
"gue mau minta duit buat belanja bulanan," Alea berkata dengan santainya sembari menjulurkan tangannya meminta uang pada Agam.
"Nggak usah basa-basi, Al. Aku tau maksud kamu kok," kata Agam yang membuat Alea memutar bola matanya dengan malas.
"Emang apa maksud, gue?!" sergah Alea kesal.
"Minta duit buat beli skincare, kan? nggak usah basa-basi buat belanja uang bulanan," Agam berjalan santai dan duduk di salah satu sofa hitam yang berada di ruang keluarganya. Dengan tangannya yang membawa secangkir kopi.
"Oh bagus kalo kamu peka!" tukas Alea dengan matanya yang menatap tajam Agam yang menyeruput kopinya dengan santai. Alea memperhatikan kaos polos hitam Agam yang sering di pakai laki-laki itu. Kenapa laki-laki suka baju berwarna, hitam? Dan baju yang di pakai kadang, sama?
"Kamu mau, berapa?" tawar Agam.
"Seratus juga. Duit lo kan pasti banyak karena ngepet. Ya kan?" Alea berkata sembari mencibir laki-laki itu.
"Kamu merampok suami sendiri atau bagaimana, Al?"
"MERAMPOK! cepetan kasih gue duit!" Alea berkata dengan kesal.
Alea sebenarnya bingung dengan perasaan Agam. Setelah Agam tahu jika Alea masih berhubungan dengan Alex, Agam sama sekali tidak membahas pertemuannya beberapa hari yang lalu. Dan Agam juga tidak menanyakan bahkan menyinggung Alea sama sekali. Sebenarnya, apa yang ada di pikiran Agam, sekarang? Alea jadi takut sendiri. Bagaimana jika Agam menikahi dirinya hanya untuk tumbal pesugihannya, saja? Secara kan Agam adalah psikopat gila. Jika suami normal pada umumnya, pasti akan marah karena melihat istrinya sendiri selingkuh dengan orang lain. Apalagi mantan pacarnya.
"Aku udah transfer ke nomor rekening kamu," kata Agam dengan santai sembari bangkit berdiri lalu mengacak rambut Alea dengan gemas. Sehingga membuat Alea memberontak mengibaskan tangan Agam yang besar.
"Sholat Alea, sholat! Jangan dukun terus yang di pikirin," kata Agam sembari berlalu pergi meninggalkan Alea yang akan meledak saat ini juga jika Alex tidak pergi dari hadapannya.
Namun, seketika itu Alea teringat perkataan Agam jika uangnya sudah di kirim ke nomor rekeningnya. Namun, kapan Alea memberikan nomor rekeningnya pada, Agam?
Alea langsung berlari menyusul Agam yang naik ke lantai dua. Alea menyusul langkah Agam yang masuk ke dalam kamarnya. Namun ia urungkan. Alea lebih memilih untuk mengecek saldo yang ada pada rekeningnya melalui ponselnya dan hasilnya membuat Alea pingsan saat ini juga.
Benar!
Jumlah uang pada rekeningnya bertambah banyak menjadi ratusan. Napas Alea tercekat. Alea mendadak lupa caranya bernapas. Dadanya sesak. Dengan gemetaran, Alea langsung berlari menuruni tangga lagi. Namun, ia kembali berlari menaiki tangga dan membuka kamarnya sehingga membuat Agam yang berada di dalamnya sedikit kaget karena melihat Alea seperti di kejar kuntilanak.
"Kenapa, Sayang?" tanya Agam yang membuat Alea muntah karena panggilan laki-laki itu.
"Pinjem kunci mobil lo!" kata Alea sembari menodongkan tangannya.
Agam langsung meraba saku celananya dan memberikan pada Alea. Dan tanpa aba-aba dan tidak mengucapkan satu patah kalimat apapun, Alea langsung menutup pintu kamarnya dengan keras. Ia langsung berlari menuju parkiran mobil dan membawa mobil Agam keluar pekarangan rumahnya.
Tentu saja hati Alea berbunga-bunga bagaikan taman bunga mawar yang banyak sekali. Alea akan membeli apa saja yang ia inginkan dengan mengajak kedua temannya, Bella dan Nitara. Alea akan menghabiskan uang psikopat itu. Untuk apa juga uang haram, disimpan? Lebih baik Alea akan menghabiskannya dalam waktu sehari. Hidup senikmat itu.
