Mr. Impeccable

Mr. Impeccable
3. psikopat



Alea mengerang kesal dalam tidurnya. Kedua kakinya sampai menendang kesana dan kemari karena jengkel. Jengkel bukan karena ia mimpi buruk, melainkan ada yang memencet bel pintu rumahnya sepagi ini. Sumpah demi apapun! Siapapun itu yang memencet bel rumah Alea sepagi ini memang orang yang tidak punya pekerjaan sama sekali. Kan masih ada waktu nanti siang untuk bertamu. Alea sudah mengumpat sembari bangun dari tempat tidurnya. Tanpa harus mencuci mukanya dan sikat gigi, Alea langsung turun ke lantai bawah begitu saja. Ia hanya mengenakan baju tidur pendek yang bergambar batman. Wajahnya masih berantakan sama dengan rambutnya yang panjang di ikat asal. Sembari mengumpulkan nyawanya yang belum sadar sepenuhnya, Alea membuka pintu rumahnya.


Matanya silau karena berhadapan dengan sinar matahari dari arah timur sehingga matanya perlu menyesuaikan sinar. Karena cahaya sinar matahari pagi ini telah menghadap pintu rumah Alea sehingga menciptakan siluet tubuh seorang laki-laki yang tinggi dan bertubuh atletis.


Alea mengucek matanya dan melihat siapa laki-laki itu. Namun setelah kesadarannya terkumpul, Alea berjengit kaget, "ngapain lo om om, kesini? Abang gue masih tidur," kata Alea dengan ketus. Ternyata Agam yang bertamu sepagi ini. Kali ini dengan kaos polos warna hitam lagi dan celana levis hitam serta kacamata yang menggantung di dadanya. Agam terlihat cool dengan gayanya seperti itu. Dan Alea sudah mempunyai pikiran jika Agam tidak mempunyai baju selain hitam yang di pakai kemarin.


Namun, belum sempat Agam berbicara, Alea langsung menatap curiga Agam sembari mengatakan, "lo mau nyulik gue sepagi ini, kan? Ngaku lo! Gue tau kalo lo om om yang senyum sama gue waktu itu, kan? Dasar om om psikopat!" kata Alea lagi yang langsung masuk ke dalam sembari menutup pintunya dengan keras.


"PERGI LO! ATAU MAU GUE LAPORIN KE POLISI!" teriak Alea dari dalam rumahnya, "DASAR OM OM PSIKOPAT!" katanya lagi.


"Alea! Lo kenapa pagi-pagi begini udah teriak-teriak kayak tukang jualan sayur aja. Dan apa tadi, lapor polisi? Lo nggak waras ya?" Abangnya yang tiba-tiba muncul dari ruang tengah itu langsung membuat Alea berlari untuk memeluk Abangnya. Kemeja Abangnya yang sudah rapi jadi sedikit berantakan karena Alea yang memeluknya terlalu kencang.


"Temen Abang mau nyulik Alea sepagi ini, masa?"


"Siapa? Agam?"


"Om om tua psikopat itu,"


"Siapa maksud, lo?"


"Om om yang kemarin itu,"


"Agam?"


Alea menganggukkan kepalanya dengan mantap sehingga langsung membuat Abangnya menyentil dahinya. Alea mengaduh dan gerakan spontan, ia memukul lengan Abangnya sembari berkata, "sakit, Bang!"


"Sembarangan aja kalo ngomong," kata Abangnya sembari melepas paksa tangan Alea yang memeluknya.


Alion berjalan untuk membukakan pintu. Di luar, ia langsung di sapa ramah oleh Agam.


Entah apa yang di bicarakan Agam dan Alion, Alea tidak tahu. Sebenarnya, sedikit penasaran tapi, rasa kantuknya yang belum sampai finish, menyuruhnya untuk kembali ke atas tempat tidurnya.


Dan sumpah demi apapun, Alea akan menyumpahi laki-laki tidak jelas asal-usulnya itu karena sudah menganggu tidur ayamnya. Dengan terus mengumpat di dalam hatinya, Alea kembali membanting tubuhnya ke ranjangnya yang besar dan empuk. Namun, ketika ingin memejamkan matanya lagi, terdengar suara ketukan pintu kamarnya. Alea menutupi kepalanya dengan bantal supaya tidak mendengarkan suara yang sangat dengan sangat mengganggu tidurnya. Namun, ketukan pintu itu semakin keras.


