
Mata Alea terpaksa terbuka dan langsung bangkit dari tidurnya ketika perutnya merasakan mual.
"HOEEEEK," muntahan yang berada di dalam perut Alea keluar semua. Karena tadi malam ia kebanyakan meminum alkohol. Sekarang, ia harus terpaksa terbangun karena perutnya di tambah kepalanya yang semakin pening karena ulahnya sendiri. Kenapa hidup Alea sesial, ini? Memikirkan skripsinya yang di tolak terus, membuat Alea ingin bunuh diri saja. Namun, ketika ia membayangkan martabak manis kesukaannya, ia tidak jadi untuk bunuh diri. Karena makanan semanis itu sangat disayangkan oleh perut Alea. Apalagi membayangkan martabak manis dengan varian topping, membuat Alea ingin memakan martabak manis itu saat ini juga.
"martabak..." gumam Alea dengan memegang perutnya yang masih terasa mual. Mulut Alea juga terasa pengar karena efek alkohol yang ia minum tadi malam.
Tapi tunggu!
Kenapa ia bisa berada di kamarnya?
Lalu, bagaimana dengan keadaan Agam? Bukannya laki-laki itu tertusuk pisau tadi, malam? Lalu, sekarang kondisinya, bagaimana? Masih hidup, kah? Jika psikopat itu mati, berarti secara otomatis ia tidak akan menikah dengan Agam. Whaaa! Alea senang sekali.
Alea langsung bangkit dari kamarnya dan terkejut karena baru menyadari ada banyak orang yang berada di kamarnya. Termasuk Bundanya dan Abangnya. Alea kebingungan sendiri karena beberapa orang telah membawa alat rias. Memang siapa yang mau kondangan?
"Mandi lo!" suruh Abangnya yang membuat Alea semakin kebingungan. Kesadaran Alea belum pulih sepenuhnya. Tiba-tiba, Alea ingin muntah kembali.
"Bagus!" tukas Abangnya dengan menatap tajam Alea.
"Kabur dari rumah lagi, lo?! Dan Alea memang adik gue yang paling pintar. Karena terlalu pintar, otaknya sampai nggak ada. Pantes aja kalau skripsinya di tolak terus," Abangnya berkata dengan geram sembari menatap tajam Alea yang menundukkan kepalanya, "mau jadi cewek apa lo kelayapan malam-malam, gitu? Mau jadi, berandal?!" lanjut Abangnya yang semakin memerah wajahnya karena menahan amarah yang akan meledak saat ini juga.
"JAWAB GUE, ALEA!" bentaknya dengan kasar sehingga membuat beberapa orang mentalnya menciut. Kecuali, Bundanya.
"Lo mau jadi cewek murahan, gitu? Dan lo merasa bangga kalo lo pergi ke tempat kayak, gitu? Lo bangga?" Alion sudah tidak bisa mengontrol emosinya jika Alea sudah menginjakkan kakinya lagi ke klub malam.
Alea mendongak dan menatap Abangnya dengan tatapan yang tak kalah tajam juga dengan Abangnya.
"EMANGNYA KALO CEWEK KELUAR MALEM ITU NAMANYA CEWEK MURAHAN, KAH? GITU MAKSUD LO?! INI HIDUP GUE! NGGAK USAH SOK NGATUR JADI ORANG. WALAUPUN KITA SAUDARA, TETEP AJA ADA BATASAN LO BUAT NGATUR KEHIDUPAN GUE!!" bentak Alea dengan kesal. Biasanya, ia sudah tidak berani dengan Abangnya jika Abangnya sudah marah besar. Namun, ini kali pertama Alea menentang Abangnya sendiri.
"Kalo lo nggak mau di atur, lo mau jadi, apa?"
"Serah gue dong, Bang!" tukas Alea dengan emosi yang memuncak.
"Anak Bunda memang susah di atur," kata Alion dengan kesal sembari mengerang frustasi. Ia harus bagaimana lagi menghadapi, Alea?
"Adik kamu juga," kata Bundanya sembari menatap tajam Alion.
"Amit-amit dah," keluh Alion.
Bundanya hanya menggelengkan kepalanya lagi. Sudah tidak heran dengan pertengkaran adu mulut antara kedua anaknya. Alea yang masih kebingungan dengan apa yang terjadi di kamarnya saat ini, bertanya pada Bundanya. Kenapa Bundanya membawa perias masuk ke dalam kamarnya.
Alion maju mendekat kearah Alea dan langsung mencekal tangan adiknya sendiri.