**
Setelah menjemput Bella dan Nitara, Alea langsung membawa mereka ke kawasan mall ternama di Jakarta. Alea menawari kedua temannya untuk berbelanja apa saja yang mereka inginkan tanpa ragu-ragu. Tentu saja hal itu membuat mereka sangat bahagia. Bahkan, SANGAT bahagia. Seperti mendapatkan surga duniawi, mereka mulai merangkak pelan-pelan menyusuri mall itu untuk mencari barang-barang yang mereka sukai.
"Anjir! Enak banget dapet suami kayak suami lo, Al. Udah ganteng, tajir lagi," Bella berseru di depan Alea yang lama-kelamaan membuat Alea kesal sendiri.
"Buat lo aja. Gue ikhlas lahir batin,"
"Emang pernikahan itu, mainan? Gila lo, Al!"
"Lo juga nggak waras!"
"Diem!" Nitara memisahkan mereka.
"Lo mau belanja apa aja, Bel?"
"Gue pengen baju, celana, es krim, tas, sepatu, mau facial, dan lain-lain," kata Bella yang sudah membayangkan betapa nikmatnya hari ini karena ia mendapatkan rejeki nomplok dari suami Alea.
"Buang-buang duit banget!" sergah Nitara, "mending juga uangnya buat amal. Di sumbangkan ke panti asuhan," lanjut Nitara yang membuat Alea dan Bella langsung memasang wajah sedihnya.
"Taraaaa! Plisss deh! Kami itu pengen belanja kebutuhan perempuan! Jadi plisss deh! Jangan mengacau!" tukas Bella kesal.
"Lama-lama lo kayak Agam tau nggak, Ra!" Alea menimpali. Ia jadi teringat jika dirinya berbelanja dengan Agam beberapa hari yang lalu. Alea bisa setres sendiri jika Agam menemaninya belanja. Karena laki-laki itu selalu melarang Alea membeli ini itu dengan alasan yang tidak sehat lah, apalah dan lain sebagainya SEHINGGA mampu membuat Alea ingin mencekik leher laki-laki itu.
"Seharusnya lo bersyukur dapat suami kayak suami lo," Bella angkat bicara lagi.
"Iya bersyukur banget gue! Saking bersyukur nya sampek kepala gue mau pecah rasanya berada di dekat psikopat gila itu. Kita habisin aja uang hasil ngepetnya."
"Emang suami lo beneran ngepet, ya?" Bella mendekatkan diri pada Alea dan langsung mendapatkan tabokan pada bahunya dari Nitara, "sembarangan aja ya lo kalo nuduh orang!" tukas Nitara.
"Apaan sih, lo?!"
"Lo itu yang, apaa?! Nuduh orang sembarangan."
Alea berjalan lebih dulu meninggalkan Bella dan Nitara yang terus berdebat. Mereka berdua memang suka beradu argumen yang menurut Alea malah membuang-buang waktunya. Lebih baik Alea mulai memilih barang-barang kesukaannya. Alea akan menghabiskan uang Agam dalam satu hari. Ini benar-benar nikmat dunianya. Bella juga sudah mulai mencari barang-barang yang disukainya. Bella yang hampir menganga melihat tas kecil seharga satu mobil. Napasnya bisa tercekat jika seperti ini. Perempuan memang gampang di racuni dengan barang-barang branded. Apalagi jika kualitas original dan sedang diskon. Matanya akan langsung menyala bagaikan mendapatkan berlian intan.
Wanita suka hal-hal yang berbau fashionable. Dunia fashion kini menjadi salah satu jenis industri yang paling banyak diminati oleh banyak orang terutama kaum perempuan atau wanita. Semua orang tahu bahwa fashion perempuan adalah salah satu jenis fashion yang sangat cepat berubah trend-nya dan menjadi kiblat untuk perempuan yang memang ingin tampil modis dan up to date. Daya kreativitas perempuan memang tidak terbatas dan banyak hal yang bisa digali dari penampilan perempuan. Untuk itu tidaklah heran jika banyak hal yang bisa dijadikan bahan untuk dikembangkan dan dijual dalam dunia fashion terutama untuk perempuan. Suatu hal yang bisa membuat perempuan jadi ngiler.
Makan martabak manis!
***
Alea menatap langit-langit ruang tamunya dengan nyalang. Kaki Alea hampir putus karena seharian berada di mall. Dan ia menatap melas pada tiga kantongan yang di dalamnya berisi barang-barang yang ia beli tadi. Iya hanya tiga kantongan saja! Yang di dalamnya terdapat sepatu, baju, dan tas. Ternyata, menghabiskan uang sebanyak itu dalam sehari tidak semudah yang ia bayangkan. Bahkan, Bella pun juga sama dengannya. Apalagi Nitara, perempuan itu malah tidak memilih untuk membeli apa-apa.