Alea bangun dengan terpaksa lalu tanpa di duga, perempuan itu membenturkan kepalanya ke dinding dekat tempat tidurnya. Alea mengerang frustasi karena matanya yang masih ngantuk harus di ganggu sepagi ini. Sumpah demi apapun, Alea akan menyemprot Alion jika benar yang mengganggu tidurnya adalah Abangnya sendiri. Dengan langkahnya yang kesal, Alea membuka pintu kamarnya dengan kasar.


Ternyata benar Abangnya. Alea langsung mendorong Alion ke belakang dengan keras sehingga laki-laki itu terhuyung karena belum menyeimbangkan tubuhnya.


Lalu, om-om psikopat itu, kemana?


Untuk saat ini, Alion akan berbaik hati dengan mengalah untuk Alea. Alion langsung menarik masuk Alea ke dalam kamarnya. Alion menyuruh Alea untuk mandi dan tentu saja Alea menolak keras suruhan itu. Perempuan itu malah membanting tubuhnya di atas ranjangnya lagi. Namun, Alion menarik adik satu-satunya itu.


"ABANG!!!!" teriak Alea dengan kesal.


"Gue beliin martabak manis sesuka lo!" bujuk Alion.


Alea menggeleng keras, "gue bisa beli sendiri," katanya dengan bermalas-malasan di atas kasurnya.


"Alea mandi! Gue mau ngajak lo jalan!"


"OGAH! ujung-ujungnya lo bakalan ngajak om om psikopat itu. Gue nggak mau!" Teriaknya dengan kesal karena Abangnya terus menarik tangannya.


Cukup lama membujuk Alea untuk mandi. Karena Alea yang bebal sekali membuat Alion ingin mencakar-cakar wajah Alea. Namun, Alion terlalu sayang dengan adik satu-satunya itu, sehingga membuat dirinya harus menjaga perempuan kedua yang ia sayangi setelah Bundanya. Alea memang makhluk mengesalkan yang pernah Alion temui di dunia ini. Alion memutuskan menunggu Alea di lantai bawah karena ia sudah siap dengan Bundanya.


Tak lama, mereka melihat Alea yang sudah mandi. Namun, dengan pakaian terbuka itu sebenarnya membuat Alion risih. Rok Levis sobek-sobek yang batasnya sampai lutut Alea di padukan dengan kaos oblong hitam di lapisi cardigan tipis. Serta rambut Alea yang di ikat asal menyisakan anak rambutnya yang menjuntai ke bawah.


Alea sudah tidak perduli lagi Abangnya ingin membawanya kemana, karena pikiran Alea saat ini adalah INGIN TIDUR TANPA DI GANGGU SIAPAPUN!


"Ganti kek bajunya," celetuk Alion.


"Jangan banyak bacot lo!" kata Alea kesal.


Bundanya langsung merangkul Alea dengan sayang, "anak bunda kenapa marah-marah pagi, ini?"


"Abang tuh Bun! Ganggu Alea tidur. Mata Alea masih ngantuk. Dasar penjahat kelas ikan asin!"


"Bunda yang nyuruh Abang buat bangunin Alea. Karena Bunda hari ini lagi nggak sibuk, Bunda pengen ngajak kamu sama Abang buat jalan," kata Bundanya dengan sayang sembari memasuki mobil hitamnya.


"Ya tapi kan Bunda. Abang tuh ngeselin banget! Nggak punya perasaan. Suka marah-marah nggak jelas kayak cewek PMS. Suka nyuruh-nyuruh. Emang Alea babunya," Alea sedang mengeluarkan keluh kesahnya pada Bundanya atas perbuatan Abangnya yang selama ini sangat menjengkelkan Alea.


"NGADU TEROSSS!" teriak Alion sembari menjalankan mobilnya.


"Emang kenyataan gitu. Mau apa, lo?!" Alea malah mengejek Alion yang saat ini sedang fokus menyetir. Membuat Bundanya menggelengkan kepalanya melihat kedua anaknya yang setiap harinya selalu beradu mulut. Tidak hanya di rumah, namun di manapun tempat, mereka akan beradu mulut.


"Bang," panggil Alea yang tidak di respon oleh Abangnya.


"Abang!"


"ABANGGG!" teriaknya dengan kencang karena ia tidak di respon sam sekali.


"Hmm?" jawab Abangnya malas sembari fokus menyetirnya.