"Apa yang di bilang Agam kemarin, dia nggak main-main sama ucapannya," kata Abangnya yang masih di cerna oleh otak Alea yang lemot.
Alion membawa Alea duduk di kursi riasnya. Lima detik kemudian, Alea baru tersadar jika hari ini adalah hari Agam akan mengkhitbahnya. Alea langsung berdiri, namun dengan cekatan, Abangnya langsung memegang kedua bahunya.
"Abang! Lepasin gue!" teriaknya sembari kakinya menendang kesana kemari dan membuat Abangnya sedikit kesusahan, "gue nggak mau nikah psikopat itu! Alea udah punya pacar sendiri. Lepasin gue, Bang! Tai!" Alea berteriak sekuat tenaganya.
"Pacaran itu nggak boleh, Alea. Lo malah makin nambah dosa. Mending langsung halalin kalo emang beneran cowok lo itu serius sama lo," Abangnya berkata sembari memeluk Alea yang terus meronta. Agam juga memberikan kode pada beberapa perias untuk segera mendandani Alea.
"Dia seriusan, Abang! Lepasin gue! Gue nggak mau nikah muda! Skripsi gue gimana?! Lepasin gue, Bang! Gue janji, setelah lo ngebiarin gue lepas, gue bakalan kenalin dia sama lo. Abang lepasin!" Alea terus memberontak dalam pelukan Abangnya.
"Sebagian orang nggak butuh janji, Alea. Termasuk gue," kata Abangnya.
"Gue nggak mau nikah sama orang mati! Lo rela ngejual adik lo sendiri ke orang, mati? Dasar Abang nggak punya akhlaq!"
"Siapa yang, mati?"
***
Setelah 3 jam lamanya untuk merias Alea yang super duper bebalnya. Ia langsung mengirimkan sebuah pesan pada Alex untuk menjemputnya sekarang juga. Dengan memakai rok batik dan kebaya berwarna soft pink, Alea nekat menuruni tangga yang biasanya ia pakai untuk kabur pada malam hari. Ia mengangkat roknya hingga ke atas lutut, agar leluasa ia turun ke bawah. Perempuan itu sudah berkeringat dingin. Dan masih kebingungan karena Agam. Bukannya kemarin malam laki-laki itu tertusuk pisau. Jelas sekali jika Alea melihat hal itu walaupun setelahnya Alea tidak sadarkan diri. Bagaimana bisa? Alea mengingat kejadian tadi malam, bulu kuduknya merinding. Agam telah menyelamatkannya dari maut yang akan menghampiri Alea. Namun, bukan berarti Alea mau di ajak menikah dengan laki-laki itu. Dugaan Alea kali ini benar jika Agam adalah psikopat yang bisa menyihir luka berdarah. Semakin membayangkan, Alea semakin ketakutan sendiri.
Setelah Alea berjalan mengendap-endap di balik tanaman Bundanya yang besar, Alea segera keluar dari gerbang rumahnya. Beruntung sekali jika Bundanya suka menanam tumbuhan yang besar. Sehingga memudahkan Alea untuk kabur.
"Sudah nggak papa. Seharusnya, kamu balik ke sana. Aku nggak papa kok," kata Alex dengan sabar sembari tersenyum pada Alea. Walaupun Alea tidak melihat senyum tulus itu dari Alex.
"Pilihan Abang kamu pasti yang terbaik di banding aku. Aku nggak papa, Sayang. Beneran. Balik ke sana lagi gih," Alex menyuruh Alea untuk kembali masuk ke dalam rumahnya yang sudah ada beberapa orang tamu undangan.
Alea menggeleng sembari menangis. Tentu saja Alea lebih mencintai Alex ketimbang psikopat gila itu. Apalagi Alea tidak mengenalnya sama sekali.
"Alex, gue ada permintaan buat lo," kata Alea sembari menangis sesenggukan.
"Apa? Bilang aja. Aku bakalan nurutin,"
"Lo mau nggak memperkenalkan diri lo ke Abang, gue?" Alea berkata sembari menundukkan kepalanya. Takut jika Alex akan menolak permintaannya. Abangnya memang kakak terbaik sekaligus menjadi ayah bagi Alea. Karena sikap Abangnya yang otoriter dan terlihat judes, membuat Alea tidak berani membawa pacarnya kerumah.
"Waktunya belum tepat," kata Alex sembari menegakkan tubuhnya lalu bersandar di kursi mobilnya.
Alea menoleh sembari menangis, "kenapa?"
"Ya waktunya belum tepat," kata Alex dengan santai. Hal itu malah memicu kemarahan Alea.