"AGAAAM!" Teriak Alea yang baru saja melihat Agam pulang dari kerjanya. Dengan setelah jas hitam yang tidak karuan, Agam menoleh pada Alea yang terbujur lemas di sofa ruang tamu. Perempuan itu menggunakan celana pendek dan jaket levisnya. Ia belum sempat mengganti pakaiannya dari ia pergi ke mall tadi.
"Udah habis belum, duitnya?" tiba-tiba Agam bertanya seperti itu pada Alea yang menatap Agam dengan melas kali ini. Sangat mengtumben sekali!
Tunggu!
Kenapa Agam bisa menjadi tahu jika Alea akan menghabiskan, uangnya? Jadi terbukti kan jika Agam adalah psikopat penguntit ulung. Alea harus berhati-hati.
"Lo penguntit, kan?"
"Aku suami kamu, Al," kata Agam dengan santai sembari menarik dasinya agar longgar.
"Dasar penguntit!"
Agam menyentil dahi Alea sehingga perempuan itu mengaduh kesakitan.
"Pijitin kaki gue!" Teriak Alea ketika melihat Agam yang hendak pergi dari ruangan tamu.
"Aku mau sholat dulu,"
"AGAM bentar aja! Kaki gue keseleo!" katanya sembari bangkit dari tidurnya lalu mengelus kaki jenjangnya, "keseleo gue kambuh lagi. Ini bekas yang kemarin jatuh ini pasti," Alea beralibi.
"Kamu pinter beralibi, ya?" Agam berkata sembari melepaskan jas hitamnya dan menyisakan kemeja putihnya.
"Siapa yang, beralibi?"
Agam hanya menggedikkan bahunya lalu berjalan tanpa memedulikan Alea yang sudah menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal karena Agam. Perempuan itu kembali menggerutu tidak jelas.
"Dasar psikopat! Dasar suami nggak bisa di untung! Dasar Agam gilaaaa!" gerutunya dengan frustasi.
***
"Bang, kapan kamu, nikah?" pertanyaan itu membuat Alion harus beberapa kali menghela napasnya dengan panjang. Selera makan Alion jadi hilang seketika karena pertanyaan Bundanya membuat Alion ingin muntah.
"Katanya Abang janji setelah Alea menikah, Abang juga bakalan menikah," Bundanya berkata sembari mendekati Alion.
"Alion masih belum minat Bunda. Nanti, kalo Alion menikah, Bunda mau sama siapa? Siapa yang ngurusin Bunda ini, itu?"
"Abang terus beralibi ah," sahut Bundanya sembari menegakkan tubuhnya lagi.
"Alion nggak beralibi Bunda. Alion berkata sesuai fakta. Sesuai apa yang Alion jalani ke depannya nanti. Alion juga harus berpikir kritis. Karena Alion nggak mau main-main sama pernikahan," kata Alion dengan mantap.
"Tapi Abang udah punya calon, kan?" tanya Bundanya sembari terkikik geli.
"Nggak ada Bunda,"
"Masa Abang nggak ada yang, suka? Pasti ada. Nah tinggal milih tuh, Bang. Mau yang, mana?" Bundanya semakin menggodanya. Alea pergi, sekarang gantian Bundanya yang menjahilinya.
"Alion jadi nggak selera makan!"
"Habisin atuh, Bang. Allah nggak suka mubazir kan?"
"Dengan Bunda diam aja dan nggak nanyain soal nikah, makanan bakalan aman kok di perut Alion,"
Bundanya tersenyum manis menatap anak pertama laki-lakinya itu. Beliau sangat bangga karena mempunyai Alion yang cukup mengerti dengan beliau. Tentu saja Alion menyayangi Bundanya lebih dari apapun. Sedikit pun Alion tidak memperbolehkan memikirkan hal-hal yang cukup membebani Bundanya.
"Abang," panggil Bundanya lagi.
"Apa, Bun?"
"Bunda punya pandangan perempuan yang cocok buat kamu," kata Bundanya yang membuat Alion berhenti makan.
"Bunda. Jangan bahas soal nikah. Alion masih pengen fokus ngurusin Bunda dulu," kata Alion sembari memasang wajahnya yang muram.
Bundanya terkikik geli, "Kalo sama temen Alea, gimana?" Kata Bundanya sembari menatap jahil putranya, "Nitara!"
To be continued
Support cerita ini yaaa. Makasih untuk kalian.