"Lo nggak ngajak om om tua psikopat itu, kan?" Alea bertanya dengan curiga sembari menyipitkan matanya yang sudah sipit.


"Itu siapa ya namanya, Bang? Tua-tua bangkotan temen Abang," kata Alea sembari menyenderkan tubuhnya ke senderan kursi belakang.


Alion yang memberitahu jika yang di maksudkan Alea adalah Agam. Bundanya terkejut karena mendengar pernyataan itu. Langsung saja beliau menegur Alea. Alea yang di marahi habis-habisan oleh Bundanya di dalam mobil membuat Alion harus menahan tawanya karena sangat bahagia melihat Bundanya mengomeli Alea. Seperti mendapatkan banyak batangan emas jika Alea di marahi oleh Bundanya. Bundanya yang jarang marah, sehingga terlihat kalem dan orang yang santai. Namun, jika sekali marah akan sangat menyeramkan bagi Alea. Karena marahnya orang diam itu lebih menyesakkan bagi Alea.


"Bunda jangan marah-marah dong. Emang kenyataannya begitu. Temen Abang emang keliatan kayak tua bangkotan," katanya lagi.


Bundanya hanya menatap sekilas Alea dan fokus ke depan tanpa memperhatikan Alea yang sudah memasang wajahnya cemberut. Sekarang hanya Alion lah yang terkikik geli mengisi keheningan yang berpendar di dalam mobil. Setelah itu, Alion memutar musik rock dalam mobilnya yang membuat Alea berteriak keras lagi untuk mematikan musiknya. Kepala Alea sudah pusing tujuh keliling, ditambah ngantuk, apalagi sekarang Alion memutar musik rocknya.


Setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh, akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang di kelilingi oleh pepohonan besar. Lingkungannya yang terlihat menyeramkan bagi Alea.


"Bang. Lo agamis tapi kok pergi ke perdukunan. Mending kayak gue jadi orang yang netral," tiba-tiba Alea berbicara seperti itu yang langsung mendapat sentilan di dahi Alea oleh Abangnya. Perempuan itu mengaduh.


"Brengsek!" geramnya yang langsung mendapatkan sentilan lagi di dahinya. Kali ini, Bundanya yang menyentil dahi Alea agak keras.


"Bunda, sakit!" tukasnya sembari mengelus dahinya. Dan tidak lupa, ia memasang wajah cemberutnya.


"Kalo ngomong di jaga!" Bundanya menggeram sembari menatap tajam Alea yang cemberut.


"Tau! Lo itu orang kafir. Bukan netral lagi," tukas Abangnya dengan kesal.


"Dasar Abang nggak tau diri!"


Bundanya langsung melerai keduanya karena gemas sendiri melihat kedua anaknya selalu bertengkar. Tidak dirumah, tidak dimana-mana. Mereka selalu saja beradu mulut. Dan Bundanya akan selalu menjadi juri penengah di antara keduanya.


Alea mengamati tempat itu lagi. Memang sangat menyeramkan karena banyak pepohonan yang tinggi seperti hutan. Apalagi gaya rumahnya yang terlihat tua membuat suasana semakin menegangkan seperti film action Barat yang berjudul JUMANJI. Alea bergelung di tangan Abangnya. Ia memegang tangan Abangnya dengan erat. Siapa yang mengerti jika tiba-tiba ada seekor ular raksasa muncul begitu saja seperti di film action tersebut. Dan gajah-gajag yang besar muncul berlarian.


"Lo ngapain sih, Alea?" tanya Abangnya yang risih dengan Alea yang terus bergelayut manja pada Abangnya.


"Takut. Siapa tau nanti ada ular raksasa yang muncul dan para gajah berlarian,"


"Lo pikir tempat ini kebun binatang?" Abangnya mulai kesal.


"Gue pikir kalo tempat ini kayak di film JUMANJI. Dan gimana kalo tiba-tiba ada hantu di siang bolong, begini?"


Abangnya menarik tangannya paksa, "sholat makanya! sholat! Biar otak lo waras!" kata Abangnya dengan kesal. Lalu, Abangnya langsung menggandeng Bundanya yang lagi-lagi harus memijit kepalanya yang semakin pening. Alea langsung berlari dan menggandeng Abangnya lagi. Tidak bisa di hindari oleh Alion karena kali ini pegangan Alea lebih kencang dari sebelumnya.


Bundanya membenarkan letak hijabnya sebelum memencet bel rumah tersebut.