"Kenapa? Kamu nggak, mau?!" hardik Alea keras.
"Bukannya aku nggak mau, tapi semua ini demi kebaikan kamu. Aku sayang kamu Alea. Apa selama ini kamu anggap sayangku cuma main-main, aja?" kata Alex dengan tegas.
"Kebaikan seperti apa yang kamu mau buat, aku? Aku menikah sama orang lain? Gitu kebaikan kamu? Sedangkan aku sayangnya sama kamu, Lex. Kamu nggak pernah ngerti perasaan cewek!" hardiknya lagi dengan kesal.
Dan sekarang, Alea berada dalam sebuah pilihan. Hidup di dunia ini dihadapkan pada serangkaian pilihan, pilihan untuk terus maju, pilihan untuk bertahan, pilihan untuk mundur. Pilihan untuk menjadi orang baik atau jahat, pilihan untuk memilih atau tidak memilih, dan lain-lain. Memilih itu sulit, karena kadang kita tidak tahu apa dan siapa yang harus dipilih, dan apa konsekuensi dari memilih. Sudah meraba konsekuensi pun, logika dan keinginan sering berbenturan.
Dan, Alea sekarang di tuntut untuk memilih apa yang di hadapannya saat ini.
Entah jalan pilihan mana yang harus ia ambil. Ternyata, hidup tidak semudah air mengalir. Semuanya di hadapkan dengan sebuah resiko. Bukan hidup namanya jika tidak dihadapkan pada resiko. Setiap pilihan itu pasti punya resikonya tersendiri. Tinggal bagaimana kita menghadapi segala resiko yang ada untuk menuju kebahagiaan dan tujuan yang kita inginkan. Keberanian untuk menghadapi segala resiko dalam hidup akan menuntun mu menuju pendewasaan diri.
Dan menjadi orang dewasa itu kita sendiri yang menciptakan.
Bahkan ada yang terjerumus ke dalam jurang karena pilihannya sendiri. Bukan penyesalan yang harus di sesalkan selama salah membuat pilihan. Namun, penyesalan yang pantas untuk di renungi untuk menjadi sebuah pelajaran pada hidup kita.
Oke, sudah cukup!
***
Agam menyingkap kemeja putihnya, lalu mengoleskan salep pada bagian punggungnya yang sedikit terluka. Ia di bantu oleh kaca untuk melihat luka tersebut. Sedikit terlihat susah, namun ia menyelesaikannya dengan baik. Laki-laki itu kembali menyimpan salepnya dalam lemari kecil.
Luka yang di miliki oleh laki-laki bertubuh atletis itu adalah luka yang ia dapatkan tadi malam ketika ia menyelamatkannya. Nya?
Tadi malam, Agam memang benar-benar terkejut karena keberadaan Alea yang mabuk dan mengintip di jendela kamarnya. Entah tau dari mana sehingga perempuan itu mengetahui letak kamar Agam. Atau hanya kebetulan, saja? Dan apa? Perempuan itu jelas sekali jika sedang mabuk. Sehingga membuat khawatir Agam. Agam memang sengaja membuntuti Alea dari belakang karena ia benar-benar khawatir. Apalagi kondisinya yang mabuk.
Lalu, ia melihat mobil Alea yang di gedor-gedor secara paksa oleh dua pria bertubuh gempal. Agam terkejut ketika melihat dua pria itu telah membawa pisau dan menodong Alea dengan pisaunya. Ketika salah satu pria itu akan melayangkan pisaunya untuk Alea, Agam segera berlari dan menjadi tameng untuk Alea. Tanpa basa-basi, Agam langsung memeluk perempuan itu dengan erat. Seakan-akan, Alea tidak boleh menyaksikan hal itu.
Alih-alih pisau itu tertancap pada tubuh Agam, Agam berhasil menampik pisau tersebut hingga jatuh tersungkur ke tanah. Dan tak lama kemudian, Alea yang berada dalam pelukannya sudah tidak sadarkan diri. Dengan tetap memeluk tubuh mungil Alea, Agam menggunakan satu tangannya untuk menyerang balik dua pria yang membawa pisau.
"Agam," seseorang telah memanggil nama Agam dari balik pintu kamarnya. Ternyata Oma Rasya yang muncul di balik pintu tersebut.
"Kamu sudah, siap?"
Agam mengangguk dengan pasti dan tersenyum manis untuk seseorang yang sudah merawatnya belasan tahun.
Omanya tersenyum manis membalas Agam.
***
Hay menurut kalian gimana nih?