menasehati Alea lagi.
"NYEBELIN BANGET SIH LO, GAM?! APA-APA NGGAK DI BOLEHIN. EMANG SELAMA INI YANG LO BACA ITU, APA?!" Alea berteriak marah. Sudah cukup karena Agam terlalu mengekang Alea.
"Al-Qur'an," kata Agam dengan santai lalu berbalik.
Lihat! Bagaimana kelakuan Agam terhadap, Alea? Laki-laki itu malah terlihat santai. Namun, kenapa Alea selalu kalah dengan laki-laki, itu?
Alea menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal karena Agam yang sangat menyebalkan bagi Alea. Kenapa ia memiliki suami seperti, itu? Ingin rasanya Alea mencabik-cabik tubuh Agam.
Alea masuk untuk menyusul Agam yang naik ke lantai dua.
"Aku pengen keluar sekali aja," rengek Alea di belakang Agam.
"Enggak, Alea. Sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Dan aku nggak ngizinin kamu keluar malam," tegas Agam.
"Sekali aja, Gam," Alea terus merayu Agam yang tegas dengan pendiriannya.
Agam membalikkan badannya dan menghampiri Alea. Tangan besarnya langsung memegang kepala Alea dan mengacaknya pelan sembari berkata, "enggak Alea-ku,"
Alea langsung menghempaskan tangan Agam dengan kasar. Karena Alea sudah jengkel, Alea maju dan berjinjit di depan Agam, dan tanpa aba-aba ia langsung berusaha mencekik leher Agam. Namun, tidak sampai karena ia terlalu rendah dan Agam juga ikut berjinjit untuk menghindarinya serangan dari Alea. Istrinya ini memang bar-bar.
Hingga Alea lelah dan mundur dengan sendirinya. Sedangkan Agam, sudah tertawa ngakak sedari tadi karena melihat tingkah Alea yang super zuper. Istri mana yang mencoba ingin mencekik leher suaminya sendiri jika bukan, Alea Adora?
Namun detik berikutnya, Agam menggendong Alea dan mendudukkan Alea di atas piano putih yang terdapat di lantai dua dekat kamarnya. Agam langsung mengunci pergerakan Alea sehingga perempuan itu meronta. Dengan mata Alea yang sipit telah menatap tajam Agam yang sekarang jaraknya terlalu dengan dekat.
"Matanya sipit. Kasian nggak bisa melotot," ejek Agam.
"Sialan lo!" kata Alea dengan geram, "minggir lo psikopat!" pinta Alea dengan keras.
"Nggak mau."
"Minggir!" ucap Alea sembari mendorong Agam supaya menjauh darinya. Namun, laki-laki itu tidak goyah sama sekali.
Lalu, Agam mundur dengan sendirinya setelah ia menyentil dahi Alea lagi. Alea turun dengan kejengkelannya. Lalu memasuki kamarnya dengan perasaan kesal yang luar biasa. Ia menutup pintu kamarnya dengan keras. Mungkin jika kualitas pintu itu biasa, pasti akan langsung ambruk.
Agam menyunggingkan senyumnya lagi.
Tidak habis pikir dengan cara pikir Alea. Alea terlalu berbeda dengan yang lainnya. Karena terlalu istimewa.
***
Setelah ia tertangkap basah Agam, Alea merasakan lapar di tengah malam. Alhasil membuat Alea turun ke lantai bawah untuk mencari makanan. Perutnya sudah keroncongan sejak tadi. Jika memesan makanan online, ini sudah larut malam. Alhasil membuat Alea harus menginvestigasi dapurnya. Dengan berjalan gontai, Alea memasuki dapurnya. Alea langsung membuka kulkasnya dan menggerutu karena isi kulkas itu hanya berisi sayur-sayuran yang tidak di sukai oleh Alea. Seperti kambing saja memakan hijau-hijauan. Dan Alea bukan kambing! Mana ada kambing secantik dirinya. Sayur-sayuran itu hasil belanja Alea dengan Agam beberapa hari yang lalu ketika ia ke minimarket. Agam melarang membeli ini itu, dan malah banyak membeli sayur-sayuran.
Yang menjadi pertanyaan Alea. Alea harus bagaimana, sekarang? Apa yang ia lakukan dengan sayur-sayuran, itu?
Alea menginginkan martabak manis dengan varian rasa. Uhh! Pasti itu sangat lezat jika di makan tengah malam begini. Membayangkan saja membuat perut Alea semakin lapar. Alea ingin martabak manis.
Tanpa sadar, Alea mencengkram erat kursi yang berada di dekatnya. Mulutnya pun tidak bisa berteriak karena serangan panik dengan tiba-tiba itu. Alea ingin berteriak memanggil nama Agam, namun mulutnya seperti terkunci. Dan apinya semakin membesar.
"Astaghfirullah!" Pekik Agam di pintu dapur. Laki-laki telah mencium bau asap dan langsung mencari sumber bau asap tersebut. Dan Agam melihat Alea yang seluruh tubuhnya bergetar dengan takut. Tiba-tiba, Alea mendadak seperti mayat hidup.
Agam langsung menyiram wajan tersebut dan mematikan kompornya. Otomatis api itu padam. Ia bisa melihat kegosongan pada wajan besar itu. Lalu, matanya melirik Alea yang masih diam dan tak berkutik sama sekali. Agam bisa melihat jika perempuan itu gemetaran.
"Alea kamu, lapar?" Tanya Agam di depan Alea yang masih terdiam kaku, "mau makan, apa?" Agam bertanya kembali.