Sudah tiga kali Bundanya memencet bel pintu rumah tersebut, namun tidak kunjung ada sahutan dari dalam rumah tersebut. Sehingga membuat Alea kembali mencibir, "dukunnya lagi nyari tumbal kali,"


"Alea! Jaga omongan kamu! Anak perempuan kok nggak punya sopan santun," tukas Bundanya dengan tatapan tajam untuk putrinya itu.


Alion yang ingin menyentil dahi Alea lagi, ternyata gagal karena Alea lebih dulu menghindari tangan Abangnya sembari menjulurkan lidahnya mengejek Abangnya.


Alion akan marah pada Alea jika ia tidak mendengar suara sahutan dari dalam rumah tersebut. Alion menegakkan tubuhnya dan tersenyum manis ketika melihat seorang nenek tua yang membukakan pintu tersebut. Sedangkan Alea, hanya memutar bola matanya malas dan mencibir Abangnya dalam hati. Bagi Alea, Abangnya adalah orang yang sok. Sok keren, sok tahu, sok ganteng dan sok lain sebagainya. Lama-lama nama Abangnya akan berganti Alion SOK Adhitama.


Wanita yang terlihat keriput itu telah mempersilahkan mereka masuk. Ketika memasuki rumah tersebut, Alea sedikit tertegun karena melihat isi dalam rumah tersebut.


Oh ternyata gini isi dalam rumahnya si mbah dukun... batin Alea.


Alea duduk sendirian di kursi panjang karena Bundanya dan Abangnya sudah duduk di kursi lainnya. Alea sedikit merapat ke pojok kan kursi karena ia merasa merinding sendiri. Bagaimana jika Bundanya dan Abangnya menjadikan Alea tumbal? Alea tidak mau hal seperti itu terjadi.


Entah otak Alea ketinggalan dimana sehingga ia bisa berpikiran seperti itu. Mungkin jika ada yang bisa menemukan otak Alea, segera hubungi pihak yang berwajib, rumah sakit jiwa misalnya. Karena sepertinya, Alea butuh di masukkan ke dalam rumah sakit tersebut.


Mata Alea bertambah sipit ketika melihat seseorang yang dikenalnya. Ia langsung menatap curiga laki-laki itu. Laki-laki yang mengganggu tidur paginya tadi. Ternyata seorang dukun juga. Jadi benar jika Agam adalah om-om tua bangkotan dan psikopat.


Sekarang Alea sudah mengerti semuanya. Ia harus memberitahu Abangnya untuk tidak berteman dengan om-om psikopat itu.


Lihat saja dari wajahnya yang sudah seperti dukun cabul membuat Alea bergidik ngeri jika Abangnya terus menerus berteman dengan Agam.


"Alea, kenalin ini Oma Rasya, neneknya Agam. Ayo salaman, Nak," kata Bundanya dengan lembut sembari memberikan kode pada Alea agar segera mencium tangan Oma Rasya.


Dengan malas, Alea bangkit dan mencium tangan Oma Rasya dengan sekilas kemudian kembali duduk lagi.


Oma Rasya tersenyum manis menatap Alea, "cantiknya anakmu. Dulu masih kecil, masih pakai ****** ***** sama kaos aja," kata Oma Rasya sembari menatap Alea.


Ya iyalah! Namanya juga anak kecil...batin Alea berteriak.


Kepala Alea semakin pusing karena mendengarkan cerita nenek tua itu di tambah matanya yang mengantuk. Kepala Alea ingin meledak saat ini juga.


Sedangkan si Agam, laki-laki itu malah berpindah tempat duduk di sebelah Alea. Walaupun ada jarak yang panjang, tetap saja Alea risih.


"Alea," panggil Agam yang duduk di sebelahnya. Alea menatap malas laki-laki itu. Sedangkan Bundanya, Oma Rasya, Alion telah menatap Agam dengan senyuman yang manis. Entah ada apa dengan mereka sehingga menatap Alea dan Agam begitu senang.


"Saya hanya ingin menyampaikan maksud saya yang cukup lancang. Dan supaya kamu tidak stroke secara mendadak, maka hari ini saya akan menyampaikan maksud saya,"


Alea menatap sini laki-laki bertubuh atletis itu, "nggak usah berbelit-belit. Lo mau, apa?" tukasnya.


"Besok saya khitbah kamu, ya."


To be continued....