Namun, Alea tetap tidak merespon perkataannya sehingga membuat Agam harus menarik Alea mendekat, kemudian langsung mendekap tubuh mungil Alea yang sudah mengeluarkan keringat dinginnya karena takut. Agam mendekap perempuan itu ke dalam pelukannya yang hangat. Sembari mengelus-elus puncak kepala Alea dengan lembut. Sebenarnya, Agam ingin tertawa dengan kelakuan Alea sekarang. Namun, melihat perempuan itu ketakutan, ia jadi tidak tega menertawakannya. Dasar Agam!
"Kalau kamu lapar, kamu tinggal bilang sama aku aja," kata Agam sembari menuntun Alea untuk duduk di kursi meja makan di dekatnya.
Namun, Alea masih tetap terdiam.
"Kamu mau makan apa, Sayang?" tanya Agam begitu lembut.
"Nggak jadi laper!" tiba-tiba Alea bangkit dari duduknya dan langsung pergi meninggalkan Agam yang menatap Alea tanpa ekspresi yang sulit di baca.
Moody perempuan itu cepat sekali berubah-ubah. Layaknya sebuah cuaca yang paginya panas dan sorenya hujan.
"Dia emang istimewa," Agam berucap itu lagi. Kemudian, Agam melepas kaos polosnya sehingga menampakkan tubuhnya yang atletis. Kaum hawa yang melihatnya akan langsung pingsan. Ahaha! Itu terlalu berlebihan. Agam mengambil minuman bersoda yang tersedia di dalam kulkasnya. Di dalam kulkas, terdapat banyak sayur-sayuran. Dan Agam tersenyum sendiri ketika mengingat Alea meminta uang untuk membeli belanja bulanan dengan jumlah yang cukup banyak.
Tunggu sebentar!
Dan ada satu hal yang membuat mengganjal.
Di pinggir punggung Agam terdapat sebuah tato kupu-kupu dengan ukuran kecil?
***
Di waktu yang sama dan di tempat yang berbeda, seorang cowok telah melentangkan tubuhnya di atas sofa hitam yang ada di dalam ruangannya. Dengan keadaan mabuk, laki-laki itu merancau tidak jelas. Dua kancing kemeja teratasnya sudah terbuka bebas. Jas hitamnya sudah berserakan dan tidak beraturan lagi. Kini, ruangan laki-laki kotor. Botol-botol hijau yang kosong sudah berserakan di mana-mana.
Kepala laki-laki itu sangat pening. Lalu, ia bangkit dari sofa dan berjalan dengan gontai untuk mengambil jas hitamnya yang terletak cukup jauh darinya. Perasaan laki-laki itu kalang kabut. Entah kenapa dengan laki-laki bertubuh atletis itu sehingga membuat dirinya cukup berantakan. Pikiran sudah tidak sinkron dengan hatinya sendiri.
Laki-laki sudah beberapa kali menghela napasnya dengan kasar. Ia menengok jam dindingnya yang sudah menunjukkan pukul satu malam. Sehingga membuat langkah kakinya keluar dari ruangannya sendiri dan berjalan dengan gontai menyusuri lorong kantornya yang cukup sepi karena orang-orang sudah pulang sejak sore tadi. Sebenarnya, laki-laki itu berniat untuk melembur namun, ada sebuah insiden yang tidak pernah ia duga sama sekali dalam hidupnya. Sehingga membuat laki-laki itu bertambah frustasi.
Langkahnya gonta di bawah penerangan remang-remang lorong kantor yang sepi. Namun, walaupun kepalanya pusing, laki-laki itu masih bisa melihat seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya. Seorang perempuan cantik dengan baju pas di tubuh indahnya. Perempuan itu semakin mendekat.
Bibir laki-laki itu tersenyum tipis melihat perempuan itu yang semakin mendekatinya.
"Akhirnya, kamu kembali," gumam laki-laki itu dengan seringaian misteriusnya.
Pandangannya juga sudah mulai mengabur karena efek dari alkohol yang di minumnya.
Ketika mereka sudah dekat, laki-laki itu langsung mencekal tangan perempuan itu. Namun, perempuan itu malah meronta.
"Lepasin!" Pinta perempuan itu.
Namun, laki-laki itu malah mengeratkan cekalannya pada tangan perempuan itu.
"Sudah ku bilang, kamu nggak akan bisa ninggalin aku," kata laki-laki itu melantur karena efek dari alkohol sehingga membuat perempuan itu ketakutan.
"Dunia ini lucu, ya? Kamu ninggalin aku yang udah berjuang mati-matian buat dapatin kamu. Eh kamu malah meninggalkan aku sendirian. Memang seberapa kaya laki-laki yang kamu kejar, itu? Sehingga kamu rela membuang ku seperti tumpukan sampah yang tidak berguna? Aku kecewa sama kamu," laki-laki itu semakin menarik mendekat perempuan itu yang sedang ketakutan. Sebenarnya, perempuan itu tidak mengerti apa yang di maksud laki-laki yang sekarang mencengkram erat tangannya.
Perempuan itu juga sudah memanggil-manggil nama laki-laki itu karena ia bekerja satu kantor dengannya. Namun, tidak ada respon sama sekali. Laki-laki itu malah memotong jarak di antara mereka dan langsung mendorong perempuan itu ke dinding di belakangnya. Perempuan itu semakin ketakutan karena wajah laki-laki itu mulai mendekat.
"Kamu nggak akan bisa ninggalin aku gitu aja," gumam laki-laki itu sebelum benar-benar mencium bibir perempuan itu. Kini, perempuan itu sudah menangis sembari memberontak. Namun, apalah daya kekuatannya tidak sekuat laki-laki itu.
Dengan teganya, laki-laki itu telah merenggut first kiss nya.
To be continued...
Gimana gimana hayooo